
Adara berbicara semaunya yang semakin mengancam Arhan.
"Jadi aku akan melakukan semua yang aku mau dengan kebebesan ku!" tegas Adara sekali lagi.
"Selagi kau itu masih istriku kau tidak akan bisa melakukan semua itu. Aku suamimu dan punya kuasa atas dirimu," tegas Arhan.
"Kita lihat saja. Apa seratus yang kau banggakan itu bisa membuatku patuh. Kau tau sejak awal. Aku membenci pernikahan ini dan silahkan jika kau masih bertahan menjadi suamiku dengan imbalan yang mungkin belum kau dapatkan dari papa. Tidak masalah bagiku. Kau lihat saja bagaimana diriku yang bisa melakukan apapun," tegas Adara yang menantang Arhan.
Adara mungkin akan membuktikan ucapannya pada Arhan. Dia ingin membalas Arhan. Arhan bersama wanita lain. Lalu kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang sama.
"Aku rasa cukup bicara kepadamu. Kau sudah membuang waktuku. Jadi aku peringatkan kepadamu. Berhenti untuk menggangguku dan mencampuri urusanku," tegas Adara.
"Dasar bajingan penuh dengan sandiwara!" maki Adara yang menatap Arhan penuh dengan kebencian dan Adara langsung menutup pintu tersebut.
Arhan tidak menahannya lagi. Dia merasa percuma bicara pada Adara. Karena Adara sedang di penuhi dengan emosi dan sebaiknya dia mencari waktu yang tepat untuk bicara baik-baik pada Adara.
Tingkat emosi Adara masih labil. Makanya belum mendapatkan kejelasan apa-apa membuatnya tidak ingin mendengarkan penjelasan siapa-siapa. Termasuk Arhan suaminya itu.
Sewaktu Adara menelpon Bibi. Arhan meminta Bibi untuk memberitahu keberadaan Adara dan makanya yang datang adalah Arhan. Bibi sudah tau Adara pasti marah. Tetapi Bibi melakukannya demi kebaikan hubungan Adara dan Arhan dan Bibi yakin. Jika Arhan mampu menyelesaikan masalah itu. Tetapi itu hanyalah expetasi Bibi saja. Karena Arhan belum bisa menangani emosi Adara yang masih menggebu-gebu.
*********
BANDARA
Pagi ini Adara kembali ke Jakarta bersama Bibi dan Alvian. Semua yang direncanakan sia-sia. Hatinya sudah sangat sakit dan menutup diri untuk mengetahui apa yang sebenarnya.
Dia sudah bersiap-siap dengan cantik menemui Arhan. Pagi-pagi sudah dandan dengan memakai kalung hadiah dari Arhan. Dari jakarta sudah begitu eksaited dengan penuh semangat. Membawa baju yang banyak yang berharap tinggal bersama dengan Arhan. Karena dia ingin menjadi istri yang sebenarnya.
Sia-sia semuanya. Nyatanya hari ini dia sudah di Bandara yang akan kembali ke Jakarta. Dan akan berpisah dari Arhan. Dia akan meminta Herlambang mengurus perceraiannya. Karena menurutnya Herlambang akan setuju. Karena di sini Arhan yang salah yang punya wanita lain dan tinggal bersama Arhan.
"Kita yakin pulang Non?" tanya Bibi.
"Bibi jangan bicara padaku. Bibi sudah membuatku kesal dengan tidak datang ke hotel dan dia yang datang. Jadi jangan bicara lagi kepadaku. Jika Bibi masih bicara aku akan meninggalkan Bibi di sini dan suruh saja dia yang mengantar Bibi," jawab Adara dengan ketus.
__ADS_1
Dia masih marah dengan Bibi dan tidak ada kata-kata lembut baginya. Dan kata-kata yang di keluarkan tadi cukup menjadi peringatan. Sampai Bibi tidak berani bicara lagi.
Ini pertama kalinya Adara bicara kasar pada pembantunya itu dan Bibi lebih baik diam. Dari pada Adara mengeluarkan kata-kata yang lebih kasar lagi.
Adara mengambil Alvian dari dalam troli di mana Alvian yang menangis dan Adara mencoba mendiamkan Alvian dengan mengendong Alvian.
"Lipat trolinya!" titah Adara. Bibi hanya mengangguk saja dan melaksanakan apa kata Adara.
"Shuttt, Alvian diam ya. Kita akan pulang sebentar lagi," ucap Adara yang mencoba untuk mendiamkan Alvian di gendongannya itu.
"Azizie!" tiba-tiba Arhan datang menyusul ke Bandara.
"Untuk apa kau di sini! Pergi dari sini!" usir Adara dengan kesal.
"Kamu tidak bisa pulang begitu saja," tegas Arhan.
"Kau tidak punya hak untuk mengaturku!" tegas Adara
Owe Owe owe owe owe owe owe owe.
"Berikan dia kepadaku!" Arhan ingin menggendong Alvian.
"Jangan menyentuhnya," cegah Adara yang tidak mengijinkan hal itu.
"Azizie dia menangis!"
"Itu urusanku. Aku bisa mendiamkannya!" tegas Azizie.
"Berikan kepadaku!" tegas Arhan berusaha mengambil Arhan.
Namun Adara tetap tidak memberikan Alvian. Bibi hanya diam saja dengan pertengkaran suami istri itu.
Tangan Arhan sudah memegang Alvian dan memang Alvian memang ingin bersama Arhan.
__ADS_1
"Dia bukan anakmu hentikan!" tegas Adara membuat Arhan melihat ke arah Adara dengan mereka saling menatap. Tatapan Arhan mendengar kata itu sangat berbeda.
"Kenapa? Kau menganggap Alvian anakmu. Jangan lupa dia hanya anakku. Kau bukan siapa-siapanya. Dia anak dari pria lain," tegas Adara yang sengaja mengeluarkan kata-kata itu.
Agar Arhan tidak jadi menggendong Alvian. Dari sorot mata Arhan memang sangat membenci kata-kata Adara. Dia sangat benci ucapan Adara mengenai pria yang membuat Adara hamil.
"Kau seperti anak kecil yang tidak punya etika. Kau pintar di sekolah. Tetapi tidak punya adab untuk bicara. Kau itu bukan hanya seorang wanita. Tapi juga seorang ibu. Apa pantas kata-kata mu seperti itu pada anak kecil yang ada gendongan mu. Walau dia tidak mengerti apa-apa. Tetapi otaknya menyaring kata-kata sampah dari mulutmu," balas Arhan dengan kata-kata yang lebih pedas lagi pada Adara.
Adara diam seribu bahasa yang di tampar dengan kata-kata Arhan. Arhan pun mengambil Alvian dari gendongan Adara dan menggendong Alvian.
Tanpa mendiamkan Alvian. Ternyata Alvian sudah diam sendiri di gendongan Arhan. Napas Adara naik turun melihat hal itu. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya dengan kebenciannya pada Arhan.
Arhan seolah menunjukkan sosok seorang ayah yang penyayang. Namun kenyataan yang di dapatkannya tidak seperti itu. Baginya Pria yang terlihat baik itu adalah sosok munafik yang mempermaikan dirinya.
Adara tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin dirinya yang penuh amarah sehingga memperlihatkan aura yang buruk. Sampai Alvian tidak mau bersamanya. Dia juga tidak ingin menjadi perhatian orang-orang yang mungkin di anggap tidak becus dalam mendiamkan anak.
************
Pesawat.
Ternya Arhan ikut pulang ke Indonesia. Itu karena Alvian tidak mau lepas darinya. Jadi mau tidak mau Alvian harus bersama Arhan dan tadi Adara pasti sempat menolak. Tetapi Adara tidak bisa menolak. Karena Alvian terus menangis.
Di pesawat saja Adara berpisah dari Arhan, Bibi dan Alvian. Adara benar-benar sendiri yang mencari tempat untuk menenangkan dirinya.
Adara duduk yang bersandar pada jendelanya pesawat. Wajahnya masih terlihat murung dengan penuh kesedihan. Adara melihat ponselnya yang ternyata dia sudah mengganti wallpaper ponselnya dengan foto pernikahannya dengan Arhan.
Dia begitu percaya diri akan hal itu. Sampai ingin menunjukkan kepada Arhan. Jika dia benar-benar sudah berubah dan menerima pernikahannya.
Air matanya kembali jatuh dan membuat Adara menghapus wallpaper itu. Merasa tidak ada gunanya dan tidak perlu melakukan itu membuat Adara sudah cukup untuk pengorbanan yang sia-sia.
Adara juga melihat cincin pernikahannya yang masih terpasang di jari manisnya. Melihat cincin itu membuatnya semakin sesak. Merasa dirinya sangat bodoh selama ini dan kembali menangis tanpa suara.Tangisan itu sudah hal yang paling sakit. Sampai tidak mengeluarkan suara lagi.
Sementara Arhan yang berada di belakang Adara yang memiliki jarak cukup jauh. Hanya diam saja dengan Alvian yang tertidur tengkurap di dadanya.
__ADS_1
Arhan ternyata masih gagal untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan Adara. Arhan pasti ingin berusaha lebih banyak. Namun tidak ada yang bisa di lakukannya selain harus menunggu waktu yang tepat.
Bersambung