
"Apa yang kamu katakan Azizie. Kamu salah paham dan sebaiknya kita masuk kembali dan kita cerita," ucap Arhan dengan lembut
"Tidak perlu! Aku tidak peduli mau itu salah paham atau tidak. Dengan apa yang aku lihat dan sekarang sudah saatnya untuk mengakhirinya semuanya. Ini waktu yang tepat dengan kedatanganku ke Milan untuk meminta kau segera mengurus perceraian kita! Karena waktunya sangat pas!" tegas Adara membuat Arhan kaget.
Tidak ada hujan tidak ada angin Adara yang tiba-tiba meminta surat cerai dan bagaimana Arhan tidak kaget dengan apa yang di kataka Adara.
"Apa maksud mu Adara? Kenapa tiba-tiba?" tanya Arhan mencoba untuk tenang dengan Arhan masih bertanya dengan lembut.
"Ini bukan tiba-tiba dan seharusnya aku melakukannya sejak awal. Sejak Brian lahir dan lagian itu yang kau inginkan bukan. Kau bisa semaumu dengan wanita itu. Kau itu bajingan. Kau seakan menunjukkan kau laki-laki baik yang seolah melarangku ini itu. Kau marah dengan aku hanya pergi dengan laki-laki lain. Kau seakan mengingatkan dengan statusku yang sudah mempunyai suami. Lalu apa yang kau lakukan. Kau sendiri tinggal bersama seorang wanita dan kau itu pria egois yang sangat pintar bersandiwara!" teriak Adara dengan emosinya yang menggebu-gebu berbicara di depan Arhan.
"Itu tidak benar. Kamu hanya berpikiran terlalu jauh," jawab Arhan dengan merendahkan suaranya.
"Kau pikir aku bodoh!" teriak Adara.
"Sudah cukup semuanya. Cukup kau membohongiku dan mengatur diriku. Aku minta kau segera menceraikanku! Karena aku ingin bebas darimu!" tegas Adara dengan napasnya yang naik turun dan berlalu dari hadapan Arhan.
Arhan masih menahannya dengan memegang tangan Adara yang bergetar.
Plakkkkk.
Adara yang tidak bisa mengendalikan dirinya memberikan tamparan ke pipi Arhan. Membuat Arhan memejamkan matanya menerima tamparan panas itu.
"Jangan menyentuhku bajingan!" tegas Adara dengan menunjuk tepat di wajah Arhan.
"Meski aku bukan wanita suci. Tapi aku juga tidak sudi di sentuh oleh mu. Kau itu laki-laki paling jahat!" kecam Adara dengan menekan suaranya. Adara menarik kalung yang berada di lehernya dan langsung melempar ke wajah Arhan membuat Arhan kembali memejamkan matanya.
"Kau jangan membuatku seperti orang gila di aini. Cukup semuanya. Temui aku jika surat perceraian sudah selesai!" tegas Adara dengan air matanya yang jatuh dan Adara yang kembali pergi.
__ADS_1
"Azizie!"panggil Arhan yang kembali mengejar Adara. Tidak mungkin dia membiarkan Adara pergi begitu saja.
Bibi yang masih berada di lobi melihat Adara yang berlari.
"Non Adara!" panggil Bibi yaitu melihat kepergian Adara dengan air matanya dan Bibi juga melihat Arhan yang mengejar Adara.
"Mas Arhan!" Panggil Bibi.
"Mas apa yang terjadi? Non Adara kenapa?" tanya Bibi panik dan pasti bingung.
"Bi Sri masuklah ke dalam. Aku harus mengejar Adara. Nanti saja aku menceritakannya. Bibi menunggu di dalam saja dan bawa Alvian masuk," ucap Arhan yang terlihat Buru-buru dan mana mungkin menjelaskan lagi pada Bibi.
"Baik mas Arhan," sahut Bibi yang mengangguk dan Arhan yang pergi untuk mengejar Adara.
"Ya ampun ada apa ini. Kenapa tiba-tiba seperti ini apa yang terjadi dengan Non Adara dan mas Arhan!" batin Bibi yang penuh dengan kebingungan yang perasaannya juga tidak tenang karena melihat Adara yang pergi dalam keadaan menangis.
************
Wanita yang bernama Lulu yang mencium Arhan di depannya itu membuatnya terluka. Adara bahkan mengingat sebelum Arhan ke Luar Negri. Wanita itu pernah menelpon dan Adara tidak ingin tau saat itu siapa wanita itu. Adara juga tidak membahas atau bertanya pada Arhan. Dia saat itu sangat bahagia dan merasa itu tidak perlu untuk di bahas.
Dengan melihat kedekatan Arhan dan wanita itu. Adara bisa menduga sendiri jika wanita itu sangat dekat dengan Arhan. Dan pasti punya hubungan special. Merasa sangat di khitanati. Selama ini dia selalu berusaha untuk berubah dan menerima semuanya.
Perjuangannya juga tidak mudah dan hari-harinya sangat bahagia belakangan ini. Karena tidak sabar bertemu dengan Arhan. Ingin memulai pernikahan sesuai dengan apa yang di janjikan Arhan.
Namun semuanya terasa sia-sia. Dirinya yang tampil beda untuk bertemu Arhan di pagi hari sia-sia dengan melihat Supraise yang membuatnya semakin sakit. Bukan dia yang memberikan Supraise. Tetapi justru dia sendiri yang mendapatkan Supraise dari Arhan dengan pemandangan di depannya itu.
"Adara Bodoh. Seharusnya kau tidak pernah berpikiran terlalu jauh. Kau tau sendiri laki-laki seperti itu hanya penuh sandiwara. Jika tidak pintar bersandiwara maka dia tidak akan pernah bisa membuat papa untuk menikahkan mu dengannya,"
__ADS_1
"Apa kau pikir selama ini dia tulus kepadamu? Tidak Adara dia tidak pernah tulus kepadamu. Dia melakukan semuanya dengan maksud dan pasti butuh imbalan yang besar dan lihatlah dia begitu senang sekali saat pergi ke Milan yang ternyata ada wanita yang menunggunya dan kau bukan siapa-siapa Adara,"
"Seharusnya kau sadar sejak awal Adara. Kau tidak seharusnya mempunyai impian kehidupan dalam cinta. Kau hanya termakan dengan wajahnya yang terlihat baik. Dia laki-laki bajingan yang akhirnya dia yang menghancurkanmu,"
Adara yang merasa begitu hancur hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Air matanya tidak hentinya keluar. Tidak tau bagaimana sakitnya yang di rasakan Adara pasti sangat sakit sampai tidak bisa di ucapkan lagi.
Adara hanya mengumpat di dalam hatinya dengan semua yang di sesalkannya. Sangat menyesal dengan semua yang di lakukannya seolah berkorban begitu banyak dan itu yang di dapatkannya dari Arhan.
Terasa sia-sia hanya bisa di luapkan dengan menangis yang memegang dadanya dan supir Taxi yang duduk di depan. Hanya melihat dari kaca spion dan tidak punya wewenang harus bertanya-tanya ada apa dengan wanita yang terlihat menyedihkan itu.
*************
Tidak menemukan Adara sampai Arhan kembali Apartemennya dan di sana sudah ada Bibi dan ada juga Lulu. Bibi dan Lulu sejak tadi tidak bicara apa-apa. Karena Bibi hanya memikirkan Adara.
"Mas Arhan bagaimana Nona Adara?" tanya Bibi yang jadi khawatir. Karena Arhan tidak pulang bersama Arhan.
"Aku tidak tau dia ada di mana. Aku akan mencarinya nanti," ucap Arga dengan wajahnya tampak murung.
Bibi menghela napasnya dan melihat ke arah Lulu. Lulu hanya diam dengan wajah kebingungan. Arhan memperhatikan Bibi yang pasti penuh tanya atas keberadaan Lulu.
"Aku ingin bicara denganmu!" ajak Arhan pada Lulu. Arhan langsung pergi terlebih dahulu dan Lulu mengikut.
"Siapa sebenarnya wanita itu," batin Bibi dengan penasaran.
"Pasti dia wanita yang membuat Nona Adara tadi langsung pergi. Apa yang terjadi? Apa seperti di sinetron. Nona Adara melihat hal yang seharusnya tidak di lihatnya," batin Bibi yang hanya menduga-duga saja.
"Nona Adara begitu senang datang ke Milan dan langsung berubah ekspresinya ketika sampai sini. Pasti ada yang tidak beres,"
__ADS_1
"Alvian semoga saja tidak terjadi apa-apa pada orang tua kamu. Semoga mereka baik-baik saja dan tidak ribut-ribut.
Bersambung.