
"Jadi kamu jatuh sendiri?" tanya Herlambang.
"Iya pah. Adara ceroboh sampai jatuh. Maaf membuat papa dan yang lain khawatir," sahut Adara dengan berbohong.
"Begitu rupanya," sahut Herlambang yang antara percaya atau tidak namun berbeda dengan Arhan yang melihat Adara yang tidak percaya dengan kata-kata Adara menjelaskan kronologi kejadian itu.
"Ya sudahlah kalau begitu. Lain kali kamu harus hati-hati dan jangan ceroboh. Kamu harus menyayangi diri kamu dan untung sekarang kamu baik-baik saja dan bayi kamu juga baik-baik saja. Jika tidak papa tidak tahu apa yang akan terjadi," ucap Herlambang.
Adara menganggukkan kepalanya saja dengan peringatan yang di berikan Herlambang. Adara hanya berharap saja jika Lucia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
"Ya sudah papa mau pergi dulu. Papa ada urusan sebentar. Kamu di temani Arhan di sini dan kalau ada apa-apa kamu minta sama Arhan," ucap Herlambang.
"Iya pah," jawan Adara.
"Arhan kamu jaga Adara ya," ucap Arhan.
"Iya pah," sahut Arhan dan Herlambang langsung keluar dari ruangan itu.
"Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Arhan.
"Mengatakan apa?" tanya balik Adara heran.
"Tentang Lucia yang membuat kamu celaka," jawab Arhan.
"Kamu mengetahuinya?" tanya Adara dengan menyerngitkan dahinya.
"Meski Cctv di tempat itu di hapus. Tetapi aku bisa mendapatkan bukti jika semua perbuatan Lucia. Dia juga pergi begitu saja tanpa menolongmu," ucap Arhan.
Arhan mana mungkin tidak tau apa yang terjadi dan sudah jelas dia tau semuanya. Arhan memang pasti mencari tau yang sebenarnya.
"Apa kedatangan Tante Mayang tadi siang untuk membahas masalah itu?" tebak Arhan
"Aku hanya tidak mau membuat suasana semakin buruk dan biarlah seperti itu. Dia juga akan minta maaf padaku," jawab Adara.
"Tapi jika tidak mendapat teguran. Kejadian ini bisa terulang lagi dan mungkin akan lebih parah lagi,' ucap Arhan mengingatkan.
"Dia tidak akan berani mengulanginya aku yakin itu. Aku hanya memberinya kesempatan saja," jawab Adara.
"Baiklah kalau begitu semua keputusan ada pada kamu dan terserah kamu. Aku hanya berharap lain kali kamu harus hati-hati," ucap Arhan.
"Iya," jawab Adara.
"Ya sudah kamu sebaiknya istirahat," ucap Arhan.
"Hmmm apa aku akan tidur sendiri? Di mana bayiku?" tanya Adara yang memang sejak tadi bayinya tidak ada di ruangan itu dan Adara mencari-cari keberadaan bayinya.
__ADS_1
"Tadi Dokter sedang memeriksanya. Aku akan mengambilnya sebentar lagi," jawab Arhan.
Adara menganggukkan kepalanya yang memang dia ingin selalu tidur bersama bayinya.
"Mana Bi Sri?" tanya Adara.
"Ada di rumah sudah pulang tadi," jawab Arhan.
"Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Adara.
"Pekerjaannya di rumah bukan di rumah sakit," ucap Arhan.
"Ya walaupun aku ada di sini," sahut Adara kesal.
"Memang ada apa?" tangan Arhan.
"Aku mau ke kamar mandi," jawab Adara.
"Aku akan membantumu!" sahut Arhan.
"Mana mungkin," ucap Adara.
"Apa yang tidak mungkin," sahut Arhan.
"Ayo!" ucap Arhan.
"Apa yang kau pikirkan ayo!" Arhan langsung membantu Adara turun dari ranjang dengan memegang kedua pundak Adara dan Adara mau tidak mau harus menerima bantuan Arhan.
Arhan menuntun Adara berjalan ketoilet dengan Arhan yang juga memegang infus Adara sampai mereka berdua yang sudah masuk ke dalam kamar mandi
"Kamu bisa sendiri?" tanya Arhan.
"Walau tidak bisa sendiri aku tidak mungkin minta bantuan mu," jawab Adara ketus.
"Ya siapa tau," sahut Arhan.
"Sudah sana pergi! Jangan menggangguku!" usir Adara.
"Ya sudah kalau tidak mau di bantu," sahut Arhan yang langsung pergi.
"Apa dia pikir aku akan menginjinkan untuk menungguku, enak sekali," cicit Adara dengan kesal.
Memang mana mungkin Arhan akan berada di dalam kamar mandi itu.
**********
__ADS_1
Setelah kondisi Adara sudah sangat membaik. Akhirnya Adara di perbolehkan pulang oleh Dokter. Selain ada Arhan yang pasti mendampingi Adara. Ada juga Herlambang dan bibi.
Mereka semua sekarang berjalan menuju mobil. Adara masih di atas kursi roda yang di dorong Arhan. Sementara bayi Adara di gendong oleh Bibi.
Setela sampai mobil. Arhan membuka pintu mobil dan bibi masuk terlebih dahulu setelah itu Arhan yang langsung menggendong Adara turun dari kursi roda.
Sedikit canggung bagi Adara. Karena Arhan tiba-tiba sekali menggendongnya yang membuat Adara gugup dan canggung. Namun mana mungkin memberontak yang adanya dia hanya akan membuat Maslaah saja.
Dengan perlahan Arhan mendudukkan Adara di jok belakang di samping Bibi. Kedekatan wajah ke-2nya mampu membuat Adara sangat gugup dan tidak berani melihat wajah Arhan di depannya sekarang Arhan memakaikan sabuk pengaman padanya. Hembusan napas Arhan menerpa wajah Adara membuat Adara menahan napasnya dan setelah Arga berlalu dari dekatnya barulah Adara menghela napasnya.
Belakangan ini Arhan memang suka sekali membuatnya Adara dek-dekan. Membuatnya salah tingkah.
"Ayo pah!" ucap Arhan mempersilahkan.
"Iya Arhan!" sahut Herlambang yang memasuki mobil dan Arhan yang menyetir mobil.
"Bayinya tidur nyenyak tidak rewel sama sekali," ucap Bibi. Adara hanya mengangguk dengan tersenyum yang melihat bayinya yang tampak memang sangat tenang.
"Oh iya Adara apa kamu sudah punya nama untuk anak kamu?" tanya Herlambang.
"Tidak pah. Adara tidak sempat kepikiran dengan hal itu," jawab Adara.
"Kamu sendiri bagaimana Arhan! Apa punya rekomendasi nama?" tanya Herlambang.
"Jika tidak ada yang keberatan bisa memberi nama Aliviansyah," jawab Arhan.
"Itu mama yang bagus," sahut Herlambang.
"Saya tidak punya pilihan nama yang banyak. Tetapi memberi nama Alvian semoga bisa menjadi doa. Karena artinya teman yang setia dan semoga dia selalu menjadi teman untuk ibunya," ucap Arhan.
Mendengar apa yang di katakan Arhan membuat hati Adara terenyuh. Terasa begitu tulus dan sangat bermakna setiap kata yang keluar dari mulut Arhan.
"Itu bagus sekali papa setuju dengan nama yang indah itu," sahut Herlambang.
"Kenapa dia mau memberikan nama untuk anak yang bukan darah dagingnya. Dia selalu melakukan semua sejak aku hamil sampai detik ini seakan anak ini adalah anak kandungnya," batin Adara dengan wajah senduhnya.
"Bagaimana Adara? Apa kamu setuju dengan nama yang di berikan Arhan?" tanya Herlambang.
"Terserah papa aja," sahut Adara.
"Berarti kamu setuju," sahut Herlambang.
"Jadi sekarang Bibi panggil den Alvian yang sangat tampan," sahut Bibi melihat bayi itu dengan gemes.
"Aku tidak tau apakah dia akan menerima anak ini seterusnya dan aku tidak tau kenapa hatinya begitu luas yang menerima semua itu," batin Adara dengan hatinya yang sampai detik ini masih bergetar. Bagaimana tidak bergetar yang mendapatkan ketulusan yang sangat kuat biasa dari Arhan.
__ADS_1
Bersambung