TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 85 Rencana Adara.


__ADS_3

Penjelasan Lulu hanya membuat Adara terdiam. Bisa-bisanya selama 3 tahun Adara dalam kesalah pahaman. Adara melihat kearah Arhan. Ekspresi Arhan hanya datar. Dia sudah berusaha menjelaskan pada Adara. Namun kesempatan tidak di berikan Adara dan makanya Arhan sekarang masa bodoh. Karena pasti kebenarannya akan terjadi.


"Adara kamu baik-baik saja?" tanya Herlambang yang melihat Adara diam saja.


"Iya," sahut Adara dengan pelan. Dia juga tidak tau apa lagi yang harus di katakannya.


"Kak Arhan. Makasih ya kakak sudah menginjinkan aku untuk datang berkunjung kemari dan tadi menjemputku di Bandara bersama Alvian," sahut Lulu dengan tersenyum kepada Arhan. Senyum Lulu pada Arhan membuat Adara kembali kesal. Antara kesal dan cemburu sih.


"Kenapa harus berterima kasih kepadaku. Papa yang mengundangmu," sahut Arhan.


"Iya benar. Makasih pah sudah mengundangku sebelum aku kembali ke Malang besok," sahut Lulu.


"Iya Lulu. Jadi kamu bisa nikmati hari ini di Jakarta," sahut Herlambang.


"Oh jadi dia akan pulang kampung besok. Baguslah itu artinya dia tidak lama-lama di sini," batin Adara yang senang.


"Kamu besok berangkat jam brapa Lulu?" tanya Herlambang.


"Tergantung kak Arhan saja," jawab Lulu. Jawaban Lulu membuat Adara menyerngitkan dahinya yang menyebut-nyebut suaminya.


"Kenapa tergantung papa?" tanya Alvian mewakili pertanyaan Adara.


"Alvian besok papa akan antar Tante Lulu Kemalang. Sekalian papa juga menginap di rumah nenek dan kakek di malang soalnya papa sudah lama tidak ke malang," jawab Arhan.


"Jadi papa akan di sana?" tanya Alvian. Arhan mengangguk.


"Ya. Padahal baru 2 hari di sini dan mau pergi lagi," sahut Brian dengan lesuhnya.


"Apa-apaan sih. Itu pasti alasannya saja. Walau wanita bernama Lala Lulu atau siapa itu adalah sepupunya. Tetapi tetap aja aku melihat mereka itu sama-sama ganjen dan pasti mau terus dekat dengan peliharaannya itu," Adara bergerutu sendiri di dalam hatinya yang kesal dengan Arhan.


"Kalau Alvian tidak mau jauh dari papa. Kenapa tidak ikut saja bersama papa," sahut Herlambang memberikan ide.


"Memang boleh?" tanya Alvian dengan semangat.


"Kenapa tidak boleh. Di sana ada kakek dan nenek Alvian. Mereka juga pasti rindu cucu mereka. Alvian juga baru berulang tahun. Belum dapat hadiahkan dari kakek Amir dan nenek Aminah," sahut Herlambang.

__ADS_1


"Iya benar kakek. Kalau begitu Alvian mau ikut papa!" sahut Alvian kegirangan.


"Tapi Alvian harus tanya mama dulu. Apa mama mau pergi bersama Alvian," sahut Herlambang.


"Yahhhhh, benar juga," Alvian kembali lesuh dengan mengehela napas yang pasti sudah tau jawabannya Adara tidak akan mengijinkannya. Melihat perubahan eksperesi Alvian membuat Herlambang dan Arhan tersenyum.


Alvian harus melancarkan aksinya dengan menghampiri Adara. Dia harus melakukan sesuatu hal agar Adara menginjinkannya.


"Mama Alvian yang cantik. Alvian baru ulang tahun dan Alvian mau hadiah dari kakek dan nenek di malang. Boleh ya kita ikut sama papa ke sana. Alvian janji tidak akan buat mama kesal kalau nanti di sana," ucap Alvian yang melancarkan rayuan mautnya pada Adara dengan memegang kedua tangan Adara. Arahan dan Herlambang saling melihat. Yang pasti mereka gemas dengan Alvian mengeluarkan jurus rayuannya.


"Baiklah kita akan ikut bersama papa," sahut Adara yang menjawab tanpa ada basa-basi.


"Mama bercanda," sahut Alvian terkejut dengan jawaban. Tidak banyak cerita Adara langsung setuju saja. Bagaimana Alvian tidak kaget.


"Tidak bercanda. Mama harus mengawasi kamu di sana dan kita akan berangkat besok," sahut Adara dengan santai.


Mendengar hal itu membuat Arhan mendengus dengan tersenyum. Sangat aneh jawaban Adara. Bisa-bisanya ingin pergi ke kampung halaman Arhan tanpa berpikir dulu. Arhan masih mengingat. Jika pertama kali orang tuanya datang ke rumah Herlambang Adara begitu marah dan bersikeras tidak akan pernah mau pergi kekampung Arhan.


Alvian yang masih tidak percaya yang mendapatkan izin dari sang mama. Alvino memegang dahi Adara dengan punggung tangannya membuat Adara menyerngitkan.


"Mama tidak sakitkan?" tanya Alvian.


"Mama berubah pikiran nih," ancam Adara.


"Jangan mama sayang. Kita akan pergi tempat papa," sahut Alvian yang tidak mau sang mama berubah pikiran.


"Yeeeeeeeeeee Alvian biasa jalan-jalan nanti di sana," sahut Alvian yang kegirangan. Arhan tersenyum melihatnya. Tatapan mata Arhan berpindah ke pada Adara dan Adara mengalihkan pandangannya.


Adara mungkin tidak ingin membiarkan Arhan berlama-lama dengan Lulu. Jadi dia ingin mengawasi Arhan.


**********


Di dalam kamar Adara sedang menyiapkan pakaian yang akan di bawa untuk besok saat berangkat ke Malang. Dia membawa pakaiannya dan juga pakaian Alvian pastinya.


Tiba-tiba Adara mendengar suara-suara wanita yang terlibat cekcok. Membuat Adara menuju jendela dan melihat ke bawah. Ternyata ada Arhan di Antara Lulu dan Lucia. Tidak tau apa yang terjadi. 2 Wanita itu terlihat berdebat yang membuat Adara bingung.

__ADS_1


"Kenapa sih mereka?"


"Merebutkan dia? Astaga apa sudah tidak ada apa laki-laki di dunia ini. Bisa-bisanya merebutkan suami orang. Tarik sana tarik sini. Dia lagi apaan sih pasti caper. Sengaja tebar pesona," cerocos Adara yang mengamuk dengan apa yang di lihatnya yang membuatnya kesal.


Memang tidak tau ada apa. Lengan Arhan di tarik Lulu dan juga Lucia memang dari kejauhan tampak seperti memperebutkan Arhan.


"Aku kasih pelajaran nih kalian," sahut Adara dengan kesal yang langsung pergi dari jendela kamar itu.


Tidak lama Adara kembali ke jendela yang sudah membawa ember yang berisi air dan tanpa ampunan Adara langsung menumpahkan semua air itu tepat di atas kepala Arhan, Lucia dan Lulu yang membuat mereka keget yang sudah terguyur.


"Oh My God," heran Lucia dengan kesal yang basah kuyup termasuk Arhan dan Arhan langsung melihat ke atas. Di mana Arhan melihat Adara yang menutup jendela kamar dengan penuh kekesalan. Arhan menyunggingkan senyumnya saat melihat tingkah Adara.


"Kenapa bisa ada hujan lokal," sahut Lulu.


"Dasar ini semua gara-gara kamu!" Lucia menyalahkan Lulu dan Lucia langsung pergi.


***********


Arhan dengan baju basahnya yang mendapat guyuran dari Adara langsung memasuki kamar untuk mengganti pakaiannya dan Adara sudah kembali pada pekerjaannya yang memasukkan pakaian kedalam koper.


Arhan menuju lemari untuk mengambil salah satu pakaian gantinya yang itu artinya Arhan dan Adara berdekatan bahkan bersebelahan dengan Adara.


"Kenapa menyiram kebawah?" tanya Arhan.


"Aku tidak sengaja. Ada air di kamar mandi bergenang di dalam ember. Dari pada banyak nyamuk lebih baik di buang pada tempatnya," jawab Adara santai.


"Kenapa harus di buang di luar. Ada orang di sana sebelumnya. Seharusnya buang di kamar mandi?" tanya Arhan yang sudah membuka bajunya.


"Terserahku tangan-tangan ku," sahut Adara dengan ketus.


"Tapi aku menjadi basah," sahut Arhan.


Adara menghela napasnya dan menghadap Arhan. Adara sudah tidak canggung melihat Arhan telanjang dada. Mungkin sudah biasa bagi Adara.


"Lalu aku harus apa? Apa ingin di keringkan?" tanya Adara dengan alisnya yang terangkat.

__ADS_1


"Hmmm, begitu rupanya. Baiklah aku akan mengeringkannya," sahut Adara mengambil handuk dan langsung melap tubuh Arhan dengan asal-asalan. Arhan hanya melihat saja apa yang di lakukan Adara. Namun tiba-tiba Arhan menarik pergelangan tangan Adara dan menarik Adara lebih dekat dengannya sehingga Adara menabrak dada bidang Arhan dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


Bersambung.


__ADS_2