TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 56 Adara Merasa malu.


__ADS_3

Adara dan Arhan yang berada di dalam mobil. Pertemuan Adara dengan Noni membuat Adara pasti kepikiran dan sekarang terlihat sangat gelisah.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arhan yang melihat kesedihan di wajah Adara. Wajah yang penuh dengan pemikiran.


"Memikirkan tentang Noni?" tanya Arhan yang menduga-duga.


"Aku takut dia mencurigaiku," jawab Adara.


"Jangan menakutkan apapun. Dia tidak perlu mencurigaimu dan percayalah semuanya pasti akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu," ucap Arhan mencoba menenangkan Adara.


"Aku berharap juga seperti itu. Aku berharap Noni tidak berpikiran apa-apa," sahut Adara.


"Pasti dan maka dari itu kamu sekarang harus tenang dan jangan berpikiran terlalu jauh," ucap Arhan.


Adara menganggukkan kepalanya. Jika Arhan yang berbicara. Tidak ada kesulitan bagi Adara dan Adara tanpa tenang.


***********


Adara berada di dalam kamar yang bersama Bibi menyusun belanjaan yang mereka beli tadi sebelumnya.


"Bi bagaimana cara menggunakan ini?" tanya Adara memperlihatkan pompa asi tersebut yang tadi di suruh Arhan untuk membelinya.


"Dia itu menyebalkan sekali. Masa iya dia tidak mau mengajariku. Padahal dia yang membelinya. Untuk apa membelinya kalau tidak di gunakan dan aku juga tidak tau cara memakainya, dasar aneh sekali," ucap Adara dengan mulutnya yang sangat cerewet yang masih kesal dengan Arhan yang tadi selalu jadi pengusaha.


"Menggunakan apa sih Non?" tanya Bibi heran karena dari tadi hanya mendengar ocehan Adara.


"Ini Bibi," sahut Adara dengan kesal yang menunjukkan benda yang membuat dirinya kesal.


"Nona tidak tau apa itu?" tanya Bibi dengan menaikkan 1 alisnya.


"Ya kalau aku tau. Aku tidak akan bertanya pada Bibi dan ini katanya pompa Asi dan aku tidak tau cara menggunakannya. Aku bertanya padanya dia berbicara dengan setengah-setengah. Apa salahnya mencontohkannya dan menjelaskannya dengan detail," sahut Adara dengan penjelasannya dan sepanjang Adara berbicara Bibi hanya tersenyum saja.


"Bibi kenapa tersenyum? Apa ada yang lucu?" tanya Adara dengan dahinya yang mengkerut.


"Jadi Nona mau tau cara menggunakannya bagaimana?" tanya Bibi. Adara mengangguk dengan cepat.


Bibi tersenyum dan langsung mendekati Adara, duduk di depan Adara dan mengambil benda itu dari tangan Adara.

__ADS_1


"Baju Nona harus di buka di bagian buah dadanya dan benda ini di tempelkan lalu di pencet seperti memompa dan air asinya akan keluar," jelas bibi dengan singkat.


Mendengar penjelasan itu membuat mata Adara melotot dengan menelan salivanya.


"Jadi ini harus di tempelkan di sini?" tanya Adara sekali lagi sembari memegang buah dadanya dan bibi menggangguk.


"Adara bodoh," Adara menepuk keningnya sendiri yang merasa begitu bodoh.


"Aissss kenapa aku semakin lama seperti orang bodoh. Masa iya aku memaksanya untuk mengajariku menggunakan benda ini. Harga diriku benar-benar sudah tidak. Adara kenapa kau bodoh sekali. Apa kau tidak sadar kau itu sama saja mempermalukan dirimu," Adara mengacak-acak rambutnya sendiri yang frustasi.


Dia sekarang baru loading kenapa Arhan tidak mengajarinya masalah itu. Yang pertama tidak mungkin Arhan mempraktekkan di depan umum dan yang ke-dua Arhan mana mungkin mengajari Adara langsung. Memang Adara mau?


Bibi hanya geleng-geleng dengan tersenyum melihat kepolosan Adara. Adara memang kelewat batas polosnya dan makanya dia sampai seperti itu.


"Bagaimana ini Bi. Mau di taruh mana wajah Adara," ucap Adara dengan lemas.


"Ya di wajah Nona dong. Mau di taruh di mana lagi," jawab Bibi.


"Isssss kenapa sih semuanya harus seperti ini. Menyebalkan benar-benar sangat menyebalkan," umpat Adara kesal sendiri dengan wajahnya yang memerah.


*********


Hari berikutnya.


Hari ini Arhan akan berangkat ke Milan. Sebelumnya Arhan sudah menyiapkan barang-barangnya yang akan di bawa ke Milan.


Hanya satu koper saja pakaian Arhan. Karena memang saat datang ke Jakarta tidak ada tujuan untuk tinggal lama dan karena hanya Adara melahirkan. Jadi Arhan lumayan lama di Jakarta dan lagian sebelum pergi Arhan harus membantu Adara dan mengajari apa yang bisa di lakukan Arhan pada Adara.


Arhan sangat berat untuk pergi. Tetapi apa daya itu semua adalah pekerjaannya dan pekerjaan itu tidak bisa di tinggalkan sama sekali.


Arhan yang sudah di halaman rumah di dekat mobil. Masih menggendong Alvian yang pasti akan rindu berat dengan Alvian. Jadi Arhan ingin menghabiskan banyak waktu untuk menggendong Alvian yang sudah seperti anaknya sendiri.


Adara berdiri di belakang Arhan yang bersebelahan dengan Bibi. Dia hanya melihat murung Arhan bersama putranya itu. Jika dulu kepergian Arhan tanpa ada Adara di dekatnya. Maka kali ini berbeda. Adara berada di sisi Arhan yang mengantarkan ke pergian suaminya itu.


Ada Herlambang, Bi Sri dan Adara juga yang ada di sana. Arhan masih menggendong Alvian seolah tidak ingin meninggalkan Alvian.


"Arhan kamu bisa ketinggalan pesawat," tegur Herlambang yang mengingatkan Arhan.

__ADS_1


"Iya pah," sahut Arhan.


"Pah aku pamit. Papa titip Alvian dan juga Azizie," ucap Arhan pada Herlambang yang berpamitan pada Herlambang.


"Iya Arhan kamu jangan khawatir papa akan menjaga istri dan anak kamu," sahut Herlambang yang memang apa adanya.


Arhan menghela napasnya dan menoleh ke arah Adara. Melihat Adara sebentar. Di mana Adara yang kelihatan sangat berat melihat kepergian Arhan.


Pekerjaannya sangat banyak dan tidak memungkin di tinggal. Apa lagi para pesaing belakangan ini merajalela dan lengah sedikit Arhan bisa mengalami kerugian yang banyak dan untuk Adara sendiri. Arhan tidak bisa membawanya. Karena Adara harus melanjutkan sekolahnya.


Meski keduanya belum sama-sama mantap dengan perasaan mereka yang pasti sudah mulai tumbuh benih-benih cinta. Tetapi ke-2nya sama-sama berat untuk berpisah. Tetap keadaan harus membuat ke-2nya untuk LDR sementara.


Arahan menghela napasnya dan menghampiri Adara. Memberikan Alvian ke gendongan Adara dan Adara pun mengambilnya dari tangan Arhan.


"Bibi bantu Azizie untuk merawat Alvian," ucap Arhan berpesan pada Bibi.


"Itu pasti mas Arhan. Saya akan selalu mengawasi Nona Adara dan juga den Alvian," jawab Bibi.


"Baguslah kalau begitu. Jika ada sesuatu tanyakan pada saya," ucap Arhan mengingatkan.


"Pasti mas Arhan," sahut Bibi.


"Pah aku pergi dulu," ucap Arhan kembali pamitan pada Herlambang.


"Iya Arhan kamu hati-hati dan semoga pekerjaan kamu lancar dan kamu jangan khawatir Adara dan Alvian pasti baik-baik saja," sahut Herlambang.


"Iya pah," sahut Arhan dengan mengangguk.


Arhan kembali ke pada Adara dan melihat Adara cukup lama. Sama-sama berat keduanya untuk LDR. Namun harus terjadi.


Sebelum berangkat, Arhan kembali melihat Adara. Dan Arhan merangkul bahu Adara sembari mengusap-usapnya lalu mencium pucuk kepala Adara. Adara memejamkan matanya menerima ciuman tersebut.


"Aku pergi Azizie. Kamu jaga Alvian. Jika ada sesuatu kamu tanya bibi dan kabari aku jika kamu ada yang ingin kamu katakan. Maka kabari aku," ucap Arhan. Adara hanya menganggukkan kepalanya.


Arhan juga pamitan pada Alvian dengan mencium kening Alvian sama-sama berat meninggalkan anak dan istrinya. Mereka akan kembali berpisah untuk waktu yang cukup lama.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2