TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 41 Gawat Darurat.


__ADS_3

Kebetulan Perpustakaan itu melewati pintu yang menuju lapangan golf. Arhan yang berjalan dengan matanya yang melihat sebentar ke arah lapangan golf tersebut. Tidak ada apa-apa dan hanya kosong di lapangan tersebut.


Dari kejauhan itu bisa di lihat lapangan hijau yang memang sangat sepi. Karena tidak ada apa-apa. Arhan kembali melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Karena memang tidak tau kenapa dia harus berhenti tiba-tiba.


Namun tiba-tiba langkahnya kembali terhenti ketika merasa ada sesuatu. Feeling dan perasaannya yang mendadak tidak enak. Arhan melihat kembali ke arah teras itu. Merasa ada sesuatu yang membuat dahi Arhan mengkerut.


Pandangan mata Arhan jatuh ke arah lantai di balik kursi. Arhan melihat ada tangan yang tergeletak dan dari hal itu membuat Arhan melotot dan langsung buru-buru untuk memastikan apa yang di lihatnya itu. Apa dia salah lihat atau bagaimana.


Sampai tiba kakinya berhenti di tempat tersebut yang membuat Arhan terkejut yang melihat Adara yang tergeletak yang tidak sadarkan diri dengan darah yang ada di pahanya mengalir deras.


"Azizie!" pekik Arhan yang terkejut. Arhan langsung duduk dengan satu lututnya menyentuh lantai. Arhan mengangkat kepala Adara dan meletakkannya di pahanya dengan memegang pipi Adara.


"Azizie apa yang terjadi padamu?" tanyanya panik dengan menepuk-nepuk pipi Adara yang tidak sadarkan diri.


Mencoba mendengarkan napas Adara dengan mendekatkan telinganya. Kepanikan yang terlihat di wajah Arhan dan apalagi darah yang mengalir itu. Wajah yang pucat dan bibir yang hitam.


"Azizie! Bangun!"


"Apa kamu mendengarku!"


"Azizie bangun! Azizie!"


"Bangun! hey buka mata mu!" dengarkan aku!"


"Azizie bangunlah! Kamu mendengarku!"


Arhan hanya berusaha membangunkan Adara dengan menepuk-nepuk pipi Adara. Namun Adara tidak bangun sama sekali membuat Arhan semakin panik dan langsung mengangkat Adara menggendong Adara ala bridal style yang membawa Adara buru-buru pergi dari tempat itu.


Yang pasti dia harus menyelamatkan Adara. Karena kondisi Adara tidak main-main sama sekali. Apalagi ada darah di paha Adara dan Adara sedang hamil tua.


********


Arhan dengan menggendong Adara ala bridal style dengan buru-buru dan berpapasan dengan Bibi yang sedang membawakan teh. Bibi kaget dengan melihat Adara yang berada di gendongan itu.


"Ya ampun mas Arhan. Non Adara kenapa?" tanya Bibi dengan wajah paniknya yang shock melihat Adara.


"Saya tidak tau Bi saya melihatnya sudah tidak sadarkah diri di dekat lapangan golf," jawab Arhan panik.

__ADS_1


"Ya ampun sampai berdarah seperti ini! Ini sangat bahaya untuk kandungan Adara Bi," ucap Bibi semakin panik.


"Saya akan bawa Adara kerumah sakit," ucap Arhan yang langsung pergi.


"Iya mas Arhan!" sahut Bibi.


"Ya Allah semoga saja Non Adara tidak apa-apa. Kenapa Non Adara bisa sampai seperti itu. Semoga saja kandungan baik-baik saja," batin Bibi dengan rasa takutnya terjadi hal buruk pada Adara.


Tangannya yang memegang gelas itu sampai bergetar. Karena saking takutnya terjadi sesuatu pada Adara yang tidak di inginkannya.


Sementara Arhan langsung memasuki mobil mendudukkan Adara. Memakaikan buru-buru sabuk pengamannya dan Arhan langsung memasuki bagian kursi pengemudi. Arhan masih menoleh ke arah Adara dan Adara tetap tidak sadarkan diri.


"Kamu harus bertahan Adara. Kamu pasti akan baik-baik aja. Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada kamu. Kamu harus bertahan!" ucap Arhan yang langsung melajukan dengan cepat-cepat langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


*********


Rumah sakit.


Adara yang sudah berada di dalam rumah sakit yang sudah sadarkan diri. Tetapi berteriak histeris dengan perutnya yang kesakitan. Ada beberapa Dokter dan Suster yang menangani Adara. Hidung Adara di beri alat pernapasan dan tangannya di beri infus.


"Sakit!"


"Sakit!"


Air matanya jangan di tanya lagi. Sudah keluar membahasi wajahnya. Berteriak ternyata tidak membuat rasa sakit itu hilang.


"Papa!" Adara memanggil sang papa. Karena takut dengan apa yang di hadapinya.


"Sebaiknya panggil suaminya!" titah Dokter yang harus bertindak untuk memberi ketenangan pada Adara.


Suster menganggukkan kepalanya, " baik Dokter," sahut Suster yang langsung pergi.


Adara sepertinya tidak tau jika Arhan sudah kembali dan bahkan Arhan yang membawanya kerumah sakit adalah suaminya sendiri.


Bagaimana bisa Adara tau jika Arhan kembali. Karena Adara baru saja siuman dan kembali histeris kesakitan. Dia hanya mengingat pertengkarannya dengan Lucia dan ini hasil yang di dapatkannya.


Sementara Arhan yang masih menunggu di luar dengan sangat panik yang takut terjadi sesuatu pada Adara yang sekarang berada di dalam ruangan UGD. Tidak bisa bohong dari wajah Arhan dia terlihat sangat mencemaskan Adara.

__ADS_1


Masih terbayang di benaknya bagaimana dia menemukan Adara dan ketakutan seperti ini yang di takutkan Arhan. Sangat takut jika terjadi sesuatu pada Adara.


Tidak lama Suster keluar dari ruangan UGD tersebut dan Arhan langsung menghampiri Suster.


"Suster bagaimana Azizie?" tanya Arhan dengan panik.


"Nona Azizie masih terus kesakitan. Keadaanya semakin darurat. Sebaiknya tuan menemani istri tuan!" titah suster tersebut memberikan saran pada Arhan.


Arhan tidak langsung menjawab dan diam sebentar.


"Tuan!" tegur Suster tersebut.


"Baiklah!" sahut Arhan yang langsung setuju.


Karena dia juga sangat khawatir pada Adara dan tidak ada yang menemani Adara. karena Herlambang tidak ada di saba dan jika bukan dia siapa lagi yang akan menemani Adara.


Arhan langsung masuk keruangan itu dan melihat Adara yang menahan sakit seperti orang yang ingin melahirkan.


"Azizie!" lirih Arhan dengan suara seraknya.


Mendengar suara itu membuat Adara langsung melihat ke arah pintu. Adara terkejut melihat ke datangan Arhan. Tetapi Adara tidak mau senang dulu. Karena dia selalu berhalusinasi yang tiba-tiba melihat Arhan dan mungkin saja Pria yang baru saja memanggil namanya itu bukan Arhan tetapi hanya halusinasi Arhan saja.


Arhan langsung mendekat yang berdiri di dekat Adara memegang tangan Adara dan Adara baru tersadar. Jika dia memang bukan mengkhayal. Pria itu memang Arhan.


"Kamu!" lirih Adara.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arhan yang mendekatkan wajahnya pada Adara mengusap rambut Adara.


"Sakit!" keluh Adara yang memegang kuat tangan Arhan. Dengan adanya tangan itu mampu memberikan energi pada Adara.


"Sangat perih! Sakit! Aku tidak tau kenapa sangat sakit!" Adara mengeluhkan keadaannya pada Arhan. Arhan hanya mengangguk-angguk yang berusaha untuk menenangkan Adara.


"Kamu tenang ya semuanya akan baik-baik saja, sakitnya akan hilang sebentar lagi. Percaya pada ku. Kamu tidak akan mengalami rasa sakit ini lagi," " ucap Arga yang berusaha menengakan Adara walau Arhan mengatakan seperti itu tidak akan mengubah rasa sakit yang di alami Adara. Karena memang sangat luar biasa sakitnya.


Arhan berdiri di samping di bagian kepala Adara yang menghadap Dokter yang sedang menjalankan tugasnya yang tetap menangani Adara.


Beberapa Suster yang membersihkan darah di paha Adara dan Adara hanya semakin lemas dengan tatapan matanya yang begitu lemas dan tidak tau apa lagi menjelaskan rasa sakit itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2