TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 60 Suami penenang m


__ADS_3

Setelah mendapat ancaman dari Lucia Adara menjadi takut dan langsung pergi ke taman sekolah. Adara berjongkok dengan memeluk kedua lututnya yang menangis. Dia kelihatan sangat takut dengan kata-kata Lucia yang mengancam dirinya.


Pasti Adara belum siap. Jika apa yang di katakan Lucia benar. Jika Lucia akan membongkar semua aibnya. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Lucia sangat takut.


Adara menangis senggugukan yang mencari ketenangan dengan sendirian. Bersembunyi agar tidak ada yang menemukannya. Karena Adara mendadak takut dengan orang-orang. Apa lagi tadi sempat ada yang bertanya kepadanya. Siapa wanita yang hamil yang di katakan Lucia. Jadi jelas Adara begitu takut.


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt


Tiba-tiba ponsel Adara berdering Adara melihat panggilan itu yang ternyata dari Arhan. Setelah Arhan pergi hampir 5 bulan ini pertama kali Arhan menelponnya dan sangat bertepatan dengan dirinya yang sekarang menangis dan membutuhkan seseorang di sampingnya.


Adara menyeka air matanya dan langsung mengangkat telpon tersebut.


"Hallo!" sapa Adara berusaha tenang agar Arhan tidak tau jika dia sedang ada masalah.


"Kamu kenapa?" ternyata Arhan tau jika Adara ada sesuatu.


Mungkin dari suara Adara sangat jelas. Jika Adara menangis. Tanpa Adara mengatakan apa-apa Arga sudah tau.


"Azizie kamu mendengarku?" tanya Arhan lagi yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Adara.


"Tidak apa-apa," jawab Adara bohong.


"Jangan bohong. Kamu sedang menangis kan," tebak Arhan.


"Ada apa Azizie, bicara kepadaku! Apa yang terjadi padamu?" tanya Arhan. Azizie hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa.


"Apa kamu kewalahan mengurus Alvian? Apa Alvian rewel?" tanya Arhan dengan penuh pertanyaan yang mengatakan ini dan itu yang mungkin merasa Adara sedih. Karena masalah Alvian.


"Tidak kok. Bukan karena Alvian," jawab Adara.


"Lalu karena apa? Ayo katakan kepadaku! Apa yang membuat kamu jadi menangis?" tanya kembali Arhan yang sejak tadi menunggu jawaban Adara.


"Aku takut di sekolah," jawab Adara.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Arhan dengan suara beratnya yang sangat khawatir pada Adara.


"Azizie kenapa diam? Aku sedang berbicara kepadamu?" Arhan tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Adara membuat Azizie semakin khawatir.


"Aku tidak tau kenapa Lucia seperti itu kepadaku. Dia hampir saja mengumumkan ke semua orang jika aku hamil di luar nikah dan sudah menikah. Dia ingin membongkar aib ku," ucap Adara dengan air matanya kembali keluar.

__ADS_1


Arhan yang jauh di sana yang menelpon Adara menghela napasnya. Mendengar aduan Adara dengan nada seperti itu. Arhan sudah tau jika Adara pasti takut dan tidak akan tenang. Karena Adara tipe wanita yang sangat mudah kepikiran.


"Aku takut semua orang akan tau apa yang terjadi pada diriku. Aku takut jika akan di kucilkan," Adara terus mengadu dengan suaranya yang bergetar.


"Jangan takut. Dia tidak akan berani mengatakan hal seperti itu, aku akan menjaminnya," ucap Arhan yang pasti akan menjadi garda terdepan untuk Adara. Jika ada yang berani kepada istrinya itu.


"Azizie dengarkan aku. Lucia tidak akan mengatakan apapun itu dan kamu juga tau papa sudah memperingatkannya. Dia tidak akan melakukan suatu hal yang membuatnya rugi. Jadi jangan takut. Jangan memikirkan apa-apa. Kamu harus fokus sekolah. Pikiran kamu bukan hanya untuk sekolah ada Alvian yang membutuhkan ibunya dan pikiran kamu yang tidak baik bisa berpengaruh untuk Alvian. Jadi jangan dengarkan apa-apa kata Lucia. Kamu harus percaya padaku. Jika semuanya akan baik-baik aja dan tidak akan terjadi apa-apa," ucap Arhan dengan lembut yang memberikan nasihat kepada Adara agar Adara bisa tenang dengan apa yang di sampaikan Arhan.


"Kamu dengarkan Azizie?" tanya Arhan yang tidak mendapatkan tanggapan dari Adara.


"Iya aku mendengarmu," sahut Adara yang sudah mulai tenang.


"Baiklah kalau begitu. Kamu kembali belajar dan jangan memikirkan masalah Lucia," ucap Arhan.


"Terima kasih kamu sudah memberiku saran," ucap Adara.


"Sama-sama," sahut Arhan.


"Kamu kapan pulang?" tanya Adara namun hanya di dalam hatinya. Mana berani dia mempertanyakan hal seperti itu.


"Kamu baik-baik bersama Alvian dan cepatlah lulus. Aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat ini," ucap Arhan yang sudah menjawab pertanyaan Adara. Walau Adara bertanya di dalam hati.


"Aku tutup telponnya," Adara langsung menutup telpon itu. Adara menghela napasnya ketika mendapat arahan dari Arhan.


Arhan bisa membuatnya jauh lebih tenang dan benar kata Arhan Lucia mana berani melakukan hal itu.


"Benar kata Arhan. Untuk apa aku harus memikirkan apa yang di katakan Lucia. Itu tidak penting dan tidak mungkin dia mengumumkan semua itu. Papa juga pasti tidak tinggal diam. Jika hal itu terjadi," batin Adara yang memang jauh lebih tenang sekarang.


************


Adara sangat tidak peduli dengan apa yang di katakan Lucia dia hanya perlu fokus pada sekolahnya dan mengurus Alvian. Adara juga tidak terus-menerus hanya sekolah dan mengurus Alvian saja.


Herlambang menginjinkan Adara untuk main dengan Noni. Tetapi tetap dalam pengawasan Herlambang. Ya Adara juga butuh reflesing agar otak Adara tidak penat dengan mengurus bayinya.


Sama seperti sekarang ini di mana Adara yang makan siang bersama Noni di salah satu Restaurant. Mereka tadi belajar bersama dan sekarang melanjutkan makan di Restaurant favorite mereka dengan memesan makanan yang mereka inginkan.


"Kita sudah lama sekali ya tidak ke tempat ini," ucap Noni.


"Iya kamu benar," sahut Adara sembari menikmati makanannya yang begitu lezat.

__ADS_1


"Kamu sih waktu itu ke Luar Negri dan kita tidak bertemu selama beberapa bulan. Makanya nggak pernah jalan bareng," sahut Noni.


"Sudah jangan membahas aku ke Luar Negri atau tidak yang penting sekarang aku ada di sini dan kita bisa setiap weekend untuk bertemu," ucap Adara.


"Iya sih kamu benar," sahut Noni.


"Sudah kamu makan lagi," ucap Adara.


Noni mengangguk. Di saat makan tiba-tiba Noni melihat hari manis Adara.


"Kamu itu kok tumben sih Adara suka pake cincin?" tanya Noni tiba-tiba beralih pembicaraan dengan matanya fokus pada jari manis Adara.


"Oh ini. Ya tidak apa-apa, memang ada yang salah kalau aku memakai cincin?" tanya Adara dengan santai.


"Ya nggak ada sih. Heran aja. Karena tidak biasanya kamu suka pake cincin," jawab Noni.


"Ini hadiah special. Jadi harus di pake," sahut Adara.


"Cie special. Memang special dari mana tuh," sahut Lucia dengan penasaran.


"Ada deh," sahut Adara senyum-senyum. Memang baginya sangat special. Karena itu cincin pernikahannya dari suaminya.


"Hmmm pake rahasia-rahasiaan segala lagi, kasih tau dong," sahut Noni.


"Nggak boleh. Rahasia besar," sahut Adara dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Iya-iya deh," sahut Noni.


"Oh iya Adara aku kok nggak pernah lihat supir tampan yang biasa antar kamu ke sekolah?" tanya Noni.


"Yang mana?" Adara kembali bertanya.


"Yang waktu itu loh kan kemarin ada yang aku juga pernah bertemu kalian di Mall," jawab Noni.


"Ohhh, dia lagi ke Luar Negri," jawan Adara.


"Ya ampun sayang banget ya dia ke Luar Negri!" sahut Lucia yang membuat Adara bingung.


"Sayang bagaimana?" tanya Adara heran dengan apa yang di katakan temannya itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2