
Jakarta.
Akhirnya mereka sampai juga di Jakarta. Mobil jemputan mereka sudah sampai. Alvian di gendong oleh Bibi dan Arhan membukan pintu mobil untuk Bibi dan Adara. Namun Adara kembali menjadi Adara yang dulu dan sangat ketus yang tidak peduli dengan Arhan.
Arhan hanya menghela napas saja sifat Adara dan Arhan pun masuk mobil yang duduk di sebelah supir.
"Pa..pa..." Alvian ternyata mulai memanggil papa. Dia sudah mulai bicara. Hal itu membuat Arhan tersenyum dan menoleh kebelakang. Alvian selalu saja ingin di gendong Arhan.
"Mau sama papa sayang," sahut Arhan yang mengambil Alvian dari gendongan Bibi. Adara tidak merespon atau protes dia hanya diam saja.
"Anak pintar!" puji Arhan.
Adara melihat hal itu hanya sinis saja dan menghela napasnya.
Flashback off
Adara yang berada di atas tempat tidur yang bermain dengan Alvian dengan Adara menunjukkan album pernikahannya dengan Arhan pada papa.
Alvian menunjuk-nunjuk foto Arhan dengan lidahnya yang sudah ingin berbicara.
"Ini papa sayang," ucap Adara.
"Papa! Papa!" Adara mengajari Alvian memanggil-manggil nama Arhan.
"Papa, pa-pa-pq-pa," Adara mengajari Alvian seperti seorang ibu.
"Papa!" sahut Alvian dengan cepat.
"Ya ampun sayang kamu pintar sekali!" puji Adara gemes sendiri dan langsung berbaring dengan mendudukkan Alvian di perutnya.
"Alvian anak pintar sudah bisa panggil papa dan mama. Anak pintar," Adara punya kepuasan sendiri saat mengajari anaknya dan berhasil mengajari anaknya.
Flashback on
"Aku menyesal mengajarinya untuk memanggil namanya," batin Adara yang menyesal mengajari Alvian memanggil papa.
**********
__ADS_1
Adara yang berbicara di ruang keluarga bersama dengan Herlambang.
"Adara mau bercerai dengan Arhan!" tegas Adara yang meminta Herlambang menuruti permintaannya.
"Kamu itu kenapa sih Adara. Pergi dengan semangat. Pulang tiba-tiba dan menemui papa. Tiba-tiba mengucapkan cerai. Kamu pikir pernikahan itu main-main hah!" ucap Herlambang.
"Bukan aku yang menganggap pernikahan itu main-main. Tetapi Dia yang menganggap pernikahan itu main-main. Dia bersama orang lain. Tinggal bersama orang lain dan itu artinya dia yang menganggap pernikahan ini main-main," tegas Adara dengan emosinya menggebu-gebu sembari napasnya yang naik turun.
"Kenapa kamu beranggapan seperti itu Adara. Kamu belum mendapat penjelasan dari Arhan," sahut Herlambang berbicara dengan nada lembut.
"Kenapa pah? Atau papa sudah mendengar semua cerita dari versi dirinya dan papa membelanya dengan dia yang mengarang cerita. Pah Adara ini anak papa satu-satunya. Apa papa ingin Adara menjadi wanita yang di sampingkan. Di ikat dengan pernikahan. Tetapi dia juga wanita lain," tegas Adara.
"Kamu bicara terlalu jauh Adara," sahut Herlambang.
"Sudahlah pah! Percuma bicara dengan papa. Tidak ada gunanya. Papa sudah di buatkan dengan wajahnya yang munafik seperti itu dan papa tidak akan peduli dengan Adara. Adara sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi semuanya di balas seperti ini," Adara menjeda omongannya dengan mengatur napasnya.
"Jika papa tidak membiarkan Adara bercerai. Maka Adara sendiri yang akan mengurus perceraian itu!" tegas Adara memberikan ancaman.
"Kamu tidak bisa melakukan itu dengan sepihak Adara. Arhan yang memimpin kamu," sahut Herlambang.
"Baiklah jika papa dan dia bekerja sama dengan membuat Adara terpojokkan. Lakukan sesuka kalian. Terserah pernikahan itu seperti apa. Tapi tidak ada yang mengubah prinsip dan hati Adara. Adara punya perasaan dan berhak bersama laki-laki siapapun itu. Jika dia bisa bersama wanita lain. Maka tidak menutup kemungkinan Adara melakukan hal yang sama," tegas Adara dengan ancamannya.
Herlambang sengaja tidak menanggapi apa yang di katakan Adara. Adara penuh dengan emosi dan dia tau Adara sedang jatuh cinta pada Arhan dan Adara sedang kecewa.
**********
Adara keluar dari ruangan Herlambang yang berpapasan dengan Arhan. Adara menatap sebentar Arhan dengan penuh kemarahan dan Adara langsung pergi.
Namun Arhan menahan Adara dan memegang tangan Adara menghentikan langkah Adara.
"Lepaskan tanganku!" tegas Adara.
"Kita harus bicara Adara. Jika seperti ini. Kita tidak akan menyelesaikan masalah kita," ucap Arhan.
Adara menjatuhkan tangan Arhan.
"Jangan menyentuh ku!" tegas Adara.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyentuhmu. Tetapi kita harus bicara," tegas Arhan.
"Aku tida perlu bicara denganmu. Kau itu sangat menjijikkan dan aku tidak butuh penjelasan apa-apa.
Darimu," tegas Adara yang berlalu dari hadapan Arhan. Namun Arhan menghalangi jalan Adara.
"Minggir!" tegas Adara dengan sorot matanya yang tajam.
"Jangan seperti anak kecil. Mari selesaikan masalah!" ucap Arhan.
"CK," Adara mendengus kasar kesamping.
"Anak kecil? Ya aku memang anak kecil. Aku anak kecil yang bisa kau bodohi dan kau tipu dengan wajahmu yang terlihat sok baik, sok pahlawan. Tapi pada kenyataannya. Kau itu pria munafik yang menjijikkan," maki Adara.
"Cukup Adara kau berkata semaumu. Aku tidak tau apa yang membuat pikiran mu menjadi buruk seperti itu," sahut Arhan yang sejak tadi hanya sabar saja dengan Adara.
"Pikiranku memang seperti ini kepadamu dan itu tidak akan pernah berubah. Arhan aku lulus sekolah dan itu artinya aku tidak membutuhkan mu dan enyah dari kata suami karena aku tidak sudi menjadi istrimu!" Tegas Adara.
"Tidak akan ada perceraian di antara kita," sahut Arhan.
"Baik tidak masalah. Anggap aja pernikahan ini ghaib. Tidak ada perceraian oke. Tetaplah dalam status menikah. Tetapi aku tetap menjadi diriku dan bebas dengan orang lain dan kau tidak bisa melarangku atau menghentikanku. Karena aku tidak akan peduli dan semakin kau melarangku aku akan semakin menjadi-jadi," ucap Adara dengan sinis.
"Arhan aku hamil di luar nikah yang artinya kebebesan ku pernah ada dan sangat tidak mungkin jika hal itu tidak terjadi lagi. Karena aku punya kebebesan sendiri. Aku dekat dengan berbagai laki-laki. Jadi terserah mau pergaulan ku seperti apa dengan laki-laki lain dan aku tidak peduli aku sudah menikah atau tidak," tegas Adara yang sangat menantang Arhan. Hal itu membuat Arhan mengepal tangannya.
Suami mana yang tidak kesal dengan Adara yang sangat bangganya dengan dirinya yang sudah di sentuh orang lain.
"Jadi tetaplah pada pernikahan yang kau inginkan. Karena pada dasarnya. Aku akan tetap pada Adara yang bebas dan kau tidak mendapatkan apa-apa dari diriku," tegas Adara dengan menyinggung senyumnya yang menantang Arhan.
Adara tidak bicara lagi. Dia merasa sudah cukup membuat Arhan marah dan akhirnya menceraikannya. Adara Pun berlalu dari hadapan Arhan. Namun Arhan menarik tangan Adara.
"Lepas!"
"Apa yang kau lakukan?"
"Lepas!"
Adara memberontak saat Arhan menarik Adara menaiki anak tangga. Pergelangan tangan Adara yang di pegang begitu kuat membuat Adara terus memberontak.
__ADS_1
Bersambung