
Hari, bulan, tahun ternyata begitu cepat berlalu. Adara melanjutkan pendidikan ke Luar Negri. Tetap dengan ke egoisannya yang kuliah di Luar Negri hanya karena membuktikan pada Arhan. Jika dia bisa bebas tanpa ada larangan dari Arhan.
Posisi keduanya bertukar. Arhan yang merawat Alvian dan saat Arhan kembali ke Milan. Dia tetap membawa Alvian ikut bersamanya. Karena pekerja Arhan juga ada di Milan dan bahkan Arhan tidak ingin meninggalkan Alvian. Bahkan merawatnya tanpa Bibi di Milan.
Komunikasi Antara Adara dan Alvian berjalan dengan lancar. Komunikasi itu lancar. Karena adanya Alvian. Namun semenjak Adara tau Arhan membawa Alvian ke Milan. Adara malas menghubungi Arhan hanya untuk melepas rindu dengan putranya.
Adara harus menahan rindu dengan rasa gengsinya saja. Komunikasi itu sempat terputus. Karena ego Adara yang masih mempertahankan harga dirinya. Ya mau bagaimana lagi begitulah Adara memang sangat sulit di beri tahu.
Hari, demi hari, bulan dan bahkan sudah setahun semuanya sudah berlalu. Pasangan suami istri itu tetap dalam hubungan yang tidak baik. Semenjak Arhan membawa Alvian ke Milan.
Lagi-lagi karena Adara merasa tidak adil. Sang ayah mengijinkan Arhan membawa Alvian sementara dirinya sang ibu tidak boleh membawanya. Bagi Adara hal itu tidak adil. Namun protes juga tidak pernah di pedulikan.
Hubungan keduanya tetap hubungan LDR dan tidak ada penyelesaian masalah sampai detik ini. Adara dan Arhan tetap dalam status pernikahan mereka
Seiring berjalannya waktu. Alvian harus pindah-pindah. Tidak selamanya Arhan yang merawatnya terkadang bersama Arhan dan terkadang bersama Adara.
Saat masih bayi Alvian bersama Adara sampai Adara lulus sekolah dan usia Alvian menginjak 1 tahun dan setela Adara memutuskan kuliah ke Luar Negri. Alvian bersama Arhan dan bahkan sudah hampir satu tahun lebih.
Ternyata ada kendala tersendiri yang membuat Adara tidak bisa melanjutkan kuliahnya hingga harus berhenti di tengah jalan. Kuliah dengan jurusan desain itu harus di hentikan Adara dengan keputusan yang matang dan kembali ke Jakarta.
Adara melanjutkan kuliahnya di Jakarta dan Alvian kembali bersamanya. Sementara Arhan kembali ke Milan melanjutkan pekerjaannya.
Begitu terus yang terjadi pada suami istri itu. Dengan keinginan masing-masing dan tidak ada larangan atau ikut-ikutan mencampuri keputusan masing-masing. Keduanya sama-sama punya pendirian masing-masing.
Pernikahan tetap yang berbeda hanya mereka yang tidak terlalu akur. Namun masih sama-sama kompak untuk merawat Alvian dan tidak saling membatasi. Sama-sama merasa Alvian membutuhkan ke-2nya.
3 tahun berlalu.
Setelah mengalami perjalan panjang dengan berbagai perbedaan pendapat dari dia orang tua yang memiliki karakter yang sangat jauh berbeda. Usia Alvian sudah menginjak 4 tahun. Tidak terasa jika Alvian sudah 7 tahun dan menjadi anak yang sangat pintar. Masih balita. Tetapi sudah sekolah dan sangat pintar.
Hari ini di jakarta. Alvian yang merayakan ulang tahunnya yang ke -4 bersama teman-temannya 1 sekolah Alvian. Usia Alvian yang 4 tahun menjadikan Alvian anak yang lucu dan sangat tampan.
Sangat pintar dengan IQ yang tinggi di atas rata-rata. Anak seisinya seperti anak berusia 6 tahun. Semuanya pasti berkat didikan ayah dan ibunya. Meski ayah dan ibunya tidak seperti orang tua pada umumnya. Tetapi mereka berhasil mendidik Alvian dengan sangat hebat. Kasih sayang yang penuh dan menjadikan Alvian anak yang luar biasa pintarnya.
__ADS_1
Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga, sekarang juga! Sekarang juga. Teman-teman Alvian bertepuk tangan untuk Alvian dan bernyanyi selamat ulang tahun.
"Ayo sayang potong kuenya," ucap Adara.
"Kita potong sama-sama mah," sahut Alvian.
"Siap sayang," sahut Adara dengan tersenyum. Ibu dan anak itu sama-sama memegang pisau dan memotong kue tersebut.
Prok-prok-prok-prok.
Sambutan tepuk tangan di dapatkan Alvian dengan Alvian yang sangat
Alvian sangat bahagia di acara ulang tahunnya itu.
"Ayo Alvian berikan kue potongan pertama untuk siapa?" sahut MC dengan suaranya yang bersorak.
"Untuk mama Alvian yang cantik," sahut Alvian menyuapi Adara dengan sepotong kue. Adara tersenyum dan menggigit sedikit ujung kue tersebut.
"Selamat ulang tahun sayang. Semoga semakin pintar dan selalu baik kepada orang lain," Adara mencium kening, pipi dan segala sisi dari wajah putranya itu dengan doanya pada putra tampannya itu.
"Untuk kakek baiknya Alvian," ucap Alvian.
"Terimakasih cucu kakek," ucap Herlambang yang mencium kening Alvian dan mengusap-usap pucuk kepalanya. Matanya berkaca-kaca, mungkin tidak terasa Alvian sudah sebesar itu.
"Semoga kamu tambah pintar," ucap kakek.
"Amin," sahut Alvian.
Alvian kembali melanjutkan memotong kue dan memasukkan ke dalam piring. Kepala Alvian melihat di sekeliling arahnya dan melihat Bibi. Alvian langsung menghampiri Bibi dan memberikan hadiah itu untuk Bibi.
"Untuk Bi Sri yang sangat sabar menghadapi mama Alvian," ucap Alvian memberikan kue tersebut. Bibi, Adara dan Herlambang tersenyum melihat polosnya kata-kata Alvian.
"Makasih den Alvian yang sangat tampan," Bibi membungkuk dengan mengusap pucuk kepala Alvian. Alvian mengangguk dan kembali ke tempat kuenya. Alvian masih memotong kue tersebut dan sekarang dia menghampiri Lucia dan Mayang.
__ADS_1
"Untuk Oma dan juga Tante Lucia," ucap Alvian.
"Makasih Alvian," sahut Mayang tersenyum dengan tidak ikhlas.
Alvian mengangguk dan kembali ketempatnya.
"Mah lihatlah kita di buat bagian terakhir. Lebih mengutamakan pembantu dari pada kita," bisik Lucia.
"Harga diri kita memang tidak ada lagi di rumah ini. Tidak anaknya tidak ibunya sama-sama membuat ku marah," desis Mayang dengan wajah bengisnya.
"Lihat saja aku akan membalasnya," ucap Lucia kesal.
Bagaimana mereka tidak marah. Kue ulang tahun di berikan paling terakhir dan malah lebih duluan Bibi yang pembantu di rumah itu. Harga diri mereka benar-benar sudah tidak ada.
Acara pesta ulang tahun tetap berjalan. Jika ulang tahun anak-anak. Pasti penuh dengan permainan. Jadi lebih kebanyakan bermain dengan banyaknya jenis permainan yang di sediakan. Ada juga kuis dan nyanyi yang sesuai usia mereka.
Adara yang tersenyum dari kejauhan sangat bangga dengan Alvian yang pertumbuhannya sangat cepat. Tidak terasa Alvian sudah berusia 4 tahun. Anak yang pintar dan sangat sopan.
"Kamu bangga pada Alvian!" suara itu membuat Adara menoleh kesebelahnya yang ternyata ada Herlambang.
"Mana mungkin aku tidak bangga. Justru aku sangat puas. Setiap perkembangannya selalu aku pantau. Dari dia bayi sampai sekarang aku sangat tau perkembangannya. Walau aku menyesal pernah meninggalkannya selama 1 tahun. Tetapi aku sadar justru masa-masa itu. Masa paling indah untuk melihat perkembangan anak dan itu adalah anugrah untuk seorang ibu," jawab Adara.
Meninggalkan Alvian. Karena hanya ego yang bermasalah dengan Arhan membuat Adara sadar dan tidak ingin kehilangan momen masa-masa perkembangan sang buah hati membuat Adara kembali ke Jakarta dan menjadi seorang ibu di sisi putranya.
"Ya papa tau itu dan papa senang dengan keputusan kamu. Lihatlah Alvian dia semakin besar dan kamu juga pendidikannya semakin lancar dan semoga kamu tetap bisa fokus kuliah dan mengurus Alvian. Kuliah tidak harus jauh-jauh," ucap Herlambang.
"Iya pah. Makasih juga untuk doa papa selama ini," sahut Adara.
"Papa akan selalu mendoakan kamu dan juga Alvian," sahut Herlambang.
"Oh iya di mana Arhan. Apa dia tidak pulang?" tanya Herlambang.
"Mana aku tau. Dia itu anak kesayangan papa. Jadi aku tidak tau dan tidak peduli dia mau datang, mau pulang atau tidak. Jadi jangan tanya aku," sahut Adara dengan swot yang moodnya langsung berubah ketika nama suaminya itu di sebut. Biasanya di acara ulang tahun Alvian Arhan pasti akan menyempatkan untuk datang.
__ADS_1
Herlambang hanya menghela napas saja. Adara akan dewasa jika berhubungan dengan Alvian. Tetapi kalau masalah Arhan dia tetep Adara 17 tahun yang masa labilnya tidak selesai-selesai. Entah sampai kapan kesabaran Herlambang di uji.
Bersambung