
Adara dan Arhan sekarang berjalan-jalan di supermarket. Mereka berdua membeli beberapa keperluan bayi. Karena memang tidak sempat membelinya. Dan lagian Arhan juga harus kembali ke Milan dan ada kesempatan untuk menemani Adara berbelanja. Maka harus di manfaatkan sedemikian rupa.
Dan lagi-lagi masalah seperti ini Arhan yang paling tau apa yang di butuhkan bayi. Jadi memang harus Arhan yang turun tangan dalam memilih apa aja yang pasti sangat di butuhkan untuk Alvian.
"Kita cari tempat makan untuk Alvian," ucap Arhan yang mendorong troli belanjaan yang sudah penuh.
"Bukannya Alvian masih kecil dan belum bisa makan," ucap Adara menyerngitkan dahinya.
"Harus di beli terlebih dahulu. Usia 6 bulan atau bisa 5 bulan. Alvian sudah bisa makan seperti kita. Jadi alat-alat harus di beli. Nanti kamu membelinya sembarangan. Mumpung aku masih di sini. Jadi bisa memastikan jika alat-alatnya bagus dan higienis," jelas Arhan yang lebih heboh di bandingkan Adara. Mendengarnya Adara hanya menghela napasnya saja.
"Ibunya siapa dan siapa juga yang harus heboh," ucap Adara dengan pelan.
Sejak tadi memang Arhan yang paling banyak tau dan memilih semuanya. Bahkan dia sendiri tidak pernah dan bahkan tidak tau mau apa yang di beli.
"Ayo!" ajak Arhan yang melihat Adara tampak bengong.
"Iya-iya," sahut Adara yang mengikut saja. Walau sebenarnya dia juga malas. Tetapi memang kenyataan jika Arhan yang lebih tau dan sama seperti sekarang ini memilih tempat makan yang cocok.
"Yang warna apa yang cocok?" tanya Arhan dengan melihat-lihat.
"Pink aja," sahut Adara yang matanya langsung tertuju pada Pink.
"Alvian itu laki-laki. Masa iya mau kasih pink," sahut Arhan.
"Tapi ini lucu," sahut Adara gemes.
"Biru aja jangan pink," sahut Arhan yang memutuskan dan langsung memasukkan ke dalam keranjang.
"Jika mau memilih sendiri. Lalu kenapa bertanya kepadaku. Aku memilih pink malah ambil nuru," umpat Adara kesal dengan Arhan.
"Ya kamu pilihannya tidak bagus. Kamu mau anak kamu dari kecil sudah mengkoleksi warna pink," jawab Arhan santai.
"Isssss," Adara dengan kesalnya yang rasanya ingin menjambak Arhan. Namun Arhan hanya tersenyum saja yang sengaja membuat Adara kesal. Dari tadi memang Arhan yang memimpin semuanya. Jadi Adara hanya pasrah dan penuh dengan kekesalan saja.
"Ayo kita cari yang lainnya jangan ngambek," ajak Arhan dan Adara mengikut saja kemana Arhan membawanya dan berapa banyak yang di cari Arhan. Adara harus sabar-sabar dengan Arhan yang benar-benar memborong belanjaan untuk bayi.
Tiba-tiba mereka berhenti di sebuah rak yang membuat Arhan fokus satu benda yaitu pompa asi.
"Ini bagus untuk kamu!" ucap Arhan menunjukkan pada Adara.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Adara yang memang tidak tau benda apa itu.
"Ini pompa asi," jawab Arhan.
"Maksudnya?" tanya Adara dengan dahinya yang mengkerut.
"Ya pompa ASI," sahut Arhan yang memang itu namanya.
"Ya kegunaannya apa?" tanya Adara dengan menekan suaranya.
"Ini untuk membuat stok asi ibu. Dan bayinya tidak langsung minum dari..... Ya dari situ," Arhan garuk-garuk kepala menjelaskan pada istrinya yang polos itu. Memang susah harus menjelaskan dengan detail. Mendengar penjelasan Arhan hanya membuat Adara bingung saja.
"Intinya begini Azizie. Asi kamu di pindahkan ke dalam botol melalui alat ini dan Alvian bisa minum dengan dodot," jelas Arhan yang berharap Adara akan mengerti dengan penjelasannya.
"Caranya bagaimana?" tanya Adara yang masih kelihatan bingung.
"Ya kamu, kamu..." Arhan bingung sendiri sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menghela napasnya perlahan kedepan.
Masa iya dia harus menjelaskan panjang lebar kepada Adara bagaimana cara menggunakannya dan belum lagi caranya itu sangat sensitif yang harus menyebutkan area sensitif Adara dan sejak tadi saja Arhan susah menahannya untuk tidak mengatakan caranya.
"Kenapa diam?" tanya Adara yang ingin benar-benar tau seperti apa caranya.
"Issss kenapa? Aku harus tau bukan. Jika aku tidak tau bagaimana aku menggunakannya!" ucap Adara kesal.
"Nanti kamu tanya saja Bibi. Kita cari peralatan lainnya," tegas Arhan yang memasukkan saja kedalam troli pompa asi tersebut dan pergi begitu saja.
"Apa sih dia. Dia yang heboh, dia sendiri yang malah tidak ingin memberi tahuku. Apa susahnya menjelaskan dasar aneh pelit ilmu," sahut Adara dengan kesal yang melihat tingkah Arhan yang menurutnya sangat menyebalkan.
*********
Setelah berbelanja dengan semua barang-barang yang cukup banyak akhirnya mereka membayar ke kasir. Kebanyakkan Arhan yang memilih dan menentukan apa-apa saja untuk Alvian. Sementara Adara tadi hanya memilih pakaian yang lucu-lucu saja.
Arhan membayar semua belanjaan itu yang cukup banyak pastinya. Setelah selesai mereka langsung ke mobil. Arhan dan Adara menyusun barang-barang bayi itu bersamaan ke dalam bagasi mobil.
"Adara!" tiba-tiba ada yang memanggil Adara membuat Adara langsung menoleh ke belakang yang ternyata Noni teman satu kelasnya.
"Noni," sahut Adara yang terkejut bertemu Noni setelah lama mereka tidak bertemu.
"Ya ampun Adara. Kamu di sini," Noni yang begitu bahagia langsung memeluk Adara begitu erat. Adara hanya tersenyum getir saja yang pasti ada ketakutan. Sementara Arhan hanya bereksperesi datar saja.
__ADS_1
"Adara aku kangen banget sama kamu! Kamu baik-baik aja kan?" tanya Noni yang melonggarkan pelukannya.
"Iya aku baik-baik saja," jawab Adara dengan gugup.
"Kamu sudah kembali dari Luar Negri!" ucap Noni.
"Hmmm, iya," sahut Adara dengan wajahnya yang masih panik.
"Kamu belanja apa? tanya Noni yang melihat ke dalam bagasi mobil.
"Perlengkapan bayi," ucap Noni.
"Untuk siapa ini?" tanya Lucia heran.
Deg.
Debaran jantung Adara berdebar dengan kencang mendengar pernyataan Noni. Dia langsung melihat ke arah Arhan yang membutuhkan bantuan Arhan.
"Ini untuk hadiah untuk saudara," sahut Arhan yang menjawab pertanyaan itu
"Oh benarkah?" sahut Noni
"Iya benar," sahut Adara.
"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu ya," ucap Adara yang ingin terburu-buru pergi.
"Tunggu dulu Adara!" Noni mencegah Adara.
"Ada apa?" tanya Adara yang panik.
"Kamu kapan sekolah?" tanya Noni.
"Secepatnya," jawab Adara
"Begitu, aku akan menunggumu," sahut Noni. Adara mengangguk saja dan langsung memasuki mobil dengan buru-buru. Arhan membukakan pintu mobil.
"Permisi!" ucap Arhan pada Noni. Noni mengangguk dengan tersenyum dan Arhan juga langsung menyusul dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Hmmmm aneh sekali. Dia sudah pulang dari luar Negri dan tidak mengabariku. Apa aku jangan-jangan sudah di lupakan jadi sahabat terbaiknya," ucap Noni yang bergerutu saja.
__ADS_1
Bersambung