TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Bab 43 Menjadi seorang ibu


__ADS_3

Adara sudah di pindahkan keruangan perawatan. Masih di beri infus dan alat pernapasan untuk menambah tenaganya. Perlahan matanya terbuka. Kembali tertutup dan terbuka lagi sampai pandangannya yang samar-samar menatap langit ruangan itu.


"Non Adara!" suara yang tidak asing itu membuat Adara menoleh ke sebelahnya. Wajah Bi Sri yang tadinya rabun jadi Adara bisa melihatnya dengan jelas jika Bi Sri ada di ruangan itu.


"Bibi," lirih Adara dengan suaranya yang masih sangat lemah. Kondisinya memang belum sepenuhnya membaik. Masih sakit dan belum bisa berbuat apa-apa.


"Iya Non. Alhamdulillah Nona sudah siuman," ucap Bibi yang merasa bahagia dengan Adara yang sudah siuman.


"Memang aku di mana Bi?" tanya Adara dengan suaranya yang begitu lembut.


"Ada di rumah sakit. Setelah operasi Non Adara tidak sadar selama 2 hari dan sekarang sudah bangun. Nona masih merasa ada yang sakit?" tanya Bibi setelah menjawab pertanyaan Adara.


Adara mungkin tidak mengingat apa yang terjadi. Mungkin belum mengingat. Karena baru selesai operasi dan wajar belum mengingat apa-apa. Karena dia juga masih sangat lemas.


"Masih ada yang sakit Nona?" tanya Bibi lagi.


"Bayi!" lirih Adara mengingat terakhir kali Arhan menggendong bayi dan mengumandangkan Azand pada bayi tersebut. Ingatannya sudah mulai ternyata.


"Aku bukannya sudah melahirkan dan di mana bayiku?" tanya Adara.


"Iya Nona Adara memang sudah melahirkan dan Bayi Nona baik-baik saja," ucap Bibi yang tau apa yang di pikirkan Adara.


"Tetapi masih butuh perawatan. Nona wanita yang sangat hebat. Nona berjuang untuk bayi kecil itu. Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja dan semua itu karena perjuangan Non Adara," ucap Bibi yang mengusap kepala Adara yang terharu dengan gadis kecilnya yang sudah menjadi seorang ibu.


"Jadi Non Adara tidak perlu khawatir. Bayi tampan Non Adara sekarang sedang melakukan perawan untuk kondisi yang lebih naik. Bibi melihatnya dari jauh dia sangat mirip Non Adara dan juga mirip mas Arhan," jelas Bibi dengan lembut.


"Bagaimana mungkin itu bisa mirip dengannya itu bukan anaknya," batin Adara menghela napasnya.


"Itu anak Non Adara dan mas Arhan," ucap Bibi.


"Apa aku sekarang menjadi seorang ibu?" tanya Adara.


Bibi mengangguk-angguk dengan matanya yang bergenang karena mendengar pertanyaan Adara.

__ADS_1


"Non Adara adalah seorang Ibu. Itu anugrah yang sangat besar. Jadi seorang ibu itu adalah suatu Anugrah yang sangat mulia," jelas Bibi yang membuat air mata Adara kembali menetes dia sangat terharu dengan perjuangan yang melahirkan seorang anak. Di kandungannya selama 7 bulan dan semua itu sangat tidak muda.


"Apa aku pantas menjadi seorang ibu?" tanya Adara.


"Semua wanita sangat pantas menjadi seorang Ibu, baik masih muda atau sudah tua," ucap Bibi yang tersenyum kepada Adara.


Krekkkk.


Pintu kamar terbuka membuat Adara dan Bibi melihat ke arah pintu yang ternyata Herlambang dan Arhan yang datang keruangan tersebut.


Herlambang langsung menghampiri Adara dan Bibi bergeser memberikan ruang untuk Herlambang dan Adara. Herlambang langsung mencium kening Adara begitu lama dengan mengusap pucuk kepala Adara.


"Maafkan papa sayang! Papa tidak ada di samping kamu saat kamu mengalami hal ini. Kamu berjuang dan papa tidak menemani kamu maafkan papa yang tidak datang tepat waktu," ucap Herlambang yang pasti tau putrinya itu kesakitan luar biasa dan nyawanya hampir melayang yang membuatnya merasa bersalah. Karena tidak menemani putrinya itu.


Sering marah dengan Adara. Berdebat panjang. Tetapi dia adalah orang tua satu-satunya dan sangat mengkhawatirkan Adara.


"Adara kamu sudah melahirkan putra yang sangat tampan," ucap Herlambang dengan matanya berkaca-kaca.


"Lalu apa papa akan menerima anak Adara?" tanya Adara yang tiba-tiba memikirkan hal lain.


Membenci pasti karena Adara hamil di luar nikah dan sampai detik ini tidak tau siapa ayah bayi itu. Namun Herlambang sejak awal memang tidak ingin mengugurkan kandungan Adara. Karena dia sangat takut dosa.


Berjalannya waktu Herlambang sama seperti Arhan yang sama-sama merawat kandungan Adara dan pasti kasih sayang mereka semakin besar dan sampai bayi itu lahir. Menerima dengan ketulusan.


"Jadi kamu jangan memikirkan apa-apa lagi. Kamu hanya perlu memikirkan. Jika kamu mempunyai seorang Putra yang sangat tampan yang akan menjaga kamu selanjutkan. Kamu sudah menjadi seorang ibu. Tanggung jawab yang besar yang harus kamu pikir mulai dari sekarang," ucap Herlambang pada Adara.


"Terima kasih lah sudah menerima bayi Adara," ucap Adara.


"Jangan bicara seperti itu semua orang menerima bayi kamu dengan baik. Kamu jangan berpikiran buruk ya," ucap Herlambang.


Adara mengangguk-angguk dan Herlambang langsung memeluknya. Bibi terharu melihat Adara dan Herlambang. Juga Arhan yang tersenyum tipis. Dia sangat tau semua ini tidak mudah bagi Adara. Dan Adara juga berjuang sangat besar untuk kandungannya.


***********

__ADS_1


Bayi tampan Adara sangat kuat. Meski lahir secara prematur. Tetapi perawatan yang di dapatkannya hanya sebentar dan sudah seperti bayi normal biasanya.


Sama seperti sekarang ini. Di mana Arhan yang memasuki ruangan perawatan Adara dengan membawa bayi tersebut dengan mendorong menggunakan troli bayi. Adara yang duduk di atas tempat tidur melihat ke arah bayi itu membuat hatinya bergetar.


Arhan pun mengangkat bayi tersebut dan memberikannya pada Adara. Namun Adara bingung bagaimana cara menggendongnya. Tidak mengerti dengan posisinya tangannya. Bahkan melihat Arhan untuk mendapatkan contoh juga tidak mengerti.


Arhan menyadari kebingungan Adara menghela napasnya dan kembali meletakkan bayi itu di troli.


"Tangannya di buat seperti ini," ucap Arhan dengan lembut mengajari Adara yang memberikan contoh pada Adara dan Adara mengikuti apa kata Arhan.


Setelah Arhan merasa benar. Barulah Arhan memberikan bayi itu pada Adara. Adara tersenyum saat tangannya menggendong bayinya pertama kali. Walau terlihat dia masih bergetar dan masih sangat takut dan juga dek-dekan.


"Kata Dokter kamu harus memberinya Asi pertama," ucap Arhan.


"Asi," sahut Adara sedikit bingung. Arhan menganggukkan kepalanya.


Wajah Adara tampak bingung. Mungkin dia tidak mengerti dengan apa yang di katakan Arhan. Mungkin paham sih. Hanya saja dia mungkin gugup.


"Berikanlah kamu dekatkan mulutnya pada ....." Arhan tidak melanjutkan kalimatnya saat pembahasan itu lumayan canggung. Adara juga salah tingkah dengan menelan salivanya yang menjadi sangat gugup.


"Hmmm, maksudku," sahut Arhan yang mengusap belakang lehernya mengurangi kegugupannya.


"Maksudku...."


"Aku ngerti kok," sahut Adara.


"Oh syukurlah. Kalau begitu berikanlah sebelum dia menangis," ucap Arhan.


"Lalu kamu di sini?" tanya Adara.


Arhan menelan salivanya benar juga ngapain dia di dekat Adara,


"Iya aku sudah mau keluar kok. Aku hanya memberitahu saja," jawab Arhan jadi salah tingkah sendiri dan penuh kegugupan dan Arhan yang langsung pergi dengan berjalan cepat.

__ADS_1


Melihat Arhan salah tingkah pertama kali di depan Adara membuat Adara tersenyum tipis yang mungkin merasa lucu dengan Arhan. Arhan pasti menganggap Adara anak kecil. Jadi apa-apa harus di ajari.


Bersambung


__ADS_2