
Akhirnya sampai juga Alvian dan Adara ketempat belajar Alvian. Adara mengantarkan Alvian masuk kedalam tempat itu dan Pria itu memberhentikan mobilnya sekitar 20 meter dari mobik Adara. Pria itu terus melihat Adara dan Alvian.
"Dia besar dengan baik," ucapnya yang memang sejak tadi mengawasi Alvian dan Adara.
"Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Alvian. Aku harus menunggu informasi dari wanita itu. Dia harus bisa membuatku bertemu dengan Alvian," batin Pria itu dengan wajah senduhnya. Terlihat ada kesedihan di wajahnya saat melihat Alvian.
Setelah Adara mengantarkan putranya itu. Adara keluar dari dalam gedung itu. Langkahnya terhenti ketika melihat mobil yang berhenti.
"Bukannya itu mobil tadi!" gumam Adara yang mengingat mobil itu.
"Tidak! dia tidak mungkin mengikutiku. Apa maksudnya? Siapa dia?" Adara bertanya-tanya. Namun tetap terlihat sangat khawatir. Karena siapa yang tidak cemas. Jika dia di ikuti.
"Aku haru tau. Apa maksudnya sebenarnya," Adara dengan keberaniannya mendekati mobil itu. Dia tidak terima di ikuti dan harus tau siapa orang yang mengikutinya.
Saat langkah Adara semakin dekat pada mobil itu tiba-tiba mobil itu sudah berjalan dengan kencang dan Adara hanya melihat sekilas Pria yang menyetir mobil itu.
"Siapa dia?" gumma Adara dengan perasaannya yang tidak enak.
"Kenapa dia ada di sini? Apa sebenarnya yang terjadi. Tidak Adara itu hanya kebetulan dan pasti tidak ada hubungannya dengan kamu," Adara kembali mencoba untuk berpikiran positif atas pria yang membuatnya cemas.
Tidak ingin terbawa suasana dengan pria tersebut Adara kembali ke mobilnya dan langsung pergi.
*********
Adara, Arhan dan Alvian sore ini jalan-jalan di salah satu Mall. Biasa Alvian ingin bermain, Arhan dan Adara harus menemani Alvian. Apalagi Alvian baru saja mendapatkan juara berenang.
Mereka ber-3 seperti biasa sangat bahagia jika sudah jalan-jalan. Menemani Alvian bermain game dan kadang-kadang Adara atau Arhan juga ikut bermain game dan permainan lainnya.
Sama seperti sekarang ini Alvian dan Arhan yang menaiki mobil-mobil keliling yang balapan dengan pengunjung lainnya. Adara tidak ikut dan hanya mengambil Vidio Alvian dan juga Arhan. Dengan Adara yang terus memberi arahan untuk melambai pada kamera. Senyum dari wajah ke-3 nya tampak begitu lepas dan mereka memang sangat bahagia.
__ADS_1
Namun tiba-tiba senyum Adara perlahan hilang saat melihat di layar rekaman Vidio yang di ambilnya. Dari arah yang berlawanan Adara melihat seorang pria yang berjas. Pria itu adalah yang mengikutinya sebelumnya. Adara tidak berapa jelas mengingat wajahnya. Karena saat di tempat belajar Alvian. Hanya sekilas saja Adara melihat wajahnya.
Pria itu juga tampak merekam seperti apa yang di lakukan Adara. Namun ada hal aneh yang membuat Adara merasa ada sesuatu. Adara melihat di sekitarnya. Ada beberapa pengunjung yang menemani anak mereka bermain yang sama seperti Arhan dan Alvian. Pengunjung yang mungkin keluarganya juga mengambil moment dengan mengambil Vidio.
Adara begitu jeli dan memperhatikan setiap orang yang mereka dan objek yang mereka rekam. Ternyata semua punya masing-masing dan ternyata pria yang membuat Adara penasaran tidak merekam yang lain dan justru Alvian yang di rekannya. Karena orang-orang yang sedang bermain itu tidak ada satupun yang menyahutnya seperti tidak ada yang di kenalnya di tempat itu.
Adara merasa ada yang aneh menghentikan rekamannya dan berjalan menuju pria itu dengan mengelilingi tempat itu. Adara ingin memastikan apa benar pria itu mereka Alvina atau tidak. Pria itu yang tersenyum mengambil rekaman Alvian tidak menyadari jika Adara menghampirinya
Dan bahkan Adara sudah berdiri di dekat pria itu dan Adara kaget yang memang benar apa adanya dia merekam Alvian. Bahkan khusus Alvian dan Arhan tidak. Hal itu membuat Adara terkejut.
"Siapa kamu?" suara Adara yang shock terdengar membuat pria itu kaget dan melihat ke sebelahnya.
Barulah Adara melihat jelas pria bertubuh tinggi tegap itu dengan dekat.
"Kamu merekam putraku?" tanya Adara. Adara memang terlihat tidak mengenali siapa pria itu.
"Saya-s- saya," pria itu tampak sangat gugup ketikan tertangkap basah merekam Alvian.
"Lancang sekali kau merekam putraku. Siapa kau? Bukannya kau juga yang sudah mengikutiku?" tanya Adara dengan mengingatkan jelas.
"Kau benar-benar kurang ajar!" umpat Adara dengan kesal yang ingin menghapus rekaman itu.
"Tunggu apa yang kau lakukan!" pria itu berusaha untuk mencegah Adara dan merebut ponsel itu kembali. Namun Adara tidak memberinya dan ingin menghapus rekaman itu.
"Kau itu lancang sekali!" umpat Adara dengan kepala yang berhasil menghapusnya dan mengembalikan kasar ponsel itu pada pria yang tidak di kenalnya itu.
"Aku peringatkan kepadamu. Jangan berani kurang ajar untuk merekam orang sembarangan. Jika kau masih melakukannya aku akan melaporkanmu ke polisi. Karena sudah mengganggu kenyamanan kamu!" ancam Adara dengan penuh penegasan kepada Pria itu sembari menunjuk tepat di wajah Pria itu.
"Ingat itu!" tegas Adara sekali lagi dan hendak pergi. Namun tangannya di tahan pria itu dan Adara langsung melepas dengan kasar.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
"Kurang ajar kau! Berani sekali kau menyentuhku!"
"Dia bukan hanya putramu. Tapi juga putraku," ucap Pria itu yang membuat Adara terkejut dengan mata Adara yang melotot debaran jantungnya yang berdetak begitu kencang.
Arhan yang masih bermain dengan Alvian ternyata memperhatikan Adara. Arhan melihat dari kejauhan bagaimana istrinya yang berbicara dengan seorang pria yang tidak di kenal Arhan sama sekali. Namun dari kejauhan Arhan bisa melihat ada ketegangan di antara Adara dan pria itu.
"Apa yang kau katakan?" tanya Adara dengan suara seraknya.
"Alvian anakku!" jawab Pria itu lagi.
Plakkkkkkk.
Pria itu langsung mendapat tamparan dari Adara.
"Tutup mulutmu!" sentak Adara.
"Berani sekali kau mengatakan hal itu!" Adara menunjuk Pria itu dengan napasnya yang naik turun. Emosinya menggebu-gebu saat mendengar pernyataan itu.
"Alvian anakku dan suamiku. Jangan kurang ajar. Kau mengakui anakku sebagai anakmu. Kau pergi dari sini sebelum aku melapor polisi karena perbuatanmu," ancam Adara.
"Baiklah aku akan pergi," sahut pria itu merendahkan suaranya.
"Aku tau kamu kaget dengan apa yang aku katakan. Tapi itu adalah kenyataan jika Alvian adalah putraku. Kamu bisa tenang dan berpikir dulu. Kamu saat ini hanya di penuhi emosi saja," ucap Pria yang dengan tenang bicara dan langsung pergi.
Suara napas Adara naik turun dan wajahnya terlihat panik.
"Tidak! Apa yang di katakannya. Itu tidak mungkin dia hanya orang gila yang mengakui Alvian anaknya. Itu tidak mungkin," batin Adara dengan penuh kecemasan saat mendengar pernyataan pria tersebut.
__ADS_1
Bersambung