TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 53 Momen


__ADS_3

Akhirnya rasa sakit itu sudah tidak terasa lagi. Entah apa yang di lakukan Arhan. Sampai membuat Adara tidak kesakitan lagi dan sekarang Arhan sedang memberi perban pada luka Adara. Perban yang baru untuk membalut luka itu. Sementara Adara yang terus melihat ke arah Arhan melihat Arhan mengobatinya dengan profesional.


Walau tubuh Adara di tampilkan di depan Arhan. Mata Arhan tidak melihat ke arah lain dan fokus pada luka Adara membuat Adara menatap kagum suaminya itu.


"Apa dia tidak normal? sejak tadi hanya fokus pada lukaku saja dan sama sekali tidak melihat hal yang kain. Ya aku memang tidak berharap hal lain atau berharap dia melihat yang lain. Tetapi apa salahnya melirik-lirik sedikit. Apa tubuhku tidak menarik," Adara bergerutu sendiri di hatinya.


Bukan tidak normal Arhan pria normal dan mana mungkin Arhan tidak tertarik atau tidak bernafsu pada Adara. Apa lagi Adara adalah istrinya dan sah-sah saja jika Arhan ingin melakukan hal yang lebih jauh atau ingin menyentuh Adara. Namun kembali lagi Arhan tidak akan melakukan hal itu. Jika tidak ada kesepakatan bersama dan tidak akan memaksa Adara untuk melakukan hal itu.


"Sudah selesai!" ucap Arhan yang membuat Adara kaget. Karena tadi dia sempat melamun dengan pemikirannya yang entah kemana.


"Oh begitu," sahut Adara gugup yang membuang napasnya perlahan kedepan.


"Kamu sendiri bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" tanya Arhan.


"Sudah kok, tidak sesakit tadi," jawab Adara.


"Baguslah kalau begitu," sahut Arhan.


Arhan mengambil selimut dan langsung menyelimuti Adara.


"Jangan memakai baju dulu. Dres mu terlalu ketat yang membuat lukaku akan kembali seperti tadi. Jadi beri kenyamanan dulu untuk lukamu," ucap Arhan memberi saran pada Adara.


"Jadi sampai besok pagi tidurlah tanpa memakai baju!" lanjut Arhan lagi.


"Apa aku kegemukan?" tanya Adara tiba-tiba.


"Maksudnya?" Arhan balik bertanya.


"Kamu bilang dressnya kesempitan dan itu artinya kamu juga mengakui jika aku gemuk, berat badan ku bertambah," ucap Adara dengan wajahnya yang mulai cemberut.

__ADS_1


"Padahal itu dress yang paling pas. Setelah aku memilih cukup lama untuk kita makan malam bersama. Aku memang memang gendut, berat badanku naik. Aku habis melahirkan dam membuatku lebih berisi. Padahal tadi aku sengaja makannya sedikit. Walau sebenarnya makanan tadi begitu enak. Tapi aku harus menahannya," keluh Adara.


Arhan mengkerutkan dahinya mendengar perkataan Adara. Padahal dirinya tidak mengatakan apa-apa dan Adara bisa-bisanya berbicara panjang lebar dengan wajah di tekuk dan mulut yang cemberut dan pasti itu sangat menggemaskan.


"Aku tidak mengatakan apa-apa Azizie," sahut Arhan.


"Tetapi dari perkataan kamu sudah jelas kok. Kalau kamu sebenarnya mau mengatakan aku gendut," ucap Adara.


"Kamu itu aneh. Aku menyuruhmu tidak memakai dress bukan karena apa-apa, bukan karena kamu gendut atau yang kain. Hal itu hanya untuk melindungi lukamu agar tidak terjadi seperti tadi," jelas Arhan.


"Tetapi kamu mengatakan dress ku kesempitan, membuat lukaku tercepit. Artinya kamu mengatakan aku gendut hanya saja dengan cara halus," tegas Adara.


"Terserah kamu. Tetapi aku tidak berpikiran apa- sama sekali dan orang habis melahirkan itu. Berat badannya naik itu biasa dan lagian kamu tetap cantik mau gendut apa tidak," ucap Arhan membuat Adara terkejut.


Mendapat pujian dari Arhan secara spontan sangat tidak di duga Adara. Jika mampu membuat Adara salah tingkah dengan kesulitan menelan salivanya.


"Istirahatlah," ucap Arhan.


Adara sampai membuang napasnya perlahan kedepan karena saking gugupnya. Arhan hanya mendengus tersenyum mengambil dres Adara yang ada di atas lantai dan langsung memindahkannya di atas sofa yang ada di kamar itu.


Lalu kemudian Arhan menaiki tempat tidur yang pasti di sebelah Adara. Karena Adara yang membelakangi Arhan. Jadi artinya Arhan berada di sampingnya dan di hadapannya.


Adara yang belum tidur kaget melihat Arhan di depannya membuatnya bertambah gugup dengan menelan salivanya dan jangan tanya jantungnya seperti apa berdetaknya. Sangat banyak kemungkinan Arhan mendengar suara jantungnya yang berperang di dalam sana.


"Selamat malam!" ucap Arhan dengan lembut menoleh ke arah Adara.


"Ma, malam," sahut Adara gugup yang buru-buru memejamkan matanya.


Arhan hanya tersenyum tipis saja. Sebenarnya Arhan lebih gugup. Namun karena Adara gugupnya lebih jelas. Jadi rasa gugup Arhan berkurang dan bisa menikmati salah tingkah Adara.

__ADS_1


*********


Pagi hari kembali Adara dan Arhan sarapan di dekat resort yang tadi malam mereka sewa dengan view pantai pasti sangat indah dan begitu nyaman untuk sarapan bersama.


Adara sudah berganti pakaian. Sebelumnya Arhan membelikannya pakaian dan sangat pas untuk di pakai Adara. Pakaian Adara sebelumnya juga tidak nyaman dan lagian juga terdapat noda darahnya. Jadi Arhan membelikan pakaian untuk kenyamanan istrinya.


Warna dan modelnya yang sangat simpel benar-benar sangat cocok untuk Adara dan Adara juga tidak terlihat gemuk dengan memakai pakaian tersebut.


"Apa tidak apa-apa Alvian kita tinggal?" tanya Adara yang tiba-tiba kepikiran Alvina. Jiwa naluri sebagai ibu telah muncul di pikirannya.


"Aku tadi sudah menelpon Bibi dan Bi Sri mengatakan Alvian tidak rewel sama sekali. Jadi kamu jangan khawatir. Kita akan segara pulang dan bertemu dengan Alvian," jawab Arhan.


"Kok kamu bisa langsung gercep gitu sih untuk menelpon Bibi untuk mengetahui kabar Alvian. Aku saja ibunya belum melakukan hal itu?" tanya Adara.


"Alvian itu putraku anak kita berdua. Jadi jika kamu belum kepikiran melakukan itu maka aku yang melakukannya dan lagian aku juga tidak mungkin membiarkanmu sendirian untuk mengurus Alvian atau semua kamu yang memikirkan. Aku juga harus ambil andil karena dia anak kita berdua," jawan Arhan dengan jawaban yang sangat menyentuh.


Hal itu sangat mengejutkan untuk Adara. Lagi dan lagi Arhan terus mengatakan Alvian adalah putranya.


"Kenapa kamu begitu tulus Arhan. Alvian bukan darah daging kamu. Tetapi kamu sangat tulus kepadanya. Aku benar-benar tidak menduga kamu lebih melakukan semuanya kepadanya di bandingkan aku," batin Adara yang sangat salut dengan Arhan.


"Azizie! kenapa kamu bengong?" tanya Arhan.


"Oh nggak apa-apa kok," sahut Azizie.


"Ya sudah ayo sarapan. Setelah itu kita pulang dan bertemu dengan Alvian. Kamu sepertinya sangat merindukannya," ucap Arhan.


"Baiklah kalau begitu," sahut Adara dengan tersenyum dan mereka berdua kembali melanjutkan sarapan mereka masing-masing.


Mungkin memang benar. Jika mereka menghabiskan moment bersama dengan waktu yang sangat singkat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2