TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 27 Puncak Memory


__ADS_3

Tidak berapa lama akhirnya mereka semuanya sampai ke Villa tersebut. Arhan membukan pintu mobil dan Adara keluar dari mobil dan pak supir mulai membawa koper masuk ke dalam Villa.


Adara melihat di sekitarnya yang ternyata di tempat itu begitu teduh dan sangat indah. Udaranya sangat sejuk yang membuat Adara menghela napasnya yang merasakan keasrian dan keindahan tempat tersebut yang penuh dengan alam yang membawa ketenangan.


"Non Adara suka tempatnya?" tanya bibi.


"Iya Bi," jawab Adara dengan wajahnya yang berseri.


"Kalau begitu ayo kita masuk Non," ajak Bibi. Adara menganggukkan kepalanya dan mereka berdua masuk. Sementara untuk Arhan berjalan ke sekitar halaman Villa yang menikmati keindahan tempat itu.


Bangunan Villa tersebut berbahan kayu yang membuat keindahan tersendiri dan bertambah sejuk. Rumah dengan dua lantai yang begitu indah dan pasti sangat nyaman. Keindahan dan keasrian yang memberikan ketengan.


Adara dan Bibi sudah sampai kamar dan Bibi langsung membuka jendela kamar. Terlihat keindahan dari kamar di mana ada air terjun yang mengalir dengan sungai kecil yang terdapat bebatuan dan keindahan alam itu semakin membuat ke tenangan dan sangat cocok dengan kamar Adara dengan view yang menarik.


"Bibi lihat apa?" tanya Adara yang menghampiri Bibi dan Bibi memperlihatkan pada Adara apa yang di lihatnya.


"Wau Bi sangat indah," ucap kagum Adara dengan matanya yang berbinar.


"Non suka?" tanya Bi Sri. Adara menganggukan kepalanya.


"Jika Adara di sini terus. Adara pasti merasa tenang dan tidak takut dengan hal buruk yang Adara pikirkan sebelumnya," jawab Adara membuat Bibi tersenyum mendengarnya.


"Nona Adara. Bukannya Bibi selalu mengatakan. Jika apa yang di lakukan tuan kepada Nona itu adalah demi kebaikan Nona sama dengan hal ini. Nona awalnya menolak untuk pergi ke puncak. Tetapi lihat setelah sampai di sini Nona sangat bahagia dan merasa tenang yang itu artinya ketentuan yang di lakukan tuan Herlambang sudah yang paling terbaik dan semuanya demi kebaikan Nona sama dengan semua yang Nona alami dengan yang di tentukan tuan Herlambang. Percayalah semuanya untuk kebaikan Nona," jelas Bibi dengan lembut.


"Karena tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya untuk tidak bahagia. Sebesar apapun seorang anak melakukan kesalahan. Orang tua akan memikirkan yang terbaik untuk anaknya," lanjut Bibi.


Adara hanya diam mendengarkan nasehat dari bibi yang benar apa adanya.


"Jadi Nona Adara berhenti untuk melawan pada tuan. Karena tuan melakukan semuanya demi kebaikan Nona," ucap Bibi.


Adara menganggukkan kepalanya membuat Bibi tersenyum dan memegang pipi Adara.

__ADS_1


"Bibi beres-beres pakaian dulu ya," ucap Bibi. Adara menganggukkan kepalanya dan Bibi langsung menuju koper Adara.


Mata Adara kembali melihat ke arah bawah ke luar jendela yang sudah melihat Arhan berdiri di atas batu di atas sungai yang seperti menghirup udara dengan menikmati keindahan di tempat itu.


"Bibi apa benar dia mau kembali ke Milan?" tanya Adara.


"Siapa Nona?" tanya Bibi.


"Anak kesayangan papa," jawab Adara.


Mendengarnya Bibi tersenyum dengan suara endusan.


"Bukannya anak kesayangan tuan itu Nona Adara?" tanah Bibi.


"Udahlah Bibi nggak usah pura-pura tidak tau. Katakan saja. Apa benar dia akan kembali ke Milan?" tanya Adara yang matanya tidak lepas dari Arhan yang berada di bawah sana.


"Hmmmm. Sesuai dengan apa yang Bibi katakan sebelumnya. Kalau mas Arhan akan kembali ke Milan setelah melakukan perintah dari tuan," jawab Bibi.


"Ini berita bagus untuk Nona Adara bukan," ucap Bibi yang tersenyum yang ingin mendengar jawaban Adara.


"Bukannya Nona Adara menginginkan hal itu cepat-cepat terjadi dan sebentar lagi keinginan Nona Adara akan terwujud. Pria yang sering Nona katakan sebagai Dia itu tidak akan berada di kamar Nona lagi. Tidak akan mengantar Nona ke sekolah lagi dan pokoknya tidak akan bersama Nona Adara lagi," ucap Bibi yang menunggu reaksi Adara.


Adara hanya diam saja mendengarnya dengan ekspresinya yang tidak bohong seperti tidak ingin hal itu terjadi. Mungkin dia tidak mau Arhan kembali ke Milan.


"Tapi kenapa Bibi lihat Wajah Nona Adara tampak sedih ya. Jangan-jangan Nona Adara tidak ingin ya. Mas Arhan pulang," goda Bibi dengan candaan.


"Apa sih Bi. Kapan aku mengatakannya. Justru aku senang dia tidak akan menggangguku dan mengaturku," sahut Adara mengelak tuduhan Bibi kepadanya.


"Oh jadi Non Adara senang?" tanya Bibi.


"Issss, sudah lah Bi jangan membahasnya," ucap Adara kesal yang jadi kehilangan mood dan malah kesal dan bibi hanya tersenyum saja melihatnya.

__ADS_1


**********


Di sore hari Adara dan Bibi berjalan-jalan ke kebun buah untuk memetik buah seperti apa yang di janjikan Bibi pada Adara saat di dalam mobil.


Kebun buah di dekat Villa itu memang sangat luas dan banyak jenis buah yang lumayan mencuci mata kita dan makan buah gratis.


"Mana Bi pohon mangganya?" tanya Adara yang tidak sabaran ingin memakan Mangga.


"Di sana Non," jawab Bibi yang menunjuk dan Adara tersenyum yang langsung menuju pohon mangga tersebut. Ternyata benar apa adanya ada pohon mangga dan sedang berbuah membuat Adara tersenyum.


"Bibi ambil pisau dan air ya. Adara ingin makan mangganya," ucap Adara yang tampak tidak sabaran.


"Baik non, tunggu sebentar di sini. Biar bibi ambil pisau dan airnya dan nanti Bibi akan mengambilkan mangganya untuk Non dan mengupasnya," ucap Bibi.


"Baik Bi. Jangan lama-lama ya Bi soalnya Adara sudah tidak sabar ingin makan mangganya," jawab Adara.


"Baik Non Adara," jawab Bibi yang langsung pergi.


Adara menelan salivanya karena tidak sabaran ingin memakan mangga tersebut dan karena tidak sabaran Adara mencoba untuk mengambilnya. Meski pohonnya rendah dan buahnya seperti mudah di gapai. Ternyata lumayan sulit juga sampai Adara harus berjinjit untuk mengambil mangga tersebut. Bahkan dia sampai melompat.


"Issss kenapa sudah sekali," keluhnya yang sudah tidak sabaran dan terus berusaha.


Namun tiba-tiba sebuah tangan yang memetik buah tersebut membuat Adara mendongak ke atas yang ternyata Arhan yang berdiri di belakangnya. Arhan yang lebih tinggi dari Adara pasti sangat mudah bagi Arhan untuk mengambil buah tersebut.


"Tidak perlu melompat. Bisa bahaya untuk janin kamu," ucap Arhan yang melihat kearah Adara yang pasti Arhan menunduk dan mereka saling melihat dengan cukup lama.


Saling menatap dengan tatapan yang penuh arti dengan perasaan yang hanya keduanya yang tau. Kedekatan saling melihat satu sama lain.


Adara masih mengingat jelas Arhan beberapa hari lalu marah kepadanya dan sangat dingin. Namun belakangan ini Arhan kembali hangat dan lembut padanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2