TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 101 Arhan kaget


__ADS_3

Adara menuruni anak tangga yang terlihat rapi menggunakan rok di bawah lututnya dengan blouse berwarna brown yang di padukan dengan rok hitam cream tersebut dan rambutnya yang di dibiarkan di gerai.


"Kamu mau jemput Alvian?" tanya Arhan yang berada di depan anak tangga menunggu Adara turun.


"Iya. Aku takut kelupaan seperti semalam," jawab Adara. 2 jam sebelum Alvian pulang dia sudah stay karena takut lupa.


"Ya sudah kita pergi bersama. Aku juga ingin menjemputnya," sahut Arhan.


"Bukannya kamu ada rapat hari ini dengan papa?" tanya Adara mengingatkan. Karena saat Herlambang mengajaknya dia ada di sana.


"Kamu benar. Tetapi selesai rapatnya sebelum Alvian pulang. Makannya saya mengajak kamu. Tetapi kamu bilang menjemput lebih awal ya sudah itu artinya saya tidak bisa pergi bersama kamu," ucap Arhan dengan suara dinginnya.


"Iya lain kali saja. Kalau nanti aku dan Brian masih ada di sana, aku mengabari kamu dan semoga kamu cepat selesainya dan bisa menyusul kami," ucap Adara.


"Iya," sahut Arhan dan Adara tersenyum kepada Arhan.


"Ya sudah aku pergi dulu!" ucap Adara pamit. Arhan hanya menganggukkan kepalanya dan Adara pun pergi.


"Padahal kamu bisa mengatakan bisa pergi bersamaku Azizie. Karena aku selesai rapat sebelum Alvian pulang. Tetapi kamu memilih untuk pergi sendiri. Kenapa Azizie? kenapa kamu seperti ini? Aku tidak tau apa yang kamu sembunyikan dan siapa Pria itu," batin Arhan yang kepikiran terus dengan istrinya itu.


***********


Adara sampai di tempat belajar Alvian. Adara yang turun dari mobil menghela napasnya. Namun Adara kaget saat melihat di depan sekolah Adara Ramon yang menunggu.


"Untuk apa lagi dia kemari!" batin Adara yang mulai panik dan langsung menghampiri Ramon.


"Apa yang kamu lakukan di sini!" sentak Adara membuat Ramon kaget dan langsung berdiri.


"Aku ingin bertemu Alvian," jawab Ramon.


"Aku sudah mengatakan jangan mengganggu kami. Apa kau tidak mendengarku!" teriak Adara dengan suaranya yang penuh penekanan dan juga napasnya yang mulai naik turun.


"Kamu tidak bisa menghalangiku. Alvian adalah anakku," sahut Ramon dengan suara rendah.


"Cukup mengatakan semua itu. Jangan pernah muncul di kehidupanku. Kamu pergi dari sini!" usir Adara dengan kemarahan.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi sebelum aku bertemu dengannya," jawab Ramon.


"Aku tidak akan mengijinkanmu untuk menemuinya!" tegas Adara.


"Pergi dari sini!" pergi!"


Adara mengusir Pria itu dengan mendorong Pria itu agar meninggalkan tempat itu. Namun Ramon adalah orang yang kuat dan mana mungkin bisa terdorong Adara.


"Kau tidak bisa mengusirku dia adalah anakku!" tegas Ramon.


"Aku tidak peduli!" pergi dari sini!" bentak Adara dan terus mendorong Ramon. Namun Ramon melawan dan Ramon yang tidak bisa mengendalikan dirinya yang akhirnya mendorong Adara.


Adara hampir saja jatuh. Namun ada tubuh besar yang menahannya dengan memegang kedua bahu Adara membuat Adara menoleh ke belakangnya dan Adara terkejut melihat Arhan yang ternyata menahan tubuhnya tidak sampai jatuh.


"Maaf aku tidak bermaksud," sahut Ramon merasa bersalah karena terlalu kasar.


"Apa yang kau lakukan kepada-nya?" tanya Arhan dengan suara dinginnya menatap tajam pria yang sejak awal di lihatnya hanya dari kejauhan dan sekarang terlihat begitu dekat.


"Aku tidak sengaja," sahut Ramon.


"Berani sekali kau kasar kepadanya," sahut Arhan tidak terima istrinya di perlakukan seperti itu. Bahkan Arhan ingin menghampiri pria itu.


"Siapa kau?" tanya Arhan.


"Aku Ramon. Aku tau kau adalah suaminya. Tetepi aku di sini hanya ingin menemui Alvian," ucap Ramon yang bicara apa adanya.


Adara semakin panik dengan kata perkata yang di keluarkan dari mulut Ramon.


"Apa maksud mu ingin menemui Alvian?" tanya Arhan dengan suara beratnya.


"Aku ayah kandung dari Alvian," jawab Ramon.


Deg


Jantung Arhan berdetak kencang saat mendengar hal itu. Air mata Adara jatuh saat Ramon mengakui hal itu di depan Arhan. Bahkan Arhan mengepal tangannya saat mendengar pernyataan itu. Bagaimana tidak penuh amarah jika pria yang menghamili Adara sekarang ada di depannya.

__ADS_1


Tangan Adara tiba-tiba di lepaskan oleh Arhan dari pergelangan tangan Arhan.


"Arhan!" lirih Adara.


"Papa mama!" tiba-tiba Alvian datang dan berlari menghampiri orang tuanya. Suasana itu terlihat tegang.


"Bukannya om ini adalah Om yang memberikan Alvian coklat," ucap Alvian yang mengingat siapa Ramon.


"Iya Alvian," sahut Ramon dengan tersenyum.


Mata Arhan yang tajam melihat bergantian Alvian dan pria itu. Lalu tidak ada yang di katakannya dan langsung pergi dari tempat itu.


"Arhan tunggu!" panggil Adara dengan air matanya yang sejak tadi keluar. Namun Arhan tidak merespon dan langsung masuk mobilnya.


"Ayo Alvian!" ajak Adara menarik tangan Alvian dan buru-buru masuk mobil untuk mengejar Arhan.


"Aku tidak bermaksud apa-apa untuk hubungan kalian. Aku hanya ingin bertemu putraku yang selama ini aku usahakan," batin Ramon melihat perpecahan di keluarga Adara membuatnya merasa bersalah.


************


Arhan menyetir dengan kecepatan tinggi di dalam mobilnya. Wajahnya yang memerah dengan penuh amarah Sanga terlihat. Rahang kokoh yang mengeras Samapi urat lehernya terlihat. Tidak tau amarah itu untuk siapa lagi di lampiaskannya.


Riasanya tadi dia ingin menghajar Pria yang yang mengakui Alvian putranya. Namun Alvian ada di sana dan tidak mungkin berbuat seperti ini.


"Bajingan!" umpat Arhan memukul stir mobil dengan tangannya.


"Jadi sekarang kau ingin menunjukkan Azizie kepadaku. Siapa laki-laki bajingan itu. Bahkan kau diam-diam menjalin hubungan dengannya!" Arhan marah-marah di dalam mobilnya yang merasa di khitanati istrinya. Beberapa kali dia melihat pertemuan Azizie dengan Ramon.


Arhan tidak tau apa yang di bicarakan. Namun di lihat dari jauh. Adara dan Ramon terlihat begitu dekat dan membuat Arhan panas.. Emosinya baru memuncak ketika tau Pria yang di temui Adara di belakangnya adalah ayah dari Alvian. Putra yang sangat di sayanginya dan di anggapnya sebagai putranya sendiri.


Arhan hanya melampiaskan antaranya dengan menyetir dengan kecepatan tinggi beberapa kali menyalip mobil-mobil yang di depannya. Arhan seketika berubah menjadi seorang pembalap.


Sementara Adara juga berada di dalam mobil yang menyetir dan sejak tadi menangis. Banyak ketakutan yang muncul di pikirannya. Dia melihat ekspresi wajah Arhan saat tau yang sebenarnya membuat Adara sangat takut.


Dia baru kembali memulai hubungan baik dengan Arhan. Namun ada lagi yang membuat keduanya retak. Adara seolah tidak ingin membayangkan mimpi buruk yang akan terjadi padanya.

__ADS_1


Alvian yang duduk di sampingnya tidak berani bertanya ada apa dengan Adara. Dia melihat mamanya menangis dan tadi Arhan pergi begitu saja.


Bersambung


__ADS_2