TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 87 Arhan dan Adara.


__ADS_3

Adara yang masih beres-beres pakaian ternyata terasa lelah dengan memegang punggungnya.


"Punggungku rasanya ingin retak," gumamnya yang kelihatan begitu lelah dengan menghela napasnya. Karena merasa begitu sangat lelah membuat Adara langsung tepar dengan menghempaskan dirinya di atas ranjang dengan wajahnya yang sangat lelah dan langsung ingin tidur. Yang benar saja Adara memang langsung memejamkan matanya di antara pekerjaannya yang masih sangat banyak.


Tidak lama Arhan memasuki kamar dan melihat Adara yang sudah tepar membuat Arhan menghela napas. Bisa-bisanya Adara tertidur di antara pakaian yang masih belum di masukkan kedalam lemari.


Arhan menutup pintu kamar dan melangkah mendekati Adara. Karena Adara meninggalkan pekerjaannya. Jadi Arhan yang melanjutkan pekerjaan itu. Arhan menyusun pakaian yang ada di atas tempat tidur dan memasukkan kedalam lemari.


Pekerjaan yang di lakukan Arhan sangat cepat selesai dan sangat mudah mengerjakannya. Setelah pakaian masuk semua kedalam lemari Arhan juga langsung menyimpan koper di atas lemari. Arhan melihat ke arah Adara. Masih tetap Adara pada dirinya yang tidak ada pergerakan sama sekali.


Hal itu membuat Arhan tersenyum miring dan langsung mendekati Adara dengan menggendong Adara untuk memperbaiki posisi tidur Adara agar terlihat nyaman. Arhan membaringkan Adara di tengah ranjang dan kepalanya tepat di atas bantal.


Kepala Adara bergeser saat merasa tidurnya terganggu. Wajah cantiknya itu tertutup dengan rambutnya membuat Arga menyinggirkan rambut itu dengan membuat kebelakang telinga Adara.


Jarak wajahnya yang sangat dekat dengan Adara membuat Arhan sangat betah melihat wajah cantik istrinya itu. Menatap begitu dalam dengan melihat inti dari wajah tersebut membuat Arhan tersenyum.


Jari Arhan bahkan membelai pipi mulus Adara dengan matanya yang tidak hentinya menatap dirinya yang sangat cantik. Pandangan mata Arhan tiba-tiba turun pada bibir ranum Adara. Pandangan matanya jadi fokus pada mata itu yang membuat Arhan kembali tersenyum melihat bibir itu.


Arhan mendekatkan wajahnya pada Adara yang berfokus pada bibir Adara. Namun tiba-tiba mata Adara terbuka perlahan dan kaget melihat wajah Arhan yang sangat dekat dengannya.


"Argggghhh!" Adara berteriak kencang dan membuat Arhan reflek menutup mulut Adara dengan tangannya. Adara jadi tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Hmpt, hmpt," Adara hanya berusaha melepaskan tangan Arhan dengan matanya yang melotot. Arhan pun melepas tangannya dari bekapan mulut Adara.


"Kau!" Adara yang ingin berteriak lagi tidak jadi ketika jari telunjuk Arhan berada di bibirnya.


"Jika kau berteriak seperti tadi. 1 warga bisa datang kerumah ini. Ini desa bukan kota," ucap Arhan dengan suara seraknya.


Adara menyinggirkan tangan Arhan dari bibirnya.


"Apa yang kau lakukan? Kau mau macam-macam padaku?" tanya Adara kesal dengan matanya yang melotot.


"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Arhan.


"Bohong. Aku menangkap sendiri jika kau ingin...." Adara tidak melanjutkan kalimatnya.


"Ingin apa?" tanya Arhan dengan menaikkan 1 alisnya.


"Aku tau apa maksud di otakmu itu. Awas aja kalau kau macam-macam kepadaku!" tegas Adara mengingatkan Arhan membuat Arhan mengendus dengan senyuman.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau tersenyum?" tanya Adara kesal.

__ADS_1


"Jika aku macam-macam itu hal yang wajar. Kau itu istriku dan bukannya kau itu sudah dewasa. Ingat masih punya kewajiban!" ucap Arhan yang sepertinya mulai menuntut haknya.


Apa yang di katakan Arhan membuat Adara menelan salivanya. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang saat mendengar kata-kata Arhan yang pasti Adara mengerti apa maksud Arhan.


"Minggir!" tegas Adara. Dia sangat gugup dan hanya perlu marah untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Arhan menghela napasnya dan akhirnya beralih dari tubuh Adara.


"Apa yang di katakannya sok bicara kewajiban. Dia saja sudah beberapa kali membuatku kesal," geram Adara.


"Aku dan Alvian akan jalan-jalan keluar. Mau ikut apa tidak?" tanya Arhan menawarkan istrinya.


"Pergi aja sendiri kenapa harus mengajakku," sahut Adara yang jual mahal.


"Oke baiklah terserah kamu," sahut Arhan yang tidak memaksa Adara dan Arhan langsung keluar dari kamar.


Huhhhhhhhh


"Untung saja aku cepat bangun. Jika tidak aku yakin dia pasti sudah melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku. Huhhhh benar-benar menyebalkan," gumam Adara.


"Dari pada aku pergi jalan-jalan bersamanya. Mending aku tidur. Jauh lebih baik," ucap Adara yang kembali tepar.


*********


Adara keluar rumah dan mendapati Aminah yang sedang menyiram tanaman.


"Sudah bangun Azizie!" ucap Aminah.


"Iya Bu," jawab Adara.


"Kamu mau makan tidak. Biar ibu ambilkan," ucap Aminah.


"Nanti saja Bu. Adara belum lapar," jawab Adara.


"Ya sudah kalau begitu," sahut Aminah.


"Dimana Alvian?" tanya Adara tidak melihat putranya itu.


"Dari tadi main sama Arhan dan juga Lulu," jawab Aminah.


"Lulu!" sahut Adara dengan kaget saat mendengar nama Lulu.

__ADS_1


"Iya. Mereka jalan-jalan," jawab Aminah.


"Jadi dia jalan-jalan dengan peliharaannya itu. Isss selalu aja cari kesempatan," batin Adara yang mengumpat kesal.


"Itu mereka sudah kembali," sahut Aminah melihat Arhan, Lulu dan Alvian. Tangan Alvian di pegang Lulu dan Arhan.


"Enak sekali dia mengajak Alvian pergi bersama peliharaannya itu. Apa sudah merasa seperti keluarga cemara," batin Adara dengan kesal.


"Mama!" panggil Alvian yang langsung berlari pada Adara.


"Mama kenapa tidur terus dari tadi. Alvian jalan-jalan sama papa dan sangat seru melihat banyak kambing dan mama tau tidak Tante Lulu tadi terinjak kotoran kambing lucu sekali," Alvian menceritakan apa yang di alaminya dengan semangat. Mendengar apa yang terjadi pada Lulu membuat Adara tersenyum tipis. Pasti dia ngakak mendengar cerita putranya itu.


"Tapi untung ada papa yang bantuin Tante Lulu. Tante Lulu di gendong papa sampai danau untuk membersikan kaki Tante Lulu yang terkena kotoran," lanjut Alvian membuat ekspresi wajah Adara langsung berubah. Bagaimana tidak berubah. Jika mendengar apa yang di katakan anaknya itu.


"Menggendong astaga jadi dia melakukan itu di depan Alvian. Benar-benar sepupu hanya kedok saja," umpat Adara yang kembali emosi dan ingin rasanya menerkam Lulu dan tatapan mata Adara juga jatuh pada Arhan. Namun Arhan santai-santai saja.


"Mama sih sayang sekali tidak ikut. Padahal sangat seru," ucap Alvian.


"Lebih baik mama tidak ikut. Dari pada harus ikut dan melihat hal-hal yang tidak benar dan di contohkan di depan anak kecil," tegas Adara dengan sendirian yang langsung pergi memasuki rumah karena kesal.


"Mama kenapa sih pah?" tanya Alvian heran.


Arhan hanya mengangkat ke-2 bahunya. Arhan ya pasti paham Adara kesal karena mendengar cerita Lulu. Adara itu paling tidak bisa menyembunyikan ke cemburuan nya.


*********


Adara, Arhan, Alvian, Aminah, Amir dan Lulu makan malam bersama.


"Azizie kamu makan yang banyak ya. Ini makanan desa dan pasti kurang cocok di lidah kamu," sahut Amir.


"Bapak ini bagaimana Azizie pernah makan masakan ibu dan Azizie suka-suka aja bukan," sahut Aminah.


"Iya ibu ini enak kok dan cocok dengan lidah Adara," sahut Azizie dengan tersenyum.


"Tuh dengarin makanannya sangat enak," sahut Aminah.


"Kak Arhan biar aku ambilkan makanan untuk kakak," ucap Lulu.


"Aku saja yang mengambilnya," sahut Adara yang menghentikan Lulu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2