
Arhan sudah sampai rumah dan langsung berhadapan dengan Herlambang yang menunggu di ruang tamu.
"Kamu apa kabar Arhan?" tanya Herlambang yang memeluk Arhan.
"Baik-baik aja pah," jawab Arhan, "papa bagaimana kesehatannya?" tanya Arhan. Herlambang sekarang kemana-mana sudah menggunakan tongkat kecilnya. Ya sudah mulai berumur jadi sangat mudah lelah.
"Seperti yang kamu lihat. Papa seperti ini saja," sahut Herlambang.
"Papa harus jaga kesehatan dengan baik dan tetap rutin untuk kontrol," ucap Arhan memberi saran.
"Itu pasti Arhan. Terima kasih kamu sudah memberikan saran kamu," sahut Herlambang.
Adara yang duduk di sofa hanya diam saja. Ya pura-pura tidak dengar saja dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Papa Alvian ada sesuatu untuk papa. Sebentar Alvian ambilkan," sahut Alvian yang langsung berlari.
"Pelan-pelan Alvian nanti jatuh," tegur Arhan.
"Alvian kuat seperti papa dan tidak akan jatuh," sahut Alvian yang sudah pergi entah kemana. Arhan geleng-geleng kepala melihat Alvian yang pasti ada saja jawabannya.
"Apa yang ingin di tunjukkannya?" tanya Herlambang.
Arhan mengangkat ke-2 bahunya, "entahlah pah," sahut Arhan yang memang tidak tau.
Arhan dan Herlambang pun duduk di sofa.
"Apa perkembangan Perusahaan baik?" tanya Herlambang.
"Saat ini baik dan sangat maju," jawab Arhan.
"Kalau begitu cepatlah kembali ke Milan dan jangan kembali-kembali lagi ke mari," gerutu Adara pelan. Namun dapat di dengar Arhan. Membuat Arhan melihat ke arah Adara. Namun Adara melihat dengan sinis.
"Papa!" Alvian kembali datang yang berlari dengan bahagianya yang membawa piring kecil dan menghampiri Arhan.
"Untuk papa Alvian. Kue ulang tahun Alvian!" Alvian ternyata menyimpan bekas kue yang di berikannya pada Adara. Mungkin karena potongan pertama. Jadi untuk ayah dan ibunya.
"Maaf papa dingin Alvian soalnya simpan di freezer," sahut Alvian.
"Makasih sudah menyisihkan nya untuk papa," ucap Arhan.
"Itu pasti pah," sahut Alvian.
"Tapi kenapa ini seperti di makan. Apa Alvian memakannya?" tebak Arhan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan! Itu bekas gigitan mama. Ini potongan kue pertama yang memang special untuk mama dan papa. Makanya Alvian menyimpan bagian papa," jelas Alvian.
Mendengar itu bekas gigitannya membuat Adara menyerngitkan dahinya. Anaknya itu memang benar-benar tidak ada kerajaan melakukan hal konyol seperti itu. Arhan juga melihat Adara sebentar.
"Ayo di makan lah. Mama tidak ada penyakit kok. Jadi papa jangan takut terkenak rabies," sahut Alvian membuat mata Adara melotot.
__ADS_1
Herlambang yang ada di situasi itu yang langsung tertawa. Ya hanya Alvian yang bisa memojokkan Adara. Adara tidak bergeming sama sekali yang hanya mengumpat kesal.
"Baiklah papa makan," sahut Arhan yang langsung memakan apa yang di siapkan Alvian. Alvian tersenyum melihatnya.
"Tersisa sedikit lagi. Ini untuk Alvian," ucap Arhan menyuapi Alvian dan Alvian langsung membuka mulutnya dan mengunyah kue tersebut. Jangan tanya wajah Adara sangat kesal di situasi tersebut.
"Papa juga ada hadiah untuk Alvian," ucap Arhan.
"Oh iya hadiah apa itu?" tanya Alvian penasaran.
Arhan mengeluarkan paper bag yang sejak tadi di pegangnya dan memberikan hadiah tersebut. Alvian langsung buru-buru membukanya. Melihat kotak besar dengan gambar pistol membuat Alvian sangat bersemangat dan membuka kotak itu yang ternyata pistol mainan yang besar.
Mata Alvian berbinar menerima hadiah dari sang papa tersebut.
"Wau keren sekali," ucapnya yang begitu bahagia.
"Alvian suka?" tanya Arhan.
"Sangat suka. Makasih papa!" sahut Alvian yang langsung memeluk Arhan. Kedekatan hubungan Alvian dan Arhan yang sangat hangat dan penuh ketulusan. Lagi-lagi membuat Herlambang tidak salah pilih menantu.
**********
Adara memasuki kamar dan melihat Arhan yang memasukkan pakainnya ke dalam koper. Adara menyerngitkan dahinya. Melihat pakaian Arhan cukup banyak sampai harus masuk lemari.
"Apa dia mau tinggal setahun di sini," batin Adara.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan!" tegur Arhan membuat Adara terkejut. Dia asyik melamun sampai tidak tau. Jika Arhan sejak tadi melihat dirinya.
"Siapa yang mau bertanya," sahut Adara sewot dan langsung melangkah menuju kamar mandi.
Arhan hanya menghela napas. Ya begitulah lah istrinya itu memang kadang-kadang seperti itu. Bukan kadang-kadang lagi tetapi memang seperti itu yang selalu di temuinya.
Adara berada di kamar mandi menggosok giginya.
"Jangan sampai dia lama-lama di sini. Dia itu Selalu ingin suka-sukanya datang pergi, datang pergi. Apa dia tidak memikirkan peliharaannya di sana yang akan menunggunya jika dia terlalu lama di sini," batin Adara yang bergerutu sendiri sembari menggosok giginya.
Dia terus saja kesal dengan Arhan dan memang tidak akan ada selesainya masalahnya dengan Arhan
Toko-tok-tok-tok.
"Azizie kamu masih lama!" tegur Arhan denganengetuk pintu.
"Isss mengganggu aja," desis Adara dengan kesal yang langsung kumur-kumur.
"Azizie!" Arhan kembali memanggil lagi.
"Iya sebentar. Nggak sabaran banget sih," ucap Adara dengan kesal dan setelah menyelesaikan pekerjaannya Adara langsung membuka pintu kamar mandi dan Arhan sudah berdiri di depan kamar mandi.
"Buat kamar mandi sendiri kalau tidak sabaran," ketus Adara yang langsung pergi dari hadapan Arhan. Arhan hanya menghela napas berat melihat Adara yang semakin lama semakin jutek.
__ADS_1
*********
Pagi ini keluarga Herlambang sedang sarapan bersama. Ada juga Lucia dan Mayang yang ikut sarapan. Namun terasa aneh pagi ini dengan Lucia yang kok tiba-tibanya terus memperhatikan Arhan dengan Lucia yang menyimpan senyum.
"Aku baru tau jika selama ini kak Arhan itu memang sangat tampan. Tubuhnya yang perfek dan sangat gagah," batin Lucia yang mulai curi-curi pandang dengan Arhan yang mengagumi Arhan mendadak.
Arhan sejak dulu memang sudah tampan hanya kali ini saja Lucia baru sadar dengan ketampanan Arhan.
Arhan kebetulan ingin mengambil nasi goreng. Namu tangannya bersamaan dengan Lucia dan saling memegang sendok. Hal seperti itu di lihat Adara. Dahi Adara langsung berkerut melihat hal semacam itu.
"Kak Arhan ternyata mau ambil juga," sahut Lucia tersenyum.
"Kamu saja ambil duluan," sahut Arhan dengan datar.
"Kak Arhan saja," sahut Lucia tersenyum.
"Biar aku ambilkan," Lucia pun mengambilkan kepiring Arhan.
"Tidak usah," Arhan tidak bisa menolak saat Adara sudah memasukkan nasi itu ke piring Arhan. Hal seperti itu membuat Adara kesal dan melihat terus ke arah Lucia. Tatapan mata Lucia pada Arhan yang sangat berbeda membuat Adara seperti merasa ada yang tidak beres.
"Apa-apaan sih Lucia," batin Adara dengan kesal melihat tingkah Lucia yang tersenyum manis pada Arhan. Adara sepertinya tidak suka dengan hal itu.
"Alvian kamu tidak makan salad nya?" tanya Arhan mengalihkan keanehan Lucia pada Alvian.
"Papa tolong ambilin ya," sahut Alvian.
"Oke! Mau banyak?" tanya Arhan.
"Secukupnya aja pah," sahut Alvian. Arhan mengangguk dan langsung membuatkan ke dalam piring Alvian .
"Mama kenapa melamun! Mama apa tidak makan?" tanya Alvian.
"Mama makan kok," sahut Adara dengan perasaannya yang memang mulai tidak enak dan pasti karena memperhatikan sikap Lucia barusan.
"Papa nanti kita jalan-jalan ya!" ajak Alvian.
"Baiklah Alvian," sahut Arhan.
"Kalian pulangnya jangan lama-lama ya. Nanti malam ada acara Perusahaan dan papa ingin kamu hadir di sana. Bersama Alvian dan juga Adara," ucap Herlambang mengingatkan.
"Pasti pah. Nanti saya akan atur waktunya agar tidak terlambat," jawab Arhan.
"Baguslah kalau begitu. Mayang kamu dan Lucia juga harus hadir ya," ucap Herlambang.
"Iya kak," sahut Mayang.
"Iya Om," sahut Lucia.
Bersambung
__ADS_1