
Arhan kembali menghampiri anak dan istrinya setelah pekerjaannya selesai. Adara dan Alvian kembali masuk mobil dan mereka masuk lewat pintu depan. Ternyata mereka di modifikasi Arhan menjadi tempat tidur. Untung saja mobil itu mobil mewah. Jadi jok nya bisa di buat tempat tidur. Hanya kursi pengemudi saja yang tetap utuh yang lainnya sudah menyatu karena di akali Arhan.
"Wau Alvian jad bisa tidur. Seperti di kamar. Papa benar- benar sangat keren," sahut Alvian yang sudah masuk kedalam mobil dan duduk bersilah kaki. Arhan dan Adara juga sudah masuk. Namun Arhan masih terlihat sibuk yang membuka koper merek
"Alvian sini ganti baju dulu. Nanti masuk angin!" ucap Arhan yang ternyata mengambil baju Alvian. Alvian mengangguk dan di bantu Arhan membuka bajunya dan mengganti bajunya.
Setelah itu Arhan juga mengambil baju Adara dan memberikannya pada Adara.
"Kamu juga ganti baju!" titah Arhan.
"Di sini?" tanya Adara. Arhan mengangguk.
"Mana mungkin!" sahut Adara. Dia memakai Jeans dan pasti sangat sangat sulit untuk mengganti pakaiannya.
"Alvian tunggu sebentar di sini ya. Papa temani mama sebentar untuk ganti baju!" ucap Arhan. Alvian mengangguk.
Adara dan Arhan pergi keluar dari mobil dan menumpang kamar mandi untuk Adara berganti pakaian. Padahal Alvian dan Adara tidak terlalu basah. Tetapi Arhan malah lebih memperdulikan istri dan anaknya.
**********
Arhan, Adara dan Alvian sudah kembali berada di dalam mobil. Yang sekarang mereka menikmati pop mie. Sangat cocok di makan hujan-hujan seperti sekarang ini. Arhan juga sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja putih.
Hujan bahkan semakin deras. Dan belum lagi suara petir yang semakin kuat terus saling bertautan. Sinarnya juga sangat menggangu mata yang membuat Adara beberapa kali memejamkan mata. Dia begitu takut dengan petir dan makan pun Adara sudah tidak nyaman.
"Tidak apa-apa kamu jangan takut," ucap Arhan yang tau istrinya itu sedang panik.
"Iya," sahut Adara.
"Alvian makannya sudah selesai?" tanya Arhan.
"Sudah pah!" sahut Alvian yang membuat Arhan tersenyum.
__ADS_1
"Mau tidur?" tanya Arhan.
"Sejak tadi Alvian mengantuk dan ingin tidur," jawab Alvian.
"Ya sudah tidak apa-apa. Alvian tidur saja," ucap Arhan.
"Baik pah," sahut Alvian. Arhan membantu Alvian untuk beristirahat. Mereka juga sudah selesai makan.
Alvian sudah berbaring yang tertidur dengan nyenyak. Adara dan Arhan masih duduk bersebelahan dengan bersandar pada dingding mobil dengan kaki yang setengah lurus.
"Kamu tidak tidur?" tanya Arhan.
"Kalau aku berbaring seperti Alvian. Kamu akan berbaring di mana?" tanya Adara. Karena memang mobil itu tidak cukup untuk 3 orang untuk berbaring lurus seperti Alvian. Sebenarnya cukup- cukup aja. Tetapi akan sangat sempit dan kasihan juga Alvian kalau sampai kesempitan.
"Aku bisa di depan," jawab Arhan, "istirahatlah!" ucap Arhan.
Adara menghela napasnya dengan kasar dan menoleh ke arah Arhan.
"Kenapa hanya peduli pada orang lain. Kamu juga manusia sejak tadi bolak-balik keluar basah, rambut kamu saja belum kering dan sekarang mau ini mau itu lagi. Pedulikan diri kamu sendiri baru orang lain!" ucap Adara dengan penegasan.
"Sudah menjadi kewajibanku untuk lebih memperdulikan kamu dan Alvian," lanjut Arhan lagi. Adara hanya terdiam dengan kata-kata Arhan.
"Kenapa begitu baik kepadaku dan juga Alvian?" tanya Adara.
"Tidak ada alasan untuk semua itu Azizie," jawab Arhan.
Tiba-tiba Arhan menghadap Adara dengan memegang kedua pipi Adara. Wajah mereka saling berdekatan dan mata mereka saling menatap. Tidak lama kemudian Arhan mencium kening Adara membuat Adara memejamkan matanya.
"Jika ingin istirahat maka istrirahat lah. Aku kedepan dulu!" ucap Arhan. Namun Adara menghentikan Arhan membuat Arhan tidak jadi pergi dan kembali berhadapan dengan Adara.
"Ada apa?" tanya Arhan.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan sesuatu!" ucap Adara dengan jantungnya yang berdetak begitu kencang.
"Mengatakan apa?" tanya Arhan dengan lembut.
"Aku minta maaf," ucap Adara.
"Minta maaf! Soal apa?" tahta Arhan. Dia merasa tidak punya masalah dengan istrinya itu.
"Kejadian 3 tahun lalu," ucap Adara yang akhirnya baru minta maaf setelah menyadari jika semua itu bukan Arhan yang salah. Tetapi dirinya yang salah paham.
"Aku tidak tau. Kenapa harus minta maaf. Padahal masa itu sudah sangat lama," ucap Arhan.
"Aku merasa harus minta maaf. Karena aku sadar itu hanya kesalahanku. Aku berpikiran buruk pada kamu," ucap Adara yang mengakui kesalahannya yang membuat Arhan tersenyum.
"Maafkan aku Arhan," ucap Adara.
"Jangan meminta maaf lagi. Masa itu sudah berlalu. Kamu tau Azizie mendengar kamu yang meminta maaf membuatku merasa sangat bahagia," ucap Arhan membuat Adara tersenyum tipis.
"Aku tidak percaya. Jika kata maaf itu akan keluar dari mulut kamu. Memang iya masalah itu sudah berlalu dan ketika Lulu datang ke Jakarta dan kamu tau semuanya. Jujur aku masih menunggu kamu untuk mengatakan maaf. Karena aku tau saat itu kamu menyadari jika semua itu salah paham. Tapi kamu tau Azizie. Aku sangat suka melihat kamu marah waktu salah paham denganku dan Lulu," ucap Arhan yang berbicara tidak hentinya menatap Adara. Mendengar kata-kata Arhan hanya membuat Adara diam dan tidak berkutik sama sekali.
Tiba-tiba tangan Adara memegang tangan pipi Arhan. Rasa gengsinya sudah hilang dengan Arhan yang yang semakin lama semakin menunjukkan ketulasan nya. Sejak dulu Arhan memang tulus. Namun sekarang semakin tulus.
"Kamu baik sekali," ucap Adara dengan lembut. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
"Aku ingin mengatakan. Jika aku dan Brian tidak ada hubungan apa-apa," lanjut Adara yang tidak tau kenapa harus mengatakan gak itu pada Arhan. Mendengar pernyataan itu membuat Arhan tersenyum dan membawa Adara ke dalam pelukannya. Memeluk erat Adara.
"Aku tau itu," sahut Arhan. Adara tersenyum di pelukan Arhan. Sebenarnya tanpa mereka mengatakan apa-apa tentang perasaan mereka. Keduanya sudah saling mengetahui perasaan mereka masing-masing.
Arhan melepas pelukan itu dan kembali memegang pipi Adara. Arhan mencium bibi Adara dan Adara lagi-lagi tidak menolak. Namun ciuman itu hanya sebentar saja.
"Alvian bisa bangun jika kita berisik!" ucap Arhan tersenyum yang mengingatkan Alvian ada di antara mereka. Sangat bahaya jika ciumannya di lanjutkan. Hal tidak terduga akan terjadi dan Alvian ada di sana.
__ADS_1
Adara mengangguk dan Arhan merangkul bahu Adara. Kepala Adara bersandar pada bahu Arhan. Ya lebih baik mereka tidur dengan cara seperti itu dari pada Arhan harus di depan.
Bersambung