
Perkataan Raya benar-benar sangat mengejutkan Lucia.
"Apa katamu? Kamu tau dia sudah menikah dan punya anak?" tanya Lucia dengan wajah kagetnya. Lucia tidak pernah memberitahu hal tersebut kepada siapapun. Karena pasti takut dengan Herlambang.
"Aku tau segalanya dan kamu tau tidak. Jika aku juga tau Adara hamil di luar nikah," ucap Raya.
"Kamu tau dari mana?" tanya Lucia yang benar-benar schok mendengar pernyataan dari Raya.
"Apa yang tidak aku ketahui dan kamu mau tidak jika aku juga tau. Kamu yang teledor yang akhirnya membuat Adara hamil tanpa suami. Apa yang terjadi pada Adara adalah perbuatan kamu," bisik Raya dengan menyunggingkan senyumnya.
Lucia benar-benar terkejut mendengar apa yang di katakan Raya. Tubuhnya mendadak bergetar mendengar semua yang di kataka Raya.
"Raya!" Lirih Lucia.
"Kamu panik? Takut!" ucap Raya yang tersenyum melihat wajah panik Lucia. Deru napas Lucia terlihat naik turun yang benar-benar gemetaran. Sepertinya ada hal besar yang di lakukannya membuatnya takut seperti itu.
"Apa yang kau ketahui Raya. Jangan main-main kau," ucap Lucia yang berusaha untuk tenang.
"Siapa yang main-main Lucia. Aku tau semuanya dan jika aku membongkarnya. Kau akan mendapatkan masalah besar yang tidak akan pernah kau bayangkan," ucap Raya.
"Raya, aku peringatkan kepada kau jangan melakukan sesuatu hal yang membuat mu sendiri yang akan terkena imbasnya. Kau tau siapa aku dan tidak ada yang bisa main-main denganku," tegas Lucia memberikan peringatan dengan suaranya yang bergetar.
"Kenapa aku yang terkena imbasnya. Bukannya semua masalah itu berawal dari kamu. Jadi harus kamu dong yang bertanggung jawab. Bukan Adara yang aman selama ini. Tidak ada yang tau dia hamil, menikah dan punya anak. Tetapi justru kamu yang aman selama ini. Kenapa? Karena rahasia besar kamu yang penyebab semuanya masih tersimpan dengan rapi dan kamu yang aman atas perbuatan kamu," ucap Raya dengan menyunggingkan senyumnya.
"Lucia aku tidak mengarang cerita. Aku benar-benar tau dan punya bukti atas perbuatan kamu," tegas Raya dengan nada mengancam Lucia.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Lucia.
Tiba-tiba Raya tau semuanya dan mengatakan semua itu membuat Lucia pasti tau jika Raya menginginkan sesuatu. Ya mungkin saja Raya akan memanfaatkan hal itu untuk memeras Lucia.
"Banyak hal. Tapi tidak mungkin di bicarakan di sini. Jadi mari kita bertemu di luar. Bye-bye," ucap Raya dengan melambaikan tangannya dan mengedipkan sebelah matanya dan Raya langsung pergi meninggalkan Lucia.
"Sial!" umpat Lucia dengan menyibak rambutnya kebelakang yang benar-benar tidak percaya dengan semua yang terjadi padanya. Lucia mengatur napasnya dan berusaha untuk tenang.
"Kenapa dia tau semuanya. Ini bisa menjadi Maslaah besar jika aku tidak menutup mulutnya," batin Lucia yang menjadi panik. Lucia kembali melihat ke arah Adara yang masih saja bersenang-senang dengan Brian dan bagaimana tidak membuatnya panas.
Di saat dia sedang banyak masalah dan Adara malah senang-senang. Ya sebenarnya masalah yang terjadi juga bukan karena kesalahan Adara. Lucia saja yang tidak tau apa kesalahannya.
********
__ADS_1
Setelah lulus ujian dan merayakan ke lulusan Adara pulang ke rumah.
"Bibi!" Panggil Adara dengan berteriak di rumah itu. Dia begitu senang dan suaranya sampai entah kemana saja.
"Iya Nona ada apa," sahut Bibi. Melihat bibi membuat Adara tersenyum dan langsung memeluk Bibi dengan erat.
"Ya ampun Nona Adara ada apa ini. Bibi bau bawang loh. Malah di peluk-peluk seperti ini," ucap Bibi yang hampir sesak napas gara-gara Adara memeluknya begitu kencang.
"Bibi Adara sudah lulus sekolah. Dan sekarang Adara peluk Bibi. Karena Adara sangat senang," ucap Adara yang gemes sendiri.
"Iya Bibi tau Non Adara sudah lulus. Tapi Bibi nggak bisa napas. Jika meluknya seperti ini. Bibi bisa mati di tempat loh," keluh Bibi yang memang merasa sesak.
"Iya-iya Bibi ku sayang," sahut Adara yang langsung melepas pelukan tersebut.
"Pelit banget, nggak mau di peluk. Jangan-jangan udah nggak sayang sama Adara ya," tebak Adara menatap Bibi dengan curiga.
"Siapa yang tidak mau di peluk Nona. Bibi mau kok dan mana mungkin tidak sayang Nona Adara," sahut Bibi yang meyakinkan Adara.
"Tadi buktinya apa," sahut Adara kesal.
"Iya-iya jangan ngambek. Sekarang Non Adara sudah Lulus selamat ya," ucap Bibi. Adara mengangguk dengan tersenyum.
"Kok lama sekali," sahut Adara kesal. Bibi tidak menjawab lagi.
"Bibi perhatikan Non Adara senang sekali ketika Lulus sekolah. Apa ini tanda-tandanya mau menyusul suaminya ke Milan!" goda Bibi dengan menduga-duga.
"Issss Bibi sok tau deh, siapa bilang," sahut Adara senyum-senyum membuat Bibi juga tersenyum dan mengusap pipi Adara.
"Non Adara sebentar lagi ulang tahun tidak mau minta hadiah pada suaminya?" tanya Bibi memberikan saran.
Wajah Adara mendadak datar, " memang harus minta hadiah padanya?" tanya Adara.
"Kenapa tidak? Kan punya suami. Jika istrinya ulang tahun. Seorang suami wajib memberi hadiah untuk istrinya," jelas Bibi.
"Lalu apa dia mau memberikannya?" tanya Adara tidak yakin.
"Ka Non Adara istrinya ya seharusnya suami Nona Adara memberikan apa yang Nona Adara inginkan. Itu sudah kewajiban," jelas Bibi.
"Tapi masa iya. Adara harus minta kan itu sama aja...."
__ADS_1
"Kenapa sih Non Adara ini masih aja gengsian minta ampun deh. Jangan gengsi mulu di pelihara," ucap Bibi.
"Tidak ada salahnya non meminta hadiah pada suaminya. Telpon sana dan minta hadiah dan hadiah harus double. Hadiah ulang tahun dan juga hadiah kelulusan. Pasti mas Arhan akan memberikannya," ucap Bibi yang memberi saran Adara.
"Tapi Adara malu Bi. Bagaimana kalau bibi aja yang melakukannya?" tanya Adara yang tidak percaya diri meminta pada Arhan.
"Kenapa harus Bibi. Ya Nona yang harus minta sendiri," sahut Bibi gelang-gelang.
"Ya udah nanti aja. Kalau sempat," sahut Adara yang membuat Bibi hanya tersenyum saja.
"Jangan gengsian mulu yang di pelihara. Bukannya katanya mau memulai semuanya ya dari awal," ucap Bibi mengingatkan dengan menggoda Adara.
"Iya-iya Bibi," sahut Adara.
"Udah ah Adara mau ke atas dulu. Oh iya Alvian sedang apa?" tanya Adara.
"Tadi lagi tidur. Nggak tau sekarang lagi ngapain," jawab Bibi.
"Ya sudah kalau begitu Adara mau lihat dulu," ucap Adara. Bibi hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Bi untuk ulang tahun Adara. Bibi yang menyiapkan ya. Pokoknya Adara percayakan semua pada Bibi. Jadi Bibi harus menyiapkan semuanya dengan sempurna," titah Adara.
"Mau tema apa Non?" tanya Bibi.
"Berbie," jawab Adara.
"Baiklah kalau begitu. Bibi akan siapkan sesuai dengan apa yang Nona minta," ucap Bibi. Adara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum yang memang sangat senang hari ini.
"Ya sudah. Adara ke atas ya Bi," ucap Adara pamit. Bibi hanya mengangguk saja.
"Non Adara mau bibi anterin makan tidak?" tanya Bibi.
"Mau Bi," sahut Adara yang sudah menaiki anak tangga.
"Baiklah bibi akan antar secepatnya," sahut Bibi.
"Ditunggu bi sayang," sahut Adara yang wajahnya sudah tidak terlihat.lagi.
Setelah kepergian Adara Bibi menghela napasnya dengan raut wajah Bibi juga yang tersenyum. Dia juga sangat bahagia dengan kelulusan Adara.
__ADS_1
Bersambung