TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 77 Keputusan yang sulit.


__ADS_3

Herlambang hanya menyimak apa yang di katakan Arhan.


"Jadi aku tidak mau ikut campur dengan keputusan Azizie," ucap Arhan.


"Papa tau Arhan. Kamu punya cara sendiri untuk mendidik Adara dan papa percaya pada kamu dan papa tau itu keputusan yang terbaik untuk kamu da. Juga Adara," ucap Herlambang menepuk bahu Arhan.


"Mungkin belum waktunya. Pernikahan ini di mulai. Aku tau apa yang harus aku lakukan dan aku bisa menyelesaikan semuanya. Jika sudah waktunya pasti akan ada kemudahannya," batin Arhan mencoba sabar menghadapi Adara. Dia juga berharap hubungannya dengan Adara normal. Setelah Adara lulus sekolah. Namun hal itu tidak terjadi.


Arhan tau Adara pasti berulah ingin kuliah di Luar Negri. Supaya tidak bersama Arhan. Dia juga terus membuat ribut. Agar Arhan murka dan benar-benar menceraikannya. Namun Adara lupa jika Arhan adalah laki-laki yang pintar dan sangat tau mengatasi setiap masalah. Apalagi Adara masih bocil dan punya emosi yang labil.


*********


Adara dan Herlambang berbicara serius di ruang kerja Herlambang dengan Adara yang duduk di sofa dan Herlambang duduk di depan Adara.


"Kamu yakin ingin kuliah di Luar Negri?" tanya Herlambang membuka topik pembicaraan.


"Sesuai dengan apa yang Adara minta pada papa. Jika Adara ingin melanjutkan kuliah ke luar Negri!" jelas Adara dengan tegas pada keputusannya yang tidak akan berubah sama sekali.


"Ini akan merugikan kamu Adara," ucap Herlambang.


"Adara sudah memikirkan semuanya," sahut Adara.


"Baiklah papa akan mengijinkan kamu kuliah di Luar Negri," sahut Herlambang. Adara kaget dengan keputusan Herlambang. Sepertinya di luar ekspektasi Adara.


"Papa mengijinkanku. Kok tumben. Bukannya seharusnya tidak ya. Papa seharusnya sudah mengatakan pada Arhan dan sangat tidak mungkin Arhan memberiku izin," batin Adara yang malah shock saat di berikan ijin.


"Tapi kamu tidak bisa membawa Alvian," sahut Herlambang membuat Adara semakin kaget.


"Apa maksud papa. Bagaimana mungkin Alvian bisa hidup tanpa ada aku di sampingku?" protes Adara yang pasti tidak akan menerima apa yang di putuskan Herlambang.


"Amerika kamu tau sendiri bagaimana Negara itu. Sistem pendidikannya kamu juga tau sangat sulit. Satu tahun pertama hal yang sulit untuk kamu membagi waktu untuk diri kamu dan Alvian. Jadi lah mandiri di sana. Jika tetap ingin kuliah di Luar Negri. Tanpa Bibi pastinya dan papa tidak bisa membiarkan Alvian bersama kamu di sana. Dalam situasi awal yang pasti tidak baik untuk Alvian," jelas Herlambang yang memberikan alasannya pada Adara mengenai keputusan tentang Alvian.


Herlambang mungkin benar dan tidak masalah mengijinkan Adara untuk kuliah di Luar Negri. Asalkan Adara bisa mandiri. Walau seperti itu dia juga tidak mungkin membiarkan Alvian bersama Adara. Adara masih dalam tahap penyesuaian dan permulaan dan sangat tidak baik untuk Alvian.

__ADS_1


"Lalu jika Alvian tidak bersamaku. Dia bersama siapa?" tanya Adara.


"Dia punya ayahnya," jawab Herlambang dengan santai.


"CK," Adara langsung berdecak kesal.


"Pah Alvian itu anakku dan hanya dia satu-satunya yang menjadi anakku. Percuma sama Arhan. Dia akan mencariku," tegas Adara yang tidak yakin Alvian dengan Arhan.


"Kamu jangan meremehkan hal itu. Alvian jauh lebih baik bersama Arhan di bandingkan kamu dan Alvian sudah tidak menyusu lagi. Jadi dia sudah bisa di lepas dan semua ini pilihan untuk kamu Adara. Bukan papa. Kamu yang menentukannya," tegas Herlambang.


"Tapi tidak mungkin Adara berpisah dengan Alvian dan Arhan juga bekerja dan apa dia bisa menjaga Alvian," sahut Adara dengan merengek.


"Dia tau apa yang harus di lakukannya dan satu lagi . Jangan pernah papa dengar dari mulut kamu. Jika kamu mengatakan Alvian hanya anakmu. Alvian anak kamu dan Arhan," tegas Herlambang.


"Papa selalu saja lebih percaya kepadanya di bandingkan aku. Padahal dia lebih sibuk dan punya pekerjaan dan peliharaannya," desis Adara dengan kesal.


"Papa tidak memaksa kamu Adara. Kamu yang menentukan pilihan kamu sendiri," ucap Herlambang.


Adara menghela napasnya kasar kedepan. Di izinkan ke Luar Negri. Namun syaratnya berat. Semua di tangan Adara. Apa ingin melangkah atau berhenti. Semua tergantung Adara.


********


Beberapa hari berikutnya.


Adara benar-benar memilih untuk tetap melanjutkan pendidikan ke Luar Negri. Bahkan dia harus meninggalkan Alvian dalam setahun ini. Ya Adara benar-benar ingin menunjukkan jika dia bisa melakukan apa saja yang tidak bisa di kekang Arhan. Dia benar-benar dalam titik yang tidak peduli dengan apapun dan apalagi dalam pernikahannya.


Hari ini adalah keberangkatan Adara ke Amerika. Dengan blouse Navy yang di padukan dengan jeans biru muda. Adara sedang berpamitan di depan rumahnya bersama Herlambang Bi Sri dan juga Alvian yang berada di gendongan Bi Sri.


Supir sudah memasukkan koper ke dalam bagasi. Ada beberapa koper yang di bawa Adara. Karena Adara benar-benar pergi lama. Karena harus menyelesaikan kuliahnya.


"Adara pamit pah!" ucap Adara yang mencium tangan Herlambang dan juga memeluk Herlambang.


"Kamu hati-hati di sana. Jangan aneh-aneh. Papa tidak akan mengampuni kamu. Jika kamu berbuat yang aneh-aneh. Kamu di sana hanya untuk belajar bukan yang lain-lainnya," tegas Herlambang.

__ADS_1


"Iya pah pasti. Papa juga jaga kesehatan di sini dan titip Alvian," ucap Adara.


"Itu sudah pasti," sahut Herlambang.


Adara mencium Alvian dan pasti akan merindukan Alvian yang sudah satu tahun di rawatnya itu.


"Alvian jangan bandel-bandel ya. Nanti kalau mama sudah bisa mandiri. Nanti mama akan jemput Alvian. Kita akan tinggal bersama. Jadi Alvian harus sabar ya," ucap Adara. Alvian hanya tertawa-tawa merespon ucapan mamanya yang penuh kesedihan itu.


"Bibi jaga Alvian ya. Kalau ada apa-apa bilang sama aku," ucap Adara berpesan pada pembantunya itu.


"Iya Nona. Jangan Khawatir. Nona juga jaga kesehatan di sana dan pintar-pintar di sana. Jaga pola makan yang sehat," ucap Bibi yang juga berkesan pada Adara.


"Itu pasti Bi," sahut Adara.


Adara kembali mencium kening Alvian dengan jarinya yang di genggam Alvian.


"Mama pergi sayang!" ucap Adara pamit dengan berat hati yang harus pergi meninggalkan Alvian. Namun dia tidak punya pilihan lain. Adara pun sudah memasuki mobil dan masih saja terus melihat Alvian.


Namun pandangan mata Adara tiba-tiba tertuju pada Arhan yang ternyata berada di teras kamar yang sejak tadi melihat kepergian Adara dari kejauhan. Keduanya sempat beradu pandang dengan jarak yang cukup jauh. Namun Adara tidak peduli dan menurunkan kaca mobil dan tidak lama mobil itu melaju yang meninggalkan rumah mewah itu.


Arhan yang berada di kamar. Masih melihat kepergian mobil yang membawa istrinya itu.


"Ini keinginan mu dan aku tidak punya hak untuk melarangnya. Semoga apa yang kamu mau bisa membuatmu jauh lebih baik," batin Arhan yang tidak akan mencegah kepergian Adara.


Mereka berdua gantian. Biasanya Arhan yang pamit dan Adara yang murung. Sekarang Adara yang ke Luar Negri dan Arhan harus menjaga Alvian. Arhan tidak ingin Alvian tidak bertumbuh dengan baik. Tanpa pengawasan yang nyata.


"Semoga apa yang kau inginkan bisa membuatmu puasa Azizie," ucap Arhan dengan menghela napasnya kedepan.


Sementara Adara yang berada di dalam mobil memperlihatkan wajah murungnya.


"Ini keputusan yang sudah aku ambil dan ini yang terbaik untukku. Aku ingin menunjukkan. Jika kau bukan orang yang harus menguasai diriku," batin Adara dengan menghela napasnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2