
Arhan sedang berada di depan mobil yang menunggu Alvian. Pagi ini dia ingin mengajak Alvian jalan-jalan sesuai dengan janji Arhan pada Alvian. Jika Arhan pulang ke Jakarta sangat wajib mengajak Alvian untuk jalan-jalan.
"Kak Arhan!" tegur Lucia yang tiba-tiba menghampiri Arhan membuat Arhan heran. Lucia memang jarang-jarang menegurnya dan sekarang begitu ramah kepadanya.
"Ada apa Lucia?" tanya Arhan.
"Kak Arhan mau kemana?" tanya Lucia.
"Mau mengajak Alvian jalan-jalan. Hanya dekat-dekat sini saja," jawab Arhan.
"Aku boleh nebeng tidak. Aku mau ke perpustakaan dekat sini. Ada tugas kampus yang belum selesai. Jadi aku mau mampir sebentar ke perpustakaan," ucap Lucia.
"Kenapa kamu tidak bawa mobil sendiri?" tanya Arhan.
"Aku kemarin ada kecelakaan sedikit. Jadi belum bisa bawa mobil," sahut Lucia.
"Oh begitu ya sudah," sahut Arhan. Menerima persetujuannya membuat Lucia tersenyum.
"Papa!" teriak Alvian ya sudah keluar dari rumah dengan tangannya yang berpegangan dengan Adara dan Adara heran dengan adanya Lucia di sana yang mengobrol dengan Arhan.
"Ngapain mereka berdua," batin Adara
" Sudah siap Alvian?" tanya Arhan.
"Sudah dong pah," sahut Alvian dengan semangatnya.
"Ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang!" ajak Arhan.
Alvian mengangguk, "Tante Lucia mau kemana?" tanya Alvian yang melihat Lucia ingin membuka pintu mobil Arhan dan membuka pintu bagian depan pula. Pertanyaan alvian sudah mewakili Adara.
"Tante mau nebeng Alvian. Mau keperpustakaan yang ada dekat sini," jawab Lucia.
"Oh begitu," sahut Alvian yang tidak banyak tanya lagi.
Melihat Lucia membuka pintu bagian depan. Jadi Arhan harus membuka pintu bagian belaka untuk Alvian. Namun Adara yang melihat hal itu tampak kelihatan kesal sekali dan setelah Alvian masuk kedalam mobil. Menyusul Adara yang ikut juga masuk.
"Bukannya mama tadi bilang mama tidak ikut?" tanya Brian heran melihat sang mama tiba-tiba sudah menyusulnya saja masuk kedalam mobil.
"Siapa yang mengatakan seperti itu. Mama tidak mengatakan hal itu. Kalau Alvian pergi mama harus ikut. Mama tidak mau terjadi hal buruk pada Alvian," sahut Adara yang melihat ke arah Arhan dan Arhan tersenyum tipis mendengarnya. Arhan langsung menutup pintu mobil itu dan langsung duduk di kursi pengemudi.
Lucia sangat bahagia dengan dia yang bisa bersebelahan dengan Arhan. Duduk di depan. Sementara Adara harus di belakang bersama dengan Alvian.
"Kita jalan pah!" sahut Alvian.
"Baik Alvian!" sahut Arhan yang langsung melajukan mobil dengan kecepatan santai.
"Apa-apaan sih Lucia. Kenapa coba dia tiba-tiba dekat-dekat dengan Arhan. keganjenan banget sih. Pakai nebeng-nebeng segala lagi," batin Adara yang sejak tadi kesal melihat Lucia yang duduk di samping suaminya.
__ADS_1
"Mama nanti kita beli mainan ya nanti," ucap Alvian.
"Mainan Alvian sudah banyak," sahut Adara.
"Isssss masih ada yang belum Alvian punya. Alvian ingin mempunyai miniatur pesawat terbang," ucap Alvian.
"Itu carinya susah. Alvian jangan minta yang aneh-aneh mama bisa pusing," sahut Lucia.
"Issss mama kok nyebelin banget sih," sahut Alvian yang jadi ngambek.
Arhan tidak ikut-ikutan menanggapi permasalahan Alvian dan Adara. Ibu itu biasanya memang lebih pelit di bandingkan ayah dan Arhan bisa saja membelikan untuk Alvian dengan apa yang Alvian inginkan. Namun tidak semudah itu. Jika Arhan juga menuruti nanti Alvian jadi manja. Arhan juga tidak ingin Alvian manja yang berlebihan.
"Berhenti pah!" sahut Alvian tiba-tiba.
"Alvian mau ngapain. Hanya karena mainan langsung ngambek dan mau turun," sahut Adara.
"Apa sih mama siapa yang mau turun. Yang mau turun Tante Lucia. Tuh sudah sampai perpustakaannya," sahut Alvian.
"Oh benarkah!" sahut Lucia, "ya ampun Tante sampai tidak sadar. Ternyata sudah sampai aja," sahut Lucia yang pura-pura. Padahal dia tau. Hanya di sengaja saja supaya lama-lama di dalam mobil.
Adara sudah salah paham dengan Alvian. Padahal Alvian yang sudah membuatnya tidak kesal lagi. Sekarang lihat wajah Adara tampak tersenyum tipis yang akhirnya Lucia turun juga dari mobil itu yang sejak tadi duduk di samping suaminya.
"Ya sudah kalau begitu aku turun dulu ya. Sudah sampai perpustakaan untung aja Alvian bilang. Kalau tidak bisa kelewatan. Makasih ya Alvian," ucap Lucia dengan tersenyum palsu.
"Iya Tante," sahut Alvian dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu aku turun dulu!" ucap Lucia yang dengan keraguan turun dari mobil.
"Dari tadi kek pergi untuk apa sih di lama-lama kan," batin Adara yang kesal sendiri.
Pada akhirnya Lucia sudah turun dan membuat Adara lega.
"Mama tidak mau pindah kedepan?" tanya Alvian.
"Untuk apa? Mama lebih nyaman duduk di sini," jawab Adara dengan ketus.
"Ya sudah kalau begitu Alvian yang duduk di samping papa," sahut Alvian yang masa bodo dan langsung pindah kedepan membuat Arhan tersenyum dan tos dengan Alvian.
"Kita jalan?" tanya Arhan.
"Let's go pah," sahut Alvian dengan semangat membuat Arhan tersenyum dan langsung menyetir.
Lucia malah kesal melihat dia yang tidak di pedulikan. Alvian dan Arhan sibuk sendiri dan tidak menganggapnya. Salahnya sendiri. Karena sebelumnya Alvian sudah menawarkan dia malah menolak dan itu artinya bukan salah Brian lagi.
**********
Alvian begitu bahagia yang jalan-jalan bersama Adara dan juga Alvian. Hal ini memang jarang-jarang. Apalagi jika Adara ikut. Biasanya kalau Arhan pulang ke Indonesia. Alvian hanya akan jalan-jalan dengan Arhan saja. Karena maklum Adara pasti gengsi dan tidak akan mau sama sekali.
__ADS_1
"Pah boleh beli eskrim tidak?" tanya Alvian.
"Kenapa bilang sama papa? Tanya mama dong," sahut Arhan.
"Mama pasti bilang tidak boleh papa," jawab Alvian.
"Lalu kalau papa boleh?" tanya Arhan.
"Makanya ingin minta izin pada papa," jawab Alvian.
Arhan melihat ke arah Adara. Arhan paham setiap larangan dari Adara pasti ada tujuannya dan demi kebaikan Alvian pastinya. Mungkin saja eskrim bisa membuat Alvian demam.
"Tidak apa-apa kan di kasih sekali ini saja," ucap Arhan pada Adara.
"Ya sudah," sahut Adara yang mengiyakan saja.
"Ya sudah Alvian mau eskrim rasa apa?" tanya Arhan.
"Rasa strawberry papa," jawab Alvian dengan semangatnya.
"Baiklah kalau begitu. Papa beli sebentar ya," ucap Arhan.
"Baik pah," sahut Alvian. Arhan pun pergi membeli eskrim tersebut.
"Alvian jangan sering-sering makan eskrim ya. Nanti Alvian batuk-batuk. Mama nggak mau kamu nanti sakit," ucap Adara mengingatkan.
"Iya mah hanya sekali saja janji," sahut Alvian dengan mengangkat ke-2 jarinya.
"Jangan hanya iya-iya saja. Nanti kamu minta sama papa kamu lagi tanpa sepengetahuan mama," ucap Adara.
"Iya mama galak," sahut Alvian dengan mengayun suaranya.
Tidak lama akhirnya Arhan kembali lagi.
"Ini untuk Alvian!" Arhan langsung memberikan eskrim tersebut untuk Alvian.
"Makasih pah," sahut Alvian yang tersenyum dengan senangnya yang mendapatkan eskrim.
"Dan ini untuk kamu," sahut Arhan memberikan pada Adara. Adara mengambilnya.
"Papa tau aja mama suka eskrim vanilla," sahut Alvian. Arhan hanya tersenyum mendengarnya. Namun eksperesi wajah Arhan hanya datar-datar saja.
"Ya sudah sekarang kita nikmati eskrim nya," sahut Arhan.
"Duduk di sana papa!" Alvian menunjuk salah satu bangku.
Bersambung.
__ADS_1