
Adara sudah packing-packing malam ini. Pastinya Adara di temani Bibi yang juga membantunya mempersiapkan apa yang seharusnya di bawanya.
Dari pakaian miliknya sendiri sampai milik Alvian. Bibi memang harus ikut dan jika Adara lama di Milan atau tinggal selamanya di Milan. Mungkin Bibi akan pulang. Tetapi tidak tau kapan pulangnya. Yang penting sekarang dia harus ikut untuk membantu Adara nanti di sana salam mengurus Brian.
"Non memang mau berapa lama tinggal di sana. Kenapa pakaiannya banyak sekali?" tanya Bibi.
"Aku tidak tau berapa lama Bi. Yang penting aku bawa saja pakaian yang banyak dan siapa tau saja tinggal selamanya di sana," jawab Adara dengan asal dan sepertinya itu memang keinginannya untuk tinggal di sana.
"Memang sudah membicarakan dengan mas Arhan akan menetap di sana atau mas Arhan yang ke Indonesia?" tanya Bibi.
"Bagaimana mau membicarakannya. Dia saja tidak tau aku akan ke Milan. Jadi tidak ada pembicaraan dan nanti baru di bicarakan di sana. So Bibi ingat jangan beritahu Arhan. Kalau aku menyusulnya ke Milan!" tegas Adara
"Iya Non Adara kalau sudah di ingatkan seperti itu ya bibi mana berani lagi," sahut Bibi. Adara tersenyum mendengarnya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Non Adara itu kelihatan bahagia sekali yang ingin bertemu mas Arhan!" ucap Bibi. Adara tidak menanggapi dan hanya tersenyum saja yang memang raut wajahnya tidak bisa bohong jika dia sangat bahagia dengan keberangkatannya ke Milan.
Adara sengaja membawa baju banyak. Entah mengapa dia sangat yakin akan lama di sana dan bahkan sudah punya rencana kuliah di Milan. Adara akan membicarakan hal tersebut dengan Arhan. Karena Adara masih mengingat kata-kata Arhan yang ingin memulai semuanya dari awal setelah dia lulus sekolah.
Mengingat kata-kata manis itu membuat Adara senyum dengan kegelian sendiri. Ulahnya memang ada-ada saja dan seperti itulah dirinya. Rona-rona jatuh cinta sudah ada di wajahnya dan tidak bisa di sembunyikan.
Bahkan sebelumnya Adara sudah merangkai kata-kata dan menghafalnya bagaimana nanti saat dia bertemu dengan Arhan? Apa yang harus di ucapkannya untuk pertama kali bertemu dengan Arhan.
Adara sudah mengatur cara bicara yang baik, eksperesi yang baik. Agar tidak terlihat terlalu agresif sekali. Ya semua sudah di atur Adara sebelumnya. Niatnya bertemu dengan suaminya itu memang bukan kaleng-kaleng dan Adara sangat semangat melakukan hal itu.
*******
Italia Milan
Akhirnya Adara, Bibi dan Alvian sampai juga di Milan. Mereka sampai pagi hari di kota Milan. Kota Milan atau Milano adalah kota yang berada di Itali Utara. Kota Milan merupakan kota paling maju di Itali. Kota Milan juga sangat terkenal dengan kota fashion dunia. Bangunan-bangunannya yang sangat modern. Namun ada juga bangunan dari Romawi kuno.
Adara dan timnya sampai di pagi hari setelah melewati perjalan panjang dan melakukan transit dari pesawat ini ke pesawat yang satunya dan sampailah mereka di Milan dengan selamat.
Mereka pastinya di jemput supir yang sudah di siapkan Herlambang. Mobil mewah yang mengangkat mereka ber-3 dengan Alvian yang masih tidur di dalam mobil dan ada khusus tempat bayinya.
__ADS_1
Adara menurunkan kaca mobil dan melihat keindahan kota tersebut. Sangat mewah dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi sampai menembus awan. Ada juga beberapa bangunan yang di lewatinya. Masih bangunan-bangunan kuno. Tetapi tetap sangat mewah dan estetik.
Wajah Adara tidak hentinya mengeluarkan senyum yang mencerminkan jika suasana hatinya sangat baik hati ini. Pagi yang indah dan cerah sama sedang suasana hatinya.
"Pak masih lama sampai Apartemen Arhan?" tanya Adara yang sudah tidak sabaran bertemu suaminya itu.
"15 menit lagi Non," jawab supir tersebut.
Adara mengangguk dan kembali menutup kaca mobil. Adara mengambil cermin dan makeup nya. Sebelum sampai pada tujuan Adara ingin touch up dulu. Melihat dengan teliti apa ada yang salah pada wajahnya, menambah lipstiknya yang merah merona.
Bibi di sampingnya hanya senyum-senyum saja melihat Adara yang memang sangat eksaitit sekali.
"Bi bedak Adara ketebalan tidak?" tanya Adara.
"Tidak kok Non," jawab Bibi.
Adara tersenyum dan sekarang menata rambutnya, menyemprot parfum yang banyak. Adara benar-benar ingin tampil cantik di depan Arhan. Bibi hanya tersenyum melihat Adara yang seperti itu.
"Bi nanti Adara yang masuk duluan ya. Bibi tunggu aja dulu di lobi," ucap Adara tiba-tiba ada saja strateginya.
"Memang kenapa Bibi nggak boleh ikut?" tanya Bibi mengkerutkan dahinya.
"Ya nggak apa-apa Bi. Adara aja dulu pertama bertemu dengannya. Nanti baru Adara telpon Bibi," jawab Adara yang gugup menjelaskannya.
"Ohhhh, baiklah Non. Bibi ngerti pasti takut ya. Nanti Bibi ganggu pasangan suami Istri yang lagi melepas rindu!" goda Bibi.
"Issss apa sih Bi. Pikirannya aneh-aneh aja," sahut Adara dengan menyerngitkan dahinya kesal sendiri.
"Ya sudah terserah non Adara saja seperti apa. Bibi mengikut saja," sahut Bibi.
"Makasih Bi," sahut Adara tersenyum.
"Adara sudah cantik belum?" tanya Adara.
__ADS_1
"Mau berapa kali mempertanyakan hal itu Non?" sahut Bibi yang memang sejak tadi hanya mendengar pertanyaan Adara mengenai hal itu.
"Iya siapa tau," sahut Adara dengan tersenyum.
"Non Adara sudah cantik tanpa memakai makeup dan juga memakai make up," sahut Bibi yang memuji Adara membuat Adara tersenyum malu-malu mendengarkan apa kata Bibi.
**********
Apartemen.
Adara akhirnya sampai Apartemen Arhan. Apartemen mewah itu. Bibi dan Alvian menunggu di lobi sesuai dengan instruksi Adara dan sementara Adara yang menemui Arhan terlebih dahulu. Ada-ada saja trik Adara. Nggak tau apa yang di rencanakannya dan untuk apa semua itu.
Adara sudah berdiri di depan pintu Apartemen Arhan dengan Adara yang grogi. Beberapa kali Adara membuang napasnya perlahan kedepan. Adara kembali bercermin dan melihat kalung hadiah dari Arhan yang terpasang sangat cantik di lehernya. Tidak lupa dia juga memakai cincin pernikahannya.
Huffffff
"Kamu harus tenang Adara dan ingat jangan grogi. Tetapi mana bisa tidak grogi jantungku sejak tadi berdebar kencang," batin Adara yang berusaha tenang.
"Harus tenang! Harus yakin dan pasti aku bisa santai saat bertemu dengannya," batin Adara dengan membuang napasnya panjang kedepan.
Dengan keyakinan yang penuh akhirnya Adara pun menekan bel tersebut. Jangan tanya tangannya seperti apa. Tangannya bergetar dan sangat gugup.
Sekali tidak mempan di tekan. Adara menekan lagi sampai akhirnya pintu itu di buka.
Deg.
Jantung Adara berdebar kencang saat melihat Arhan di depannya yang berdiri yang sekarang di hadapannya. Arhan sepertinya selesai mandi dan membuka pintu hanya menggunakan bathrobe saja.
Arhan juga kaget melihat Adara yang berada di depannya. Keduanya sama-sama saling menatap dengan jantung keduanya yang berdetak kencang dan sama-sama gugup dan pasti sangat kelihatan ke-2nya itu sama-sama saling merindukan.
Pasti ada rasa kerinduan di Antara keduanya. Eksperesi wajah yang sama-sama tidak bisa bohong. Tangan Adara yang di bawah sana saling menggenggam erat mengurangi rasa gugupnya bertemu dengan pria yang semakin tampan itu.
Bersambung
__ADS_1