
Malam ini Adara, Arhan dan Alvian ingin pergi keluar untuk jalan-jalan yang kebetulan ada hiburan di desa tersebut. Sebelum pergi mereka berpamitan dulu kepada Aminah dan Amir.
"Nenek, kakek Alvian pergi dulu ya. Alvian mau jalan-jalan sama mama dan papa," ucap Alvian.
"Iya Alvian. Semoga Alvian suka ya jalan-jalannya," sahut Aminah memegang dagu Alvian.
"Pasti nenek," sahut Alvian dengan semangat.
"Ya sudah Bu, Pak, kami pergi dulu," sahut Arhan yang juga pamitan.
"Kalian hati-hati. Pulangnya jangan terlalu malam ya," ucap Amir.
"Bapak ini apa-apaan sih orang mereka sudah menikah. Memang mereka ini anak lajang yang harus di batasi apa. Jadi nggak apa-apa pulang mau sampe pagi," sahut Aminah. Adara dan Arhan hanya tersenyum saja.
"Iya-iya bapak hanya bercanda," sahut Amir.
"Ya sudah sana kalian buruan pergi," sahut Aminah.
"Kak Arhan ingin pergi!" tiba-tiba Lulu datang. Melihat kehadiran Lulu membuat Adara berdecak kesal yang moodnya sudah hilang.
"Aku ikut ya!" ucap Lulu yang membuat Adara bertambah kesal. Kalau Lulu ikut Adara sudah malas untuk pergi.
"Lulu kamu itu tadi sudah jalan-jalan. Lebih baik kamu itu bantuin Tante. Soalnya ada pekerjaan yang belum beres," ucap Aminah.
"Oh begitu ya," sahut Lulu yang tidak bisa ikut pergi dan pasti kecewa. Karena tidak ikut.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum!" ucap Arhan kembali pamit.
"Walaikum salam," sahut Aminah, Amir dengan serentak. Lulu pasti sedih karena dia tidak ikut. Untung aja ada Aminah yang peka dan mengerti situasi. Jadi Adara punya waktu bersama Alvian dan Arhan untuk jalan-jalan bersama.
"Ayo Lulu masuk kedalam bantuin Tante!" ajak Aminah.
"Iya Tante," sahut Lulu dengan mengangguk.
************
Adara, Arhan, Alvian jalan-jalan di tempat hiburan malam. Kalau di desa itu di katakan pasar malam. Tempat hiburan di desa memang sangat sederhana.
Namun begitu ramai dan Alvian tampak bahagia. Jalan-jalan dengan ke-2 orang tuanya terasa sangat berbeda dan pasti lebih bahagia dan bukan karena tempatnya mewah atau tidak. Yang penting orang tua lengkapnya ada di sana.
"Papa Alvian mau naik bilalang!" tunjuk Alvian.
__ADS_1
"Alvian itu sangat tinggi jangan!" sahut Adara yang takut ketinggian dan tidak berani untuk naik.
"Ihhhhh mama Alvian itu laki-laki. Jadi harus berani!" tegas Alvian yang memang tidak ada takutnya.
"Tapi mama tidak berani," sahut Adara yang mengakui jika dia memang takut.
"Sudah mama tidak akan apa-apa kok. Itu tidak terlalu tinggi. Lagi pula ada papa dan Alvian yang jagain mama. Jadi mama tidak boleh takut," ucap Alvian. Arhan hanya tersenyum mendengar Alvian yang bicara. Alvian paling bisa menenangkan Adara.
"Ayo mama!" tangan Alvian langsung menarik tangan Adara dan Arhan pun mengikut saja.
Adara memang begitu takut ketinggian dan sepanjang mendekati tempat hiburan itu. Adara terus dek-dekan sampai memasuki bilalang tersebut Adara semakin dek-dekan.
Adara duduk di sebelah Arhan dan Alvian duduk di depan mereka dengan Alvian yang terlihat santai dan tidak ada masalah apa-apa. Dia sangat berani dan wajahnya tampak tenang.
Namun Adara terlihat takut yang terus memegang dressnya. Bahkan di keringat dingin. Apa lagi ketika bilalang itu sudah bergerak. Arhan menoleh ke arah Adara. Melihat Adara seperti itu membuat Arhan memegang tangan Adara yang ada di atas paha Adara.
Arhan memegang tangan dingin itu dengan erat yang memberikan ketenangan pada Adara dan mampu membuat Adara melihat ke arah Arhan.
"Tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja," ucap Arhan begitu lembut. Adara menganggukkan kepalanya dan lumayan sedikit tenang. Jika sudah di genggam Arhan rasanya ketinggian sekian meter pun sudah Adara sudah tidak takut lagi.
"Wah seru!" sahut Alvian yang tampak bahagia. Adara tersenyum melihat Alvian yang kelihatan sangat bahagia.
Adara, Arhan dan Alvian masih berada di tempat hiburan itu dengan menaiki beberapa permainan yang ada di sana. Mereka tampak bahagia dan penuh dengan tawa menikmati permainan tersebut.
"Enak Alvian?" tanya Arhan yang mana Alvian begitu lahap memakan bakso bakar.
"Hmmmm, sangat nikmat pah," sahut Alvian.
Arhan tersenyum dengan mengusap pucuk kepala Alvian. Arhan melihat di sekitarnya dan melihat jagung ada penjual sate.
"Kamu mau sate?" tanya Arhan pada Adara. Adara memang pencinta sate dan Arhan sangat tau itu.
"Boleh," sahut Adara dengan menganggukkan kepalanya.
"Alvian mau?" tanya Arhan.
"Tidak pah," jawab Alvian yang memang masih kenyang.
"Ya sudah papa beli untuk mama dulu ya," ucap Arhan.
"Baik pah," sahut Alvian. Arhan pun langsung pergi untuk membelikan sate.
__ADS_1
"Pelan-pelan makannya Alvian!" ucap Adara
"Iya mah," sahut Alvian dengan tersenyum.
Tidak lama akhirnya Arhan pun sudah datang dengan membawa satu bungkus sate. Kemudian Arhan duduk di samping Adara dan membuka sate tersebut.
Arhan mengambil satu tusuk dan meniupnya terlebih dahulu. Lalu memberikannya pada Adara membuat Adara mengambilnya dan menekannya. Sate kambing kesukaan Adara. Masih ingat waktu Adara hamil. Arhan hanya memperbolehkan Adara menekan satu saja dan tidak boleh banyak-banyak.
Arhan juga ikut makan sate tersebut dan Alvian sibuk dengan memakan baksonya. Namun tiba-tiba Adara menoleh ke arah Arhan. Adara melihat ujung bibir Arhan kotor terdapat minyak dan bumbu sate.
Adara dengan spontan langsung melap bibir Arhan dengan menggunakan tangannya membuat Arhan cukup kaget dengan tindakan Adara dan membuat mereka saling melihat dengan tangan Adara masih berada di bibir Arhan.
"Maaf!" ucap Adara yang merasa lantam melakukan hal itu sampai meminta maaf dan Adara juga langsung menurunkan tangannya.
"Tidak perlu minta maaf," sahut Arhan tersenyum. Adara merasa gugup karena ulahnya yang melakukan hal itu. Hal spontan itu memang membuatnya sangat gugup.
Mereka kembali menikmati makan mereka. Memang sangat sederhana. Tetepi terasa begitu nikmat dan apalagi Adara yang kelihatan bahagia.
"Papa kita lama saja ya di tempat nenek. Biar bisa jalan-jalan lagi," ucap Alvian yang begitu senang berada di desa.
"Memang di sini sangat enak?" tanya Arhan.
"Enak pah, tempatnya bagus. Dari pagi sampai malam tempatnya sangat bagus dan makananya juga sangat enak," sahut Alvian.
"Alvian di sini juga akan di adakan festival balon udara. Alvian mau lihat?" tanya Arhan.
"Wau seru mau pah," sahut Alvian yang begitu ingin.
"Tapi bukan sekarang acaranya lusa. Nanti kita ke sana ya," ucap Arhan.
"Baik pah," sahut Alvian yang begitu bahagia dan Adara hanya tersenyum saja dengan putranya yang kelihatan begitu bahagia.
************
Setelah menghabiskan waktu di sana. Akhirnya mereka pulang kerumah dan Alvian juga sudah ke lelehan yang mana sudah tertidur di gendongan Arhan.
Sampai mereka sampai kerumah. Alvian masih tertidur aja. Adara membuka pintu kamar untuk Arhan dan Arhan membaringkan tubuh Alvian dia atas tempat tidur.
"Dia sangat kelelahan!" ucap Adara dengan menyelimuti Alvian.
"Kamu benar," sahut Arhan, "ya sudah kita tinggal saja Alvian," sahut Arhan. Adara menganggukkan kepalanya dan mereka langsung pergi meninggalkan Alvian yang beristirahat.
__ADS_1
Bersambung