TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 95 Pulang kembali.


__ADS_3

Pagi yang cerah ini Adara sedang membereskan pakaian. Memasukkan pakaian ke dalam koper. Dia dan suami dan anaknya akan pulang ke Jakarta. Sudah beberapa hari mereka berada di Malang dan sudah saatnya pulang. Karena Kayra juga sudah meninggalkan kampusnya.


Krekkk.


Arhan memasuki kamar dan melihat Adara yang sedang siap-siap.


"Ada yang bisa di bantu?" tanya Arhan basa-basi.


"Tidak perlu sudah selesai kok," jawab Adara.


"Hmmm begitu rupanya," sahut Arhan.


"Alvian di mana?" tanya Adara.


"Tuh lagi main!" Arhan menunjuk ke arah jendela. Alvian yang bermain bersama Aminah dan Amir membuat Adara tersenyum.


"Ibu sama bapak, pasti akan sangat merindukan Alvian. Makanya mereka ingin menghabiskan waktu bersama Alvian," ucap Arhan.


"Sayang sekali ibu sama bapak tidak mau tinggal di Jakarta," sahut Adara.


"Namanya juga orang tua pasti lebih nyaman untuk tinggal di kampung," sahut Arhan.


"Iya kamu benar," sahut Adara yang terasa begitu bahagia. Alvian yang begitu dengan dengan Amir dan Aminah yang membuatnya tersenyum lebar.


*************


Siang ini Alvian, Adara dan Arhan akhirnya pulang mereka pamitan pada Aminah dan juga Amir. Ada juga Lulu di sana yang tidak ikut ke Jakarta. Karena memang tujuan Arhan ke Malang untuk mengantarkan Lulu. Tetapi Alvian dan Adara ikut jadi sekalian liburan deh.


Adara terlihat memeluk Amina dengan Aminah mengusap-usap punggung Adara


"Kamu jaga kesehatan ya. Harus sabar-sabar menghadapi Alvian," ucap Aminah pada menantunya itu.


"Memang Alvian bandel apa," sahut Alvian dengan wajah cemberutnya. Membuat semua orang tersenyum.


"Alvian tidak bandal kok. Mana mungkin cucu kakek bandal," sahut Amir. Adara dan Amina sudah saling melepas pelukan.


"Kamu berangkat ya Bu," sahut Arhan mencium punggung tangan Aminah.


"Iya kamu hati-hati. Jangan menyetir kencang-kencang dan kamu harus selalu jaga istri kamu dan sabar pada istri kamu," ucap Aminah pada Arhan. Arhan hanya menganggukkan kepalanya.


"Nah itu baru benar. Papa yang harus sabar dengan mama," sahut Alvian yang lagi-lagi protes saja.


"Kamu ini Alvian," sahut Adara kesal.


"Tuh lihat mama langsung marah kan," Alvian malah semakin memojokkan Adara membuat yang lain tersenyum kembali.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu. Ayah dan ibu jaga kesehatan ya," ucap Arhan.


"Iya salam untuk pak Herlambang dan ini oleh-oleh untuk pak Herlambang," ucap Aminah yang memberikan oleh-oleh tersebut dan Arhan langsung mengambilnya.


"Kalian hati-hati ya dan sering-sering main ke mari," sahut Amir.


"Nanti kalau Lulu ada kesempatan. Lulu juga akan ke Jakarta lagi," sahut Lulu.


"Untuk apa. Untuk ganjen pada suami orang," batin Adara yang langsung sinis melihat Lulu.


"Di tunggu kedatangan kalian semua," sahut Arhan.


"Insyallah kita akan ke Jakarta," sahut Amir.


Setelah mereka berpamitan akhirnya Arhan, Adara dan Alvian masuk mobil. Alvian menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan pada Aminah dan Amir. Aminah dan Amir tersenyum dan tampak sedih karena cucu mereka sudah pulang.


"Semoga ya pak. Nanti Alvian dan Adara main ke Malang lagi," ucap Aminah dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Bu," sahut Amir.


"Ya sudah ayo kita masuk! ayo Lulu!" ajak Aminah. Lulu hanya menganggukkan kepalanya.


***********


Arhan, Adara dan Alvian masih dalam perjalanan meski sudah malam. Namun cuaca ternyata sangat buruk yang mana hujan deras yang turun. Namun Arhan tetap memilih untuk melanjutkan perjalanan. Karena memang jalanan yang mereka lewati tidak ada tempat penginapan. Adara dan Alvian sudah tidur. Mungkin mereka sangat lelah.


"Ada apaa ini!" tanyanya yang melihat-lihat kedepan dari kaca mobil.


Tiba-tiba Adara terbangun karena merasa mobilnya juga berhenti. Begitu juga dengan Alvian yang juga terbangun.


"Kenapa berhenti pah?" tanya Alvian heran.


"Papa tidak tau. Sepertinya ada sesuatu di depan," ucap Arhan yang menduga-duga saja. Adara melihat arloji di tangannya sudah jam 9 malam. Adara melihat di sekelilingnya tampak sepi hanya ada beberapa rumah di pinggir jalan dan juga ada warung-warung.


"Biar aku lihat sebentar," ucap Arhan.


"Tapi hujan. Kamu tidak pakai payung?" tanya Adara.


"Tidak ada payung di sini. Aku baru bersihkan mobilnya dan lupa memasukkan payung," jawab Arhan.


"Kalau begitu papa akan basah!" sahut Alvian.


"Tidak apa-apa hanya sebentar saja," sahut Arhan yang langsung keluar dari mobil. Adara dan Alvian tidak bisa menghalangi Arhan.


"Masih lama sampai ya mah?" tanya Alvian.

__ADS_1


"Iya sayang," jawab Adara. Tidak lama akhirnya Arhan kembali dan Arhan hanya basah sedikit saja.


"Ada apa?" tanya Adara.


"Ternyata tadi angin kencang membuat beberapa pohon besar tumbang dan makanya macet seperti ini. Ini sudah berlangsung 2 jam dan tempatnya juga jauh di ujung sana. Aku juga hanya mendapatkan informasi dari pengemudi di depan," jawab Arhan.


"Lalu bagaimana. Apa ada jalan lain?" tanya Adara.


"Tidak ada jalan lain dan kita harus menunggu dan mungkin macetnya akan lama," jawab Arhan.


"Begitu rupanya," sahut Adara tampak senduh.


"Aku akan mencari penginapan. Siapa tau ada," ucap Arhan.


"Mana ada penginapan di sini," sahut Adara.


"Aku cari saja dulu. Kamu sama Alvian menunggu di mobil," ucap Arhan. Adara menganggukkan kepalanya. Arhan kembali keluar dan tidak masalah basah-basahan. Padahal memang jelas tidak ada hotel. Tetapi Arhan tetap ingin berusaha agar istri dan anaknya bisa nyaman beristirahat.


Tidak lama Arhan kembali lagi dan bajunya sudah semakin basah.


"Ada?" tanya Adara.


"Tidak ada. Beberapa rumah yang di sewakan warga untuk pengendara lainnya dan sudah penuh. Jadi mau tidak mau kita harus menunggu di mobil," ucap Arhan.


"Ya sudah tidak apa-apa kita tunggu saja macetnya selesai," ucap Adara.


"Bagaimana kalau sampai besok pasti. Alvian badannya sudah pegal dan pengen berbaring," keluh Alvian.


"Alvian kan bisa lihat sendiri lagi macet," ucap Adara.


"Alvian sama mama keluar sebentar ya!" ucap Arhan tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Alvian.


Arhan membuka pintu mobil dan mengambil jaketnya. Lalu Arhan membuka pintu mobil bagian Adara dan juga Alvian. Ibu dan anak itu hanya bingung namun mereka keluar dan Arhan melindungi dengan jaket membentang di atas kepala mereka agar tidak basah.


Arhan membawa anak dan istrinya ke warung kelontong yang ada di sana untuk berlindung.


"Tunggu sebentar di sini!" ucap Arhan yang langsung pergi kembali ke mobil.


"Papa ngapain sih mah?" tanya Alvian heran. Mama juga tidak tau. Papa kamu itu banyak sekali taunya," sahut Adara yang juga bingung tidak tau apa yang di lakukan suaminya.


"Huhhhhhhhh, Alvian ngantuk! Malah dingin lagi," keluh Alvian dengan wajah cemberutnya.


"Jangan protes terus. Ini namanya insiden dan tidak ada yang tau. Kamu lihat bukan hanya kita yang di sini. Banyak orang dan semua orang merasa hal yang sama. Jadi Alvian tidak boleh mengeluh," ucap Adara mengingatkan putranya itu.

__ADS_1


"Iya mama sayang yang cantik," sahut Alvian membuat Adara menghela napasnya dengan Alvian yang tersenyum dan Adara hanya melihat bapa yang di lakukan suaminya sebentar-sebentar keluar dari mobil.


Bersambung


__ADS_2