TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 26 Perjalanan puncak


__ADS_3

Adara keluar dari kamarnya yang berjalan di dalam rumahnya yang luas yang tiba-tiba Adara berpapasan dengan Lucia yang melihat Adara dengan sangat tajam.


"Apa kamu puas," ucap Lucia tiba-tiba yang membuat langkah Adara terhenti tepat di samping Lucia.


"Apa maksud kamu?" tanya Adara heran.


"Kamu nggak usah pura-pura tidak tau. Apa kamu tidak sadar Adara. Dengan semua yang kamu lakukan. Kamu sudah membuat hidupku berantakan dan tidak mempunyai kebebasan," ucap Lucia dengan marah-marah kepada Adara.


"Aku tidak mengerti Lucia dengan semua yang kamu katakan. Aku tidak paham," sahut Adara dengan wajah bingungnya.


"Sudah jelas semuanya. Gara-gara kehamilan kamu. Aku menjadi sasarannya. Brian datang kerumah ini dan aku yang di salahkan. Akan berbeda. Jika kamu yang membawa Brian kerumah ini. Kamu pasti tidak akan di marahi. Seolah aku tidak kebebesan karena perbuatanmu," ucap Lucia yang menyalahkan Adara.


"Kamu merasa selalu paling hebat Adara. Kamu merasa paling mempunyai kuasa. Kamu tidak sadar dengan perbuatan kamu. Aku yang menjadi korbannya," tegas Lucia.


"Cukup Lucia. Aku tidak pernah ada niat untuk membuat kamu menjadi ikut-ikutan menanggung masalahku. Hanya saja kamu pasti paham dengan apa yang terjadi. Papa sudah mengingatkan mu untuk hati-hati. Lalu kenapa kamu malah membawa Brian datang kerumah ini," ucap Adara.


"Oh jadi kamu menyalahkan ku hah! Terserah aku mau membawa Brian atau tidak. Kenapa kamu marah karena aku dan Brian dekat. Adara kamu itu seharusnya sadar kamu sudah menikah dan kamu tidak berhak untuk dekat-dekat dengan siapapun termasuk Brian. Dan aku yakin kamu pasti mengadukan semuanya kepada Om Herlambang masalah Brian agar aku di marahi. Karena kamu Iri melihat aku dan Brian dekat," tuduh Lucia


"Aku tidak iri Lucia dan terserah kamu mau dekat dengan siapapun. Hanya saja kamu harus tau batasan kamu membawa orang lain kerumah ini yang akan menjadi Maslaah besar," tegas Adara.


"Aku tidak peduli!" teriak Lucia dengan kesal.


"Masalah itu adalah masalahmu. Kau yang berbuat dan harus bertanggung jawab. Lalu kenapa aku harus peduli. Aku tidak peduli sama sekali dan terserahku. Kau ingat itu," tegas Lucia dengan marah-marah pada Adara.


"Kau itu menyusahkan semua orang!" tegas Lucia yang mendorong dada Adara dengan ke-2 tangannya dan Adara hampir saja ingin jatuh dan untung ada Arhan yang tiba-tiba di belakang Adara dan memegang bahu Adara dengan kedua tangannya membuat Adara menoleh kebelakang dan saling menatap sebentar dengan Arhan.


Lalu pandangan mata Arhan melihat ke arah Lucia. Setelah menegakkan posisi Adara yang hampir jatuh.


"Ada apa ini?" tanya Arhan dengan datar.


"Bukan urusanmu dan sebaiknya kau sebagai suami urus saja istrimu dengan baik dan jangan iri pada orang lain termasuk padaku yang dekat dengan pria manapun. Karena aku berhak dekat dengan siapapun," tegas Lucia yang penuh penekanan dan langsung pergi dari dia orang yang menurutnya sangat menyebalkan.


Arhan melihat ke arah Adara.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arhan. Adara menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa dengan dia. Kenapa dia begitu marah?" tanya Arhan.


"Karena Brian. Papa menegurnya karena Lucia yang membawa Brian kerumah ini dan Lucia marah-marah pada ku," jawab Adara dengan wajah senduhnya.


"Sudahlah jangan di pikirkan sekarang sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Arhan. Adara mengangguk dan langsung pergi kembali menuju kamarnya.


***********


Akhirnya Adara dan Arhan berangkat juga ke puncak untuk tinggal beberapa hari sebelum Arhan kembali ke Luar Negri.


Ternya Adara dan Arhan tidak berdua. Ada Bi Sri yang pasti menemani Adara. Karena Adara wanita yang apa-apa harus di bantu. Karena sejak kecil memang sangat manja dan sangat wajar jika Herlambang juga mengutus Bibi untuk ikut. Karena tidak mau merepotkan Arhan yang akan ke kewalahan dalam mengurus Adara.


Adara dan Bibi duduk di bangku belakang dan Arhan yang duduk di samping supir yang mereka masih dalam perjalanan menuju Villa yang akan mereka tinggali.


"Non Adara kalau mual bilang sama Bibi ya," ucap Bibi.


"Iya Bi Adara belum mual kok," jawab Adara dengan tersenyum.


"Tidak Bi Adara tidak lapar Bi," jawab Adara.


"Tapi Non Adara tadi belum makan siang lo," ucap Bibi.


"Tapi Adara tidak lapar Bi," jawab Adara.


"Baik kalau begitu. Tetapi sebentar lagi harus makan ya," ucap Bibi yang memang harus memaksa Adara.


"Iya Bi," sahut Adara.


"Bi Adara sudah lama sekali tidak kepuncak apa tempatnya berubah ya Bi?" tanya Adara.


"Pasti Nona Adara. Apalagi di sana juga kebun buahnya sudah semakin banyak dan ini lagi musim buah dan pasti berubah dan di penuhi dengan buah," ucap Bibi.

__ADS_1


"Benarkah Bi?" tanya Adara dengan wajahnya yang tersenyum.


"Benar non. Nanti kita petik buah ya. Seperti dulu Non Adara waktu kecil sangat suka sekali memetik buah," ucap Bibi.


"Hmmmm," sahut Adara mengangguk dengan cepat yang memang sangat ingin memetik Buah. Karena memang itu salah satu hobinya.


"Oh iya Bi untuk buah Mangga ada tidak Bi?" tanya Adara.


"Non Adara mau buah mangga?" tanya Bibi.


"Iya Bi," jawab Adara dengan mengangguk cepat.


"Non Adara tenang saja. Pasti ada dan pasti sangat banyak," jawab Bibi.


"Kalau begitu Adara bisa makan buah sebanyaknya," ucap Adara yang begitu bersemangat.


"Pasti Nona," sahut Bibi tersenyum dengan memebelai rambut Adara dan Adara juga tersenyum yang sangat bahagia. Jika dirinya bisa makan buah dan Mangga yang banyak


Sementara Arhan yang memejamkan matanya yang bersandar di jok mobil hanya mendengarkan percakapan 2 wanita itu tanpa dia menanggapi apa-apa. Matanya saja yang terpejam. Namun telinganya sama sekali tidak dan dapat mendengar percakapannya Bibi dan juga Adara.


"Semoga saja di puncak aku bisa lebih tenang. Walau pasti tidak mungkin tenang," batin Adara yang tidak bisa berekspetasi terlalu tinggi.


"Pak berhenti sebentar ya!" ucap Arhan yang tiba-tiba bangun. Supir menganggukkan kepalanya dan berhenti di pinggir jalan.


"Mau apa dia?" batin Adara dengan ketus melihat Arhan yang turun dari mobil.


Arhan hanya mampir ke supermarket dan membeli beberapa minuman saja. Tidak lama Arhan kembali ke mobil dengan membawa apa yang di bawanya.


"Ini untukmu!" ucap Arhan memberikan Adara susu strawberry.


"Terakhir kali aku meminumnya perutku mual," ucap Adara.


"Itu terakhir kalinya dan belum tentu ini," sahut Arhan.

__ADS_1


Adara menghela napasnya dan langsung mengambilnya dengan terpaksa. Ya dia meminumnya langsung dan ternyata tidak mual sama sekali. Namanya juga hamil pasti hormonnya berbeda-beda. Bibi hanya tersenyum melihat Risya yang seperti itu. Walau menolak tetapi tetap ingin meminumnya.


Bersambung.


__ADS_2