TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 48


__ADS_3

Adara keluar dari kamar mandi. Baru saja dia selesai mandi di pagi hari yang sangat dingin itu. Dengan rambutnya yang masih basah. Adara menuju cermin, mencolokkan hair dryer dan mengeringkan rambutnya.


Kamar itu tampak sepi dan tidak ada siapa-siapa tidak ada Arhan dan juga Alvian yang mungkin di bawa Bibi.


Dratt-dratt-dratttt-dratt.


Suara ponsel itu terdengar. Bukan ponsel Adara melainkan ponsel Arhan yang menyala di atas tempat tidur. Ada menghentikan sebentar pekerjaannya dan melihat panggilan masuk itu.


"Lulu!" gumamnya melihat panggilan dari nama seorang wanita. Wajahnya terlihat berpikir mungkin bertanya-tanya siapa itu Lulu. Sampai akhirnya suara berdering itu tidak terdengar lagi.


Mata Adara melihat layar ponsel Arhan. Melihat wallpaper Arhan menggunakan foto pernikahan mereka. Saat mereka saling berhadapan dan Adara yang mencium punggung tangan Arhan. Wajah senduh itu mengeluarkan senyum tipis yang mungkin tidak sampai di pikirannya jika Arhan membuat wallpaper ponselnya adalah photo pernikahan mereka.


Sangat jarang laki-laki seperti itu. Walau menikah dan belum tentu banyak laki-laki bisa melakukan hal itu. Dan Arhan seperti itu yang padahal pernikahan mereka tidak normal.


Arah mata Adara berpindah pada jendela dan Adara melangkah menuju jendela membuka tirai putih itu. Adara melihat Arhan yang berada di taman belakang yang sedang menggendong Alvin.


Seperti seorang ayah yang begitu menyayangi putranya. Postur tubuh Arhan sudah bisa menjelaskan jika Arhan memang sangat menerima Alvian. Bisa di katakan Alvian justru lebih tenang berada pada gendongan Arhan di bandingkan dirinya.


Melihat kemanisan itu membuat Adara tersenyum tipis. Arhan yang yang sangat menikmati statusnya sebagai seorang ayah dan yang mengajak Alvina berjemur


Adara kembali berjalan menuju cermin. Adara sangat buru-buru mengeringkan rambutnya. Buru-buru memakai sedikit make up.


Adara membuka laci dan membuka kotak kecil yang berisi cincin pernikahannya. Adara tiba-tiba saja ingin memakai cincin yang selama ini sudah terlepas dari jari manisnya. Wajahnya juga kelihatan sangat berbunga-bunga dengan rona merah di pipinya.


*********


Adara keluar dari kamar menggunakan dress putih sepahanya. Rambutnya terurai yang masih basah sedikit. Adara menuruni anak tangga dan saat sampai di bawah Adara bertemu dengan Lucia. Lucia tampak cuek dan melewati Adara begitu saja.


"Tunggu Lucia!" titah Adara dan Lucia yang menghentikan langkahnya dengan memejamkan matanya yang kelihatan menghindari Adara.


"Ada apa?" tanya Lucia ketus.


"Kamu belum minta maaf padaku," ucap Adara dengan dingin.


"Kenapa juga aku harus minta maaf padamu," sahut Lucia yang tidak ingin mengakui kesalahannya dan juga tidak ingin meminta maaf.


"Lucia kejadian waktu itu dan seharusnya kamu minta maaf aku menunggu-nunggu kamu minta maaf dan sampai detik ini kamu belum minta maaf Tante Mayang bilang kamu harus meminta maaf," jelas Adara.

__ADS_1


"Ya ampun Adara meminta maaf itu tidak harus di katakan. Semua itu dari dalam hati," Lucia selalu punya alasan agar tidak minta maaf pada Adara.


"Tapi aku ingin kamu minta maaf langsung. Karena kesalahan kamu dan kamu harus meminta maaf," tegas Adara tetap menagih maaf itu.


"Tapikan itu udah lama. Udah deh kamu jangan memperbesar masalah," ucap Lucia.


"Tapi kamu harus minta maaf pokoknya!" tegas Adara.


"Apaan sih Adara," kesal Lucia.


"Ada apa ini!" Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing mengejutkan Lucia. Suara itu tampak takut di perdengarkan Lucia.


Dugaan Lucia benar ternyata suara itu dari Herlambang yang membuat mata Lucia melotot


"Kalian berdua kenapa tegang sekali dan papa mendengar kata maaf. Memang siapa yang harus minta maaf?" tanya Herlambang.


"Sial! kenapa Om Herlambang bisa ada di sini. Bagaimana ini," batin Lucia dengan penuh kecemasan yang takut akan ketahuan.


"Adara, Lucia! Ada apa?" tanya Herlambang yang bergantian melihat ke-2 orang itu.


Sontak hal itu membuat Lucia kaget dan semakin takut.


"Kesalahan apa Adara?" tanya Herlambang.


Deg.


Jantung Lucia ingin berhenti mendengar kata-kata itu yang membuatnya menelan salivanya.


Sementara Adara hanya melihat ke arah Lucia. Menatap Lucia dan menunggu reaksi Lucia.


"Ada apa Lucia?" tanya Herlambang.


"Hanya kesalahan kecil kok Om. Ya sudah Adara aku minta maaf ya," sahut Lucia dengan cepat yang harus mengalah sebelum Herlambang mencurigainya.


"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu memaafkanku kan?" Lucia tampak pucat dan berharap ada menghentikan semua ini.


"Adara bagaimana, Lucia sudah minta maaf apa kamu memaafkannya?" tanya Herlambang.

__ADS_1


"Baiklah pah! Adara memaafkannya dan berharap kamu tidak akan mengulanginya lagi dan jika terjadi lagi. Maka kali ini aku tidak akan tinggal diam," ucap Adara mengingatkan.


"Pasti kok Adara!" sahut Lucia.


"Tetapi papa lihat sepertinya masalahnya masalah serius! Masalah apa sebenarnya?" tanya Herlambang kepo. Mendengar pertanyaan itu sama saja akan membuat jantung Lucia berhenti berdetak.


"Tidak ada masalah apa-apa kok pah. Hanya masalah kecil saja," sahut Adara. Lucia menghela napasnya mendengar kata-kata Adara yang sudah menyelamatkan nya dari jantungnya yang copot.


"Ya sudah kalau begitu kalian berdua jangan ada yang marah-marahan lagi. Kalian itu saudara di sini. Jadi bersikaplah dengan baik dan jangan bertengkar," ucap Herlambang mengingatkan.


"Iya pah," sahut Adara.


"Ya sudah Lucia pergi dulu om. Tadi di panggil mama," ucap Lucia yang buru-buru pamit. Herlambang hanya mengangguk.


"Adara. Sana kamu temui Arhan. Dari tadi dia itu bersama Alvian. Kasian pasti dia sangat lelah," ucap Herlambang.


"Iya pah. Ini Adara juga mau ke sana kok pah," sahut Adara.


"Ya sudah sana," ucap Herlambang. Adara menganggukkan kepalanya dan langsung pergi ke taman menghampiri Arhan.


*********


Arhan. Ayah tampan yang menggendong Alvian membawa Alvian berjemur membuat Adara yang berada di belakang Arhan tersenyum.


"Ehemm!" Adara berdehem. Arhan membalikkan tubuhnya melihat Adara.


"Apa dia menangis?" tanya Adara.


"Tidak! Kamu lihat sendiri dia sangat menyukai matahari jadi dia sangat suka berjemur," jawab Arhan.


"Benarkah!" sahut Adara yang mendekati Arhan dan melihat bayinya yang memang sedang bangun dengan mata indahnya yang menyipit


"Sayang mata kamu silau ya," ucap Adara yang mengajak Alvian bermain. Tangan kecil Alvian di pegang Adara. Adara sangat gemes dengan Alvian. Anak kecil yang sudah mempunyai anak yang membuat Arhan tersenyum.


Adara mengangkat kepalanya dan saling beradu pandang dengan Arhan. Kedekatan wajah mereka membuat keduanya terus saling menatap. Jantung Adara terus bergetar saat mendapat tatapan yang begitu hangat dari Arhan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2