TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 32 Ngidam yang langsung ada


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba. Adara yang sudah bangun dan sudah bersih-bersih. Sudah mandi cantik dengan kaos putih over size dengan celana hotpants yang di pakainya yang keluar dari kamar menuju teras.


"Nona Adara baru bangun?" tanya Bibi yang merawat tanaman bunga anggrek yang bergantung di teras.


"Iya Bi," sahut Adara.


"Apa ini Bi?" tanya Adara melihat buah yang berada di atas keranjang buah yang ada di meja.


"Itu untuk non Adara. Buah kecapi," jawab Bibi.


"Wau, jadi ini yang namanya buah kecapi," ucapnya Adara yang tampak bahagia dengan matanya berbinar dan langsung duduk yang sudah tidak sabaran untuk memakan buah tersebut.


"Iya non itu buah kecapi," ucap Bibi.


"Ini untuk Adara kan?" tanya Adara yang ingin kepastian.


"Iya Nona Adara," jawab Bibi.


Adara yang kesenangan langsung membukanya yang ingin mencicipi rasanya.


"Enak ternyata rasanya," Adara yang sangat menikmati rasanya dengan ekspresi wajahnya yang sangat bahagia.


"Iya itu untuk Nona Adara semuanya. Mas Arhan yang mencarikannya," jawab bibi.


"Dia!" sahut Adara. Bibi menganggukkan kepalanya.


"Kapan?" tanya Adara yang masih memakan buah itu. Rasanya yang nikmat membuatnya ingin makan dan makan lagi.


"Bibi juga tidak tau yang jelasnya tadi menyuruh Bibi untuk mencucinya dan sekarang baru deh Nona bisa makan," jelas Bibi.


"Ohhhh," sahut Adara.


Tadi malam dia memang meminta buah itu pada Arhan dan Arhan bilang akan mencarinya. Tau-tau pagi-pagi buahnya sudah ada saja.


"Enak Nona?" tanya Bibi.


"Iya Bi sangat enak. Adara baru pertama kali mencobanya dan ternyata begitu enak," jawab Adara.


"Berterima kasih pada mas Arhan. Dia sudah mencarinya dan pasti tidak mudah. Mas Arhan itu sangat baik Nona. Nona tau sendiri tuan Herlambang sangat sulit untuk percaya kepada siapapun. Tetapi mas Arhan dia sangat percaya. Karena pasti sudah mengenal lama dan makanya memercayai mas Arhan untuk menjaga Nona," ucap Bibi yang selalu memuji Arhan.

__ADS_1


Adara hanya diam yang mendengar pujian Bibi pada Arhan dengan Adara yang terus memakan buah tersebut sembari menyimak pujian Bibi.


"Nona Adara juga waktu ke sasar di hutan. Mas Arhan yang membantu Nona dan melakukan banyak cara. Agar racun di dalam tubuh Nona tidak menyebar dan membuat kandungan Nona tidak kenapa-kenapa. Tanpa Bibi mengatakan. Nona Adara pasti sudah mulai merasakan ketulusan mas Arhan," lanjut Bibi.


"Jadi memang benar dia yang menolongku dan aku memang ingat aku di gigit ular," batin Adara.


Adara memang merasa ada sesuatu dan merasa Arhan ada di sisinya. Tetapi pasti untuk Adara sendiri malas untuk menanyakan hal tersebut. Jadi mau tidak mau Adara hanya menunggu saja dan sekarang Bibi menjelaskan kepadanya.


"Jadi Nona Adara adalah salah satu wanita yang sangat beruntung," ucap Bibi.


"Sudahlah Bi jangan memujinya terus aku masih mau makan," sahut Adara.


"Iya maaf Nona, jika bibi mengganggu makan Nona. Tetapi apa yang bibi katakan adalah benar," sahut Bibi yang melanjutkan pekerjaannya.


Adara hanya diam yang kembali melanjutkan memakan buah tersebut.


"Oh iya Bi memang orang hamil tidak boleh makan nenas ya?" tanya Adara.


"Iya. Karena bisa bahaya pada janin yang masih muda," jawab Bibi.


"Makan pedas?" tanya Adara.


"Banyak resiko dan memang harus hati-hati," jawab Bibi.


"Nanti takutnya darah tinggi. Tetapi kalau sedikit bisa," jawab Bibi.


"Dia memang tau semuanya. Issss benar kali dia pasti pernah hamil," cicit Adara.


"Siapa yang pernah hamil Nona?" tanya Bibi heran.


"Oh nggak siapa-siapa kok Bi," jawab Adara dengan tersenyum. Bibi hanya geleng-geleng saja yang melanjutkan pekerjaannya.


"Lalu di mana dia?" tanya Adara.


"Dia siapa?" tanya Bibi


"Issss sudahlah Bibi jawab aja," sahut Adara.


Bibi tersenyum dan menunjuk ke arah bawah. Adara berdiri dari tempat duduknya dan melihat Arhan yang sedang di menembak dengan sasaran yang cukup jauh dan Arhan terlihat begitu gagah dalam menembak. Di tambah Arhan yang memakai kemeja hitam dengan lengan panjang yang cukup ketat menunjukkan otot-ototnya.

__ADS_1


Adar terus memperhatikan Arhan yang begitu serius dan sangat lihai dalam melakukan pekerjaannya itu membuat Adara seolah kagum dengan Arhan.


"Tampan ya suaminya," celetuk Bibi.


"Apa sih Bi," sahut Adara yang tiba-tiba malu dengan pipinya memerah. Namun bibi hanya tersenyum yang melihat Adara yang tidak bisa bohong jika mulai mengagumi Arhan dan suka memperhatikan Arhan diam-diam.


"Nona mau sarapan?" tanya Bibi.


"Hmmm boleh," sahut Adara.


"Ya sudah Bibi ambil ya," sahut Bibi.


Adara mengangguk dan Bibi langsung pergi. Sementara Adara masih tetap melihat Arhan yang menembak dengan sangat cool.


Arhan membuang napasnya perlahan kedepan dan mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya yang terlihat panas. Arhan meletakkan tembaknya dan membuka kancing kemejanya satu persatu. Lalu membuka kemejanya yang kembali memperlihatkan tubuh kotak-kotak dengan lengan yang berotot.


Melihat hal tersebut membuat Adara diam terpaku dengan mata yang tidak berkedip sama sekali melihat tubuh suaminya itu.


Bisa-bisanya tiba-tiba Adara melihat dirinya ada di depan Arhan yang sedang melap keringat Arhan. Tidak tau apa yang di pikirkan Adara yang bisa-bisa mengkhayal sejauh itu.


Dor!!!!


Adara terkejut saat suara tembakan itu terdengar kuat. Tanpa di sadari Adara, Arhan sedang memperhatikannya dan menembak ke arah Adara yang ada tiang di sana membuat Adara kaget dan melihat ke arah Arhan yang sedang menaikkan sebelah alisnya.


"Adara apa yang kau pikirkan," gumamnya kesal sendiri yang sudah mengkhayal terlalu jauh. Dan kembali melihat Arhan yang dengan posisi Arhan yang masih sama menatapnya dengan heran.


"Issss sial!" umpat Adara yang langsung pergi dari tempat itu.


Dia merasa sudah tidak waras dengan dirinya yang bisa-bisanya punya khayalan terlalu tinggi dan bahkan sampai Arhan ada menangkapnya yang sedang mengkhayal. Adara yang adanya pasti malu sendiri.


Sementara Arhan hanya menghela napas dengan geleng-geleng kepala.


"Ck. Ada-ada saja yang di lakukannya," gumam Arhan yang kembali melanjutkan menembak.


**********


Adara memasuki kamarnya dengan menutup pintu yang bersandar pada pintu dengan Adara yang menghela napasnya yang merasa sudah sedikit jauh lebih tenang.


"Adara apa yang kamu pikirkan. Kenapa kamu bisa-bisanya memikirkan dia. Kamu benar-benar keterlaluan Adara. Mengkhayal yang terlalu jauh,"

__ADS_1


"Bagaimana jika dia tau kalau kamu tadi memikirkannya. Dia pasti akan mengejekmu jadi berhentilah Kiara. Berhenti kamu berpikiran seperti itu," Adara bergerutu sendiri yang penuh merasa dirinya sudah tidak waras sampai Kiara mengacak-acak rambutnya frustasi dengan pemikiran yang terlalu jauh yang lengket di otaknya.


Bersambung


__ADS_2