TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 104 mencegahnya.


__ADS_3

Arhan berjalan menuju anak tangga.


"Pah!" panggil Alvian membuat langkah Arhan terhenti dan melihat ke belakang.


"Alvian," sahut Arhan.


Alvian menghampiri Arhan dan memeluk pinggang Arhan. Tidak tau kenapa tiba-tiba Alvian seperti itu. Dia merasa begitu sedih dan seperti tidak mau kehilangan Arhan. Arhan yang melihat putranya seperti itu menghela napas dan jujur dari wajahnya terlihat kesedihan dengan penuh rasa kekecewaan.


Arhan pun berjongkok dengan satu lututnya menyentuh tanah dan memegang ke-2 bahu Alvian.


"Ada apa Alvian?" tanya Arhan.


"Papa sebenarnya mama kenapa? Kenapa Alvian terus melihat mama sedih. Alvian juga melihat mama menangis. Apa papa dan mama bertengkar?" tanya Alvian dengan kepolosannya yang ingin tau ada apa dengan Adara.


Arhan tidak punya jawaban untuk itu. Mana mungkin dia mengatakan. Jika dia memang bertengkar dengan Adara.


"Tidak ada yang bertengkar. Mungkin mama hatinya sedang tidak baik. Jadi bawaannya sedih terus," jawab Arhan dengan kebohongan. Supaya Alvian tidak sedih dan tidak kepikiran dengan apa yang terjadi pada Kayra.


"Papa kenapa papa harus pergi. Padahalkan papa baru sebentar di sini. Kita juga baru liburan sekali ketempat nenek. Apa tidak bisa papa jangan pergi?" tanya Alvian.


"Maafkan papa Alvian. Papa harus pergi. Karena pekerjaan papa yang banyak," jawab Arhan


"Yah," sahut Alvian dengan senduh.


"Alvian tidak boleh seperti ini. Papa pergi sudah biasa dan Alvian harus di sini jagain mama. Bukannya Alvian bilang. Kalau Alvian ini sudah besar. Jadi Alvian harus jagain mama dan jangan buat mama kesal," ucap Arhan dengan mengusap-usap pucuk kepala Alvian.

__ADS_1


"Baiklah pah. Tapi Alvian minta sama papa jangan buat mama sedih ya. Alvian nggak mau mama kenapa-kenapa," ucap Alvian dengan kesedihan di wajahnya. Arhan terdiam seolah tidak bisa menjanjikan hal itu pada Alvian.


"Papa!" tegur Alvian yang membuat Arhan melihat kembang Alvian.


"Papa maukan janji sama Alvian," sahut Alvian mengajungkan jari telunjuknya. Ingin melihat Arhan berjanji kepadanya.


"Iya! Papa janji tidak akan buat mama sedih," jawab Arhan menyambut uluran kelingking itu dan Alvian tersenyum. Arhan lalu memeluk Alvian.


Posisi Arhan begitu berat. Bertahan entah untuk apa. Ayah dari anak yang di peluknya itu telah kembali. Dia dan Adara juga bukan suami Istri yang normal. Jadi Arhan tidak tau harus apa. Sementara dia sangat menyayangi Alvian.


**********


Adara berada di atas tempat tidur yang memiringkan tubuhnya dengan selimut sampai dadanya. Terdengar suara aktivis di dekatnya. Apa lagi jika bukan Arhan yang sekarang sedang menyusun pakaiannya ke dalam kamar.


Malam ini Arhan packing. Karena besok pagi dia akan kembali ke Milan. Adara yang membelakangi Arhan tidak tidur. Dia tau apa yang di kerjakan Arhan. Matanya memejam dengan air matanya yang kembali jatuh.


Ada rasa berat dalam diri Arhan untuk pergi. Apalagi sebelumnya Arhan sudah berjanji pada Alvin. Arhan menghela napasnya dan tidak punya pilihan. Arhan menurunkan kopernya dari atas tempat tidur membuatnya di dekat lemari dan Arhan berjalan untuk keluar dari kamar tanpa mengatakan apa-apa kepada Arhan.


Adara menyibak selimutnya dengan cepat turun dari ranjang dan langsung berlari menuju Arhan dengan memeluk pinggang Arhan dari belakang. Hal itu sontak membuat langkah Arhan terhenti dan kaget dengan ala yang di lakukan Adara. Ada sudah meruntuhkan semua kegengsian nya ada hal yang harus di pertahankannya.


"Aku mohon jangan pergi!" ucap Adara dengan suara seraknya.


"Katakan kepadaku. Apa alasannya aku untuk tetap di sini?" tanya Arhan dengan suara beratnya.


Adara diam.

__ADS_1


"Aku tidak punya alasan untuk tetep berada di sini," sahut Arhan yang membutuhkan jawaban dari Adara.


"Alvian," jawab Adara, "aku tidak bisa menghadapi semua ini sendirian. Aku membutuhkanmu. Jadi aku mohon jangan pergi. Alvian akan sedih jika kamu pergi," ucap Adara yang memberikan alasan. Jika Alvian yang harus membuat Arhan tetap bertahan.


"Hanya karena Alvian. Selama ini itu yang membuatku bertahan Azizie. Tetap sekarang tidak. Karena Alvian akan bersama ayah kandungnya," sahut Arhan dengan dingin.


"Tidak Arhan! Aku tidak mau itu terjadi. Hanya kamu ayahnya. Aku mohon tetaplah di sini. Jika kamu tidak bertahan karena Alvian. Kalau begitu bertahanlah demi......"


Adara tidak melanjutkan perkataannya. Masih ada sedikit hambatan untuk dia mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin di ungkapkannya. Arhan sangat menunggu apa yang ingin di sampaikan Adara.


"Aku jatuh cinta padamu!" sahut Adara yang akhirnya jujur dengan apa yang di rasakannya. Hal itu sontak membuat Arhan kaget. Dia pasti tidak menyangkal jika Adara bisa mengatakan seperti itu. Adara melepas tangannya dari pinggang Arhan.


"Jangan pergi Arhan. Tolong kasih aku kesempatan untuk menjadi wanita yang bisa hidup dalam pernikahan dengan cinta. Jika kamu mengatakan kamu yang bertahan selama ini. Lalu bagaimana dengan aku apa aku tidak bertahan," ucap Adara dengan air matanya yang terus jatuh.


"Aku merasakan cinta bukan saat ini. Tetapi saat aku melahirkan Alvian. Aku mulai merasakan perasaan itu. Di saat kamu Mengaazdhankan Alvian. Saat itu hatiku bergetar dan melihat ketulusan kamu yang menerimaku dan Alvian,"


Aku harus menahan perasaan itu. Karena aku gengsi. Saat kamu pergi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku ingin mencegahmu. Tetapi ternyata aku tidak bisa. Aku hanya bersabar dan mengingat janji yang kau ucapkan. Di mana kau berjanji kepadaku. Kita akan memulai pernikahan saat aku lulus sekolah,"


"Aku menunggu semua itu begitu lama Arhan. Aku ingin cepat masa sekolahku berakhir. Karena aku ingin menjalani pernikahan bersamamu. Aku merasa jika aku adalah wanita yang di cintai dengan tulus,"


"Kemarahanku saat aku ke Milan. Karena semua tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku merasa sakit saat melihat kamu bersama orang lain dan aku menyadari jika aku seperti itu. Karena aku memang mencintaimu," Adara tidak gengsi dan sudah tidak peduli apa-apa lagi. Dia hanya mengungkapkan apa yang di rasakannya.


"Lalu apa aku. Wanita yang tidak sempurna. Apa aku tidak pantas untuk bahagia. Aku berani bersumpah aku tidak tau siapa-siapa laki-laki itu. Aku tidak apa yang terjadi dan memang kesalahanku karena tidak mengakui ajak awal kepadamu dan kenapa aku menemuinya diam-diam. Itu karena aku takut kamu tau. Aku takut ada yang merusak rumah tangga ku. Aku takut. Jika aku tidak akan pernah bisa mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahanku," ucap Adara.


Mengungkapkan semua perasaannya dengan air matanya yang tidak henti keluar dan Arhan mendengar semua ungkapan Adara membuat getaran di hatinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2