TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Bab 102 Pertengkaran.


__ADS_3

Setelah sampai rumah. Wajah Adara masih penuh dengan kesedihan dengan beberapa kali menyeka air matanya.


"Non Adara kenapa?" tanya Bi Sri yang melihat Adara tidak baik-baik saja.


"Tidak apa-apa Bibi. Bibi bawa Alvian kekamar ya. Ganti baju dan suruh istrirahat," ucap Adara menyuruh Alvian untuk kekamar dan istirahat.


"Baik Non," sahut Bibi.


"Ayo den Alvian!" ajak Bibi. Alvian mengangguk saja dan menuruti apa yang di kataka Bibi.


Sementara Adara langsung menuju kamar untuk menemui Arhan. Adara membuka pintu kamar dan melihat Arhan berdiri di depan jendela dengan ke-2 tangannya yang berada di dalam sakunya.


Wajah Arhan tampak begitu dingin. Ada amarah di wajahnya yang tidak bisa di lampiaskannya meski di dalam mobil tadi begitu marah. Namun tetap kemarahan itu masih ada.


Adara yang menutup pintu kamar dan melangkah mendekati Arhan yang membelakanginya.


"Jadi dia laki-laki yang kamu lindungi selama ini," ucap Arhan dengan suara dinginnya membuat langkah Adara terhenti.


"Tidak Arhan, aku bisa jelaskan," sahut Adara dengan suara seraknya.


"Aku tidak mengerti dengan kamu Azizie. Dulu begitu banyak kesempatan. Tidak satupun kau mengatakan pria itu dan sekarang apa yang ingin kau jelaskan. Bukannya selama ini kau sangat melindunginya. Lalu apa yang akan kau jelaskan mengenai Pria itu," ucap Arhan dengan mengendus kasar.


"Aku tidak pernah melindunginya. Aku tidak tau apa-apa. Aku juga tidak pernah tau semua ini akan terjadi. Kenapa dia tiba-tiba muncul dan aku tidak mengenalnya dan aku berani bersumpah. Jika aku tidak pernah melindunginya......"


"Lalu kenapa kau tidak pernah jujur dari awal!" sentak Arhan membuat Adara kaget dan berhenti berbicara.

__ADS_1


Arhan dengan amarahnya berbalik badan menghadap istrinya itu.


"Di awal dan sebelum pernikahan semua orang mati-matian ingin tau siapa yang sudah menghamilimu. Papa berkali-kali bertanya kepadamu. Tapi kau menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ingin mengatakan apapun mengenai pria itu, sampai pernikahan kau tetap diam. Bahkan aku berusaha untuk mencari taunya. Tapi kau tidak pernah jujur sekalipun mengenai pria itu!" tegas Arhan dengan amarahnya yang harus di luapkan nya.


"Aku tidak bisa menjelaskan, aku tidak bisa memberitahu. Karena aku memang tidak tau siapa pria itu. Aku tidak tau apa yang terjadi. Aku tidak menyembunyikan siapa-siapa. Tetapi pada kenyataannya aku sendiri tidak tau ada apa dengan diriku, aku hanya di jebak dan bukan karena keinginan ku semua itu terjadi. Aku di jebak," sahut Adara mengatakan apa adanya yang berusaha membela dirinya.


Arhan mendekati Adara dengan mereka yang sudah saling berhadapan.


"Apa kau mengatakan semua ini 4 tahun lalu. Tidak Azizie kau tidak mengatakan apa-apa. Kau bungkam soal ini dan sekarang kau baru mengatakan jika kau seakan adalah korban. Kenapa baru mengatakannya. Apa karena kalian sudah bertemu dan kalian sudah ingin bersama," ucap Arhan.


"Apa maksud mu Arhan," sahut Adara.


Arhan menyunggingkan senyumnya yang terlihat senyum itu sangat lirih.


"Aku tidak mengerti kepadamu Azizie. Bisa-bisanya kau menangis di depanku dan untuk apa semua itu. Aku benar-benar tidak paham. Kau sudah menemuinya. Jadi untuk apa bersandiwara di depanku seolah-olah kau sangat menyedihkan.


"Diam-diam di belakangku kau menemuinya berkali-kali. Apa tujuanmu untuk menemuinya. Kau pikir aku tidak tau. Jika kalian sering bertemu!" ucap Arhan.


"Kau salah paham Arhan!" ucap Adara memegang tangan Arhan. Namun Arhan langsung menepisnya.


"Aku tidak bodoh dan kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Jadi jangan seperti orang yang menyedihkan di depanku. Alvian sudah menemukan ayah kandungnya dan katakanlah kepadanya tentang ayah kandungnya," ucap Arhan yang membuat air mata Adara semakin mengalir jatuh.


"Apa maksud mu bicara seperti ini. Bukanya kau menganggap Alvian adalah anakmu. Kalau kenapa di saat semua sudah terlalu jauh. Kau tiba berbicara seperti ini. Seolah Alvian bukan anakmu," ucap Adara dengan suaranya yang menelan.


"Aku sudah berusaha Azizie selama bertahun-tahun mengalah akan dirimu dan aku berusaha untuk semua ini. Tetapi kau tidak pernah menghargaiku. Aku tidak tau bagaimana diriku di hidupmu. Apa hanya sebagai pembersih nama atau seperti yang kau kataka tidak akan pernah ada di hidupmu," ucap Arhan yang terlihat kecewa dengan kebenaran ini.

__ADS_1


"Aku sangat berharap Azizie saat dulu. Kau menceritakan saja yang sebenarnya. Mau itu jebakan atau keinginanmu. Tidak ada salahnya kau bicara dan paling tidak katakan saja dan menyesal dan mungkin hari tidak akan seperti ini," ucap Arhan.


"Kenapa baru sekarang Arhan. Kau mengatakan semua ini kepadaku. Dulu kau yang menerima pernikahan ini. Kau yang bertahan dan mengatakan berkali-kali menerima ku dan saat Alvian lahir. Kau juga tetep bersamaku dan menerima ku dan juga Alvian. Lalu kenapa sekarang kau malah mengungkit semuanya dan seolah ingin lepas tangan," ucap Adara.


"Karena aku pikir kau bisa berubah. Tetepi ternyata tidak kau tetap seperti dulu. Sangat egois," sahut Arhan.


"Aku tidak pernah meminta mu Arhan untuk menerimaku. Aku berkali-kali menyuruhmu untuk melepasku dan kamu yang tidak ingin melepaskanku dan sekarang......."


"Baiklah jika itu maumu," sahut Arhan yang membuat Adara terkejut dengan pernyataan Arhan.


"Kau sudah menemukan ayahnya. Kalian sudah punya hubungan sebelumnya dan aku hanya pembersih nama dalam hidupmu dan mungkin memang seharunya aku melepasmu dari dulu," ucap Arhan. Air mata Adara kembali mengalir mendengar perkataan Arhan.


Arhan tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung pergi dari hadapan Adara. Banyak sebenarnya yang ingin di sampaikan yang. Namun dia bisa semakin marah yang merasa di permainkan.


"Arhan!" lirih Adara. Namun Arhan tetep melangkah dan suara pintu kamar terdengar.


Adara terduduk dengan lemas dengan apa yang terjadi. kedua tangannya menutup wajahnya dan menangis sengugukan. Terisak dengan penuh kesedihan dengan apa yang terjadi. Sudah bisa di tebaknya. Jika pernikahannya akan selesai di sini.


Mungkin memang benar. Seharusnya dulu dia mengatakan apapun itu yang terjadi. Dia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya. Namun apa salahnya dia memberitahu dan hal ini tidak akan terjadi.


Arhan bertambah marah. Karena Adara bertemu dengan laki-laki itu secara diam-diam belakangan ini. Di depan matanya banyak yang terjadi. Jadi sebagai suami Arhan pasti marah dan penuh kecemburuan.


Arhan masih berdiri di depan pintu kamar yang tertutup. Arhan menghela napasnya dengan memejamka matanya dan mendengar tangisan dari Adara dari dalam kamar. Posisi Arhan serba salah. Dia hanya merasa jika sudah tidak ada tempat lagi untuknya. Dia merasa semuanya sudah sia-sia selama ini.


Munculnya Ramon yang mengaku sebagai ayah dari Alvian telah membuat duri dalam pernikahan mereka. Padahal pernikahan itu terlihat harmonis belakangan ini. Ada cinta yang semakin tumbuh dan hanya tinggal pengungkapan saja. Tetapi kembali di uji dan tadi bahkan Arhan ingin melepaskan adara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2