
Arhan dan Adara sudah berada di dekat balon udara yang akan mengudara.
"Silahkan mbak!" ucap seorang Pria yang mempersilahkan Adara untuk naik. Adara dengan percaya dirinya langsung masuk dengan wajahnya yang sangat tegang. Namun terlihat pura-pura tenang. Namun Arhan hanya tersenyum dengan ke-2 tangannya berada di dadanya.
"Kamu ngapain masih berdiri di sana. Ayo naik!" ajak Adara.
"Oh aku ikut," sahut Arhan.
"Ya terus," sahut Adara.
"Aku pikir tidak ikut. Karena jika aku ikut aku akan dengan jelas melihat ekspresi kamu yang ketakutan itu," ucap Arhan.
"Udah jangan banyak cerita buruan naik!" tegas Adara yang semakin kesal.
"Oke!" sahut Arhan yang naik. Mereka saling berhadapan.
Adara langsung berpegangan pada dingding balon. Karena takut jatuh. Jantung Adara semakin dek-dekan saat merasa balon itu sudah terangkat. Wajahnya yang pucat dan panik sudah mulai terlihat. Arhan memang sangat jahat bisa-bisanya dia tersenyum miring melihat istrinya itu ketakutan. Arhan benar-benar sangat menikmati wajah Adara penuh dengan kepanikan.
"Arghhh!" teriak Adara yang langsung memeluk Arhan dengan erat. Saat balon itu semakin tinggi. Pertahankannya ternyata hanya sampai di situ saja. Padahal belum terbang tinggi. Tetapi sudah memeluk Arhan dengan matanya yang terpejam di dada bidang Arhan.
"Ayo turun! aku takut!" keluh Adara. Arhan hanya menahan tawa dengan rengekan Adara.
Adara melonggarkan pelukan itu dan melihat wajah Arhan yang puas menertawakannya membuat Adara semakin kesal dan memukul tangan Arhan.
"Keterlaluan. Kamu sengaja melakukannya," ucap Adara dengan kesal.
"Siapa yang sengaja melakukannya. Kamu yang sok-sokan ingin naik," sahut Arhan.
"Menyebalkan," sahut Adara dengan kesal yang sekarang sudah terlanjur di atas dan Adara tidak bisa turun. Untuk mengurangi rasa takutnya. Dia tidak ingin melihat kebawah dan hanya menunduk saja.
Arhan mengendus tersenyum dan tiba-tiba tangan Arhan menutup mata Adara dengan tangannya membuat Adara heran. Arhan juga membalikkan tubuh Adara dan memeluk Adara dari belakang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adara heran.
__ADS_1
"Jangan buka mata dulu!" titah Arhan yang sudah melepas tangannya dari mata Adara. Adara menurut dengan tidak membuka matanya. Arahan yang masih memeluk Adara dari belakang juga menggenggam tangan Adara yang sangat dingin.
"Bukalah perlahan!" titah Arhan dengan napas Arhan yang menerpa lehernya membuat Adara merinding.
Adara pun melakukan apa yang di katakan Arhan. Adara langsung membuka matanya. Dia masih takut dengan ketinggian yang semakin puncak. Namun melihat kebawah membuat rasa takutnya hilang perlahan. Karena keindahan yang terlihat membuatnya mengeluarkan senyum.
"Apa begitu menakutkan?" tanya Arhan. Adara menggeleng pelan dan melihat terus keindahan dari atas yang membuat takjub.
"Tidak menyeramkan!" ucap Adara. Arhan tersenyum dan semakin memeluk Adara begitu erat. Adata juga terasa sangat nyaman. Ternya Arhan punya cara untuk menghilangkan ketakutan Adara.
Jadi terkesan sangat romantis pasangan suami istri yang melihat balon udara tersebut.
"Makasih!" ucap Adara.
Arhan membalikkan tubuh Adara dan kembali menghadapnya dengan jarak mereka yang dekat.
Deg,deg,deg,deg
Adara juga memberanikan diri untuk menatap Arhan. Mereka yang saling menatap dengan perasaan masing-masing. Arhan memiringkan kepalanya dengan mengecup bibi Adara membuat Adara memejamkan matanya dengan cepat bahkan sempat wajahnya mundur sedikit. Baginya ini saat pertama kali Arhan menciumnya. Jadi Adara tidak tau harus bagaimana.
Ciuman itu masih berlanjut. Saat Adara tidak menolak sama sekali dan bahkan membuat mulutnya sedikit untuk memberikan akses untuk Arhan. Yang akhirnya dengan persetujuan Adara pasangan itu berciuman dengan romantis di atas balon udara. Dan memang situasinya sangat mendukung.
Lama berciuman dengan perasaan ke-2nya yang pasti saling mempunyai perasaan yang dalam. Akhirnya Arhan melepas ciuman itu. Adara membuka matanya perlahan. Terlihat sangat gugup ketika menatap kembali wajah Arhan.
Arhan tersenyum dengan mengusap lembut pipi Adara. Lalu Arhan mencium kening Adara dengan lembut dan kembali membuat Adara membelakanginya dan Arhan memeluk Adara kembali dari belakang dengan lengan Arhan berada di dadanya.
Adara tersenyum yang kelihatan sangat bahagia. Tangannya juga memegang lengan Arhan yang ada di dadanya. Adara kembali seperti Adara yang dulu. Saat mulai mencintai Arhan.
"Mungkin ini memang waktu yang harus aku lakukan. Aku adalah istrinya dan dia tidak pernah menghiyanatiku. Aku hanya salah paham selama ini dan dia begitu sabar menghadapi ku. Menerima ku dengan baik dan juga menerima Alvian. Seharusnya sejak awal aku memberikan apa yang seharusnya menjadi haknya," batin Adara dengan tersenyum.
Adara ada rencana atau niat sepertinya yang lebih jauh. Apa lagi Arhan sangat lembut memperlakukannya pelukan hangat yang di rasakannya dan Adara juga merasakan beberapa kali Arhan mencium rambutnya. Untung ciuman itu di atas balon udara. Jika tidak Alvian pasti sudah menjadi pengacau lagi.
**********
__ADS_1
Setelah melihat festival dengan momen yang sangat bahagia dan ada cerita manis untuk Arhan dan Adara. Mereka sudah kembali pulang. Adara berada di dalam kamar mandi.
Dia berdiri di depan cermin menggunakan piyama lumayan terbuka. Tidak tau apa yang ingin di lakukan Adara. Sudah mau tidur bisa-bisanya Adara masih memakai lipstik dan sedikit memakai makeup. Hmmmm mungkin Adara ini rada-rada ingin melakukan kewajibannya sebagai istri.
Huhhhhhhhh
Adara menghela napasnya perlahan kedepan.
"Jangan gugup Adara. Kamu harus terlihat santai dan jangan canggung," gumamnya yang beberapa kali menarik napas dan membuangnya perlahan kedepan.
Setelah merasa sangat yakin. Akhirnya Adara keluar dari kamar mandi. Arhan yang sekarang menutup jendela kamar dan setelah Arhan menyelesaikan pekerjaannya. Arhan melihat Adara yang keluar dari kamar mandi. Namun Adara terlihat mencari kesibukan.
Padahal penampilannya sangat berbeda dan sudah jelas Adara itu memberikan kode membuat Arhan sebagai laki-laki normal pasti sangat paham.
Arhan menghela napas dan menghempir Adara yang sedang merapikan bantal. Saat tangan Adara memegang bantal yang ingin memindahkannya tangan Arhan sudah berada di atas tangan Adara membuat jantung Adara berdetak tidak karuan.
Arhan bisa merasakan harumnya tubuh Adara. Dia juga mendadak sangat gugup. Adara perlahan membalikkan tubuhnya dan saling berhadapan dengan Arhan. Ke-2 kelihatan gugup dengan rasa canggung yang tidak biasanya. Jika tidak ada sesuatu seharusnya Adara maupun Arhan tidak perlu gugup seperti itu.
"Mama!" Alvian masuk sembarangan kekamar itu membuat pasangan itu kaget dan refleks menjauh.
"Ada apa Alvian?" tanya Adara.
"Alvian mau tidur sama mama dan papa," ucap Alvian yang langsung naik ke atas tempat tidur.
Huhhhh Avian membuat gagal maning saja. Adara dan Arhan saling melihat dan kelihatan sama-sama saling malu yang membuat Adara jadi salah tingkah dan begitu juga dengan Arhan.
"Mama sama papa belum mau tidur. Ayo buruan tidur!" ajak Alvian.
"Iya mama mau tidur kok," sahut Adara. Arhan menghela napasnya dengan lemas. Tidak jadi deh karena Alvian yang sebagai pengacau.
Bersambung
.
__ADS_1