
Adara benar-benar tersesat yang sudah memasuki hutan saja. Malam hari semakin tinggi hari yang sangat gelap dengan penuh kesunyian. Namanya juga di hutan dan Adara hanyalah hanya mengandalkan bulan yang menjadi cahaya untuk penerang langkah kaki Adara.
"Di mana ini. Kenapa sejak tadi aku tidak sampai Villa dan kenapa aku terus berada di tempat seperti ini," gumam Adara yang mulai cemas. Apa lagi ketika melihat ke sekitarnya dan melihat sangat sunyi yang membuat Adara takut.
"Bibi! tolong jemput Adara! Bibi! Adara tidak tau Bi harus berbuat apa. Bibi!" teriak Adara yang memanggil-manggil nama Bibi.
Dia juga ketakutan karena benar-benar di hutan sendirian. Saking paniknya Adara sudah meneteskan air mata yang menangis yang pasti begitu panik.
"Bibi Adara takut! Jemput Adara Bi. Papa Adara mau pulang! Adara tidak mau di sini," Adara merengek ketakutan.
Belum lagi angin kencang dan membuatnya yang semakin takut dengan pohon-pohon di sekitarnya bergoyang-goyang. Pikiran Adara mungkin sudah kemana-mana. Tapi ya kan ada angin. Jelas pohonnya pada bergoyang.
Sementara di sisi lain Arhan yang masih tetap di posisi awalnya mematikan tabletnya dan melihat arah keluar yang melihat angin kencang dan akan turun hujan. Karena memang cuaca yang sangat dingin.
"Selalu merasa bisa sendiri. Nyatanya apa! Keras kepala!" ucap Arhan menghela napas yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Arhan keluar dari Villa yang di depan Villa ada Bibi dengan panik menunggu Adara.
"Mas Arhan! Nona Adara belum kembali," ucap Bibi panik.
"Saya akan mencarinya," jawab Arhan yang langsung pergi.
Ya apa lagi yang harus di lakukan Arhan kalau bukan mencari Adara. Awalnya hanya ingin memberikan Adara pelajaran atas apa yang di lakukan Adara yang katanya bisa sendiri. Baru saja di beri ke bebasan dan tidak di awasi. Nyatanya sudah tidak pulang.
**********
Arhan sampai ke hutan yang mencari keberadaan Adara yang dia tidak tau di mana Adara.
"Azizie!" panggil Arhan.
"Azizie!" Arhan terus memanggil istrinya itu dengan suara keras.
"Kemana dia?" gumam Arhan yang terus mencari keberadaan Adara.
Sysysysy
Tiba-tiba Arhan mendengar suaranya berdesis dan rumput goyang tiba-tiba. Arhan kaget saat ada ular kobra yang keluar dari rumput itu dan Arhan langsung menghindar dan mengusir ular tersebut menggunakan ranting kayu.
"Huhhhhh!" lirih Arhan dengan menghela napasnya yang hampir saja terpatuk ular yang berbisa tersebut.
"Hampir saja!"
__ADS_1
"Di mana Azizie?"
Arhan melihat di sekitarnya dan Arhan tiba-tiba melihat pohon dan seperti melihat ada tangan yang membuat Arhan mengamati dari kejauhan beberapa meter.
"Azizie!" pekik Arhan yang langsung berlari menghampiri tempat itu.
Begitu sampai Arhan begitu terkejut melihatnya Adara bersandar di pohon dengan posisi tergelatak dan tidak sadarkan diri.
"Azizie!" pekik Arhan yang langsung berjongkok.
"Azizie bangun!"
"Azizie!"
Arhan menepuk-nepuk pipi Azizie. Wajahnya sangat pucat. Arhan tiba-tiba menoleh ke arah kaki Azizie dan melihat ada bekas patukan ular yang membuat Arhan kaget.
"Tidak mungkin!" lirih Arhan dengan wajah kagetnya. Dia mengingat ular yang barusan di usirnya dan Adara jelas terkenak patukan ular.
Arhan langsung bertindak dengan mengusap racun dari kaki Adara dan setelah itu meludahkannya. Dia melakukan itu untuk pertolongan pertama untuk Adara.
"Azizie bangun! Azizie!" Arhan kembali memegang pipi Azizie dan Azizie yang tidak sadarkan diri membuat Arhan yang langsung panik. Arhan langsung menggendong Azizie ala bridal style dan membawanya pergi dengan lari terburu-buru.
*********
"Mas Arhan Nona Adara kenapa mas?" tanya Bibi dengan panik.
"Bi tolong siapkan air hangat," titah Arhan dengan terburu-buru dan tidak menjawab pertanyaan Bibi karena begitu panik.
"Baik Mas," sahut Bibi yang buru-buru pergi dan Arhan langsung membawa Adara ke kamar membaringkan Adara dan mencoba membangunkan Adara dengan Arhan memompa dada Adara.
Tidak lama Bibi pun langsung datang membawa air hangat di baskom kecil.
"Ini mas Arhan," ucap Bibi.
Arhan mengambil handuk kecil dan memerasnya yang kemudian membuat di kaki Adara yang terpatuk ular dengan menekannya yang tidak tau apa itu bisa membantu. Tetapi sepertinya Arhan mengerti makanya melakukannya.
"Mas badan Nona Adara kenapa dingin sekali?" tanya Bibi yang duduk di samping Adara.
Arhan langsung berpindah untuk melihat tubuh Adara yang menggigil kedinginan dan pasti reaksi dari gigitan ular.
__ADS_1
Arhan yang panik langsung membuka kopernya dengan mencari-cari sesuatu yang ternyata tas kecil dan isinya di tumpahkan Arhan yang ternyata obat-obatan yang selalu di bawanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya mas?" tanya Bibi.
"Azizie di patuk ular," jawab Arhan.
"Astagfirullah! Lalu bagaimana mana ini mas?" tanya Bibi.
"Saya akan berusaha menolongnya," sahut Arhan.
"Mas di kampung Bibi dulu. Jika terkena Patukan ular ada obat alami dengan memberi tumbukan daun untuk pendinginnya dan Bibi lihat sejenis daun itu ada di belakang Villa," ucap Bibi.
"Ya sudah Bibi lakukan secepatnya," sahut Arhan.
"Baik mas," sahut Bibi yang langsung buru-buru pergi dan Arhan yang kembali mendekati Adara dengan duduk di samping Adara yang mencoba memberikan Adara pil yang mungkin bisa membantu Adara.
"Mana bisa dia menelannya dia sedang tidak sadar dan ini hanya sia-sia," ucap Arhan.
"Aku harus menghancurkan obatnya," gumam Arhan dan Arhan kembali berdiri yang mencari alat untuk menumbuk obat tersebut.
"Terlalu membuang waktu. Racunnya bisa semakin menyebar," Arhan menghentikan langkahnya dan tidak jadi melakukannya.
Arhan tiba-tiba menelan pil tersebut dan menghampiri Adara mengangkat kepala Adara dengan memajukan wajah Adara dekat dengannya dan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Adara mentransfer pil yang di mulutnya ke mulut Adara.
Hanya itu cara satu-satunya. Dan Adara adalah istrinya tidak ada yang salah melakukan hal tersebut. Karena Adara istrinya. Sepertinya bukan hanya asal transfer dan langsung selesai butuh waktu lama dan sepertinya berciuman yang saling menikmati sampai Bibi kembali datang hal itu belum selesai.
Melihat hal itu Bibi langsung menutup matanya dan perlahan pergi membiarkan Arhan melakukan apa yang menurutnya benar.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Adara tiba-tiba terbatuk dan bibir mereka saling melepas.
"Azizie!" lirih Arhan dengan suara seraknya dengan napas Arhan yang naik turun. Melihat wajah Adara dengan memegang pipi Azizie.
"Dingin!" lirih Adara yang menggigil dengan matanya yang masih terpejam dan dahinya yang berkeringat. Arhan langsung memeluk Adara dengan erat memberikan kehangatan pada Adara.
Obat itu sepertinya sudah bereaksi makanya Adata yang mulai tersadar dan mengeluh kedinginan.
Arhan bahkan berbaring di samping Adara dan memeluknya sangat erat untuk memberi kehangatan membuat mata Adara kembali terbuka perlahan melihat Pria yang memeluknya dan Adara kembali memejamkan matanya yang memegang kuat kemeja Arhan merasa sangat membutuhkan arhan.
__ADS_1
Bersambung