TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 79 Pertemuan.


__ADS_3

"Mama!" panggil Alvian membuka pintu kamar dan Adara masih tertidur dengan memakai selimut yang nyaman.


"Ya mama masih tidur," ucap Alvian lemas dengan menepuk jidatnya. Alvian geleng-geleng kepala dengan kedua tangannya di lipat didanya.


"Huhhhhhh pemalas," geram Alvian menghela napas berat yang langsung menaiki tempat tidur.


"Mama bangun! Mama bangun!"


"Sudah pagi mama!"


"Mama!"


Alvian menggoyang-goyangkan tubuh Adara membangunkan sang ibu dengan paksa.


"Apa sih Alvian, mama masih ngantuk, jangan ganggu mama," sahut Adara dengan matanya yang sangat berat di buka.


"Tapi ini sudah jam 9 mama harus bangun!"


"Ini hari libur. Tidak apa-apa bangun siang. Alvian main aja jangan ganggu mama," sahut Adara masih aja menarik selimutnya dan tidak peduli dengan putranya itu.


"Tapi kita harus ke Bandara jemput papa! Papa hari ini datang. Apa mama lupa," ucap Alvian mengingatkan.


"Itu nggak urusan Mama dan Mama juga nggak mau," sahut Adara yang pasti ogah ke bandara menjemput Arhan. Memang dia pikir keluarganya keluarga Cemara.


"Issss mama jangan seperti itu. Ayo cepat! Nanti kita telat!"Alvian mendesak Adara.


"Alvian aja yang pergi. Ajak Bibi atau kakek. Nggak usah mama. Mama ngantuk tidur lebih baik dari pada melakukan hal seperti itu," sahut Adara kesal. Tidurnya mulai tidak nyaman ketika nama Arhan di sebutkan yang membuatnya begitu kesal.


"Ogah kebandara menjemputnya. Mending aku tidur nyenyak," gerutu Adara kesal.


"Mama jangan seperti itu. Mama tidak boleh menjadi istri yang menggerutuki suaminya sendiri," ucap Alvian mampu membuat mata Adara terbuka. Kata-kata sang anak sangat singkat. Namun seperti tamparan untuk Adara. Anaknya sangat pintar dan meski Adara bicara pelan dia tau apa yang di katakan ibunya itu.


"Issss apa sih," kesal Adara.


"Ayo mama buruan!" Rengek Alvian.


"Mama nggak mau. Alvian aja yang pergi mama masih ngantuk," tegas Adara. Yang sekarang membelakangi Alvian yang tidak peduli dengan ajakan Alvian.


Wajah Alvian cemberut dengan kedua tangannya di lipat didanya. Kesal melihat mamanya itu.


"Benar kata papa. Mama istri pemalas dan juga istri labil," celetuk Alvian tiba-tiba membuat mata Adara kembali terbuka dengan cepat dan langsung berbalik badan.

__ADS_1


"Siapa yang mengatakan seperti itu?" ketus Adara.


"Papa!" jawab Alvian apa adanya.


"Issss seenaknya mengataiku yang tidak-tidak. Memang mama pernah jelek-jelekin papa kamu itu di depan kamu hah!" ucap Adara kesal.


"Karena papa memang tidak pernah jelek dan tidak pernah salah. Jadi mama mana bisa mengatakannya pada Alvian," sahut Alvian yang jawabannya pasti lebih pintar.


"Issss!" geram Adara dengan mengepal tangannya.


"Ayo ke Bandara buruan!" ajak Alvian lagi.


"Nggak!" tegas Adara yang tetap menolak.


"Huhhhh dasar mama payah," sahut Brian. Adara menyerngitkan dahinya melihat ekspresi anaknya itu. Mempunyai anak yang aktif dan pintar ternyata harus sabar-sabar juga.


"Ya sudah kalau mama tidak mau ikut sama Brian jemput papa. Nanti kalau papa kembali ke Milan Alvian mau ikut dan mau sekolah di sana!" ucap Alvian dengan nada mengancam dan Alvian langsung turun dari tempat tidur. Mendengar ancaman Alvian membuat Adara melotot dengan mulutnya menganga.


"Avian nggak bisa seperti itu!" teriak Adara.


"Tapi Alvian mau sama papa," sahut Alvian yang keluar dari kamar.


************


Bandara.


Mobil mewah BMW hitam berhenti di depan Bandara.


Pak supir membukakan pintu. Alvian yang keluar dengan semangatnya yang membawakan bunga. Lalu kemudian menyusul Adara yang keluar dengan wajah ketusnya.


Alvian Berhasil membujuk Adara dan Adara tidak punya pilihan lain. Dari pada nanti Arhan kembali ke Luar Negri dan Alvian ikut. Dan itu bisa terjadi. Adara masih mengingat 3 tahun lalu. Saat Adara dari Milan dan pulang ke Jakarta. Di bandara Alvian terus menangis dan hanya diam saat bersama Arhan. Hari itu juga Arhan ikut ke Jakarta karena Alvian. Hubungan Adara dan Arhan waktu itu lagi panas-panasnya.


Ya Adara mengingat hal itu dan pasti tidak akan mengijinkan kejadian itu kembali lagi. Pasti dia akan kalah.


"Ayo mama cepat!" Alvian menarik tangan Adara paksa masuk ke dalam Bandara. Adara hanya berdecak kesal dan dengan lemasnya mengikut saja masuk kedalam. Padahal tadi rencananya dia mau menunggu di mobil.


Adara dan Alvian sudah menunggu Arhan. Ada juga beberapa orang yang menunggu keluarganya. Alvian terus melihat ke pintu keluar menunggu sang papa datang.


"Dia besar kepala. Jika melihat ku ada di sini," batin Adara dengan mengumpat kesal. Memang ini pertama kali baginya menjemput Arhan. Harga dirinya benar-benar hilang.


"Itu papa!" tunjuk Alvian dengan wajah cerianya. Adara pun melihat ke arah yang di tunjuk putranya.

__ADS_1


Pria tampan dengan tubuh atlet itu menyeret kopernya. Langkah yang panjang dengan gagahnya melangkah yang menunjukkan karismatik nya. Arhan yang semakin lama semakin tampan. Di usianya yang ke-28 tahun memang semakin berkarismatik. Wanita mana yang tidak klepek-klepek dengan pria 1 anak itu. Hanya istrinya yang tidak senang melihat Arhan.


Ya hal itu juga di tunjukkan Adara dengan wajah ketus Adara dan kesalnya saat melihat Arhan.


"Papa!" teriak Alvian dengan mengangkat tangannya dan melompat-lompat. Arhan yang dari kejauhan melihat Alvian membuat Arhan tersenyum dan langsung melangkah menghampiri Alvian.


Begitu sudah dekat dengan Alvian Arhan berjongkok dan langsung memeluk Alvian. Mereka sama-sama melepas rindu dan Adara hanya berdiri saja dengan wajah ketusnya yang terlihat sinis.


"Alvian kangen banget sama papa!" ucap Alvian dengan mengayun suaranya.


"Papa juga," sahut Arhan yang sudah melepas pelukan itu dan mengusap acak rambut putranya itu dengan Arhan yang tersenyum.


"Untuk papa. Selamat datang kembali ke Jakarta!" ucap Alvian memberikan bunga tersebut.


"Makasih sayang!" sahut Arhan. Arhan menoleh ke belakang Alvian dan melihat Adara. Adara langsung membuang mukanya yang mana pernah memperlihatkan menyukai Arhan.


"Kenapa mamamu wajahnya merengut seperti itu?" tanya Alvian.


Alvian berbisik di telinga Arhan.


"Biasa namanya tidak di kasih kakek uang jajan," bisik Alvian membuat Arhan langsung mendengus tertawa. Alvian juga tertawa dengan menutup mulutnya.


Adara yang melihat ayah dan anak itu. Menyerngitkan dahinya. Dia tau pasti dirinya yang di bicarakan dan membuatnya tambah kesal.


"Issss!" Adara menggertakkan telapak kakinya ke lantai dan langsung pergi dengan kekesalannya.


"Tuh jadi ngambek kan!" ucap Arhan dengan alisnya terangkat.


"Mama kan memang sering ngambek. Kalau kakek bilang mama itu usinya baru 3 tahun. Makanya sering ngambek," sahut Alvian dengan polosnya.


"Iya-iya yang sudah dewasa," sahut Arhan yang kembali mengacak-acak rambut Alvin membuat Alvian tersenyum.


"Kita pulang?" tanya Arhan.


"Oke pah!" sahut Alvian dengan mengajungkan 2 jempolnya.


"Anak pintar," sahut Arhan dan langsung berdiri. Dia juga menggendong Alvian di kirinya membuat Alvian sangat senang.


"Alvian akan terus makan sayur. Supaya tinggi seperti papa," ucap Alvian mengukir Arhan dengan dirinya yang di gendongan Arhan. Arhan hanya tersenyum saja dengan kata-kata Alvian yang memang harus di akui. Alvian itu sangat bijak dan semakin pintar pastinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2