TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Elias 39 Berlalu.


__ADS_3

Baru saja dia ingin membuang egonya dan ingin pergi menyusul Arhan ke Milan. Tau-tau Arhan malah juga ingin pergi dan membuat Adara hanya menghela napas saja yang pasti kecewa.


Adara yang lemas kembali mundur. Karena tidak bisa menyusul Arhan yang punya kesibukan sendiri dan Adara tidak bisa ikut sama sekali. Penjelasan singkat yang sudah di di berikan Herlambang sudah cukup menjelaskan Adara dan Arhan tidak akan bertemu.


Adara menghela napasnya dan harus kembali ke kamarnya dengan perasaannya yang sedih, marah, kecewa dan bercampur aduk yang menjadi satu.


Dengan memasuki kamarnya dengan tidak bersemangat Adara duduk di pinggir ranjang dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dan Adara yang menangis dengan menahan kesedihannya yang benar-benar sangat sedih.


Tangisnya mendadak pecah dengan terisak-isak sampai sulit bernapas. Mungkin saja hormon Adara saat hamil membuatnya sangat sensitif. Padahal sudah ingin menyusul Arhan. Tetapi ada aja yang membuat Adara tidak bisa menyusul Arhan dan bagaimana Adara tidak merasa sangat sedih.


Jadi Adara hanya menumpahkan kesedihannya lewat tangisan, meluapkan emosinya. Rindu yang bercampur aduk. Sudah merobohkan tembok gengsi. Tetapi tidak mendapatkan hasil membuat Adara hanya bisa kecewa dalam tangisannya.


***********


Sementara Arhan yang berada di dalam pesawat terlihat senduh dengan kemiringannya yang memegang ponselnya melihat layar ponsel itu. photo pernikahannya dengan Adara yang di jadikan wallpaper ponselnya. Saat Adara mencium punggung tangannya.


Tidak tau kapan Arhan menjadikan foto itu sebagai wallpaper. Mungkin juga barusan saya dia sudah di Milan. Karena sewaktu di Jakarta Arhan tidak membuat wallpaper itu photo pernikahan mereka. Mungkin juga Arhan juga merindukan Adara. Jadi mengubah wallpaper nya agar bisa di lihat Arhan.


Arhan menghela napasnya kasar dengan melihat tumpukan awan gelap dari jendela pesawat.


Flashback Of.


"Azizie kamu tidak mendengarku?" tanya Arhan dalam telponnya.


"Hmmm.. aku, aku dengar kok," jawab Azizie dengan gugup yang debaran jantungnya masih tidak berhenti berdetak kencang.


"Lalu bagaimana? Kamu sedang cuti sekolah. Apa salahnya kamu ke Milan. Aku akan menjemputmu di Bandara," ucap Arhan yang serius mengajak Adara untuk ke Milan.


"Atau aku akan menjemputmu langsung ke Jakarta!" tawar Arhan lagi.


"Tidak usah," jawab Adara dengan cepat.


"Aku coba tanya papa dulu! semoga ada solusi dari papa," sahut Adara yang buru-buru mematikan panggilan itu.


Arhan tersenyum mendengar jawaban Adara yang sudah bisa di tebak Arhan. Adara akan menyusulnya. Dengan senyuman yang masih melekat di wajahnya Arhan menurunkan ponselnya dari telinganya.


Dratt-dratt-dratttt-dratt.


Tiba-tiba panggilan masuk lagi dari Herlambang. Arhan sempat berpikiran Adara yang kembali menelponnya.

__ADS_1


"Aku pikir kamu!" gumam Arhan dengan dengan semangat mengangkat telpon itu.


"Iya pah!" sahut Arhan.


"Arhan ada masalah besar kita bertemu di Maroko," ucap Herlambang.


"Masalah apa pah?" tanya Arhan panik.


Herlambang menjelaskan panjang lebar dan Arhan hanya mendengarkan dengan tidak semangat. Ya dia tidak akan jadi bertemu Adara karena ada perintah penting dan Arhan tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena Herlambang yang di hadapinya.


Arhan juga sama seperti Adara yang penuh dengan kemurungan di dalam pesawat. Sepertinya ada rindu di Antara keduanya yang tidak bisa di sampaikan dan keduanya juga belum bisa bertemu. Karena ada kendala yang panjang.


Kembali membuang napas. Sangat berharap ada kesempatan. Jika dia yang bukan ke Jakarta maka Adara yang ke Milan. Namun harus bersabar. Karena Arhan juga Pria yang sibuk dengan pekerjaan.


**********


Adara yang sarapan di temani oleh Bibi. Wajahnya menunjukkan tidak adanya' semangat di dalam hidupnya.


"Non sarapannya jangan hanya di lihat saja. Ayo di makan!" tegur Bibi.


"Nggak nafsu Bi," sahut Adara yang memang tidak selera makan.


"Biarin aja dia tidak mau sarapan!" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing membuat Adara menoleh yang ternyata Lucia dengan memakai seragam sekolah yang duduk di samping Adara.


"Nggak usah di paksa-paksa. Lapar juga nanti dia yang repot," cicit Lucia yang mengambil setangkap roti.


"Adara kamu itu seharusnya senang udah libur sekolah. Jadi ratu dan tidak pusing dengan pelajaran. Jadi jangan banyak tingkah dan main drama di depanku!" ucap Lucia kesal.


"Aku tidak main Drama. Jika kamu tidak sukai kamu jangan di dekatku," jawan Adara ketus.


"Oh jadi kau mengusirku," sahut Lucia tersinggung.


"Aku sejak tadi di sini dan kau yang datang dan kau yang protes. Jika kau tidak suka kau bisa pergi," tegas Adara yang kesal.


"Jangan mentang-mentang ini rumahmu. Kau bisa sesukanya kepadaku. Aku juga ingin sarapan dan telingaku sakit mendengar keluhan mu setiap hari. Semua orang harus sibuk mengurus dirimu," Lucia malah marah-marah dengan emosinya yang terpancing.


Adara menghela napasnya perlahan kedepan dan berdiri dari tempat duduknya dengan cepat yang langsung pergi karena kesal melihat Lucia.


"Hey mau kemana kau. Aku belum selesai bicara?" panggil Lucia yang sama sekali tidak di respon Adara.

__ADS_1


"Hey!" teriak Lucia.


"Sialan!" umpat Lucia yang kesal dan emosi sendiri.


"Apa lihat-lihat!" Bibi jadi sasaran Lucia. Karena Bi sri yang melihat Lucia. Tidak ingin di sembur oleh Lucia. Akhirnya Bibi meninggalkan tempat itu.


"Issss," Lucia kesal sendiri yang merapatkan giginya dan tangannya yang terkepal. Dia yang memancing keributan dia sendiri yang marah dan Adara memilih pergi. Karena kepalanya sakit mendengar ocehan Lucia yang tidak penting sama sekali.


"Awas saja kau Adara, aku akan membalasmu!" ucap Lucia penuh dengan dendam.


*********


Adara belakangan ini sering termenung sendirian. Sama seperti ini Adara Ya duduk di taman dengan wajah murungnya. Ya dia kesepian. Sebenarnya biasanya Adara memang selalu kesepian. Karena hanya Bibi yang menemaninya.


Namun terasa berbeda semenjak kehadiran Arhan Adara harus mengakui jika dia tidak kesepian lagi dan maknanya sangat terasa saat Arhan sudah pergi dan sampai saat ini tidak dapat di temuinya.


"Non Adara melamun lagi!" tegur Bibi yang tiba-tiba datang membuat Adara sedikit terkejut.


"Bibi bikin Adara kaget aja," sahut Adara.


"Maaf Non Adara," sahut Bibi.


"Ayo Nona Adara kenapa melamun? Apa yang di pikirkan?" tanya Bibi.


"Tidak mikir apa-apa kok," jawab Adara dengan lesu.


"Jangan Bohong Nona. Bibi bisa melihat dari dari wajah Nona. Jika Nona itu bohong," ucap Bibi.


"Bibi sok tau deh," sahut Adara.


"Kalau begitu biar Bibi tebak. Jika Nona Adara ini pasti memikirkan mas Arhan kan!" tebak Bibi dengan menatap curiga Adara.


"Sok tau," sahut Adara kesal


"Bibi bisa lihat dari wajah Nona," sahut Bibi.


"Nona Adara jangan khawatir mas Arhan pasti akan pulang kok. Nona Adara tunggu saja," ucap Bibi.


"Apa sih Bi. Memang siapa yang ingin menunggunya," sahut Adara yang masih mengelak dan Bibi senyum-senyum pada Adara membuat Adara menyerngitkan dahinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2