TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 23 Tahan gengsi.


__ADS_3

"Sial! Kenapa sih di malah ke sana!" umpat Lucia dengan kesal. Baru aja bicara dan dekat sama Brian. Tau-tau Brian malah nyamperin Adara. Bagaimana tidak kesal semua orang hanya ingin duduk bersama Adara. Termasuk cowok populer di sekolah.


Brian menghampiri Adara dan Noni yang duduk di samping Adara.


"Nggak apa-apa kan aku ikut gabung?" tanya Brian.


"Ya nggak apa-apa dong Brian," sahut Noni.


"Kamu tidak makan Adara?" tanya Brian melihat Adara hanya makan buah saja.


"Tidak, aku tidak lapar," jawab Adara.


"Kamu yakin mau makan buah saja. Sampai sekolah selesai?" Brian.


"Iya," jawab Adara yang mengangguk.


"Tau nih Adara tiba-tiba tidak selera makan saja. Kamu itu sama seperti kakak ipar aku yang sedang hamil. Tiba-tiba perubahan nafsu makannya sangat aneh," celetuk Noni yang membuat Adara kaget mendengar kata hamil.


"Kamu kayak orang hamil tau," ucap Noni lagi.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk Adara langsung batuk dan buru-buru minum dengan tangannya yang bergetar. Adara terlihat keringat dingin yang mendengar ucapan Noni.


"Aku sudah selesai makan! Aku mau kekelas," ucap Adara yang langsung berdiri dari tempat duduknya yang langsung pergi.


"Hey Adara mau kemana?" tanya Noni.


"Adara!" panggil Brian. Namun Adara tidak merespon Noni dan juga Brian yang sangat buru-buru pergi. Karena ucapan Noni yang menunggu masalah kehamilan.


"Aduh kenapa sih Adara pergi begitu saja. Aneh," gumam Noni.


Sementara Brian juga kelihatan memikirkan sesuatu yang melihat kepergian Adara tiba-tiba. Adara memang sangat berubah belakangan ini. kebanyakan diam dan kelihatan menghindari pertemuannya dengan yang lainnya.


Mungkin karena kehamilannya yang membuat Adara jadi tidak nyaman dan takut jika ada yang mencurigainya. Padahal tidak ada yang curiga padanya sama sekali.


*******


Setelah bel pulang sekolah Adara dan Noni seperti biasa akan berpisah setelah jemputan Noni datang dan sementara Adara tidak melihat ada jemputan yang biasanya menunggunya.


"Di mana dia? Apa dia tidak menjemputku. karena aku mengatakan tidak mau pulang naik motor," batin Adara yang melihat di sekitarnya tidak melihat mobil Arhan Adara juga bolak balik melihat jam di ponselnya.


"Apa aku telpon saja," gumamnya.


"Aku juga tidak punya nomornya. Lagian ngapain juga menelponnya yang adanya dia nanti akan berpikir yang aneh-aneh. Kamu sih Adara kenapa coba punya pikiran seperti itu," batin Adara yang merasa kepalanya hari ini penuh dengan Arhan.


"Adara!" tiba-tiba Brian menghampirinya.

__ADS_1


"Iya Brian!" jawab Adara.


"Kamu belum di jemput?" tanya Brian. Adara menggeleng.


"Kalau pulang denganku. Tidak mungkin soalnya aku sedang bawa motor. Papa kamu melarang kamu naik motor kan," sindir Brian.


Adara bingung harus mengatakan apa. Dia tau Brian tadi pagi melihatnya naik motor bersama Arhan. Jadi Adara pasti di pikir berbohong.


"Brian soal itu," ucap Adara.


"Kenapa soal itu. Apa ada alasan lain selain papa kamu akan marah?" tanya Brian dengan menaikkan alisnya.


Tin-tin-tin-tin


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dan ternyata itu Arhan yang membuka kaca mobil.


"Aku pulang duluan," ucap Adara yang langsung masuk mobil. Brian kembali hanya memperhatikan hal itu.


"Siapa sebenarnya Pria itu. Jika seorang pengawal atau supir tidak mungkin berpenampilan seperti itu," batin Brian masih penuh dengan rasa penasaran.


"Hay Brian!" sapa Lucia menepuk bahu Brian.


"Lucia!" ucap Brian.


"Kamu kenapa?" tanya Lucia.


"Oh itu su..." Lucia tidak jadi melanjutkan kalimatnya yang takut keceplosan dan bisa berabe. Jika dia keceplosan. Karena jika terbongkar di sekolah. Maka dia yang akan di salahkan.


"Su apa?" tanya Brian yang menunggu kelanjutan berita itu.


"Hmmm, suruhan Om Herlambang. Ya biasalah yang menjemput Adara," ucap Lucia.


"Begitu rupanya," sahut Brian.


"Hmmm Brian besok ada ujian matematika. Aku agak sulit mata pelajaran itu. Boleh tidak aku minta kamu menemani ku belajar. Kita belajar di rumahku?" tanya Lucia yang mencoba untuk membujuk Brian.


"Bukannya Lucia satu rumah dengan Adara ya. Tidak ada salahnya," batin Brian yang sepertinya tertarik dengan tawaran itu.


"Aku janji Brian tidak akan recok atau membuat kamu merasa terganggu. Boleh ya kamu mengajariku," ucap Lucia lagi yang membujuk Brian.


"Baiklah kalau begitu. Tetapi hanya sebentar ya," ucap Brian yang setuju.


"Kamu mau?" tanya Lucia tidak percaya. Brian mengangguk.


"Yes terima kasih Brian," sahut Lucia yang tersenyum bahagia dengan Brian yang akhirnya mau belajar bersama dengannya.

__ADS_1


"Kita naik motor kamu ya kerumahku," ucap Lucia.


"Kamu bukannya di jemput supir? Jadi kamu sama supir aja. Aku akan mengikuti dari belakang," ucap Brian.


"Udah nggak apa-apa. Nanti supir aku suruh pulang. Jadi kita barengan aja," ucap Lucia dengan memaksa Brian.


"Ya sudah lah," sahut Brian yang tidak bisa menolak dan lebih baik dia memang menurut saja. Brian juga punya kepentingan kerumah Lucia yang satu rumah dengan Adara.


***********


Di dalam mobil Adara dan Arhan hanya diam-diam saja. Namun tiba-tiba Adara memegang perutnya dengan wajahnya mengkerut.


Tiba-tiba terdengar suara perut Adara yang keroncongan membuat Arhan menoleh kearah Adara.


"Kamu lapar?"


Adara langsung menggelengkan kepalanya yang gengsi mengatakannya.


"Kamu lapar apa tidak? Kalau lapar kita cari makan dulu!" ucap Arhan dengan lembut.


Adara akhirnya menjauhkan gengsinya dan lebih baik mengakui jika dia lapar dan harus makan. Karena perutnya perlu di isi.


"Ya sudah kita cari makan dulu," sahut Arhan dengan menghela napas.


Akhirnya Adara dan Arhan mampir di salah satu Restaurant untuk makan dulu. Mungkin karena Adara tidak makan apa-apa di sekolah. Jadi akhirnya dia kelaparan. Mereka keluar dari mobil tersebut dan memasuki Restaurant.


Mereka berdua mencari tempat duduk. Dan ketika mendapat tempat duduk Arhan menarik kursi untuk Adara. Arhan itu pria yang sangat sweet dan makanya memperlakukan Adara selalu manis.


Bukan hanya membukakan pintu mobil untuk Adara. Tetapi juga melakukan banyak hal untuk Adara dan hal-hal kecil yang selalu di perhatikan Arhan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Arhan yang memberikan menu pada Arhan.


"Yang ini aja," jawan Adara.


Arhan mengangguk dan mengangkat tangannya yang langsung memesan pada pelayan.


Setelah memesan makanan itu akhirnya ke-2nya makan bersama dengan apa yang mereka pesan. Arhan sangat yakin makanan dan minuman yang di pesan Adara tidak masalah untuk kandungan Adara. Makanya tadi Arhan tidak ada protes sama sekali.


Adara juga makan dengan lahap yang memang Adara sangat lapar dan nafsu makannya juga kali ini sangat bagus.


"Apa kamu tidak makan di sekolah?" tanya Arhan. Adara menggelengkan kepalanya.


"Tidak nafsu?" tanya Arhan. Adara mengangguk yang memang apa adanya jika dia tidak nafsu untuk makan.


"Jika tidak nafsu paling tidak makan buah supaya perut kamu tidak kosong," ucap Arhan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2