TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 52 terjebak hujan.


__ADS_3

Selesai makan keduanya pergi dari Restauran tersebut. Namun mereka tidak langsung pulang. Mereka masih berjalan-jalan di pinggir pantai. Kebetulan di dekat Restaurant tersebut dekat dengan pantai. Jadi mereka berjalan-jalan dulu sebentar.


"Kalau kesulitan memakai heels tidak apa-apa di buka saja," ucap Arhan yang melihat Adara masih betah saja menggunakan Heelsnya.


"Tidak kok. Tidak sulit, aku biasa memakainya," sahut Adara dengan percaya dirinya yang sok-sokan kuat. Padahal pasti kakinya itu sudah pegal sekali.


"Yakin?" tanya Arhan. Adara mengangguk dengan cepat.


"Baiklah," sahut Arhan yang tidak mau memaksa Adara. Dan Adara harus menahan menggunakan heels, padahal kakinya mulai pegal.


"Huhhhhhh!" tiba-tiba Adara menghentikan langkahnya dengan membuang napasnya dengan berat. Adara terlihat lelah dan sangat ngos-ngosan dengan deru napasnya yang naik turun.


"Kenapa?" tanya Arhan.


"Dari tadi jalan terus. Kakiku sakit. Apa tidak bisa berhenti," keluh Adara dengan bawelnya yang membuat Arhan tersenyum.


"Isssss malah ketawa," Adara begitu kesal melihat Adara malah senyum. Namun tiba-tiba Arhan sudah berjongkok di depan Adara dengan satu lutut Arhan bersentuhan dengan pasir. Adara heran apa yang mau di lakukan suaminya itu yang ternyata membuka heelsnya.


Perlakuan Arhan yang sangat manis membuat hati Adara kembali bergetar dengan hebat. Tersenyum dengan manis yang lagi-lagi dia seorang ratu yang di perlakukan dengan sangat baik. Oleh pria yang tampan yang sering di gaduhinya itu.


"Lebih baik tanpa alas kaki," ucap Arhan mengangkat kepalanya. Adara menganggukkan kepalanya yang menurut saja. Arhan berdiri kembali.


"Ayo jalan lagi!" ucap Arhan yang masih memegang heels Adara.


"Biar aku aja yang membawa heels ku," ucap Adara yang juga tidak mau membuat Arhan harus memegang sepatunya itu.


"Biar aku saja," tolak Arhan.


"Tapi!" sahut Adara.


"Ayo jalan!" Arhan mempersilahkan kembali dan Adara tidak punya pilihan lain yang langsung mengangguk dan mereka berjalan kembali dengan bersamaan.


Namun di tengah mereka yang berjalan tiba-tiba hujan turun. Keduanya sama-sama melihat ke atas langit. Arhan langsung memegang tangan Adara dan membawa Adara berlari untuk berteduh dan Adara mengikut saja saat Pria itu membawanya.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka berteduh di sebuah pondok yang membuat mereka terlindung dari hujan.


"Padahal cuacanya bagus. Tetapi bisa-bisanya tiba-tiba hujan," ucap Arhan yang menghela napasnya dengan matanya melihat ke atas langit.


Tidak mendapat respon dari Adara membuat Arhan menoleh ke arah Adara. Adara tampak kedinginan dengan memeluk tubuhnya. Napasnya terus menghembus memberikan kehangatan untuk dirinya sendiri.


Maklumlah pakaian yang di kenakannya sangat terbuka dan bagaimana tidak kedinginan.


Arhan yang peka meletakkan sepatu Adara dan Arhan membuka jasanya yang langsung menutup ketubuh Adara untuk memberikan Adara kehangatan. Saat Arhan melakukan hal itu membuat Adara melihat terus ke arah Arhan. Lagi dan lagi Adara melihat tatapan mata Arhan tidak pernah berubah yang selalu mengkhawatirkannya.


"Duduk di sana!" titah Arhan.


Adara menganggukkan kepalanya dan mereka duduk. Pondok yang mereka datangi seperti lesehan dan keduanya duduk dengan kaki mereka yang saling mengayun.


Melihat Adara yang masih kedinginan membuat Arhan memengang kedua tangannya itu dan lagi-lagi Arhan memberikan kehangatan kepada Adara. Mengusap-usap kan tangannya agar rasa dingin itu hilang.


"Masih dingin?" tanya Arhan. Adara mengangguk yang memang apa adanya dia masih sangat kedinginan.


"Hujannya akan reda dan kita berdua akan pulang. Jadi bersabar sebentar lagi," ucap Arhan. Adara menganggukkan kepalanya.


Perasaan Adara campur aduk antara dingin juga dek-dekan karena Arhan yang sangat dekat dengannya. Bukan hanya dekat dengannya. Tetapi juga memeluknya dengan begitu erat yang membuatnya sejak tadi menghela napasnya.


"Makasih!" ucap Adara tiba-tiba menoleh ke arah Arhan. Mendengar ucapan terima kasih itu membuat Arhan juga menoleh ke arah Adara.


"Makasih untuk apa?" tanya Arhan.


"Aku lupa mengucapkan terima kasih. Kamu sudah menolongku Minggu lalu. Saat aku jatuh di dekat lapangan golf. Jika tidak ada kamu mungkin aku sudah tidak tau seperti apa dan Alvian mungkin juga tidak akan lahir," ucap Adara dengan ungkapan yang tulus.


"Kamu tau dari mana jika aku yang menolongmu?" tanya Arhan. Dia memang tidak pernah mengatakan apa-apa. Karena dia menolong dan tidak harus semua orang tau dengan apa yang di lakukannya.


"Bibi mengatakannya," jawab Adara.


"Jadi aku baru bisa mengatakan terima kasih dan bukan hanya itu. Makasih juga untuk kamu yang mengambil tindakan atas operasiku. Keputusan kamu membuatku sekarang masih selamat dan bisa bersama Alvian," ucap Adara.

__ADS_1


Adara hanya menyimak sembari menatap mata indah Adara yang sangat tulus berbicara. Istrinya itu kelihatan sangat manis jika menjadi Adara yang lembut dan tidak cerewet yang suka marah-marah.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Adara. Mana tahan Adara di tatap begitu intens membuat jantungnya semakin berdegup kencang mengalahkan suara petir.


"Aku tidak percaya. Jika kata-kata seperti ini bisa keluar dari mulut kamu," ucap Arhan dengan tatapan semakin dalam.


"Apa aku selama begitu jahat di mata kamu. Seolah aku sekarang ini sedang bersandiwara dan apa yang aku katakan tadi tidak dapat kamu percayai?" tanya Adara dengan dahinya mengkerut.


Arhan mendengus dengan tersenyum tipis dan memegang pipi Adara. Sentuhan hangat di pipinya membuat bulu kuduk Adara berdiri.


"Ternya tidak berubah. Kamu tetap seperti Azizie yang suka berpikiran buruk. Padahal aku tidak mengatakan apa-apa," ucap Arhan simple.


"Ya siapa tau aja kamu tidak percaya kepadaku," sahut Adara.


"Aku percaya. Dan aku memang kaget. Kamu bisa mengucapkan kata seperti ini," ucap Arhan membuat Adara tersenyum.


"Azizie kamu harus fokus sekolah. Hanya sebentar lagi kamu akan lulus," ucap Arhan mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana mau fokus. Jika aku saja kurang bisa menangani Alvian. Aku masih banyak tidak taunya dan bukannya kamu yang harus tau. Dan seharusnya membantuku," kata-kata Adara adalah kode untuk Arhan. Agar Arhan tidak kembali ke Milan.


"Kamu ingin aku tetap berada di sini?" tanya Arhan yang menguji Adara. Arhan mungkin mengerti maksud Adara. Tetapi dia juga ingin tau apa Adara akan menjawabnya dengan jujur.


"Kamu sendiri yang bilang bertanggung jawab padaku dan Alvian. Lalu kenapa malah pergi," sahut Adara yang tanpa iya sadari sejak tadi dia itu sudah menjelaskan jika dia ingin menahan Arhan.


Mendengar hal itu membuat Arhan tersenyum tipis. Sementara Adara harus menahan gugup. Karena merasa sudah begitu rendah dengan semua omongannya yang seperti memohon pada Arhan untuk Arhan tetap berada di sisinya.


"Hanya satu tahun saja dan bahkan tidak sampai. Jika kamu sudah lulus sekolah. Kita bisa mulai semuanya dari awal," ucap Arhan.


"Maksudnya?"


"Apa yang di mulai?"


Adara bertanya-tanya dengan penuh kebingungan dengan kata-kata Arhan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2