TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 17 Sikap Adara.


__ADS_3

"Nona Adara tidak boleh mengatakan seperti itu. Ya memang tuan mengangkat mas Arhan untuk menjadi anak angkatnya. Bukan karena mas Arhan yatim piatu. Mas Arhan masih mempunyai orang tua lengkap yang artinya orang tua mas Arhan adalah mertua Non Adara," jelas Bibi.


"Kenapa harus bawa-bawa aku," sahut Adara tidak suka.


"Non Adara sudah menikah dengan mas Arhan dan orang tua mas Arhan orang tua Non Adara juga," ucap Bibi.


"Jelas berbeda," sahut Adara yang kembali melanjutkan makannya yang pasti tidak mudah menerima keluarga Arhan.


Bibi hanya geleng-geleng saja dengan Adara. Tetapi wajar saja karena Adara pasti tidak paham dengan pernikahan.


"Oh iya. Bibi sendiri bagaimana. Bibi terus bersama Adara dan terus merawat Adara dari kecil sampai sekarang. Apa Bibi juga punya keluarga?" tanya Adara tiba-tiba mengalihkan ke pembicaraan yang menurutnya lebih bermutu dari pada membahas Arhan.


"Iya Non Adara. Bibi punya keluarga dan juga punya anak," jawab Bibi dengan tersenyum.


"Lalu di mana anak Bibi. Kok Adara nggak pernah lihat?" tanya Adara.


"Ada di kampung sama suami Bibi. Anak Bibi ada 2 yang berusia 15 tahun dan 24 tahun keduanya sudah dewasa dan


Keduanya seorang Wanita. Yang sekolah dan bekerja di kampung," jawab Bibi.


Dari wajah Adara yang begitu menyimak apa yang di ceritakan bibi. Seperti Adara tidak tau dengan hal itu.


"Lalu Bibi tidak kangen sama keluarga Bibi?" tanya Adara.


"Pasti kangen Non. Hanya saja ada waktunya untuk berkunjung," jawab Bibi.


"Bibi punya anak kandung. Lalu kenapa Bibi selama ini bilang ke Adara. Adara itu sudah Bibi anggap seperti anak Bibi sendiri," ucap Adara.


"Ya kan memang iya Nona Adara itu sudah seperti anak Bibi," jawab Bibi.


"Tapi pasti sayangnya Bibi lebih banyak pada 2 anak Bibi dari pada Adara. Walau Adara terus bersama Bibi," ucap Adara dengan sedikit cemburu.


Mendengarnya membuat bibi tersenyum dan mengusap-usap pucuk kepala Adara dengan gemes yang melihat wajah cemberut Adara.


"Bibi itu sama sayangnya kepada 2 anak Bibi dan juga Nona Adara. Tidak ada perbedaannya. Karena pengganti 2 anak Bibi yang ada di kampung adalah Nona Adara. Jadi bibi sangat menyayangi Nona Adara sama seperti anak Bibi," jelas Bibi.


"Bibi benar atau bohong?" tanya Adara.

__ADS_1


"Memang dari wajah bibi ada kebohongan?" tanya Bibi.


"Nggak sih," sahut Adara tersenyum dan Bi Sri juga ikut tersenyum.


"Makasih ya Bi. Sudah sayang sama Adara, selalu memenuhi keinginan Adara dan Bibi pengganti almarhum mama Adara yang selalu ada untuk Adara. Makasih Bi untuk kebaikan Bibi. Aku sayang banget sama Bibi. Adara jadi tidak kehilangan sosok ibu," ucap Adara yang memang sangat tulus menyayangi Bi Sri.


"Iya Nona Adara. Bibi juga sangat menyayangi Nona Adara, makanya Nona Adara harus selalu baik-baik ya," sahut Bibi yang tersenyum. Adara mengangguk kan kepalanya.


"Ayo di makan lagi. Jangan hanya bercerita terus," ucap Bibi.


Adara mengangguk-angguk dan kembali makan dengan lahap dan Bi Sri yang melihat Adara dengan penuh ketulusan.


"Adara!" tiba-tiba Herlambang menegurnya.


"Ada apa pah?" tanya Adara dengan datar.


"Ayo keruang tamu. Temui orang tua Arhan!" titah Herlambang.


"Papa nggak lihat Adara lagi makan," jawab Adara.


"Papa menyuruh kamu ke ruang tamu dan temui orang tua Arhan yang sudah menjadi mertua kamu. Jadi kamu jangan banyak alasan. Cepat sana!" tegas Herlambang.


"Papa bilang cepat!" tegas Herlambang


"Nona Adara. Ayo sana. Jangan membuat tuan marah. Nona hanya menemui saja dan berprilaku sopan," bujuk Bibi.


"Isssss papa keterlaluan," umpat Adara memutar bola matanya dengan malas dengan penuh kekesalan yang terpaksa berdiri dari tempat duduknya dan pergi dengan kekesalan yang penuh keterpaksaan. Herlambang hanya menggeleng melihat kelakuan Adara yang kemudian menyusul Adara.


"Semoga saja Nona Adara tidak membuat ulah dan tidak membuat tuan Herlambang marah padanyanya," batin Bibi yang selalu mencemaskan Adara. Sebenarnya wajar-wajar saja Adara seperti itu. Karen Adara masih remaja yang masih sangat labil.


***********


Akhirnya Adara menyusul keruang tamu dengan keterpaksaan. Arhan dan kedua orangtuanya melihat kedatangan Adara dengan orang tua yang berpenampilan sederhana itu tersenyum.


"Salim mereka!" titah Herlambang yang berdiri di samping Adara.


Adara berdecak dengan memutar bola matanya malas dan melakukan apa yang di perintahkan oleh papanya dengan keterpaksaan pastinya.

__ADS_1


"Ternyata kamu sangat cantik aslinya," ucap ibu Arhan dengan tersenyum yang mengusap kepala Adara saat Adara mencium punggung tangannya.


Namun pujian itu tidak di tanggapi oleh Adara yang hanya menunjukkan wajah ketusnya dan langsung bergantian bersalaman pada ayah Arhan.


"Nak Azizie memang sangat cantik!" puji mertua prianya itu.


"Namaku Adara. Buka Azizie!" tegas Adara yang tidak suka di panggil nama Azizie.


"Tapi Arhan mengatakan istrinya itu bernama Azizie!" sahut wanita itu dengan wajah herannya.


"Ya kalau begitu tanya kan saja padanya siapa wanita yang di maksudnya," ucap Adara dengan kesal.


"Sudah Adara. Kamu jangan membesar-besarkan hal yang tidak penting. Jaga sikap kamu di depan orang yang lebih tua," tegas Herlambang mengingatkan.


"Issss papa," Adara kesal yang ingin pergi. Namun Herlambang langsung memegang tangannya menghentikan Adara.


"Duduk kamu!" titah Herlambang dengan tegas.


"Aku masih mau makan pah! Papa tadi menggangguku makan!" protes Adara.


"Papa bilang duduk!" tegas Herlambang.


"Issss!" Adara menghentakkan ke-2 kakinya dan langsung duduk dengan terpaksa di samping Arga dengan jarak yang pasti jauh.


Arhan hanya menghela napas melihat kelakukan Adara di depan orang tuanya. Namun orang tua Arga tampak santai yang mungkin menganggap hal itu hanya biasa saja.


Bahkan mereka mencoba untuk tersenyum. Walau pasti merasa tersinggung dengan sikap Adara. Herlambang pun ikut duduk dan pasti menyapa tamunya itu dengan sangat baik.


"Maaf Pak Amir dan Bu Amina dengan apa yang lakukan Adara. Memang sangat kurang sopan. Saya sebagai ayahnya memohon maaf yang kurang bisa mendidik anak saya untuk beretika dengan baik," ucap Herlambang yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Pak Herlambang. Tidak perlu minta maaf. Kami sangat memakluminya dan Azizie mungkin kesal karena makannya jadi terganggu," sahut Pak amir dengan tersenyum yang berbesar hati menerima sikap Adara.


"Semoga saja Pak Amir dan Bu Aminah tidak tersinggung dengan semua ini," ucap Herlambang yang tetap merasa tidak enak.


"Tidak ada yang tersinggung pak. Kami ini orangnya legowo," sahut Aminah dengan tersenyum.


"Papa berlebihan sekali sih. Dia harus meminta maaf segala. Memang apa yang aku lakukan. Aku seperti anak yang tidak mempunyai sopan santun saja. Papa benar-benar membuatku malu di depan semua orang," batin Adara dengan kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2