
Deg-deg, deg, deg.
Suara jantung Adara berdetak dengan kencang saat Arhan menatapnya begitu dalam yang seolah ingin menerkam Adara.
"Lakukan dengan baik. Jangan setengah-setengah," ucap Arhan dengan suara seraknya saat mengarahkan tangan Adara ke dadanya untuk mengeringkan dadanya yang masih basah.
Adara hanya terdiam dengan beberapa kali menelan salavinya yang semakin jantungnya.
"Aku bukan anak kecil Azizie yang bisa kau perlakukan seperti tadi. Jadi bertanggung jawab atas perbuatanmu," ucap Arhan dengan suara beratnya.
Adara tersadar dari lamunannya dan menjatuhkan handuk itu.
"Bukan urusanku!" tegas Adara yang langsung pergi begitu saja dari hadapan Arhan. Adara sepertinya hanya menghindari salah tingkah dari Arhan. Semakin dia dekat dengan Arhan. Maka dia akan semakin grogi dan lebih baik pergi.
************
Akhirnya Adara, Arhan, Alvian dan Lulu pergi juga ke Malang. Mereka menggunakan mobil dan tidak menaiki pesawat. Alvian tampak Happy jalan-jalan bersama ke-2 orang tuanya.
Alvian duduk di samping Arhan yang mana Arhan sedang menyetir sementara Adara duduk di belakang bersama dengan Lulu. Dan Adara tidak bertegur sapa dengan Lulu sama sekali. Yang adanya Adara malas dekat-dekat dengan Lulu.
"Papa lama sekali sampainya," sahut Alvian sudah tidak sabar.
"Sabar Alvian sebentar akan sampai," jawab Arhan.
"Huhhhh lama sekali," sahut Alvian yang sudah tidak sabaran.
Arhan hanya geleng-geleng saja dengan Alvian yang memang sudah tidak sabaran bertemu dengan orang tuanya. Selama ini Alvian hanya bertemu lewat ponsel saja. Vidio call yang di sambungkan Arhan. Karena pasti Adara tidak menginjinkan Alvian di bawa Arhan ke Malang.
**********
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai juga di Malang. Suasana desa yang begitu sejuk itu membuat Alvian semakin bahagia. Mobil mereka sudah memasuki kampung halaman Arhan.
Mereka melewati perkebunan teh dan banyak hewan kambing yang yang berada di pinggir jalan yang memakan rumput. Alvian sampai membuka jendela yang selama ini matanya hanya melihat kota Jakarta yang penuh dengan Polusi dan sangat berisik.
Namun berada di tempat itu terlihat sangat nyaman dan begitu sejuk. Adara juga membuka jendela kaca mobil yang melihat keindahan kota tersebut.
"Sudah lama aku tidak ketempat ini. Sangat indah dan aku sangat merindukan desa ini," sahut Lulu dengan raut wajahnya yang bahagia.
Mendengarnya hanya membuat Adara sewot dan ingin rasanya memakai heansed agar suara cempreng Lulu tidak kedengaran.
"Nggak usah berlebihan biasa aja," ucap Adara dengan pelan. Arhan yang menyetir hanya diam saja dengan melihat dari kaca spion.
__ADS_1
"Kita sampai rumah kakek dan nenek!" ucap Arhan yang akhirnya mereka semua sampai di pekarangan rumah itu.
Aminah dan Amir sebelumnya mendapat kabar tentang kedatangan Arhan. Jadi Aminah sudah menyiapkan semuanya dan aminah dan suaminya menyambut Arhan dan yang lainnya di depan rumah.
Ketika sampai Arhan mematikan mesin mobil dan langsung keluar dari mobil. Sebelum menyapa ke-2 orang tuanya Arhan terlebih dahulu membuka pintu mobil untuk Alvian dan juga Adara. Lalu semuanya menyusul keluar dari mobil.
"Ibu!" sahut Arhan yang menghampiri orang tuanya dan memeluk ibu dan ayahnya itu.
"Arhan kamu sudah lama sekali tidak datang. Ibu sangat merindukan kamu," Aminah memeluk putranya itu begitu erat.
"Aku juga mah," sahut Arhan. Setelah melepaskan rindu pada Aminah. Arhan juga memeluk Amir.
"Bapak sehat?" tanya Arhan.
"Alhamdulillah kamu lihat sendiri sehat-sehat saja," sahut Amir yang memang terlihat fresh.
Adara yang sejak tadi di belakang Arhan. Mencium punggung tangan Amina dan bergantian dengan Amir. Melihat hal itu membuat Arhan cukup kaget. Ya biasanya Adara tidak akan mau melakukan hal itu. Namun tidak di suruh Adara mau-mau saja melakukannya.
"Kamu sehat Adara?" tanya Herlambang.
"Sehat," jawab Adara dengan singkat.
"Hallo kakek nenek!" sapa Alvian dengan ceria.
"Cucu kami ternyata semakin tampan," puji Aminah gemes dengan Alvian.
"Kan sebentar lagi akan besar seperti papa," sahut Alvian membuat Aminah dan Amir tersenyum.
"Tante Om!" sapa Lulu yang juga memeluk Aminah dan Amir.
"Kamu apa kabar Lulu?" tanya Aminah.
"Baik-baik aja Tante," jawab Lulu.
"Ya sudah sebaiknya kita masuk. Alvian nenek buat kue yang banyak untuk kamu. Ayo masuk," ajak Aminah.
"Baik nek," sahut Alvian dengan semangat. Mereka semua masuk. Sementara Arhan masih mengeluarkan koper dari dalam bagasi mobil.
Adara dan Alvian di perlakuan sangat istimewa oleh Aminah. Sejak tadi Aminah terus menawarkan Adara kue-kue khas desa tersebut yang membuat Adara merasa tidak enak. Arhan yang di depan pintu melihat hal itu tersenyum.
Dia merasa lega dengan Adara yang tidak membuat ulah dengan mengingat kejadian saat mereka pertama kali menikah dan untuk Adara tidak melakukan hal yang sama dan sepertinya menerima saja perlakuan Aminah dan Herlambang.
__ADS_1
***********
Tidak tau berapa lama mereka akan menginap di Malang. Aminah yang berada di dapur yang sedang menyiapkan makan malam.
"Alvian di mana Bu?" tanya Arhan yang tidak melihat Alvian.
"Di bawa bapak jalan-jalan," jawab Aminah.
"Azizie ikut?" tanya Arhan.
"Azizie lagi di kamar. Mungkin beres-beres pakaian," jawab Aminah.
"Di kamar. Dia mau tidur di kamar?" tanya Arhan heran. Kamar di rumah itu pasti sangat berbeda dengan kamar Adara. Jadi wajar jika Arhan kaget.
"Ya memang kenapa? Ada yang salah. Azizie terlihat biasa saja," sahut Aminah heran dengan pertanyaan Arhan.
"Sudah sana sebaiknya kamu bantuin istri kamu untuk beres-beres. Nanti kita makan sama-sama," ucap Aminah.
"Baiklah!" sahut Arhan hendak pergi dari dapur. Namun langkah Arhan terhenti ketika melihat foto yang terpajang di dingding yang membuat Arhan kaget.
Ada foto Azizie saat hamil tua bersama dengan ke-2 orang tuanya. Membuat Arhan kaget melihatnya.
"Bukannya ini Azizie?" tanya Arhan membuat Aminah melihat ke arah Arhan.
"Ya iyalah terus siapa lagi?" tanya Aminah kembali.
"Dia pernah datang kemari?" tanya Arhan.
"Kamu tidak tau?" Aminah balik bertanya dan menghampiri Arhan.
"Arhan saat istri kamu hamil besar dan kamu di Luar Negri. Dia itu pernah tinggal di sini hampir 1 bulan lebih. Ibu juga kaget saat melihat Azizie datang kerumah kita. Dia minta maaf dengan apa yang di katakannya saat ibu dan bapak datang ke tempat pak Herlambang dan Azizie tinggal di sini saat itu," jelas Aminah yang membuat Arhan kaget.
Pantesan Adara biasa saja saat berada di Malang. Seperti tidak asing dan terlihat santai.
"Istri kamu pada awalnya memang sangat baik, anak yang manis dan sangat lembut. Menikah di usia muda mungkin membuat dirinya tidak stabil. Tetapi dia dasarnya mau mengakui kesalahan dan tidak malu minta maaf," ucap Aminah.
"Arhan. Pernikahan kamu dengan Azizie mungkin tidak sesuai yang kalian harapkan. Namun tidak ada salahnya untuk belajar. Dia masih sangat mudah dan kamu yang lebih dewasa harus lebih banyak untuk memahaminya. Lihatlah tanpa kamu suruh atau kamu paksa dia datang sendiri kerumah ini dan meminta maaf," jelas Aminah.
Arhan tidak menduga. Seorang wanita yang di kenalnya itu bisa melakukan hal itu
Wajah Arhan sudah memperlihatkan rasa kagumnya kepada Adara.
__ADS_1
Bersambung