TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 36 Tanpa Arhan.


__ADS_3

Adara pagi ini di antar Herlambang ke sekolah dan Herlambang yang menyetir. Sementara Adara duduk di sampingnya. Tidak ada pembicaraan antara ayah dan anak itu yang terlihat keduanya sangat asing.


Semenjak kesalahan besar yang di lakukan Adara memang Adara tidak bisa seperti dulu lagi manja-manjaan dengan sang ayah. Sekarang lebih sering berdebat.


"Nanti pak Yatno yang akan menjemput kamu. Ingat ya Adara pulang sekolah langsung pulang kerumah. Jangan melakukan hal lain yang tidak perlu kamu lakukan atau pergi kemanapun. Kamu jangan mencari masalah baru. Di sini tidak ada Arhan," ucap Herlambang mengingatkan.


Namun Adara diam saja yang tidak merespon ucapan Herlambang. Adara pasti mendengar. Namun malas untuk mengiyakan.


"Apa kamu tidak mendengar papa Adara?" tanya Herlambang sekali lagi.


"Iya Adara tau," sahut Adara dengan nada terpaksa.


"Arhan sudah tidak berada di sini lagi. Jadi papa mohon sama kamu untuk bisa baik-baik. Karena papa tidak mungkin mengawasi kamu terus menerus," tegas Hariyanto.


"Papa bisa tidak. 1 hari saja papa nggak usah bawa-bawa nama dia. Kenapa harus namanya ? Lalu kenapa jika tidak ada dia," sahut Adara kesal. Mendengar nama Arhan membuat moodnya berubah. Mungkin karena Arhan pergi begitu saja dan belakangan ini dia selalu memikirkan Arhan.


"Apapun itu dia suami kamu. Kamu jangan lupa itu. Jadi wajar kalau papa menyebut namanya. Karena dia mempercayakan papa atas diri kamu," tegas Herlambang.


"Suami tapi entah di mana. Entah apa tujuan papa menikahkan aku dengannya. Sangat tidak berati. Hanya menikah lalu pergi. Kalau begitu untuk apa menikah," protes itu hanya di utarakan Adara di dalam hatinya.


Padahal apa yang di lakukan Arhan sesuai dengan keinginan Adara dan mungkin saja sangat terasa bagi Adara karena Arhan bisa di katakan lebih 1 bulan bersamanya. Jadi wajar kalau Adara bisa di katakan sedikit nyaman karena sering bersama.


Bahkan saat di dalam mobil itu saja yang mobil itu melewati salah satu Restaurant yang pernah Adara dan Arhan makan. Adara terus melewati Restaurant itu. Melihat dirinya dan Arhan yang makan bersama.


Dari tatapan mata Adara sangat menunjukkan keinginan untuk pria yang menjadi suaminya itu tetap bersamanya. Namun mungkin Adara gengsi untuk mengakui semua itu.


Herlambang pun yang menyetir tidak berbicara lagi yang hanya akan menimbulkan perdebatan antara anak dan orang tua tersebut.


***********


Hari-hari tanpa Arhan sepertinya sangat terasa untuk Adara. Hari, Minggu bahkan sudah sampai bulan di lewati Adara tanpa adanya Arhan yang mengantar dan menjemputnya kesekolah.


Adara sering termenung sama seperti sekarang ini yang kerjaannya juga termenung yang duduk di salah satu bangku dekat lapangan olah raga. Pasti pikirannya hanya tertuju pada pria itu. Pria itu pria siapa lagi jika bukan Arhan.


"Adara!" tegur Noni yang duduk di samping Adara.


"Noni!" sapa Adara kembali dengan menghela napas kasar.


"Kamu kenapa sih aku perhatikan belakangan ini suka melamun. Memang ada apa?" tanya Noni.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok Noni," jawab Adara yang tidak mungkin menceritakan semuanya karena kalaupun harus di ceritakan butuh dari awal dan Noni juga pasti kaget


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Noni yang tidak percaya.


"Iya," jawab Adara.


"Oh iya Adara. Kamu datang tidak nanti malam ke ulang tahun Brian?" tanya Noni.


"Aku nggak bisa datang," jawan Adara yang langsung menjawab apa adanya.


"Kenapa?" tanya Noni dengan dahi mengkerut.


"Aku ada acara sama papa. Jadi nggak bisa datang," jawab Adara pasti bodong. Karena dia mana ada acara dengan papanya.


"Ya sayang banget. Padahal aku nggak ada temannya. Aku kira kamu bakalan datang," jawab Noni tampak lesu dengan kecewa karena Adara tidak datang.


"Aku tidak bisa, maaf ya," sahut Adara.


"Ya sudah nggak apa-apa deh. Tetapi pasti Brian kecewa banget. Karena kamu di hari ulang tahunnya tidak datang," ucap Noni.


"Nanti aku akan bicara langsung padanya dan woga saja dia tidak marah," ucap Adara yang memang tau Brian pasti marah karena dia tidak datang.


"Sekarang aku memang tidak bisa kemana-mana. Aku tidak aman dengan kondisi ku yang seperti ini sangat tidak memungkinkan aku harus melakukan ini dan itu dan walaupun bisa papa tidak akan memberi ku izin," batin Adara yang harus menerima takdirnya.


*********


Malam hari tiba. Adara keluar dari kamar dan melihat Lucia yang berbicara dengan Mayang. Lucia tampil cantik dengan menggunakan dres merah dengan tangan menyilang di lehernya. Lucia juga memakai heels merah.


"Bagaimana mah? Apa Lucia cantik malam ini?" tanya Lucia yang berputar-putar menunjukkan penampilannya.


"Sangat cantik sayang. Mama yakin di pesta teman kamu. Kamu yang paling cantik nantinya," jawab Mayang dengan membanggakan putrinya itu.


"Benarkah?" tanya Lucia.


"Iya dong sayang," sahut Mayang memegang pipi Lucia.


"Mah doain ya. Semoga malam ini Brian nembak Lucia," ucap Lucia dengan tersenyum lebar.


"Mama yakin sayang kamu pasti di tembak oleh Brian. Karena mana mungkin Brian tidak menyukai kamu. Kamu itu sangat cantik," ucap Mayang dengan percaya diri.

__ADS_1


Lucia tersenyum dan melihat ke arah Adara.


"Enak banget ya dengan keadaan Lucia yang seperti ini. Jadi masih bisa bebas. Bisa pergi kemana aja dan tidak perlu takut atau was-was. Karena takut ketauan sesuatu," ucap Lucia yang pasti menyindir Adara.


"Makanya Lucia. Kamu jaga diri kamu dengan baik. Jangan sampai kamu hamil. Karena kamu bisa mendapat masalah besar dan kamu juga tidak akan mempunyai kebebasan apa-apa," ucap Mayang yang mengingatkan Lucia.


"Iya dong mah pasti. Aku tidak mau melakukan hal bodoh itu," sahut Lucia.


Mayang mengangguk dan tersenyum dan Mayang menoleh ke arah Adara yang tidak jauh dari mereka.


"Adara! Kamu di sana?" tanya Mayang yang tidak tau apakah memang sejak awal tidak tau atau bagaimana.


"Iya mah dari tadi dia nguping," sahut Lucia.


"Ya ampun maaf ya Adara. Jika kata-kata Tante tadi ada menyinggung kamu. Sebagai seorang ibu sangat wajar bukan mengingatkan anaknya. Supaya tidak mengikuti jejak kamu," sahut Mayang dengan tersenyum kepada Adara.


Adara hanya diam saja mendengar semua sindiran itu.


"Oh iya Adara. Kamu sendiri tidak pergi ke Pesta teman kamu?" tanya Mayang.


"Tidak Tante," jawab Adara dengan singkat.


"Kenapa Adara?" tanya Mayang.


"Mama kenapa pakai banyak lagi. Ya pasti tidak mungkin untuk pergi," sahut Lucia.


"Ohhhh karena itu ya," sahut Mayang dengan melihat Adara yang seolah sangat meremehkan.


Mayang dan Lucia hanya sengaja saja membuat Adara merasa sedih. Tetapi Adara tidak bisa marah karena itu memang kenyataannya. Jadi hanya mengelus dada saja menerima kata-kata sindiran yang di perdengarkan di telinganya.


"Nona Adara!" tiba-tiba Bi Sri datang dan Adara melihat ke arah bibi.


"Ayo Non. Tuan sudah menunggu Nona," ucap Bibi mengajak Adara.


"Iya Bi," sahut Adara yang langsung pergi. Lucia dan Mayang langsung tos dengan mereka yang sangat bahagia yang sama-sama berhasil menyindir Adara yang membuat Adara sedih pastinya.


"Tau rasa dia!" ucap Lucia.


"Biarin aja. Biar hidupnya merasa tersiksa," sahut Mayang yang tidak kalah senangnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2