TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 68 Hadiah dari suami.


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba. Adara yang berada di kamarnya yang masih rebahan yang tertidur dengan nyenyak menggunakan piyama putih.


Cahaya sinar matahari sudah masuk dari sela-sela jendela. Namun tetap saja Adara yang masih saja bangkong yang mungkin dia sangat kelelahan karena mengikuti acara pesta ulang tahun tadi malam.


Tiba-tiba mata itu mengkerut dan terbuka sebentar yang mungkin tidurnya sudah terganggu. Adara membuka matanya perlahan dengan sipit dan menutup kembali. Masih berat rasa Adara untuk bangun.


Adara menguap begitu panjang dengan menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Lalu Adara langsung duduk dan meregangkan otot-ototnya yang terlihat pegal. Adara kembali menguap dan memiring- miringkan tubuhnya. Anggap saja olahraga di atas tempat tidur. Olah raga malas namanya.


Adara melihat ke tempat tidur bayinya. Biasanya Alvian tidur di sana dan sekarang tidak ada yang pasti sudah di bawa Bibi mencari matahari. Alvian masih bayi tidak ya. Usianya hampir 1 tahun dan tidak terasa perkembangannya memegang sangat cepat.


Alvian yang mulai telungkup, lalu merangkak dan sekarang dalam proses aktif-aktifnya yang beberapa kali di dengar Adara mulai memanggil mama dan bahkan berbicara yang mulai meraba-raba. Semua itu sangat di nikmati Adara proses perkembangan bayinya itu di tangannya sendiri dan pasti di bantu Bibi dan semua arahan dari Arhan.


Tidak menyangka jika di usinya yang masih muda sudah menjadi seorang ibu dan Arhan sering berpesan pada Bibi. Jika Adara wanita yang hebat, ibu yang hebat dan Bibi saat menyampaikan pesan itu membuat Adara tersipu malu mendapatkan pujian dari suaminya itu.


Adara menghela napasnya dan menoleh ke atas nakas yang biasa ada segelas air putih di sana. Namun kali ini tidak ada air putih dan malah ada boucket bunga yang cantik dan ada sebuah kotak kecil yang membuat Adara heran dengan wajahnya yang penuh dengan rasa penasaran.


"Apa ini?" tangannya dengan bingung yang mengambil Boucket bunga tersebut dan menghirup aroma bunga yang sangat harum itu.


Banyak jenis mawar yang warna-warni yang di jadikan satu dan membuat Adara tersenyum. Adara mendapat kartu ucapan pada bunga itu dan Adara langsung membukanya.


..."Selamat ulang tahun Azizie. Selamat juga untuk kelulusan kamu. Aku tidak percaya kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Kamu sukses terus ya dengan semua pencapaian kamu. Kamu bukan hanya seorang pelajar saja. Kamu juga seorang istri dan ibu yang sangat luar biasa. Aku minta maaf tidak bisa hadir di acara ulang tahun kamu. Sekali lagi selamat ulang tahun. Kamu bisa datang ke Milan," tulisan tangan yang sangat indah itu ternyata dari Arhan....


Wajah Adara langsung mengeluarkan senyum merekah. Saat akhirnya hadiah yang di tunggu-tunggunya datang juga Adara seperti gadis yang benar-benar jatuh cinta dan kembali menghirup Boucket mawar tersebut dengan tersenyum kegelian sendiri. Jika bisa terbang mungkin Adara akan terbang ke langit ke- tujuh.


Pagi harinya begitu indah mendapatkan bunga pertama kali dari Arhan. Tulisan yang indah seolah puisi cinta yang di siapkan untuknya. Dia seperti seorang wanita yang sempurna yang sangat di cinta.


Adara meletakkan Boucket tersebut di sebelahnya dan mengambil kotak kecil tersebut.


"Hadiah apa ini!" gumamnya dengan penasaran dan langsung membuka pita pada kotak kecil tersebut.


Adara membuka hadiah tersebut yang ternyata kalung yang berinisial A. Dan kalung itu sangat indah membuat Adara tersenyum dengan matanya berbinar mendapatkan hadiah yang sangat special dari suaminya itu.

__ADS_1


"Ya ampun bagus sekali," gumam Adara yang begitu bahagia melihat kalung itu. Wajahnya tidak hentinya mengeluarkan senyum yang sempurna dan bahkan Adara kembali rebahan dengan meletakkan Kaling itu di dadanya.


"Argghhh!" Adara berteriak gemes sendiri seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah luar biasa dari suaminya dan pasti itu yang di tunggu-tunggunya.


"Ternyata dia romantis juga. Wajah yang dingin dan sangat cuek. Tetapi dia pria yang hangat dan sangat romantis. Masih mengirim hadiah saja sudah seperti ini. Lalu bagaimana jika dia datang sendiri di acara ulang tahun ku. Aku tidak tau apa yang akan di lakukannya," gumam Adara yang begitu bahagia.


"Argghhh!" Adara menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang malu sendiri dengan dirinya yang terlalu aktif.


Krekkk


Pintu kamar terbuka yang ternyata Bibi datang bersama Alvian dan tanpa Adara sadari Bibi sudah di depan pintu. Bibi heran melihat Adara yang guling-guling di kasur membuat Bibi panik.


"Non Adara baik-baik aja?" tanya Bibi heran. Mendengar suara Bibi membuat Adara kaget dan langsung duduk dengan merapikan dirinya dan pura-pura tidak terjadi apa. Pasti Adara malu dengan apa yang di lihat Bibi.


"Nona baik-baik aja kan?" tanya Bibi yang memastikan sekali lagi.


"Oh iya baik-baik aja. Memang kenapa aku tidak baik-baik saja," sahut Adara yang tersenyum. Pura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Hanya olahraga saja. Adara malas turun jadi olah raga di atas kasur," jawab Adara bohong.


Bibi menoleh ke arah nakas dan melihat bunga tersebut sudah berpindah.


"Hanya olahraga atau karena hadiah dari mas Arhan!" goda Bibi yang tau aja.


"Issss apa sih Bi. Ya memang hanya olahraga," sahut Adara yang masih mengelak.


"Ya sudah kalau begitu. Buruan Nona mandi. Tuan sedang menunggu Nona di lapangan golf," ucap Bibi.


"Oh iya untuk apa papa menungguku?" tanya Adara heran dan pasti penasaran.


"Ya mana Bibi tau. Makanya Nona cepat temui tuan. Siapa tau ada hal yang penting yang ingin di sampaikan tuan," ucap Bibi.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu," sahut Adara dengan menurut saja apa kata Bibi.


"Oh iya. Alvian sudah makan?" tanya Adara.


"Sudah Non Adara," jawab Bibi.


"Bagus kalau begitu," sahut Adara dengan mengangguk tersenyum dan langsung menuju kamar mandi yang siap-siap untuk menemui Herlambang dan Bibi pun membersihkan tempat tidur tersebut.


"Mama Alvian sekarang itu seperti orang berbunga-bunga. Jatuh cinta dengan papa Alvian. Papa Alvian membuat mama Alvian jatuh hati," ucap Bibi geleng-geleng.


***********


Setelah Adara mandi dan juga tadi sempat sarapan dulu. Adara pun langsung menemui papanya di lapangan golf. Di mana Herlambang yang sedang bermain golf.


"Pah!" tegur Adara yang sudah berdiri di belakangnya Herlambang.


"Hmmm Adara," sahut Herlambang.


"Kamu tidak mau main golf?" tanya Herlambang.


"Nanti aja pah. Bibi bilang papa manggil Adara? Memang ada apa pah?" tanya Adara.


"Oh iya memang papa lagi memanggil kamu. Ayo duduk di sana!" sahut Herlambang yang mempersilahkan putrinya itu untuk duduk.


Adara pun duduk bersama Herlambang dengan saling berhadapan dengan pembatas meja.


"Papa senang kamu lulus dengan baik dan mempunyai nilai terbaik. Kamu bisa menyelesaikan pendidikan kamu dan juga tugas kamu. Papa benar-benar sangat bangga pada kamu Adara," ucap Herlambang.


"Itu juga berkat dukungan papa selama ini. Jadi semua prestasi yang Adara dapatkan. Itu turut dari campur tangan papa," ucap Adara yang harus mengakui. Jika semua yang di dapatkannya itu berasal dari dukungan Herlambang.


"Dan itu juga karena kemauan dan usaha kamu pastinya," sahut Herlambang yang bangga dengan Adara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2