
Mentari pagi kembali tiba. Adara masih berada di atas tempat tidur. Matahari sudah begitu cerah tetapi tetap saja Adara baru saja membuka matanya dengan perlahan.
Mungkin karena kebanyakan menangis jadi membuatnya sangat lelah dan baru bangun. Dengan duduk perlahan dan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan mengatur napasnya.
Adara mendengar suara ribut-ribut di luar membuatnya menoleh ke arah jendela. Di mana suara itu berasal dari luar dan Adara langsung menuruni tempat tidurnya menghampiri jendela. Membuka tirai jendela.
Ternyata orang tua Arhan yang sedang berpamitan yang sepertinya akan kembali ke Malang. Adara melihat bagaimana Arhan memeluk ke-2 orang tuanya itu begitu erat dan memang terlihat sangat menyayangi orang tuanya.
Melihat hal itu membuat Adara menunduk yang seperti ada yang di pikirkannya dan kembali melihat keluar yang ternyata Arhan sudah melihatnya yang membuat Adara kaget. Namun Adara tidak langsung menutup tirai jendela dan saling melihat dengan Arhan.
Keduanya baru bertengkar hebat dan pasti sama-sama mengalami perasaan yang tidak enak.
"Nona Adara!" tegur Bibi yang tiba-tiba datang dan memasuki kamar.
"Bibi," sahut Adara menutup tirai jendela.
"Ayo Nona mandi. Nanti terlambat ke sekolah," ucap Bibi.
"Iya Bi," jawab Adara.
"Hmmm, orang tuanya dia mau pulang?" tanya Adara.
"Dia siapa?" tanya Bibi heran
"Ya dia," sahut Adara yang sepertinya sangat gengsi menyebutkan nama Arhan.
"Mas Arhan maksudnya?" tanya Bibi. Adara mengangguk.
"Mengatakan mas Arhan saja begitu sulit," sahut Bibi geleng-geleng.
"Udah Bibi jawab aja. Benar mereka akan pulang?" tanya Adara.
"Iya Nona. Mereka tadi malam hanya menginap satu hari saja dan pasti sangat di sayangkan Nona Adara tidak berbicara banyak dengan mereka. Mereka juga buru-buru untuk kembali ke malang," jelas Bibi.
"Oh begitu," sahut Adara.
"Nona Adara tidak mau turun kebawah untuk melihat mereka pergi?" tanya Bibi.
"Untuk apa. Sangat tidak penting," jawab Adara dengan ketus membuat Bibi hanya menghela napas.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Nona Adara sebaiknya mandi. Nanti telat. Bibi akan siapakan pakaian Nona," ucap Bibi.
"Baiklah Bi," sahut Adara dengan mengangguk dan langsung masuk kamar mandi.
*********
Adara yang bersiap-siap di dalam kamarnya yang sudah memakai seragam sekolahnya yang sekarang sedang berdiri di depan cermin dengan menyisir rambutnya.
Krekk.
Pintu kamar itu terbuka. Adara melihat dari depan cermin yang ternyata Arhan yang masuk dan Arhan melihat Adara sebentar. Lalu Arhan langsung masuk kedalam kamar menuju meja rias. Tanpa memperdulikan Adara. Arahan membuka laci di depan Adara yang membuat Adara mundur.
Arhan mengambil jam tangannya dan langsung memakainya berdiri di belakangnya Adara yang sangat dekat dengan Adara.
Tidak ada yang bicara di antara keduanya hanya diam saja dan Adara melihat wajah dingin Arhan bayang cermin. Setelah Arhan selesai memakai jam tangannya. Arhan mengambil handphonnya dan langsung keluar dari dalam kamar tersebut yang tidak bicara sepatah katapun pada Adara.
Adara juga tidak peduli dan dia juga mengambil tas sekolahnya dan langsung pergi dari kamar tersebut. Karena dia juga hampir terlambat kesekolah.
**********
Seperti biasa di dalam mobil Arhan mengantarkan Adara ke sekolah. Macet di pagi hari menjadi langganan mereka dan Adara sudah panik yang akan terlambat ke sekolah. Sebentar-sebentar dia melihat arloji di tangannya yang pasti waktunya semakin mepet.
Toko-tok-tok-tok.
Tiba-tiba pintu kaca di sebelah Adara di ketuk dan Adara melihat ke sebelahnya. Yang ternyata Brian yang menaiki motor gede dengan membuka kaca helmnya. Adara menurunkan kaca mobilnya.
"Ayo Adara kita barengan ke sekolah. Kalau nunggu macet tidak akan selesai. Jadi ayo bareng," ucap Brian yang memberikan tumpangan pada Adara.
Tawaran Brian sangat membantu Adara. Karena menaiki motor akan membuat Adara sampai ke sekolah dan tidak akan terlambat. Namun entah kenapa dia tampak ragu dan malah melihat ke arah Arhan yang duduk di sebelahnya yang sejak tadi Arhan hanya diam menatap lurus kedepan yang seolah tidak peduli.
"Adara kenapa masih bengong. Ayo buruan kamu mau telat. Kita ada ujian hari ini," ucap Arhan mengingatkan.
"Kamu duluan saja," sahut Adara menolak tawaran itu.
"Kenapa?" tanya Brian.
"Papa tidak memberiku izin untuk naik motor. Jadi kamu duluan saja," jawab Adara.
"Jadi kamu akan menunggu macet sampai selesai?" tanya Brian.
__ADS_1
Adara mengangguk dan Brian hanya menghela napasnya dengan penolakan Adara.
"Ya sudah kalau begitu aku duluan. Semoga macetnya berakhir agar kamu tidak terlambat," ucap Brian. Adara hanya menganggukkan kepalanya saja. Lalu Brian kembali memasang kaca helmnya dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Arhan yang duduk di samping Adara hanya diam saja. Mungkinkan saja Adara masih menghargai Arhan sebagai suaminya.
Jadi dirinya mulai membatasi kedekatan dengan lawan jenis dan apalagi kemarahan Arhan kemarin masih terngiang di dalam pikiran Adara dan itu sangat serius menurut Adara yang tidak boleh di anggap remeh oleh Adara.
toko-tok-tok-tok. Tiba-tiba pintu kaca mobil di bagian Arhan di ketuk pengendara motor gede. Arhan langsung membuka kaca mobil tersebut.
Arhan tidak mengatakan apa-apa dan hanya menganggukkan kepala. Lalu kembali menaikkan kaca mobilnya dan Arhan langsung membuka safety belt. Sementara Adara penuh dengan keheranan.
"Ayo turun!" titah Arhan.
"Untuk apa?" tanya Adara bingung.
"Sudah dengarkan saja apa yang aku katakan," jawab Arhan dengan dingin dan langsung turun dari mobil. Adara masih penuh dengan kebingungan langsung membuka pintu mobil dan mengikut saja yang menghampiri Arhan dengan Pria di atas motor gede tersebut.
"Silahkan tuan!" pria itu memberikan kunci motor tersebut kepada Arhan.
"Terima kasih. Kamu bisa bawa mobil pulang," ucap Arhan.
"Baik tuan!" sahut Pria itu yang memasuki mobil.
"Aku akan mengantarmu menggunakan motor. Supaya tidak terlambat ke sekolah," ucap Arhan yang membuka jaketnya.
"Tapi..."
"Jangan pakai tapi. Kamu harus cepat sampai ke sekolah," ucap Arhan memakaikan jaketnya pada Adara. Mungkin supaya Adara nanti tidak kedinginan. Karena angin kencang saat mengendarai motor.
Setelah itu Arhan juga memasangkan helm ke kepala Adara dan Adara diam yang terlihat patuh saja dengan Arhan.
"Ayo naik!" titah Arhan yang sudah berada di atas motor. Adara tidak punya pilihan dan langsung menaiki motor tersebut dengan memegang bahu Arhan.
"Pegangan!" titah Arhan. Adara terlihat ragu dan bahkan tidak mau. Arhan hanya menghela napas dan dan langsung melajukan motornya yang membuat Adara kaget dan terdorong ke depan.
"Isss kau hampi membunuhku!" oceh Adara dengan memukul punggung Arhan.
Arhan tidak peduli dengan protes dari Adara dan hanya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Supaya Adara sampai kesekolah dan pasti Arhan juga sangat memperdulikan keselamatan Adara. Apa lagi Adara hamil.
__ADS_1
Bersambung