TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 37 Apakah gengsi runtuh


__ADS_3

Adara duduk di sofa di ruangan Herlambang. Herlambang sepertinya ingin bicara serius dengan Adara. Entah apa yang ingin di bicarakannya.


"Kenapa papa memanggil Adara?" tanya Adara heran.


"Pemeriksaan Minggu depan kandungan kamu akan memasuki 5 bulan dan papa milihat perut kamu sudah mulai kelihatan membesar," ucap Herlambang.


Adara menundukkan kepalanya yang melihat ke arah perutnya yang memang sudah mulai terlihat berbeda. Karena belakangan ini di sekolah Adara memakai Hoodie untuk menutupi kehamilannya agar tidak ada yang curiga kepadanya. Tetapi makin lama pasti akan semakin banyak orang yang penasaran dan akhirnya tau tentang ke kehamilannya.


"Jadi kamu harus berhenti sekolah sampai anak itu lahir," ucap Herlambang dengan keputusannya.


"Papa akan mengurus sekolah kamu dengan semua rencana yang papa akan buat dengan alasan yang masuk akal dan kamu bisa belajar dengan online dan tidak ada yang tau dengan keadaannya kamu. Papa yang akan menangani semua masalah ini," lanjut Herlambang.


Adara hanya diam saja yang mungkin akan setuju dan tidak membantah apa yang di katakan papanya. Karena mungkin itu pilihan yang tepat demi kebaikannya.


Herlambang berdiri dari tempat duduknya yang berjalan-jalan pelan di ruangan itu


"Kamu setuju kan Adara?" tanya Herlambang yang belum mendengarkan kesepakatan Adara.


"Iya pah," sahut Adara yang memang pasti tidak bisa menolak. Karena kali ini itu yang terbaik untuk kandungannya.


"Untuk sementara aku memang harus berhenti sekolah. Ini demi kebaikanku dan ini harus aku lakukan untuk kebaikan ku dan kandunganku," batin Adara dengan menghela napasnya yang harus berhenti sekolah untuk sementara waktu.


"Lalu untuk kamu sendiri bagaimana? Dengan sisa kehamilan kamu beberapa bulan ini. Apa kamu mau tinggal di rumah ini sampai melahirkan, atau mau di luar Negri supaya aman dan sekalian kamu bisa reflesing?" tanya Herlambang.


"Adara di rumah saja," jawab Adara yang tidak ingin kemana-mana karena tidak mood.


"Kamu yakin?" tanya Herlambang.


"Iya Adara malas pergi-pergi. Jadi Adara di rumah saja sampai anak ini lahir," jawab Adara.


"Kamu tidak mau ketempat sesuatu yang lebih tenang Atau papa kirim ke tempat Arhan suami kamu?" tanya Herlambang mengungkit Arhan dengan memancing Adara.


Herlambang menunggu jawaban Adara dengan melihat Adara dengan ekor matanya. Adara mendengar nama Arhan langsung terdiam dan Herlambang menyunggingkan senyumnya ketika menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.


"Kamu mau ketempat Arhan?" tanya Herlambang lagi yang sudah kembali berada di depan Adara.


"Untuk apa aku kesana yang adanya aku tidak akan pernah tenang," jawab Adara yang ternyata tembok gengsinya tidak runtuh.


"Oh begitu," sahut Herlambang dengan mengangguk-angguk kepalanya.


Padahal dia tadi hanya memancing saja. Bagaimana respon Adara. Dia juga tidak punya rencana sebelumnya Adara akan di kirim ketempat Arhan dan jika tadi Adara mengatakan iya. Mungkin saja Herlambang akan mengabulkannya.

__ADS_1


Namun ini bukan perintah Herlambang dan bukan keputusan yang di sudah di tentukan Herlambang. Makanya tidak ada paksaan atau keharusan.


"Hanya oh saja. Biasanya langsung memaksaku. Tumben tidak memaksaku," batin Adara kesal sendiri yang sepertinya ingin di paksa oleh Herlambang.


Ya tapi Herlambang tidak ingin memberi kesempatan lagi. Karena tadi sudah di beri kesempatan. Jadi salah sendiri.


*********


Adara sekarang sedang menikmati ramen dengan sedapnya yang duduk di teras rumah bersama Bibi.


"Enak Non?" tanya Bibi.


"Enak banget ini ramen yang seperti Adara mau. Rasanya seperti yang ada di Restaurant di Singapura," ucap Adara dengan mulutnya yang menikmati ramen tersebut.


"Memang itu dari Singapura Non. Bukannya Nona bilang maunya ramen yang Singapura," jawab Bibi.


"Oh iya. Siapa yang beli?" tanya Adara heran.


"Bibi ke Singapura?" tanya Adara heran.


"Bukan Bibi. Tetapi mas Arhan," jawab Bibi.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Adara langsung terbatuk-batuk mendengar nama Arhan.


"Bibi sih becanda mulu," ucap Adara kesal.


"Siapa yang becanda Non Adara, memang benar kok yang membelikan ramen itu mas Arhan," jawab Bibi.


"Kok bisa?" tanya Adara yang kembali makan dan Pura-pura cuek. Tetapi kepo.


"Mas Arhan kebetulan ada di Singapura. Saat Bibi mengatakan keinginan Non Adara mas Arhan langsung terbang ke Jakarta dan membawakan ramen yang Non makan sekarang," jelas Bibi singkat.


"Bibi sering cerita tentang aku padanya?" tanya Adara.


"Ya kan memang harus Non Adara. Mas Arhan itu selalu menunggu laporan Bibi mengenai perkembangan kehamilan Nona, bagaimana janinnya, hasil USG nya. Apa yang Nona makan dan apa yang harus Bibi kasih pada Nona semua itu atas perintah dari mas Arhan," jelas Bibi. Adara pasti terkejut mendengarnya yang selama ini Arhan masih aja peduli kepadanya.


"Kapan dia datang?" tanya Adara.


"Ya mana Bibi tau," jawab Bibi.


"Tapi Bibi tadi bilang dia datang mengantarkan ramen. Sekarang di tanya tidak tau. Aneh," ucap Adara.

__ADS_1


"Oh itu toh. Nona sih tidak jelas mengatakannya," sahut Bibi.


"Udah jawab aja kenapa sih Bi," sahut Adara kesal sendiri.


"Mas Arhan sampainya tadi pagi," jawab Bibi.


"Lalu di mana dia?" tanya Adara ketus. Mendengarnya Bibi tersenyum.


"Sudah kembali ke Milan," jawab Bibi.


"Kok langsung pergi!" pekik Adara, "ya maksud Adara kenapa tiba-tiba pergi aja," sahut Adara meralat kata-katanya dengan nada yang berbeda. Agar tidak terlalu terlihat dia sebenarnya ingin bertemu Arhan. Tetapi Bibi sebenarnya sudah tau dan maknanya senyum-senyum.


"Issss Bibi kenapa senyum-senyum," sahut Adara kesal.


"Ya namanya nona Adara itu sangat lucu," sahut Bibi.


"Issss apa sih," sahut Adara kesal sendiri.


"Non mas Arhan itu banyak pekerjaan dan makanya langsung kembali dan tidak bisa lama-lama di sini dan lagian kalau sebenarnya Nona merindukannya kan bisa menyusulnya," ucap Bibi.


"Apa sih Bi, ngawur," sahut Adara kesal. Padahal wajahnya memerah saat Bibi menggodanya.


"Enak sekali dirinya terbang hanya mengantarkan ini saja. Apa sudah berubah dirinya dari anak angkat menjadi kurir paket yang mengantar paket dan langsung pergi," umpat Adara dengan kesal sendiri di dalam hatinya.


Adara kayaknya marah. Karena Arhan tidak mampir dulu dan menemuinya. Arhan sih tidak tau apa. Bocah kecilnya lagi sedang masa-masa rindunya itu.


"Ehem!" tiba-tiba Herlambang datang.


"Permisi tuan!" Bibi langsung undur diri begitu kedatangan Herlambang.


"Apa kamu sudah mulai menyadari. Jika kamu itu membutuhkan Arhan untuk ada di samping kamu," ucap Herlambang.


"Apa sih yang papa katakan. Nggak jelas. Memang ada aku mengatakan hal itu," ucap Adara yang tampak kesal.


"Masih saja gengsi. Ini sudah beberapa bulan Adara dan kamu masih tidak mau mengakuinya papa heran melihat kamu," sahut Herlambang.


"Terserah papa deh mau berpikiran apa," sahut Adara kesal yang langsung berdiri dari tempat duduknya moodnya tiba-tiba berubah yang tidak ingin makan lagi.


"Papa beri kamu kesempatan untuk ke Milan!" ucap Herlambang membuat langkah Adara terhenti.


"Tidak tertarik dengan tawaran papa. Terserah papa membuat seperti apa pernikahan Adara. Pernikahan Adara ada di tangan papa dan dia. Jadi Adara tidak tertarik sama sekali dengan semua perkataan papa," ucap Adara yang langsung pergi.

__ADS_1


"Baik jika tidak tertarik," ucap Herlambang yang mengangkat ke-2 bahunya.


Bersambung


__ADS_2