
Huhhhhh
Suara napas Adara yang menghela berat itu terdengar. Adara sangat canggung dan gugup saat begitu dekat dengan Arhan dan apa lagi tadi Arga ingin menciumnya. Lalu bagaimana dia tidak gugup. Namun Adara berusaha tenang dan juga berdiri dari tempat duduknya.
"Den Alvian sudah tidur mas," ucap Bibi.
"Berikan pada ku!" titah Arhan. Bibi mengangguk dan langsung memindahkan gendongan tersebut pada Arhan.
"Ya sudah mas. Bibi ke dapur dulu," ucap Bibi.
"Iya," jawab Arhan dna bibi langsung pergi menuju dapur.
"Dia sudah tidur?" tanya Adara masih sedikit gugup. Arhan mengangguk menjawab pertanyaan Adara.
Lalu Arhan langsung menuju tempat tidur bayi mereka dan membaringkannya dengan sangat hati-hati. Adara juga menyusul yang berada di sebelah kiri dan Arhan di kanan dengan mereka berhadapan dan pembatasnya tempat tidur bayi itu.
Setelah Alvian di baringkan. Adara ingin menyelimuti Alvian. Namun sangat bersamaan dengan Arhan dan membuat tangan mereka saling bertemu di atas selimut tersebut dan ke-2nya kembali saling melihat.
Baru saja tadi mereka saling gugup dan sama-sama salah tingkah dan sekarang mereka kembali lagi saling tatap dengan debaran jantung yang saling memburu.
Namun tidak berselang lama. Adara yang pertama sadar dan langsung menjauhkan tangannya dengan Adara menelan salivanya.
"Selimuti lah," ucap Adara dengan gugup. Arhan mengangguk dan menyelimuti Alvian.
"Aku mau ke bawah dulu," Adara begitu gugup dan memilih untuk pergi.
"Apa kamu sudah membaik?" tanya Arhan membuat langkah Adara terhenti.
"Maksudnya?" tangan Adara melihat ke arah Arhan.
"Tanganku?" tebak Adara yang memang hanya tangannya yang terbakar.
"Sudah mendingan dan tidak perih?" Adara tidak tau apa yang di tanyakan Arhan. Namun dia menjawab saja yang mungkin memang itu yang di tanyakan Arhan.
"Lalu kamu sendiri bagaimana?" tanya Arhan.
"Maksudnya?" Adara bertanya kembali.
__ADS_1
"Kamu baru saja selesai operasi. Apa kamu sudah merasa cukup pilih?" tanya Arhan.
"Hmmmm sudah mendingan. Walau terkadang terasa sakit," jawab Adara.
"Kalau begitu mari makan malam di luar!" ajak Arhan tiba-tiba. Adara terkejut mendengar ajakan Arhan tidak pernah sama sekali.
"Bagaimana kamu mau?" tanya Arhan memastikan. Kiara masih diam tau masih bengong dengan ajakan Arhan.
"Azizie!" tegur Arhan membuat Adara tersentak kaget.
"Hah! Iya," sahut Adara gugup.
"Kamu mau?" tanya Arhan lagi.
Adara menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk menjawab ajakan Arhan. Arhan tersenyum tipis di mana Adara bisa di ajaknya makan malam yang sebelumnya memang tidak pernah di ajak sama sekali.
************
Malam hari telah tiba Adara terlihat sibuk di dalam kamar yang sejak tadi memilih-milih dressnya yang akan di gunakannya untuk makan malam bersama Arhan.
Ada bibi di dalam kamar tersebut yang sedang mengajak Alvian bermain yang memang tidak rewel.
"Bibi tidak ada yang cocok. Berat badanku naik saat hamil dan sekarang belum turun. Jadi bajunya kesempitan," keluh Adara yang pusing sendiri.
Padahal postur tubuh Adara tidak naik banyak. Hanya naik 5 kg dan Adara sudah begitu heboh.
"Tapi Bibi lihat Nona tidak gemuk kok," sahut Bibi.
"Bibi sih selalu mengatakan seperti itu. Bi gimana dong. Kenapa juga dia mengajakku mendadak terakhirnya aku tidak punya baju," ucap Adara dengan kesal.
"Sudah pakai apa adanya saja Non," saran Bibi.
"Mana bisa seperti itu Bi. Ini itu Dinner pertama aku dengannya. Masa iya berpenampilan sembarangan," sahut Adara dengan wajah cemberutnya.
"Jadi Nona sangat menunggu-nunggu moment ini ya," goda Bibi dengan senyum-senyum.
"Jangan mulai ya Bi. Aku hanya ingin menampilkan yang terbai saja. Karena aku tidak mau aja kelihatan sembarangan," ucap Adara yang pasti alasannya ada saja.
__ADS_1
"Iya-iya bibi percaya ya sudah cepat atuh di siap-siap. Nanti mas Arhan membatalkan Dinner nya loh," ucap Bibi mengingatkan.
"Jangan menakut-nakuti bi," sahut Adara yang semakin panik. Bibi tersenyum dengan geleng-geleng melihat tingkah Adara.
Tanpa Adara sadari. Adara sudah menunjukkan dirinya yang sudah mulai menyukai Arhan. Bibi gemes sendiri melihat bocah yang sedang jatuh cinta dan terlihat panik.
***********
Arhan menunggu Adara di dekat mobil. Sudah tidak tau berapa jam Arhan menunggu Adara yang tidak kunjung datang juga. Arhan juga melihat jam tangannya berkali-kali. Namun istrinya itu tidak muncul-muncul.
"Mungkin dia tiba-tiba membatalkannya?" Arhan sudah sampai berpikira buruk.
"Aku akan coba pastikan saja," ucap Arhan ingin mengecek sendiri Adara apa benar Adara membatalkannya atau bagaimana. Tetapi baru saja Arhan menaiki anak tangga menuju pintu Adara sudah keluar dari rumah membuat langkah Arhan terhenti.
Adara berdiri di depan pintu dengan gugup. Yang kedua tangannya saling memegang kuat di bawah dan wajahnya yang memerah terlihat sangat gusar. Sementara Arhan jadi bengong yang berdiri di tempatnya.
Cantik. Kata itu sulit keluar dari mulutnya. Namun matanya tidak berkedip melihat Adara yang sangat cantik dari bawah sampai atas.
Menggunakan dress merah mencolok tanpa lengan yang panjangnya di bawah lututnya. Rambutnya yang di biarkan di gerai dengan di beri gelombang di bagian bawahnya. Aksesoris yang di gunakannya juga sangat cocok dengan penampilannya sangat simpel namun sangat cantik dan mewah di tambah dengan heels senada dengan pakaiannya.
Mendapat tatapan begitu intens dari Arhan membuat Adara semakin gugup. Keduanya Bahkan sama-sama kesulitan menelan saliva masing-masing. Tidak sia-sia Arhan menunggu begitu lama istrinya itu sangat cantik ternyata.
"Ehmmm!" Arhan berdehem sendiri yang membuyarkan lamunannya sendiri.
"Sudah selesai?" tanya Arhan gugup.
Adara menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ayo pergi!" ajak Arhan. Adara mengangguk dan mulai melangkah menuruni anak tangga. Namun karena saking groginya Heelsnya tergelincir membuatnya kaget dengan matanya melotot.
Arhan sang penyelamat dengan sigap yang langsung memegang pinggang Adara dengan ke-2 tangannya yang akhirnya Adara tidak jadi jatuh. Namun lagi-lagi kedekatan yang mereka lakukan membuat keduanya saling melihat dengan suara jantung masing-masing yang sama-sama kencang. Mungkin keduanya sama-sama bisa mendengar suara detak jantung mereka.
Tatapan mata yang sangat dalam yang membuat ke-2nya tetap saling melihat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arhan melepaskan tangannya dari pinggang Adara yang menegakkan tubuh Adara..
"Nggak apa-apa kok," jawab Adara semakin gugup. Wajah Adara tidak bisa bohong jika dia benar-benar salah tingkah dengan Arhan.
__ADS_1
"Ayo kita pergi!" ajak Arhan dengan memberikan tangannya. Adara menyambut dengan senang hati dan mereka pun menuju mobil dengan tangan saling bergenggaman.
Bersambung