
Pasangan suami istri itu masih saling melihat dengan perasaan mereka masing-masing yang sama-sama bergetar.
"Nona Adara di sini ternyata," suara Bibi selalu saja merusak moment Adara dan juga Arhan dan membuat keduanya sama-sama mengalihkan pandangan dan kembali canggung.
"Iya Bi," jawab Adara dengan gugup.
"Bibi lihat kekamar tidak ada. Ini Bibi bawa sarapan untuk Nona Adara," ucap Bibi
"Ya sudah letakkan saja di sana bi!" tunjuk Adara pada meja dengan Adara yang masih sangat gugup.
"Mas Arhan juga sarapan ya. Biar den Alvian sama saya," ucap Bibi.
"Baik Bi," sahut Arhan yang memang belum sarapan sama sekali.
"Ayo sarapan!" ajak Arhan.
Adara menganggukkan kepalanya dan mereka langsung duduk saling berhadapan. Sementara Bibi dari pada jadi obat nyamuk lebih baik Bibi pergi membiarkan dia orang itu menghabiskan waktu bersama.
"Ini daun katu lagi?" tanya Adara yang sudah hafal dengan sayuran hijau itu.
"Hmmm," jawab Arhan.
"Kenapa harus makan sayur ini terus dan sampai kapan," keluh Adara dengan protesnya.
"Sampai kamu selesai menyusui," jawab Arhan.
"Itu sampai kapan?" tanya Adara.
"Tergantung. Terkadang bisa lebih satu tahun," jawan Arhan.
"Semalam itu!" pekik Adara dengan wajah terkejutnya.
Arhan menganggukkan kepalanya.
"Jangan banyak protes. Kamu sebaiknya makan," ucap Arhan.
Adara mengangguk yang harus terbiasa dengan makan sayur yang banyak agar asinya lancar.
Mata Arhan melihat ke arah jari manis Adara yang terdapat cincin pernikahan yang memang baru itu di pasang Adara. Arhan tersenyum melihatnya dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Hmmmm kamu akan kembali ke Milan?" tanya Adara yang memberanikan diri.
"Tempat utamaku adalah Milan dan pasti akan kembali ke sana," jawab Arhan.
Wajah Adara berubah kekecewaan yang mendengar jawaban Arhan.
"Kapan?" tanyanya dengan suara yang tidak bersemangat dan penuh dengan kekecewaan.
"Aku belum tau kapan. Tetapi mungkin secepatnya," jawab Arhan.
"Oh," sahut Adara yang menunduk langsung. Makan dengan tidak bersemangat.
"Kenapa kamu bertanya tiba-tiba?" tanya Arhan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja," jawab Adara yang tidak mau mengatakan apa-apa. Tetapi dari wajahnya terlihat dia begitu sedih.
"Azizie, papa mengatakan 10 hari lagi kamu sudah bisa sekolah kembali," ucap Arhan.
Perkataan Arhan sudah menjelaskan bahwa Adara kali ini tidak bisa ikut dengan Arhan. Sekalipun dia mau tetapi dia tidak akan bisa karena dia harus kembali ke sekolah.
"Apa kamu harus pergi?" tanya Adara dengan melihat Arhan. Arhan berhenti makan dan juga melihat Adara.
"Kamu ingin menghentikan kau?" tanya Arhan dengan penuh harap jika Adara akan menghentikan dirinya.
Adara tidak menjawab apa-apa. Dia diam dan masih saling melihat dengan Arhan dan tiba-tiba tangan Adara menyenggol mangkuk sayur yang panas itu.
"Auhhhh!" lirih Adara yang kepanasan dengan tangannya.
"Ya ampun Azizie!" lirih Arhan yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan sangat panik yang langsung menghampiri Adara yang tangannya kepanasan.
Arhan langsung memegang pergelangan tangan Adara membawa Adara pergi. Adara mengikut saja dengan kepanikan Arhan karena tangannya yang tekena kuah sayur.
Arhan langsung membawa Adara ke dalam kamar. Dengan cepat Arhan membuka laci dan langsung mengambil salep obat luka dan langsung mengoles pada tangan Adara.
"Isssss!" Suara lirihan itu terdengar dari bibir Adara yang menahan perih.
"Apa sakit?" tanya Arhan yang begitu panik menatap Adara dengan sangat dalam.
"Sebentar lagi perihnya akan hilang. Salep ini perih di awal dan akan dingin seterusnya," ucap Arhan dengan sangat lembut dan kembali mengolesi salep itu pada tangan Adara.
__ADS_1
"Apa harus kembali ke Milan?" tanya Adara tiba-tiba membuat Arhan mengangkat kepalanya dan saling melihat dengan Adara. Bisa di lihat Arhan. Jika Adara sebenarnya ingin menghentikan Arhan. Namun Adara mungkin bingung untuk memulainya bagaimana dan masih gengsi pada Arhan.
"Apa ingin menghentikanku?" tanya Arhan dengan suara beratnya.
Mereka masih saling menatap dengan tatapan mereka yang sama-sama dalam. Arhan harus pergi. tetapi juga ingin Adara menghentikannya. Sama dengan Adara tidak ingin Arhan pergi. Tetapi begitu sulit mulutnya harus mengatakan jangan pergi.
"Kenapa diam?" tanya Arhan menunggu kata-kata Adara.
"Aku tau kamu tidak akan menghentikanku," Arhan menjawab sendiri apa yang di pertanyakan nya.
"Lalu jelaskan padaku bagaimana sebenarnya pernikahan ini!" Perkataan Adara seolah adalah tuntutan.
"Kamu menikahiku begitu saja. Katanya bertanggung jawab. Apa hanya bertanggung jawab saat aku hamil saja? Sebenarnya kata tanggung jawab itu untuk siapa. Untuk ku atau untuk Alvian," ucap Adara yang memberanikan diri bicara. Tembok Kegengsian Adara sudah mulai rubuh.
Arhan menyimak dan menatap terus istrinya yang mengeluhkan situasi itu. Sampai tangan Arhan memegang pipi Adara. Pertama kali di lakukannya memegang pipi Adara sembari mengusap lembut dengan jarinya.
"Aku bertanggung jawab padamu dan juga Alvian. Kamu istriku Azizie dan sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istriku. Tetapi sekarang situasi tidak menginginkan untuk aku tetap di sini atau ikut bersamaku. Azizie kamu harus melanjutkan sekolah kamu. Hanya 1 tahun lagi kamu akan lulus," ucap Arhan dengan lembut bicara pada Adara tanpa melepas tatapan matanya dari Adara.
"Datanglah ke Milan bersama Alvian ketika kamu lulus sekolah. Aku akan terus mengawasi kamu walau aku ada di Milan," ucap Arhan.
Arhan pasti ingin membawa Adara ikut bersamanya. Apa lagi ada Alvian yang sangat tidak mungkin di urus Adara sendirian. Tetapi Adara harus melanjutkan sekolahnya dan sekarang Adara sudah jelas 3 yang artinya sebentar lagi akan lulus.
Sangat tidak memungkinkan Adara pindah sekolah lagi. Karena juga persyaratan dan lain sebagainya tidak mudah. Jadi mau tidak mau Adara harus tetap sekolah sampai lulus.
"Jangan pernah khawatir apapun. Aku akan menunggumu di Milan," lanjut Arhan berbicara dengan lembut.
Deg, deg, deg, deg, suara jantung yang terus berdetak itu. Tidak ada yang di katakan Adara. Namun Arhan yang tadinya menatap Adara. Tiba-tiba tatapan itu turun pada bibir ranum Adara.
Arhan semakin mendekatkanmu wajahnya yang ingin meraih bibir tersebut. Adara yang seolah tau apa yang ingin di lakukan Arhan membuat Adara memejamkan matanya dengan meremas dressnya.
Toko-tok-tok-tok.
Tidak jadi deh bibir itu saling menempel. Ketukan pintu mengganggu saja dan membuat Arhan mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Sementara Adara jadi canggung dan salah tingkah dengan wajahnya yang memerah.
"Siapa?" tanya Arhan.
"Bibi mas Arhan mau antar den Alvian," sahut Bibi.
"Baiklah," sahut Arhan melepas tangannya dari pipi Adara dan langsung berdiri menuju pintu.
__ADS_1
Bersambung