TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 38 Rencana menyusul.


__ADS_3

Adara berdiri di teras kamarnya yang malam hari sendirian. Udara begitu dingin. Tetapi Adara memilih untuk di luar dan kelihatan melamun dengan wajahnya yang sangat murung. Adara sesekali menundukkan kepalanya melihat perutnya yang mulai kelihatan membesar.


Adara memang sudah tidak bersekolah lagi. Dia memilih sekolah online untuk menutupi kehamilannya dan setelah melahirkan nanti Adara baru kembali sekolah seperti semula dan semua itu atas perintah Herlambang yang mau tidak mau harus di ikuti Adara.


Adara sendirian yang melamun di malam hari yang menatap pagar rumahnya yang tinggi kokoh menjulang ke atas itu. Tatapan mata yang sendu.


"Papa!" teriak Adara yang masih kecil dengan rambutnya yang di kepang dua. Anak kecil 8 tahun itu berlari mengejar sang papa yang baru saja turun dari mobil.


"Adara cantik!" sahut Herlambang yang berjongkok dan langsung memeluk Adara yang merindukan Putri semata wayangnya itu yang sangat menggemaskan.


"Papa kenapa lama sekali pulangnya? Papa tidak merindukan Adara?" tanya Adara dengan cerewetnya.


"Papa pasti merindukan putri papa yang bawel ini," jawab Herlambang dengan mencolek hidung Adara yang mancung.


Adara menoleh ke belakang Herlambang ada Pria remaja yang berpenampilan sederhana dan pria itu sangat tampan dan manis.


"Siapa itu papa?" tanya Adara heran.


Herlambang berdiri dan merangkul Pria remaja itu.


"Adara ini namanya Arhan. Papa menculiknya dari malang," jawab Herlambang.


"Untuk apa papa menculiknya?" tanya Adara.


"Untuk menjadi teman Adara dan melindungi Adara," jawab Herlambang. Arhan hanya tersenyum.


"Jadi maksud papa kak Arhan akan tinggal di sini?" tanya Adara menduga-duga.


"Kok anak papa pintar sekali. Belajar dari mana langsung bisa menebak?" tanya Herlambang yang kagum dengan insting putrinya itu.


"Papa jawab dulu benar apa tidak kak Arhan akan tinggal di sini?" tanya Adara.


"Iya dong sayang. Arhan akan tinggal di sini dan menemani Adara, menjaga Adara dan juga papa," jawab Herlambang.


"Hallo kak Arhan aku Adara Kalea Azizie!" sapa Adara dengan ramah.


"Hay Azizie," sahut Arhan tersenyum pada Azizie.


"Azizie," sahut Azizie. Arhan menganggukkan kepalanya dan Adara juga tersenyum begitu juga dengan Herlambang.


9 tahun lalu Adara dan Azizie bukan orang asing. Selalu terdengar tawa Adara yang bermain bersama Arhan. Berlari-lari yang di kejar Arhan di taman belakang yang memberikan memori indah tersendiri bagi Adara yang sekarang masih melamun.


"Auh!" lirih Adara yang terjatuh karena berlari.

__ADS_1


"Azizie kamu tidak apa-apa?" tanya Arhan panik yang melihat lutut Adara memar.


"Sakit kak!" lirih Azizie.


"Biar kakak obati ya," ucap Arhan yang langsung bertindak untuk mengobati Adara.


"Kamu lain kali hati-hati ya. Jangan sampai terluka seperti ini lagi," ucap Arhan sembari mengobati adik angkatnya itu.


"Iya kak Arhan dan kak Arhan juga makasih ya sudah selalu melindungi Adara," ucap Adara.


"Kakak akan terus bersama kamu sampai kapanpun dan kapan kamu membutuhkan," ucap Arhan dengan tulus.


Sampai sekarang ucapan Arhan masih di pegangnya yang mana banyak di korbankan nya untuk melindungi Adara dari aibnya.


Adara yang masih berdiri di teras kamar. Tiba-tiba meneteskan air matanya.


"Ada apa denganmu Adara!" ucap Adara yang langsung menyeka air matanya dengan cepat.


Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia mengeluarkan air mata yang mungkin tidak bisa bohong dengan perasaannya jika dia merindukan Arhan yang sudah beberapa bulan tidak di temuinya.


Mungkin juga bawaan kandungannya yang sangat membutuhkan Arhan di sampingnya yang terbiasa sudah bersama Arhan.


Dratt-dratt-dratttt-dratt.


"Hallo!" sapa Adara yang tidak tau siapa yang menelponnya.


"Kamu apa kabar?" tiba-tiba terdengar suara berat yang tidak asing dari nada panggilan tersebut mampu jantung adara berdebar dengan kencang.


"Arhan!" lirih Adara yang mengetahui suara yang tidak asing itu dan ini juga pertama kali Adara menyebut nama Arhan. Selama ini bahkan tidak pernah dan sangat kebetulan di saat Adara memikirkan Arhan tiba-tiba Arhan menelponnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arhan.


"Hmmm, iya aku baik," jawab Adara mendadak gugup dengan membuang napasnya perlahan kedepan mungkin tidak percaya Arhan akan menghubunginya.


"Bagaimana dengan kandungan kamu?"


"Baik. Hanya belakangan ini aku suka merasa sedikit sakit," jawab Adara.


"Itu hal yang biasa kamu harus banyak bergerak dan jangan lupa untuk selalu meminum obat yang di berikan Bi Sri," ucap Arhan begitu lembut yang berpesan pada Adara.


"Hmmmm, iya," jawab Adara yang sepertinya masih shock di telpon Arhan.


"Aku dengar kamu sudah cuti sekolah?" tanya Arhan.

__ADS_1


"Hmmm aku sudah lebih 2 Minggu di rumah dan sangat membosankan," jawab Adara.


"Lalu kenapa tidak datang ke Milan?" tanya Arhan yang memberikan kode pada Adara dengan suara berat Arhan.


Adara terdiam. Biasanya dia selalu ketus dan langsung menjawab dengan penolakan. Namun kali ini diam dan seperti memikirkan hal itu. Adara sedang berperang dengan hatinya untuk melawan kegengsian nya.


************


Adara menuruni anak tangga yang sangat buru-buru berjalan. Setelah saling bicara dengan Arahan beberapa menit. Adara langsung keluar kamar.


"Aku harus menemui papa. Aku harus meminta papa untuk mengirim ku ke Milan!" gumam Adara.


Ternyata Adara memutuskan untuk pergi bersama Arhan. Kemarin jual mahal dan ternyata harus tokoh utama yang di pikirkannya yang harus mengajaknya sendiri.


"Pah!" panggil Adara saat melihat Herlambang yang terlihat buru-buru ingin pergi.


"Iya Adara!" sahut Herlambang.


"Papa mau ke mana?" tanya Adara heran.


"Papa buru-buru ke Maroko. Ada masalah besar yang mendadak," jawab Herlambang .


"Masalah apa pah?" tanya Adara penasaran.


"Sedang ada bencana di sana. Kamu tau sendiri orang-orang kita banyak di sana dan juga Perusahaan kita. Jadi papa harus segera menanganinya," jawab Herlambang yang kelihatan panik.


"Jadi papa akan pergi sekarang?" tanya Adara.


"Benar Adara papa harus ke sana dan iya Arahan juga besok akan menyusul langsung terbang dari Milan!" jawab Herlambang mengungkit nama Arhan.


"Jadi maksud papa Arhan akan ke Maroko bersama papa?" tanya Adara memastikan.


"Iya Adara. Ini sangat penting dan mendadak sekali. Untung saja kamu tidak menerima tawaran papa untuk mengirim mu pada Arhan. Jika tidak kamu tidak akan ada temannya di sana. Karena masalah yang di hadapi Arhan bukan main-main dan sangat bahaya jika ada kamu. Jadi untung saja kamu tidak jadi pergi. Karena kamu juga tidak mungkin ikut bersama Arhan!" jelas Herlambang.


Mendengar penjelasan Herlambang yang begitu buru-buru membuat Adara tampak kecewa dan terlihat tidak bersemangat. Kesedihan di wajahnya dengan semangat yang tadinya menggebu-gebu sekarang benar-benar hilang.


Rasa kecewa yang di dapatkannya karena tidak jadi pergi menyusul Arhan ke Milan.


"Ya sudah Adara papa buru-buru ya. Kamu ingat turuti apa kata Bibi. Jangan aneh-aneh saat papa tidak ada," ucap Herlambang mengingatkan Adara dengan singkat dan bahkan Herlambang langsung pergi meninggalkan Adara yang tadinya begitu semangat dan sekarang terlihat kecewa.


Herlambang tidak banyak bicara yang memang langsung bergegas pergi. Cukup hanya sedikit pesan untuk Adara yang akan di tinggalkannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2