
"Kamu belum menjawabku apa yang harus di mulai?" tanya Adara masih menunggu jawaban Arhan.
"Banyak yang harus kita mulai. Jadi tetaplah di Jakarta. Selesaikan sekolahmu dengan naik dan Alvian akan tetap di jaga sama Bibi dan aku akan mengawasimu dari Milan," jelas Arhan dengan singkat.
Mendengar hal itu membuat Adara mengehela napasnya pelan. Ternyata tidak akan ada yang mengubah keputusan Arhan dan bagaimana dia tidak kecewa sama sekali dengan keputusan Arhan. Padahal dia sangat berharap Arhan akan membatalkan niatnya untuk pergi ke Milan dan tetap bersama Adara.
"Kamu bisa kan tetap di Jakarta?" tanya Arhan. Adara terdiam sejenak.
"Apa dalam satu tahun itu. Kamu tidak akan pernah pulang?" tanya Adara memastikannya. Walau kecewa dan tidak bersemangat. Namun dia ingin tau jawaban Arhan.
"Aku tidak tau dan tidak bisa berjanji apa-apa. Karena pekerjaan ku sangat banyak," jawab Arhan.
"Oh," sahut Adara yang tertunduk lemas. Dia sangat berharap Arhan berjanji jika akan pulang sekali-kali. Ya walau ingkar janji, paling tidak Arhan harus mengatakan dulu agar kecewanya Adara tidak terlalu banyak.
Arhan pun membawa Adara kepelukannya dan memeluk Adara begitu erat. Ini juga pertama kalinya hal itu terjadi dan Adara merasa sangat nyaman di pelukan Arhan. Bukan kehangatan lagi yang di dapatkannya. Tetapi lebih banyak dari kehangatan.
Tidak ada yang di katakan kedua orang itu lagi yang hanya larut dalam pelukan dan tidak ada yang menolak. Seperti pelukan itu sama-sama mereka setuju satu sama lain.
***********
Hujan masih saja berlalu. Adara dan Arhan tidak bisa pulang. Di dekat pantai itu ternyata banyak resort dan mereka memilih menginap di salah satu resort. Karena tidak mungkin pulang. Dalam keadaan hujan deras seperti itu.
Selain bahaya untuk menyetir. Mobil mereka juga jauh terparkir dan hanya buang-buang waktu yang akhirnya nanti Adara bisa sakit dan Arhan tidak menginginkan hal itu terjadi.
Mereka yang berteduh. Tidak sengaja bertemu petugas dan juga mengarahkan mereka menuju resort yang tidak jauh dari tempat itu. Sampai akhirnya mereka berdua sudah berada di depan resepsionis untuk memesan salah satu resort.
"Pesan berapa kamar tuan?" tanya resepsionis itu. Arhan tidak langsung menjawab dan melihat ke arah Adara. Adara mengalihkan pandangannya ke lain arah yang seolah tidak mendengar apa yang di tanyakan resepsionis tersebut. Adara juga sepertinya mengelakkan jika Arhan bertanya padanya.
"1 kamar," jawab Arhan tanpa bertanya pada Adara.
"Baik tuan! Sebentar ya," sahut resepsionis tersebut yang menyiapkannya kunci.
Dan Adara mendengar keputusan Arhan membuang napasnya perlahan kedepan. Dia kelihatan sangat gugup.
__ADS_1
Arhan mungkin harus bertanya dulu pada Adara. Karena ini berada di luar. Ya siapa tau aja mereka ingin pisah kamar. Mengingat mereka bukan pasangan suami istri yang normal seperti biasanya.
Tetapi Adara tidak menanggapi dan Arhan tidak jadi bertanya pada Adara. Adara memang sengaja pura-pura tidak dengar dan pura-pura punya kesibukan sendiri. Supaya Arhan tidak bertanya.
Karena jika Arhan bertanya itu sama saja jebakan untuknya. Menjawab 1 kamar membuat Arhan akan berpikir lain dan jika tidak. Maka itu hanya menimbulkan jarak di antara mereka. Padahal hubungan mereka lagi dekat-dekat nya dan lagian Arhan juga ingin kembali ke Luar Negri. Jadi Adara ingin menghabiskan waktu dengan Arhan.
"Ini tuan kuncinya!" ucap resepsionis tersebut memberikan kuncinya pada Arhan
"Terima kasih!" ucap Arhan
"Ayo!" ajak Arhan pada Adara. Adara menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan menuju kamar yang mereka pesan
"Sytsss," tiba-tiba Adara menghentikan langkahnya dengan memegang perutnya dan satu tangannya menempel pada dinding untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Azizie kamu kenapa?" tanya Arhan panik ga menoleh kebelakang dan tiba-tiba melihat Adara kesakitan.
"Perutku tiba-tiba perih. Aku tidak tau kenapa seperti ada yang sobek," ucap Adara kesakitan di bagian perutnya.
Adara sampai keringat dingin karena menahan sakit yang merasa begitu sakit.
Adara mengatakan perutnya. Perut berarti luka operasi Adara dan pasti karena kebanyakan beraktivitas membuat luka itu terbuka.
Arhan yang melihat Adara seperti itu langsung bertindak yang menggendong Adara ala bridal style yang membuat Adara kaget.
"Kamu mau apa?" tanya Adara.
"Kamu jangan khawatir tidak akan terjadi apa-apa," ucap Arhan meyakinkan Adara dengan menatap Adara begitu dalam. Adara yanh menahan sakit menganggukkan kepalanya yang mempercayakan pada Arhan.
Arhan pun yang menggendong Adara menuju kamar mereka. Begitu sampai di kamar Arhan langsung membaringkan Adara di atas tempat tidur. Posisi mereka sangat dekat dengan tangan Adara masuk melingkar di leher Arhan dan Arhan juga yang belum bergerak dengan wajahnya yang berdekatan dengan Adara yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Apa masih sakit?" tanya Arhan lembut. Hembusan napas Arhan yang menerpa wajah Adara.
"Masih! Sangat perih," jawab Adara jujur jika memang terasa sangat perih baginya.
__ADS_1
"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Arhan.
Deg!
Jantung Adara berdebar kencang dengan kesulitan menelan salivanya. Kata melihatnya itu artinya. Adara tidak dapat berpikir jernih. Luka di perutnya dan dia mengenakan dres bukan kemeja. Kalau dres itu artinya di buka dulu baru luka itu terlihat. Kecuali kemeja bisa membuka beberapa kancing saja yang pas dengan letak luka itu.
"Tidak mungkin memanggil Dokter. Tidak ada waktu. Jika masih bisa di tangani aku akan menanganinya. Sebelum terjadi suatu hal yang buruk pada kamu," ucap Arhan yang memang sangat khawatir pada Adara.
"Jadi ijinkan aku untuk melihatnya," ucap Arhan.
Adara mengangguk pelan. Karena memang tidak punya pilihan lain. Setela mendapat persetujuan dari Adara Arhan langsung berdiri tegak dan Adara yang begitu gugup juga langsung duduk.
Tangan Adara mulai menuju punggungnya mencari res pakaian yang di gunakannya untuk sementara Arhan sengaja berbalik badan mencari kesibukan sendiri.
Ke-2nya sebenarnya sama-sama canggung dan sangat gugup. Padahal mereka suami istri. Tetapi begitulah mamanya juga keduanya masih malu-malu.
Tidak lama akhirnya dres yang di kenakan Adara lepas dari tubuhnya yang sudah jatuh di lantai. Adara menyelimuti tubuhnya dengan selimut putih yang ada di sana.
Biasanya Adara masih menggunakan tantop. Namun kali ini tidak dan hanya memakai pakaian dalam saja.
"Sudah!" ucap Adara dengan suara bergetarnya.
Arhan membalikkan tubuhnya dan melihat Adara yang memakai selimut. Adara mengalihkan pandangannya ke arah lain yang tidak ingin melihat Arhan membuatnya semakin gugup.
Arhan menghela napasnya dan duduk di samping Adara. Menyibak perlahan selimut itu dan melihat tubuh Adara yang menggunakan pakaian dalam saja. Adara semakin gugup saat selimut itu sudah tidak berada di ditubuhnya lagi.
Sementara Arhan yang berusaha profesional. Arhan membuka perban bekas operasi Adara. Kebetulan di kamar itu di sediakan kotak obat lengkap. Arhan menggunakan perlengkapan itu untuk membantu Adara.
Pantes saja Adara merasa begitu perih pada perutnya. Ternyata jaitannya ada yang terbuka.
"Ini akan sakit Azizie. Kamu harus tahan. Karena tidak ada obat bius di sini," ucap Arhan. Adara mengangguk saja menuruti apa yang di katakan Arhan.
Arhan pun langsung bertindak memperbaiki jaitan di perut Adara. Adara menahan sakit kuat biasa dengan memejamkan matanya dan juga meremas seprai karena begitu kesakitan. Air matanya juga sampai keluar karena rasa sakit yang di tahanannya.
__ADS_1
Bersambung