
"Dokter! Apa yang terjadi?" tanya Arhan yang melihat kondisi Adara tidak main-main dan sejak tadi Dokter tidak mengatakan apa-apa kepadanya.
"Tuan. Nona Adara mengalami pendarahan. Kita harus segera melakukan operasi untuk kondisinya. Bayinya harus di selamatkan dan juga untuk keselamatan pasien," jelas Dokter.
"Tapi usia kandungannya masih 7 bulan apa ini tidak berbahaya?" tanya Arhan panik.
Walau tidak ada di sisi Adara. Tetapi Arhan tau usia kandungan Adara. Karena selama ini dia mengikuti perkembangan janin Adara.
"Terpaksa Nona Adara akan melahirkan secara prematur. Untuk menyelamatkan ibu bayi dan juga sang bayi. Walau resikonya sangat berat pada bayi dan kemungkinan selamat juga sangat kecil," jawab Dokter mendengarnya Arhan sudah lemas.
Apalagi Adara yang pasti begitu schock mendengar apa yang di katakan Dokter. Dia tidak ingin bayinya kenapa-kenapa.
"Jadi kita harus bertindak secepatnya sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan. Karena kondisi pasien juga semakin buruk," jelas Dokter pada Arhan.
Arhan melihat ke arah Adara. Karena begitu sakit yang di rasakan Adara membuat mata Adara terpejam. Air mata sudah tidak keluar lagi. Karena rasa sakit yang tidak bisa ungkapkan.
"Bagaimana tuan Arhan. Persetujuan operasi ada di tangan tuan. Karena kita tidak punya banyak waktu dan bisa membahayakan nyawa sang ibu," ucap Dokter mengingatkan Arhan.
"Aku tidak mungkin menunggu papa lagi. Aku harus bertindak sendiri. Ini demi kebaikan Adara dan juga bayinya," batin Arhan yang tidak tega melihat Adara yang terus kesakitan. Wajah Adara juga sangat pucat dan sudah semakin kehabisan tenaga.
"Jika papa ada di sini. Aku yakin dia juga akan setuju dengan apa yang aku lakukan," batin Arhan.
"Tuan Arhan bagaimana?" tanya Dokter yang masih butuh kepastian dari Arhan.
"Baik Dokter. Lakukan operasinya dan saya mohon selamatkan istri saya," ucap Arhan yang akhirnya mengambil keputusan untuk kebaikan istrinya.
"Baiklah kami akan melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan sebagai Dokter," jawab Dokter.
"Suster siapkan semua prosedur operasinya!" titah Dokter.
"Baik Dok," sahut suster yang langsung bergerak cepat.
"Dan tuan Arhan bisa ikut kami. Tuan harus menandatangani apa yang di perlukan!" ucap Dokter.
"Baiklah," sahut Arhan.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Adara yang tidak ingin di tinggal Arhan.
"Aku hanya pergi sebentar. Kamu jangan takut semuanya akan baik-baik aja. Kamu wanita yang kuat," jawab Arhan.
"Tapi kamu akan kembalikan?" tanya Adara yang memang takut tidak ada Arhan di sampingnya.
"Aku pasti kembali. Azizie Kamu jangan khawatir aku akan selalu ada di samping kamu. Kamu jangan takut. Sakitnya akan secepatnya hilang. Percayalah padaku operasinya akan berjalan dengan lancar," ucap Arhan yang berusaha untuk menenangkan Adara dan meyakinkan Adara.
Adara tidak bisa berkata-kata lagi. Mengeluarkan suaranya pun sudah tidak sanggup lagi. Hany memegang kuat tangan Arhan yang membuatnya merasa sedikit tenang.
Genggaman tangan Arhan juga sangat kuat dengan satu tangan Arhan yang mengusap pucuk kepala Adara. Dahi Adara yang berkeringat dengan napasnya yang naik turun sudah menjelaskan betapa sakitnya yang di rasakannya.
Arhan yang penuh simpatik mencium lembut kening Adara. Wajah Arhan dan Adara yang saling berdekatan dengan mata mereka saling beradu pandang. Suara napas yang terdengar saling memburu.
"Percaya kepadaku. Semuanya akan baik-baik aja. Kamu adalah wanita yang kuat dan akan menjadi seorang ibu" ucap Arhan yang memberikan Adara keyakinan.
Mendengar perkataan lembut dan sangat menyentuh hati itu membuat Adara menganggukkan kepalanya. Apapun itu dia harus memberikan kepercayaan yang penuh untuk Arhan. Karena selama ini Arhan yang membantunya.
*********
Herlambang memang sedang ada di Luar Negri. Jadi tidak bisa kerumah sakit. Tetapi Arhan sudah menghubungi Herlambang dan pasti akan segera menyusul secepatnya dan sementara Arhan yang berada di sisi Adara menemani Adara.
Operasi Adara di laksanakan dan Arhan menunggu di depan ruang operasi. Karena Adara melahirkan secara sesar mau tidak mau Adara harus operasi dan mana mungkin Arhan menemani Adara di dalam ruang operasi karena operasi punya prosedur sendiri.
"Ya Allah semoga saja Azizie baik-baik saja. Semoga Azizie tidak apa-apa dan bayi nya baik-baik saja," batin Arhan yang hanya berdoa yang terbaik untuk bayinya.
Rasa ketakutan pasti menyelimuti perasaan Arhan. Apalagi kondisi Adara yang masih sangat muda dan pasti banyak resiko melahirkan di usia sini dan semua sangat di takutkan Arhan jika hal buruk terjadi pada Adara.
Apa lagi sebelumnya dia berdiskusi dengan Dokter dan perkataan Dokter sangat mengkhawatirkan dan itu yang membuat Arhan tidak tenang. Sangat gelisah dan mungkin jika tangannya di pegang pasti sangat dingin.
Sementara Adara di dalam ruang operasi yang berjuang. Meski di bius. Namun Adara tetap harus berjuang. Ada beberapa Dokter yang membantu operasi Adara dan ada juga Suster yang membantu Dokter.
Untuk pertama kali bagi Adara dia melakukan operasi seumur hidupnya. Karena dia memang tidak pernah sakit dan operasi kali ini perutnya harus di belah dan bayinya akan di ambil dari dalam perutnya. Hal semacam itu mana pernah di bayangkan Adara. Yang pasti Adara sangat ketakutan dalam hal tersebut.
Namun dia harus berjuang. Karena seorang ibu penuh perjuangan. Adara juga mengingat bagaimana cerita almarhum ibunya melahirkannya dan pasti sang ibu lebih berjuang karena melahirkan secara normal.
__ADS_1
Mau normal atau sesar itu sama saja. Sama-sama melahirkan dan penuh dengan perjuangan.
Setela hampir 1 jam lampu operasi akhirnya hijau yang menandakan operasi Adara telah selesai.
Owe owe owe owe owe owe owe.
Suara tangis bayi yang indah itu terdengar di telinga Arhan yang membuat Arhan yang masih berada di depan ruang operasi menghela napas dengan mengucap syukur dengan mendengar suara tangis itu.
"Alhamdulillah," lirih Arhan yang merasa bersyukur dengan suara bayi itu yang artinya bayi itu selamat dan tangisnya membuat hatinya tersentuh. Dia seperti seorang ayah yang menanti kehadiran seorang anak.
"Semoga keadaan Azizie juga baik-baik saja, Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanyanya," ucap Arhan yang mengkhawatirkan Adara.
Suster keluar dari ruangan operasi tersebut.
"Bagaimana istri saya Suster?" tanya Arhan yang langsung peduli kepada istrinya.
"Istri tuan Arhan baik-baik saja," jawab Suster.
"Alhamdulillah," Arhan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang jauh lebih bersyukur karena keadaan istrinya yang juga baik.
"Mari tuan Masuk!" titah Suster tersebut. Arhan menganggukkan kepalanya.
********
Azizie meneteskan air matanya setelah melihat bayinya yang lahir secara prematur. Azizie yang masih dalam ke adaan lemas melihat bayinya yang sudah di bersihkan di berikan kepada Arhan yang sudah di perbolehkan masuk.
"Bayinya laki-laki!" ucap Dokter.
"Makasih Dokter," sahut Arhan yang menerima bayi itu menggendong bayi itu dengan penuh ketulusan dan melantunkan Azand di telinga sang bayi yang membuat Adara semakin meneteskan air matanya.
"Janin yang ada di rahimku selama ini sudah lahir ke dunia. Suara tangisnya yang indah yang terdengar di telingaku. Lalu apa kamu bisa kuat dengan dunia yang pasti tidak seindah yang kamu bayangkan," batin Adara.
Setelah melihat bayinya yang di azand kan dengan penuh ketulusan. Mata Azizie perlahan tertutup. Mungkin Azizie begitu lelah dan rasa sakit itu sudah hilang membuatnya memejamkan matanya.
Bersambung
__ADS_1