TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 13 Peringatan Arhan.


__ADS_3

"Kenapa kamu diam Adara?" tanya Herlambang.


"Untuk apa lagi papa harus tau semua itu. Bukankah semuanya tidak akan mengubah apapun. Aku sudah menikah dengan orang yang papa inginkan. Jadi untuk apa papa tau lagi," ucap Adara.


"Kalau begitu jawab pertanyaan papa. Apa alasan kamu tidak ingin menunjukkan wajahnya kepada papa? Katakan pada papa alasan kamu menyembunyikan semuanya dan tidak menceritakan apa yang terjadi. Adara hamil tanpa pernikahan banyak kronologi. Bisa jadi itu karena perbuatan dan kecerobohan kamu dan bisa saja itu karena hal sial yang terjadi. Hal naas yang tidak bisa di hindari. Seperti kamu di paksakan atau di per....." Herlambang tidak melanjutkan kalimatnya yang pasti Adara mengerti apa yang di maksud papa.


"Jadi katakan kepada papa yang mana sebenarnya terjadi Adara?" tanya Herlambang.


Adara diam saja dengan air matanya yang jatuh dan tubuhnya yang bergetar.


"Jangan diam saja Adara. Katakan kepada papa semuanya," ucap Herlambang.


"Sudah tidak berarti apa-apa lagi semuanya pah. Aku sudah tidak perlu harus mengatakannya kepada papa. Karena aku sudah menikah dengan anak yang lebih papa pedulikan," ucap Adara yang meninggalkan tempat itu.


"Jika itu yang ingin terus Kamu sembunyikan maka silahkan. Tapi Kamu jangan membantah apa yang di katakan Arhan lagi dan masalah Pria kamu bisa menjaga sikap kamu. Karena kamu sudah bersuami," ucap Herlambang membuat langkah Adara terhenti dan kembali membalikkan tubuhnya.


"Apa maksud papa?" tanya Adara.


"Arhan sudah menjadi suami kamu dan setiap apa yang kamu lakukan Arhan yang bertanggung jawab dengan semuanya. Berhak marah dan keras kepada kamu," tegas Herlambang.


"Tapi aku tidak mau dan papa sama saja menyerahkanku hidupku kepadanya!" Bantah Adara yang pasti protes.


"Memang papa sudah menyerahkan mu kepadanya!" tegas Herlambang.


"Aku tidak mau pah. Aku tidak akan mengikuti apa katanya," protes Adara.


"Dan papa juga jangan lagi menyuruh dia untuk mengantarku kesekolah. Aku tidak mau 1 sekolah ku tau. Jika aku sudah menikah dan sebelum kecelakaan tadi. Aku juga hampir ketahuan oleh Brian dan aku tidak mau dengan dia yang terus mengawasiku membuatku ketahuan dengan status baruku. Aku masih ingin aman di sekolah," tegas Adara.


"Semua tergantung pada kamu. Bagaimana kamu menjaganya. Tetapi pada intinya Arhan adalah suami kamu dan kamu harus patuh padanya. Jangan terus-terusan menguji kesabarannya yang mungkin dia lebih parah pada papa," tegas Herlambang mengingatkan.


"Pah! Aku masih muda dan butuh kebebasan. Papa jangan mencuri kebebesan ku. Hanya karena aku melakukan kesalahan itu," tegas Adara.

__ADS_1


"Terserah kamu mau mengatakan apa. Tidak ada yang bisa membantah keputusan papah," sahut Herlambang dengan penuh penekanan dan penegasan.


"Papa benar-benar sudah tidak sayang pada Adara lagi. Adara benci sama papa," ucap Adara dengan tajam. Dan langsung pergi dari hadapan Herlambang dengan penuh kemarahan. Namun masih di depan pintu langkahnya kembali terhenti.


"Brian atau teman-teman 1 sekolahku. Tidak ada hubungannya dengan kehamilanku dan jika papa mencari tahu pun. Maka papa tetap tidak akan mendapatkan hasil apapun. Karena aku juga tidak tau apa yang terjadi pada diriku," ucap Adara yang membuat Herlambang diam. Dan Adara langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Kenapa Adara? Kenapa kamu tidak ingin menceritakan yang terjadi sebenarnya? Kenapa? Kenapa harus ada lagi yang kamu sembunyikan? Papa tidak tau apa yang ingin kamu lindungi sebenarnya," batin Herlambang yang sebenarnya apa yang terjadi dengan putrinya itu membuatnya penuh dengan tanda tanya dan kebingungan.


**********


Adara kembali masuk kedalam kamar dengan tidak mendapatkan apa-apa dari papanya. Bukannya Arhan yang di salahkan justru dirinya yang di marahi.


"Menyebalkan. Aku terus yang di salahkan. Padahal aku yang celaka, aku yang terluka," umpat Adara kesal yang menutup kuat pintu kamarnya.


"Ehegg! tiba-tiba Adara mual dan langsung buru-buru kekamar mandi dengan tangannya yang memegang mulutnya.


Ternyata tanpa di ketahui Adara, Arhan ada di dalam kamar mandi dengan memakai handuk di lilit di pinggangnya.


"Kenapa kau ada di sini!" Kau itu benar-benar!" geram Adara.


Yang langsung terduduk menumpahkan isi perutnya kedalam kloset. Perutnya sudah tidak tahan. Jadi tidak mungkin pergi lagi dari kamar mandi walau Arhan ada di sana.


Arhan menghela napasnya yang berjongkok dengan menggosok leher Adara yang fungsinya untuk Adara agar cepat keluar.


"Jangan menyentuhku!" tegas Adara dengan menepis tangan Arhan.


"Aku hanya membantu mu," ucap Arhan.


"Aku tidak butuh bantuanmu pergi dari sini!" usir Adara.


"Kamu yang masuk kemari dan kau lihat sendiri. Jika aku masih mandi," jawab Arhan.

__ADS_1


"Ini kamarku dan kamar mandi ini milikku dan tidak seharusnya kau sembarangan menggunakannya," tegas Adara.


"Aku berhak menggunakannya. Karena ini juga sudah menjadi bagian dari diri ku," ucap Arhan.


"Semuanya saja menjadi bagian darimu! Ambil semuanya," kesal Adara. Arhan tidak menanggapi ocehan Adara.


"Aku bilang pergi. Perutku tambah mual melihat wajahmu," ucap Adara dengan kesal. Arhan menghela napasnya dan lebih baik dia memang pergi. Lagian dia juga kasihan melihat Adara yang mual-mual terus. Semakin Adara marah maka akan semakin mual.


Adara memang sudah meminum obat mual tersebut. Tetapi namanya juga ibu hamil muda. Pasti memang untuk mual-mual tersebut tidak akan bisa terhindari.


Adara masih mual-mual di dalam kamar mandi yang sementara Arhan sudah keluar dari kamar mandi. Arhan lama-lama pasti tidak tega dengan Adara dan Arhan menghela napas yang menuju kamar mandi.


Baru ingin membuka pintu kamar mandi. Adara sudah keluar dari kamar mandi dengan sangat lemas yang memegang perutnya.


"Mau ngapain?" tanya Adara ketus.


"Hanya ingin melihat keadaanmu," jawab Adara.


"Nggak usah sok perhatian," sahut Adara kesal yang melewati Arhan.


"Kau sengaja menemui papa terlebih dahulu. Agar bisa mengatakan semuanya terlebih dahulu dan aku yang di salahkan. Sengaja ingin mencari muka agar tidak di salahkan," ucap Adara.


"Azizie semua itu karena kamu yang memulai," sahut Arhan.


"Menyalahkan ku. Kau yang membawa kendaraan," sahut Adara yang pasti tidak ingin di salahkan.


"Baiklah itu salahku. Tetapi aku ingatkan kepadamu. Aku menerima kehamilanmu dalam pernikahan kita. Tetapi jika kau melebihi batasmu dan mengatakan seperti apa di dalam mobil itu. Aku sendiri yang akan menikahkan mu dengan pria itu," tegas Arhan membuat Adara kaget dengan melihat ke arah Arhan.


"Apa maksud perkataan mu. Apa kau pikir menikah denganku. Lalu hidupku adalah milikmu, sehingga kau berani sekali mengancamku," umpat Adara dengan tatapan matanya yang sangat tajam.


"Itu hanya peringatan. Agar kau bisa menghargai ku sebagai suami. Karena aku menghargai dirimu," tegas Arhan dengan suara beratnya yang membuat pasangan suami istri itu saling menatap tajam dengan perasaan mereka masing-masing yang keduanya terlihat sama-sama marah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2