
Gara-gara Alvian kedua orang tuanya itu jadi seperti itu. Adara mengangkat kepalanya dan saling melihat dengan Arhan. Dengan jarak wajah mereka yang begitu dekat. Ke-2 bola mata yang indah itu saling menatap.
Adara tidak henti menatap ketampanan suaminya yang semakin berumur semakin tampan. Belum lagi rambut Arhan yang masih basah dan menetes air dari ujung rambutnya mengenai mata Adara membuat mata itu terpejam perlahan dan kembali terbuka.
Arhan juga menatap wajah Adara begitu intens. Dia sudah mengakui kecantikan Adara sejak dulu. Jadi tidak heran jika semakin dewasa Adara semakin cantik. Suami istri yang saling menatap itu bersamaan dengan getaran di jantung mereka yang mungkin saja ke-2nya sama-sama mendengar suara getaran tersebut.
"Ini keconya!" tiba-tiba Alvian mengganggu lagi dengan menakuti Adara kembali dan Adara yang sadar kembali langsung bersembunyi di belakang Arhan.
"Mama jangan penakut. Kecoa nya tidak menggigit," ucap Alvian yang ingin memberikan pada Adara.
"Alvian cukup! Kamu jangan buat mama jantungan!" tegas Adara yang terus berlindung di belakang Arhan. Arhan melihat ulah Alvian hanya ikut tertawa. Ya anaknya memang sangat jahil.
"Mama penakut!"
"Mama bilang hentikan!"
"Sudah-sudah Alvian. Kamu buang kecoanya," sahut Arhan yang tidak tega juga dengan Adara.
Huhhhhhhhh , Alvian menghela napasnya kedepan.
"Mama benar-benar cemen. Suka marah-marah. Tetapi kecoa aja takut," ejek Alvian. Arhan mendengus tersenyum mendengarnya.
"Kamu ini ya," geram Adara pada Alvian yang terus memojokkannya.
"Nihhhh!" Alvian kembali menakuti Adara.
"Argggghhh!" Adara berteriak dan reflek memeluk pinggang Arhan dari belakang dengan Adara semakin ketakutan. Bahkan mata Adara di tutupnya.
"Padahal Alvian hanya bercanda. Mama aja yang berlebihan dan bilang aja mau peluk papa," ucap Alvian membuat mata Adara langsung terbuka.
Kata-kata anaknya itu kadang-kadang sudah di luar batas dan Adara langsung dengan cepat melepas tangannya dari Arhan. Namun Arhan santai saja dengan menyunggingkan senyumnya sementara Alvian sudah keluar dari kamar membuang kecoa tersenyum.
"Jangan kepedean. Aku tidak sengaja dan semua itu gara-gara Alvian," tegas Adara dengan kesal. Arhan tidak menanggapi yang hanya senyum-senyum saja.
"Menyebalkan anak sama ayah sama saja!" kesal Adara yang langsung pergi. Mungkin karena salah tingkah. Jadi ada aja yang di salahkannya dan makanya dia diam saja dengan penuh dengan kekesalan.
**************
__ADS_1
Adara ingin berangkat ke kampus. Pagi ini Adara ada kuliah dan tadi Adara sempat di buat kesal dengan Arhan dan juga Alvian.
Adara keluar dari rumah yang akan berangkat kuliah. Namun di depan rumah ternyata sudah ada yang menunggu Adara. Seorang Pria. Siapa lagi jika bukan Brian.
"Brian kamu ngapain di sini?" tanya Adara heran.
"Ya mau jemput kamu lah. Mau ngapain lagi," jawab Brian.
"Tapi aku bisa berangkat sendiri," sahut Adara.
"Aku sudah berada di sini dan masa iya kamu berangkat begitu saja sendirian," sahut Brian dengan menaikkan alisnya.
"Jangan melamun Adara. Ayo masuk. Kita berangkat sama-sama," ucap Brian.
"Baiklah!" sahut Adara yang mau tidak mau harus berangkat bersama Brian. Brian membukakan pintu mobil dan Adara masuk kedalam mobil. Lalu selanjutnya Brian menyusul.
Sebelum Brian dan Adara pergi. Arhan keluar rumah dan melihat Adara sudah berada di dalam mobil Brian. Adara juga melihat Arhan yang berada di depan pintu.
"Biarkan saja kamu melihatku pergi dengan siapa yang aku mau. Itu adalah pembuktian jika selama ini aku memang bebas dan tidak peduli dengan pernikahan dan status dan semua ini kau yang memulai," batin Adara. Ternya belum siap dendam kemarahannya pada Arhan dengan kejadian waktu itu.
Dan tidak lama mobil itu melaju keluar dari pekarangan rumah.
"Papa kenal sama Om itu?" tanya Alvian.
"Tidak terlalu kenal," jawab Arhan.
"Aneh sih. Kandang Om itu datang jemput mama. Kadang pulang bersama Tante Lucia," ucap Alvian.
"Dia sering datang kerumah ini?" tanya Arhan yang penasaran juga.
"Iya bisa di katakan seperti itu," sahut Alvian dengan bahasanya yang semakin luas. Arhan menanggapi dengan ekspresi tidak terbaca.
************
Adara baru luka sore hari. Jika tadi Adara di jemput Brian. Tetapi Adara tidak pulang bersama Brian. Adara minta jemput supir dan baru pulang sekarang. Adara keluar dari mobil dan langsung memasuki rumah. Namun di ruang tamu terlihat rame seperti ada tamu.
Selain ada Arhan, Alvian dan Herlambang. Juga ada orang lain yang berbicara dengan Herlambang seorang wanita yang tidak tau siapa. Karena Adara hanya melihat bagian punggungnya saja.
__ADS_1
"Mama sudah pulang!" tegur Alvian yang melihat sang mama sudah pulang dan Alvian langsung berlari kepada Adara. Hal itu mencuri perhatian dan melihat ke arah Adara.
Termasuk wanita tersebut. Wanita itu ternyata adalah Lulu dan Adara yang melihat itu langsung terkejut melihat wanita yang menjadi sumber permasalahan dia dan Arhan.
"Hay Azizie!" sapa Lulu dengan tersenyum pada Adara. Namun jangan tanya wajah Adara seperti apa. Terlihat amarah yang ingin di keluarkannya.
"Untuk apa dia kemari. Apa dia sengaja memanggil wanita itu untuk menjemputnya. Tenang Adara itu bukan urusanmu. Kau juga menunjukkan kepadanya tadi jika kau juga bebas dengan siapapun. Jadi jangan peduli Adara," batin Adara yang berusaha untuk tenang.
"Kita pernah bertemu sebelumnya. Waktu di Milan dan kamu langsung pergi waktu itu," sahut Lulu dengan ramah.
"Ayo kemari Adara!" sahut Herlambang.
"Adara mau langsung mandi. Soalnya merasa lengket," tolak Adara yang pasti ogah untuk bergabung.
"Kemari dulu!" sahut Herlambang.
"Ayo mamah. Jangan membantah kakek," sahut Alvian yang menarik mamanya keruang tamu dan mendudukkan mamanya itu paksa lalu Alvian duduk di samping Adara.
"Lulu kamu sudah mengenal Adara?" tanya Herlambang.
"Sudah pah," sahut Lulu. Adara menyerngitkan dahinya saat mendengar Lulu memanggil papa.
"Apa-apaan kamu panggil papa-papa segala," sahut Adara kesal.
"Kamu ini apa-apaan sih Adara," sahut Herlambang.
"Papa yang apa-apaan. Oh jangan-jangan mereka sudah menikah ya. Makanya dia manggil papa itu papa," sahut Adara yang menuduh asal-asalan saja membuat Herlambang geleng-geleng dan Arhan diam saja. Biar saja Adara berpikir semaunya.
"Kamu ini ya pikirannya nggak pernah bersih. Arhan dan Lulu itu adalah saudara sepupu. Dan Lulu juga anak angkat papa. Setelah papa mengangkat Arhan 2 tahun. Lulu kehilangan ke-2 orang tuanya dan papa juga mengangkatnya. Jadi jelas dia memanggil papa itu dengan papa. Karena mereka sama-sama anak papa sama dengan kamu," jelas Herlambang membuat Adara kaget.
"Kenapa aku tidak tau. Jika dia juga anak angkat papa," sahut Adara.
"Memang ada yang kamu kenapa anak papa selain Arhan. Tidak ada kan. Makanya kalau ada sesuatu itu di dengar dan di cari tau dulu. Bukan punya opini sendiri yang membuat kamu sendiri rugi," tegas Herlambang.
"Jadi wanita ini sepupu Arhan," batin Adara yang pasti masih tidak percaya mendengar hal tersebut.
"Lalu jika sepupu. Apa pantes tinggal bersama?" tanya Adara sinis melihat ke arah Arhan.
__ADS_1
"Adara kamu salah paham. Aku tidak tinggal bersama dengan kak Arhan. Saat itu aku memang ke rumah kak Arhan diam-diam untuk memberinya Supraise dan aku kebetulan juga kuliah di Milan. Tetapi tidak satu tempat tinggal dengan kak Arhan. Kak Arhan hanya menjagaku dan mengawasi ku saja di Milan," jelas Lulu dengan selengkap-lengkapnya.
Bersambung.