
"Minggirlah!" Adara dengan dingin menyuruh tangan Lulu minggir dari sendok nasi. Karena dia ingin mengambilkan untuk suaminya dan itu yang pertama kali di lakukannya selama dia menikah.
Arhan diam saja dan membiarkan saja melakukan apa yang di lakukan istrinya yang kelihatan tidak mau kalah dengan Lulu.
Setelah mengambilkan nasi untuk Arhan. Adara ingin menuangkan sayur asam ke piring Arhan.
"Azizie kak Arhan tidak suka sayur asam kok ingin kamu taruh!" sahut Lulu yang membuat Adara tidak jadi melakukannya dan melihat ke arah orang tua Arhan.
"Ada kacang panjangnya. Makanya Arhan tidak suka. Karena sudah bercampur dengan sayuran lain," sahut Aminah.
"Kamu tidak tau," sahut Lulu.
"Siapa bilang," sahut Adara yang tetap tidak mau kalah.
"Kamu makan pake ikan saja," ucap Adara yang langsung mengganti dengan lauk.
"Jangan ikan itu Azizie. Yang ini saja. Itu ikan gurame dan Arhan alergi. Pakai ikan bawal saja," sahut Aminah dengan cepat.
"Oh begitu," sahut Adara yang terlihat bodoh yang sejak tadi selalu salah.
"Makanlah!" ucap Adara dengan pelan yang sudah tidak bersemangat dan merasa malu.
"Azize seharusnya menambahkan telor ceploknya," sahut Lulu yang langsung membuat ke piring Arhan.
"Percuma Tante Aminah sudah memasakkan special telor ceplok semur untuk kak Arhan. Karena ini makanan ke sukaan kak Arhan. Kamu malah membuat makanan yang tidak ingin di makan. Kamu tidak tau kalau kak Arhan suka ini. Bukannya kalian sudah bersama selama 4 tahun?" tanya Lulu dengan sindiran.
Adara terdiam mendengar kata-kata yang tidak bisa di sangkal Adara dia memang tidak tau apa-apa tentang Arhan dan hanya perkara kecil masalah makanan. Membuat dirinya di permalukan sendiri.
"Kak Arhan makanlah jangan lupa pakai sambal kesukaan kak Arhan!" ucap Lulu. Arhan hanya mengangguk dan menoleh ke arah Adara yang di sampingnya yang diam mendadak.
Eksperesi dan wajah itu seperti sudah tidak punya muka untuk di tampilkan lagi. Apa yang di lakukannya justru semakin memberitahu orang-orang. Jika dia bukan istri yang baik dan tidak tau apa-apa tentang suaminya.
__ADS_1
"Mama tidak makan?" tanya Alvian yang melihat piring mamanya masih kosong.
"Mama mau kekamar dulu. Lupa mau mengabari kakek. Jika kita sudah sampai," sahut Adara yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi.
Suasana kelihatan sedikit menegang. Mungkin karena barusan yang terjadi dan Arhan sepertinya tau apa yang di rasakan Adara.
**********
Adara berdiri di depan jendela dengan wajahnya yang murung. Sejak tadi dia hanya di kamar dan tidak kembali ke meja makan.
"Tutuplah jendelanya. Ini desa dan nyamuk bisa masuk," sahut Arhan yang sudah berada di depan pintu dengan membawa makanan.
"Ayo makan!" ajak Arhan meletakkan di nakas makanan itu. Namun Adara tidak merespon apa-apa. Arhan menghampiri Adara menutup jendela tersebut.
"Ayo makan!" ajak Arhan kembali setelah menutup jendela tersebut.
"Aku tidak lapar," jawab Adara yang beralih dari hadapan Arhan. Tetapi Arhan memegang tangan Adara sampai Adara tidak jadi pergi.
"Makanlah. Kamu meninggalkan makanan mu dengan alasan yang tidak benar dan tidak kembali lagi. Jadi makanlah!" ucap Arhan menegaskan pada Adara.
"Apa maksud kamu?" tanya Arhan.
"Dia banyak tau tentang mu dan sekarang dia pasti menertawakanku. Tau kan alasannya kenapa aku selalu meminta untuk di lepaskan. Karena kau saja tidak pernah menginginkan ku," ucap Adara yang berbicara serius.
"Apa yang kau katakan Azizie. Ini hanya permasalahan Lulu. Bahkan 3 tahun lalu aku membiarkan mu dengan semua pemikiran mu. Lalu ketika kamu tau yang sebenarnya. Untuk merasa bersalah sedikitpun tidak ada dan hanya terlihat biasa. Lalu kenapa membahas hal ini lagi," ucap Arhan.
"Kalau begitu kenapa membawanya?" Adara berbalik bertanya.
"Apa maksud kamu?" tanya Arhan.
"Jika kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Tidak mungkin dia tau semuanya tentang kamu," sahut Adara.
__ADS_1
"Dia sepupuku dan aku pertegas aku tidak pernah tinggal bersama dengannya," jawab Arhan dengan tegas.
"Sepupu hanya kedok. Intinya kau memberi peluang kepadanya dan kau sangat bahagia sangat tertawa ketika aku menjadi orang yang sangat bodoh," ucap Adara dengan matanya bergenang.
"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu," sahut Arhan.
"Jika tidak pernah. Kau tidak akan terus mengikatku sehingga aku merasa tidak punya kebebasan," sahut Adara yang berlalu dari hadapan Arhan. Namun Arhan kembali menarik tangan Adara dan kali ini membawa Adara lebih dekat kepadanya sehingga Adara menabrak bidang dada Arhan dengan wajah mereka saling berdekatan dan napas yang saling menerpa.
"Apa masih kurang kebebesan yang aku berikan kepadamu. 3 tahun aku hanya menunggu kesadaran mu. Apa itu masih kurang. Jika aku tidak menginginkanmu aku sudah melepaskan mu sejak awal bahkan sebelum Alvian lahir. Jadi jangan mengatakan jika aku tidak menginginkamu," ucap Arhan dengan suara seraknya yang menatap Adara begitu dalam.
"Lalu kamu sengaja ingin membuatku harus bersaing dengan wanita yang sangat banyak mengetahui dirimu," ucap Adara.
"Aku tidak pernah menyuruhmu bersaing. Dan jika kau merasa tersinggung dengan apa yang terjadi tadi. Seharusnya memahami dirimu sendiri dan mau belajar. Bukan menyalahkan siapa-siapa," jawab Arhan.
Adara terdiam mendengar perkataan Arhan yang pasti sudah benar. Arhan melepas perlahan tangan Adara dari cengkramannya.
"Makanlah aku dan Alvian ingin keluar malam ini. Kamu harus ikut dan jangan marah jika orang lain mengambil tempatmu!" ucap Arhan dengan bicara apa adanya.
Arhan tidak banyak bicara lagi dan langsung keluar dari kamar itu. Adara menghela napasnya dan melihat kepergian Arhan. Lalu Adara berjalan menuju tempat tidur dan melihat makanan yang di siapkan Arhan di atas nakas.
"Aku memang menikah dengannya dan kamu tidak seperti pasangan suami istri dan jarang bertemu. Tetepi dia tau apa yang tidak bisa aku makan," ucap Adara melihat di mangkok sayur asam tidak ada labunya. Karena Adara tidak suka labu.
"Lalu kenapa aku tidak pernah berusaha dan apa yang aku inginkan. Aku tidak akan pernah bisa lepas darinya. Dan seharusnya aku tidak punya keinginan itu lagi. Jika dia banyak tau tentang ku tanpa aku memberitahunya. Lalu kenapa aku tidak bisa berusaha sedikit saja untuk mengetahui tentang dirinya,"
"Karena sampai kapanpun dia akan tetap menjadi suamiku. Karena aku tidak akan pernah bisa lepas darinya," batin Adara yang baru menyadari hal itu.
"Bukan aku yang tidak mendapatkan rasa adik. Tetepi justru dia yang tidak mendapatkan adik dari diriku. Aku bahkan mengentikan semua impianku setelah lulus sekolah hanya karena kesalah pahaman yang terjadi dan aku menutup mata atas penjelasan semua itu,"
Adara berbicara sendiri dengan hatinya menggunakan kepala dingin. Tampaknya dia mulai sadar. Jika Arhan adalah suaminya dan miliknya dan tidak bisa membiarkan Arhan bersama orang lain. Adara harus menyadari jika Arhan yang sangat sabar menghadapinya selama ini.
Adara mengehela napasnya dan tersenyum tipis. Lalu kemudian Adara langsung memakan apa yang di siapkan suaminya untuknya.
__ADS_1
Tadi mungkin dia sangat murung. Namun sekarang tidak lagi. Seperti ada gelora semangat yang muncul tiba-tiba yang membuatnya kembali lebih tenang.
Bersambung