
Arhan akhirnya mencicipi masakan sang istri yang pertama kali. Adara tetap merasa dek-dekan seperti melakukan pertandingan yang sekarang sedang di juri dan dia terus memperhatikan Arhan yang sudah memasukkan makanan itu ke mulutnya.
Setelah Arhan mengunyahnya Arhan melihat ke arah Adara membuat Adara semakin dek-dekan. Belum lagi Arhan yang sengaja membuat Adara penasaran.
"Enak!" sahut Arga yang menanggapi masakan istrinya.
"Sungguh? tanya Adara. Arhan menganggukkan kepalanya.
"Yes!" sahut Adara dengan spontan yang kegirangan membuat Arhan mendengus dengan tersenyum melihat Adara yang begitu bahagianya. Namun Adara menyadari jika dia berlebihan dan langsung berubah eksperesi biasa saja dan melihat Arhan yang masih tersenyum.
"Kamu bohong ya?" tuduh Adara yang langsung sewot membuat Arhan mengkerutkan dahinya.
"Kenapa juga aku harus berbohong? Untuk apa aku harus berbohong. Apa aku harus berbohong untuk membuat kamu senang. Tidak ada gunanya," sahut Arhan yang sepertinya memang jujur. Jika masakan sang istri memang enak.
"Tapi aku tidak percaya," sahut Adara yang langsung ingin mencoba sendiri. Adara pun memakannya memastikan masakannya ada masalah atau tidak.
Saat Adara mencoba masakan itu dia bereksperesi lebih pada bingung. Mungkin nasi goreng special yang rasa sempurna itu Adara tidak tau. Namun masakan itu no bad. Rasanya pas tidak asin dan tidak juga kurang garam dan sepertinya memang bisa di nikmati.
"Apa aku berbohong?" tanya Arhan. Adara diam dan tidak menjawab.
"Terimakasih Azizie untuk yang pertama kalinya kamu dengan sengaja dan dengan berusaha membuatkan makanan untuk ku. Ini tidak sempurna. Tetapi ini menjadi sangat sempurna karena kamu membuatnya dengan usaha kamu," ucap Arhan dengan lembut yang membuat Adara masih diam.
"Aku akan menghabiskannya!" sahut Arhan yang kembali memakan masakan dari istrinya itu. Adara mengeluarkan senyum sedikit. Tidak tau kenapa rasanya dia sangat bahagia. Mungkin karena usahanya yang begitu di hargai dan Adara juga tidak percaya bisa melakukan hal itu.
**********
Adara, Arhan dan Alvian jalan-jalan di desa. Mereka berjalan-jalan ke kebun teh. Arhan mengajak anak dan istrinya benar-benar libur sederhana namun terasa penuh kebahagiaan. Di kebun teh terlihat banyak ibu-ibu memetik daun teh. Alvian juga ikut-ikutan sembari berlari-lari.
Terkadang Alvian juga mengejar kambing yang tuannya sedang menggembala mencari rumput untuk makan. Alvian tampak Happy dengan aktivitas yang di lakukannya.
"Alvian hati-hati nanti jatuh loh!" tegur Adara yang terus mengingatkan Alvian.
"Aman mama," sahut Alvian. Anak laki-laki. Jika jatuh sekali maka itu biasa baginya dan tidak ada akan jera.
Adara hanya geleng-geleng dengan meletakkan telapak tangannya di atas kepalanya. Hari yang mulai terik membuat Adara berlindung dari panas matahari.
__ADS_1
Tiba-tiba matahari itu redup ketika Arhan yang tinggi berdiri di depannya yang seolah melindungi Adara. Arhan bisa saja melakukan hal yang manis walau sangat simpel.
"Minumlah!" Arhan memberikan Adara air mineral dan Adara mengangguk yang langsung meneguk air tersebut.
"Ayo ke sana! Di sini panas!" ajak Arhan. Adara menganggukkan kepalanya dan mengikuti Arhan.
Mereka duduk di salah satu kursi di bawah pohon rindang. Tempat itu seperti puncak dan bisa melihat perumahan warga dari atas dan memeng ternyata sangat teduh.
Keduanya diam tanpa ada obrolan sama sekali. Tidak Arhan dan juga tidak Adara. Namun Adara menoleh ke arah Arhan yang mana Arhan hanya menatap lurus kedepan saja.
"Kamu lahir di sini?" tanya Adara.
"Iya aku lahir dan besar di sini. Aku juga bertemu papa di sini dan aku tidak tau kenapa dia harus mengangkatku. Dia membawaku ke Jakarta di berikan pendidikan yang lebih bagus dan aku mengenal banyak orang dari kalangan," jawab Arhan sedikit penjelasan.
"Papa orang yang sangat baik. Banyak anak yang entah dari mana saja di jadikan anaknya dan di berikan pendidikan dan wawasan yang luas. Aku salah satu orang beruntung itu dan aku juga di percayai untuk menikah dengan kamu," ucap Arhan melihat ke arah Adara.
"Aku tau Azizie kamu terus berpikiran jika aku menikahimu hanya karena sesuatu imbalan dan aku tidak bisa mengubah pikiran mu itu," ucap Arhan.
Adata terdiam mendengar kata-kata Arhan dengan mereka berdua saling melihat dengan tatapan yang dalam.
"Dorrr!" Adara dan Arhan tersentak kaget. Saat Brian mengagetkan mereka berdua dari belakang.
"Alvian!" ucap Adara mengelus dadanya.
"Kamu ini Alvian jahil sekali," Arhan juga kaget dengan putranya itu.
"Maaf mama, papah. Namanya Alvian bercanda," sahut Alvian yang tertawa.
"Kamu ini bandel banget!" Adara menjewer telinga Alvian.
"Maaf mah, maaf," sahut Alvian mengeluh dengan memegang tangan Adara yang menjewer telinganya.
"Jangan seperti itu lagi!" tegas Adara.
"Iya mah. Alvian minta maaf," sahut Alvian yang masih aja cengengesan. Arhan hanya tersenyum saja mendengarnya.
__ADS_1
"Papa ayo ke sawah. Nenek bilang di sawah ada belut. Alvian mau tangkap belut!" ajak Alvian dengan semangatnya.
"Oh iya," sahut Arhan.
"Iya papah. Ayo buruan," sahut Alvian yang menarik tangan Arhan dan Arhan harus menuruti kemauan putranya itu. Adara juga mengikut saja.
Untuk ke sawah mereka menggunakan sepeda.
"Mama di depan saja. Alvian mau berdiri di belakang papa!" ucap Alvian yang mengatur tempat duduk.
"Mama di belakang saja. Nanti Alvian jatuh," sahut Adara.
"Jangan bandel mama. Alvian itu kuat dan tidak akan jatuh!" tegas Alvian. Mau tidak mau Adara harus menuruti Alvian yang menjadi penguasa di antara ke-2 orang tuanya itu.
Adara dengan canggungnya duduk menyamping di depan Arhan yang sudah menaiki sepeda dan Alvian langsung naik di belakang Arhan dengan berdiri.
"Alvian pegang bahu papa ya," ucap Arhan.
"Siap pah kita let's go!" sahut Alvian dengan semangatnya. Arhan langsung mendayung sepeda itu dan melewati jalan penurunan yang di bawah sana banyak merpati.
"Argghhh seru!" teriak Alvian saat merpati itu berterbangan saat mereka lintasi. Adara juga tertawa lepas. Hal semacam itu tidak pernah di rasakannya dan itu membuatnya bahagia. Adara bahkan menoleh kebelakang dan melihat Arhan. Arhan juga melihatnya. Mereka sama-sama tersenyum penuh arti dengan mata yang saling menatap.
**********
Di sawah Alvian, Arhan dan Adara di sibukkan dengan menangkap belut. Pakaian mereka sudah kotor yang bermain becek di sawah. Alvian lebih parah yang sudah tidak tau seperti apa pakaiannya.
Tetepi mereka semua tampaknya tidak peduli dan yang penting bahagia. Tawa dan canda di keluarkan dari wajah mereka dan mereka begitu bahagia saat belut itu mereka tangkap. Bukan Adara yang pastinya. Karena tetap Adara merasa geli. Namun bukan Alvian namanya jika tidak membuat mamanya itu kesal dan menakuti mamanya dengan belut yang di pegangnya.
"Alvian cukup! Masukkan ke embernya!" teriak Adara yang berlari di kejar anaknya.
"Mama cemen ini saja takut!" ejek Brian yang terus menakuti Adara.
"Mama bilang masukkan ke embernya!" teriak Adara penuh dengan penegasan. Namun Alvian tidak peduli. Dia terus mengejar Adara dan Adara berlari menuju Arhan yang juga menangkap belut.
Bersambung.
__ADS_1